16 Oktober 2007

Matius 16 : 24 – 28

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

“Mengikut” Yesus tidak lain berarti menjadi murid-Nya yang setia. Hal “mengikut” Yesus ini merupakan suatu pokok yang berulang-ulang muncul dalam ajaran Yesus, terutama dalam kitab-kitab injil sinoptis (Mat 10:38; Mrk 8:34; Luk 9:23; 14:27). Dengan itu juga, dan dari masih sejak semula, Yesus membeberkan kepada para muridNya tantangan dan kesulitan men- jadi seorang Kristen. Informasi: Sebutan “Kristen” sebenarnya tidak umum digunakan Alkitab. Hanya tiga kali sebutan itu muncul, dalam Kis 11:26 [yang memberi informasi di mana sebutan “Kristen” itu muncul untuk pertama kalinya]; 26:28 dan 1 Ptr 4:16. Sebutan lebih umum ialah murid (Kis 6:1,7; 9:36; 11:26; 19:1-4). [ . . . ] Penggunaan sebutan [“murid”] ini dapat dimengerti sebab faktanya memang Yesus memakai tradisi kemuridan tadi, namun secara lebih bermutu dan unik, memanggil para murid-Nya untuk hidup, belajar, melayani bersama Dia. Selama tiga tahun yang singkat namun sangat mendalam itu, para murid diubah-Nya dari orang tak berarti (para nelayan) bahkan sebagian dianggap sampah dan benalu (pemungut cukai), menjadi para rasul yang menggoncangkan dunia dan mengha- silkan para murid baru yang memiliki pola dan gaya hidup alternatif yang mence- ngangkan orang sezamannya dan menerbitkan harapan dalam dunia yang gelap dan mencemaskan [kutipan dari Paul Hidayat, “Hakikat Kekristenan: Kemuridan” , Sisipan San- tapan Harian, Edisi Januari-Februari 1993, hlm. 2f.]. . . . karya Yesus yang paling ditekankan oleh Matius bukanlah Yesus sebagai Tuhan ataupun Allah beserta manusia (Imanuel), melainkan Yesus yang tampil sebagai guru. Yesus dalam Injil Matius adalah guru yang mengajar dengan kuasa dan yang menunjukkan kepada murid-muridNya jalan yang “lebih benar” (5:1, bnd. 5:21). Dengan menjadi murid Yesus orang dapat melaksanakan “kebenaran yang lebih benar” itu. Tapi menjadi murid Yesus bukanlah peristiwa yang hanya berlang- sung pada zaman dulu saja. Justru karena kepada Kristus telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi (28:19), maka panggilan untuk menjadi murid harus diteruskan, juga setelah Paskah. . . . Ciri khas kemuridan . . . ialah menjadi pengi- kut Yesus, yaitu melaksanakan kehendak Allah dan mengambil bagian dalam misi Yesus (bnd. 8:23; 9:37 dst; 12:49) [kutipan dari Henk ten Napel, Jalan yang Lebih Utama Lagi (Jakarta: BPK-GM, 1997), hlm. 80].

2. Eksposisi

Yesus berada di daerah Kaisarea Filipi (16:13), wilayah paling utara dari Palestina. Kalau Dia berjalan terus ke utara, maka Dia dan murid-muridNya akan memasuki wilayah asing. Pilihan satu-satunya ialah kembali ke selatan. Dalam hubungan itulah, maka Yesus menyam- paikan pemberitahuan pertama tentang penderitaanNya. “Ia harus ke Yerusalem dan menang- gung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu di- bunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (16:21). Dalam “setting” inilah, Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku [termasuk ikut ke Yerusa- lem], ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (ayat 24). Informasi: Caesaria Philippi marks a very significant turning-point of the Gospel story, en- compassing the recognition of the Messiah [16:16], the church that is built on that recognition, the battle in which it is locked, and the suffering and the triumph that will befall the people of God. It all begins to take shape. Caesaria Philippi is a watershed. After it come the passion predictions, and Jesus is seen as the Christ, the Son of God who must suffer. So must they. Per ardua ad astra, ‘through trials to triumph’ [kutipan dari Michael Green, The Message of Matthew (Leicester, England: IVP, 2000), p. 183]. Ada tiga hal yang seseorang harus besedia lakukan, kalau mau mengikut Yesus. Tidaklah berkelebihan untuk menganggap ketiga hal ini sebagai persyaratan menjadi “murid” Yesus, yang baru kemudian disebut secara populer sebagai orang “Kristen” (Kis 11:26).

2.1. Dia harus menyangkal dirinya. Itu berarti bahwa untuk segala waktu dalam kehidupannya dia mengatakan tidak bagi keinginan pribadinya, tetapi selalu ya bagi Allah. “To deny oneself means once, finally and for all to dethrone self and to enthrone God. . . . to ob- literate self as the dominant principle of life, and to make God the ruling principle, more, the ruling passion, of life. The life of constant self-denial is the life of constant assent to God.”

2.2. Dia harus memikul salibnya. Dengan kata lain, dia harus bersedia menanggung risiko untuk kerelaannya berkorban. Dan memang kehidupan Kristiani pada dasarnya adalah pelayanan berkorban - - - “the Christian life is the sacrificial life. . . . [it is] a life which is always concerned with others more than it is concerned with itself.” Itu bisa berarti megorbankan ambisi dan prestise pribadi. Itu bisa berarti mengorbankan kedudukan sekarang ini demi melayani Kristus dalam kepatuhan akan panggilanNya. 3.3. Dia harus mengikut Yesus [bahasa Jawa: nderek Gusti]. Itu berarti mengikuti Yesus dalam kesetiaan dan kepatuhan. “The Christian life is a constant following of our leader [Jesus], a constant obedience in thought and word and action to Jesus Christ. The Christ- ian walks in the footsteps of Christ, wherever he may lead.” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari William Barclay, The Daily Study Bible, the Gospel of Matthew, Vol. 2 (Edinburgh: the Saint Andrew, 1979), pp. 151f.].

3. Refleksi

Seseorang menjadi murid Yesus ketika Yesus memanggilnya untuk mengikut Dia, me- ninggalkan segala sesuatu, menyangkal diri dan memikul salibNya. Bukan murid yang memilih sang Guru, tetapi Dia yang memilih seseorang untuk menjadi muridNya. Panggilan kemuridan ini saja sudah cukup untuk menyadarkan kita bahwa kemuridan ada- lah suatu anugerah yang mahal. . . . Diutarakan atau tidak, panggilan itu sudah mengandaikan pengampunan, persekutuan dan pembaruan. Dalam panggilan dan persyaratan yang Yesus uraikan kepada para murid-Nya tersirat adanya anugerah pengampunan, pencerahan dan bimbingan agar mengenal Dia lebih dalam, pelatihan untuk hidup dan melayani Dia, pengkhu- susan dan penugasan dan akhirnya perubahan hidup yang mempengaruhi dan mengubah dunia luas dalam misi-Nya. Dengan demikian kemuridan dalam pengertian yang benar bukan sekedar usaha manu- sia meniru Kristus, tetapi bukti beroperasinya anugerah panggilan-Nya yang membuahkan ketaatan dan penaklukkan diri kepada Ketuhanan-Nya. Di dalam kemuridanlah, gambar dan rupa Allah dalam diri kita yang seharusnya membuat kita menjadi replica Allah namun telah rusak oleh dosa itu, diperbaharui oleh sang Gambar dan Rupa Allah sempurna yang memu- ridkan kita kembali. [ . . . ] Jelasnya kemuridan bukanlah peniruan subjektif dangkal yang bisa menciptakan kemu- nafikan, tetapi konsekuensi logis dari mengalami panggilan anugerah Allah, campur tangan Kristus dalam kehidupan kita. . . . Hanya murid Yesuslah yang layak dan patut disebut Kristen [kutipan dari Hidayat, op. cit., hlm. 7f.].
- - - NR - - - .

Tidak ada komentar: