22 Desember 2007

Mazmur 40 : 1 – 9

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

Banyak para ahli berpendapat bahwa Mzm 40 dalam bentuknya sekarang ini merupakan penggabungan dua buah mazmur yang seelumnya masing-masing berdiri sendiri. Alasan mereka ialah bahwa ay. 1-10 merupakan mazmur ucapan syukur, sedangkan ayat 11-17 merupakan sebuah mazmur yang berisi doa minta tolong. Menurut mereka, susunan tadi adalah tidak logis --- “the supplication (vv. 11-17) ought to lead into thanksgiving, not the vice versa” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Robert Davidson, The Vitality of Worship, A Commentary on the Book of Psalms (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1998), p. 133]. Informasi: Berdasarkan kenyataan bahwa Mzm 40:14-18 pernah berdiri sendiri sebagai Mzm 70, maka timbul pertanyaan apakah 40:1-12 juga pernah berdiri sendiri dan mengapa dua doa yang begitu berlainan nada dipersatukan. Pertanyaan ini diper- tajam bila isi diperhatikan. Ay. 1 judul A. Doa ucapan syukur Ay. 2-4 pemberitaan tentang tindakan Tuhan yang menyelamatkan pemazmur. Ay. 5-6 bahagia orang yang percaya dan puji-pujian bersama pada Tuhan. Ay. 7-9 melakukan kehendak Tuhan, itulah ucapan syukur yang sejati. Ay. 10-11 keadilan Tuhan diberitakan di jemaah yang besar. Ay. 12 penutup: kiranya penyertaan Tuhan berlangsung terus. B. Doa minta tolong Ay. 12-13 Tolonglah karena penderitaan yang disebabkan dosa. Ay. 14-16 = Mzm 70:2-4 Tolonglah, karena penderitaan yang disebabkan musuh. Ay. 17-18 = Mzm 70:5-6 bahagia orang yang ditolong Allah. Besar kemungkinan bahwa ay. 2-12 pernah berdiri sendiri . . ., meskipun harus dicatat bahwa Mzm 40 A tidak merupakan suatu doa ucapan syukur dalam bentuk yang lazim . . ., melainkan bersifat pengakuan percaya berdasarkan rasa syukur itu. Karena pengakuan akan kebesaran Tuhan itu dan keinginan untuk membe- ritakan keadilan-Nya berakhir dengan suatu permohonan - ay. 12 – maka ia di- persatukan dengan suatu doa minta tolong yang berpuncak pada pengakuan percaya dan pemberitaan bahwa: “Tuhan itu besar” [kutipan dari Marie C. Barth dan B.A. Pareira, Tafsiran Alkitab: Kitab Mazmur 1-72 (Jakarta: BPK-GM, 1998), hlm. 419f.].

2. Eksposisi

2.1. Ayat 3: Dalam “lobang kebinasaan” (NIV: “slimy pit”) apakah Daud berada? Bisa lubang sumur, bisa juga diartikan sebagai ruang gelap dibawah tanah seba- gai penjara (“liang tutupan”, Kel 12:29), pelobang (Mzm 9:16), atau sebagai metafor untuk kematian (“liang kubur”, Mzm 28:1). Dalam pengertian manapun, adalah jelas bahwa “God rescued him out of a desperate, hopeless situation” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 793. Penjelasan-penjelasan dibawah ini juga dari sumber yang sama]. Informasi: “Life in Crisis” [ . . . ] . . . practices and disciplines emerge when the human person is left in “the Pit” (cf. Pss 28:1, 30:3, 40:3, 88:6). A common image in the life of human prayer, “the Pit” refers to any diminishment or impairment of human well-being. Thus it may refer to sickness, imprisonment, social isolation and rejection, or, in extremity physical death. In its realism, Israel knows that the disciplines of equilibrium --- obedience, discernment, and trust --- are not first of all appropriate to such human crises. Thus the human person, according to Israelite testimony, undertakes raw and insistent disciplines in the pit, practices that are constitutive of humanness and commensurate with Israel’s counter-testimony concerning Yahweh. These activities correspond to the evidence and conviction of Yahweh’s hiddenness, unreliability, and negativity [kutipan dari Walter Brueggemann, Theology of the Old Testament (Minneapolis: Fortress, 1997), p. 470].

2.2. Ayat 7: Mengapa Allah “tidak berkenan” kepada kepada persembahan Daud? Karena Allah menghendaki ibadah dan ketaatan yang tulus, lebih dari sekedar persembahan korban belaka. Dan ini muncul dari hati yang dalam dan murni (bnd. ayat 9b). Informasi: In its essence sacrifice was a noble thing. It meant that a man was taking something dear to him and giving it to God to show his love. But the human nature being what it is it was easy for the idea to degenerate and for sacrifice to be thought of as a way of buying God’s forgiveness [kutipan dari William Barclay, The Daily Study Bible, the Letter to the Hebrews (Edinburgh: the Saint Andrew, 1981), p.114]. Mengapa Tuhan “membuka telinga” (NIV: “pierced”) Daud? NIV memilih istilah “pierced” sebagai tanda kesetiaan dan kepatuhan para budak orang Ibrani. Tuannya membawanya ke pintu atau tiang pintu dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup (Kel 21:5-6). Begitulah juga Daud terhadap Tuhan. Di sini LAI memilih istilah “membuka telinga” yang menyiratkan kesediaan untuk mendengarkan (bnd. Yer 6:10).

2.3. Ayat 8: Apakah yang tertulis tentang Daud? Daud tidak merujuk kepada suatu nubuatan. Dia mengingat salinan Taurat yang diberikan kepadanya ketika ia dinobatkan sebagai raja. Dan ini menyiratkan tanggung jawab besar yang diberikan Allah kepadanya. Di sini Daud menya- takan bahwa ia tunduk terhadap Taurat yang diterimanya itu (bnd. Ul 17:18- 20). Informasi: Penulis Ibrani menafsirkan ucapan Daud di sini sebagai ramalan datangnya sang Mesias (Ibr 10:5-7) Hebrew 10:5-7 quotes these verses [6-8] following the Greek (LXX) text. It provides them with a new context in which they refer to the incarnation of Christ who through his perfect obedience to God offered the one, eternal sacrifice which supersedes all other sacrifices and makes them irrelevant. Hebrews as a whole provides an interesting example of the way in which the coinage of the Old Testament can be reminted with the image of Christ stamped upon it [kutipan dari Davidson, op. cit., p. 135].

3. Excursus “SUKACITA DAN KEHIDUPAN KRISTEN”

Sukacita adalah istilah Alkitab yang asli dan unik. Banyak orang yang mengacaukan sukacita dan kebahagiaan, tetapi ada perbedaan yang besar di antara keduanya. Kebahagiaan bergantung pada keadaan sekitar, sedangkan sukacita tidak demikian. Kebahagiaan merupakan tanggapan yang dangkal terhadap hal-hal yang baik; sukacita merupakan tanggapan yang jauh mendalam yang tetap bertahan apakah yang terjadi di sekitarnya itu buruk atau baik. [ . . . ] Dalam autobiografinya, Surprised by Joy, C.S. Lewis memeriksa usahanya untuk memperoleh sukacita. Ia berusaha untuk mendapakannya di dalam humanisme, komunisme, erotisme, dan filsafat serta ikhtiar manusiawi lainnya. Akan tetapi, semuanya itu hanya memperlihatkan bekas-bekas sukacita. Ia tidak menemukan sukacita bagi dirinya sendiri sebelum ia menyadari bahwa sukacita hanya akan datang bila mengutamakan Kristus di dalam hidupnya. Sukacita sendiri tidak pernah menjadi tujuan akhir. Hanya ketika saudara menjadikan Kristus prioritas utama, maka hampir tanpa disadari sukacita itu datang. Bila saudara mencari sukacita saudara akan kehilangan, sebab sukacita tidak dapat ditangkap. Orang duniawi tidaklah mencari sukacita melainkan kebahagiaan. Sukacita adalah sesuatu yang diberikan Kristus. [ . . . ] Yesus berdoa agar para murid-Nya memiliki sukacita-Nya, “Aku memngatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka” (Yoh 17:13). Sukacita Kristus disalurkan kepada kita sementara kita melakukan tugas untuk memberitakan kepada dunia tentang Dia [kutipan dari David McKenna, “Sukacita dan Kehidupan Kristen” dalam Pola Hidup Kristen, Penerapan Praktis, terj. (Malang: Gandum Mas, 2002), hlm. 719f.]. “KEPADA SIAPA KITA HARUS BERDOA?” Banyak bukti di dalam Alkitab bahwa kita dapat menujukan doa kita kepada masing- masing Oknum dari Trinitas. Yesus dan Bapa sama-sama menerima penyembahan di dalam Perjanjian Baru, dan Yesus berbicara tentang Penolong yang akan datang dengan penyataan yang menghubungkan Bapa dan Anak dengan Roh Kudus (lihat Yohanes 14:15-16:16). Allah telah menyatakan diri dalam tiga Oknum, jadi sesuai dengan tempat kita berada dan hal-hal yang kita doakan, kita dapat menujukan doa kita kepada Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tentu saja kepada Oknum mana pun kita berdoa, Trinitas secara utuh tercakup di dalam doa kita. Kita tidak hanya dapat berbicara kepadsa Allah seperti dengan Oknum yang berbeda- beda; kita dapat juga menyapa Dia dengan nama yang berbeda-beda. Di dalam Alkitab Allah disebuty dengan banyak nama. Setiap nama adalah jendelaab itu sebagaimana diperguna- kan di dalam Mazmur, dan nama-nama itu merupakan pembimbing dalam kita berdoa. Jika saya menyebut-Nya Gembala yang baik, fokus saya agak berbeda daripada bila saya menye- but-Nya Imam Besar. Allah yang Esa berbeda fokusnya dengan Bapa kami. Setiap nama itu benar, tetapi masing-masing memusatkan pada aspek berbeda mengenai siapa Allah itu. Penyataan Allah mengenai diri-Nya dalam tiga Oknum, dan dengan banyak nama, mem- beri kita berbagai cara untuk menghampiri Dia, sesuai dengan berbagai keperluan dan pang- gilan kita [kutipan dari Larry Christensen, “Kepada Siapa Kita Harus Berdoa?” dalam Ibid., hlm. 655f.].
- - - NR - - -

Tidak ada komentar: