03 Desember 2007

Ratapan 5:1-22

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar
Isi --- Pasal 5: Nyanyian Ratapan mengenai keadaan orang-orang yang masih tinggal di
Yerusalem sesudah jatuhnya kota tersebut. Penulis berdoa dan berseru, agar Tuhan meno-
longnya [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm.
161].
Informasi: Chapter 5 may be from somewhat later in the Exile, when the sharp pains of
defeat had dulled into the chronic ache of captivity [kutipan dari William S LaSor et al.,
Old Testament Survey (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1990), p. 617.

2. Eksposisi
2.1. Ayat 2: Siapakah “orang lain” (NIV: “aliens”) itu ?
Bisa menunjuk pada para pendatang, tetapi bisa juga para pemukim sementara.
Biasanya orang-orang ini berasal dari suku-suku seketurunan dan orang-orang
dari para bangsa tetangga (Im 25:45-55 berbicara tentang pembebasan orang-
orang sejenis ini) [Sumber: Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p.
1186; seterusnya sumber ini dipendekkan QSB].
2.2. Ayat 6: Kapankah Yehuda takluk kepada Mesir dan Asyur?
Beberapa penafsir berpendapat bahwa kedua-duanya menyiratkan mata angin
ke arah mana para pengungsi pergi untuk mendapatkan makanan. Jadinya Mesir
menyiratkan arah “barat” dan Asyur “timur”. Yang lain menafsirkannya sebagai
yang menyiratkan peristiwa historis ketika Yehuda membuat pakta militer pada
abad ke-18 sM (Hos 7:11; 12:1). Masih ada yang lagi yang menafsirkannya seba-
gai yang menyiratkan penyembahan berhala terhadap dewa-dewa yang dipuja di
Mesir dan Asyur (Yer 2:13,18) [Sumber: QSB, loc. cit.].
2.3. Ayat 10-13: Kekejaman apa saja yang telah dilakukan?
Bala tentara Babilonia terkenal sangat kejam dalam menyiksa para musuhnya
yang dikalahkan. “Turning Judah’s society upside down, they raped the women,
hanged the nobles and left their bodies to twist in the sun, forced children into
hard labor and murdered citizens at random”. Pertempuran untuk memperebutkan
Yerusalem mengakibatkan tindakan-tindakan buas, a.l. para ibu, karena sudah
lupa ingatan karena kelaparan yang amat sangat, membantai anak-anaknya untuk
disantap (2:20) [Sumber: Ibid.].
2.4. Ayat 18: Bagaimana memahami pernyataan “anjing-anjing hutan berkeliaran”
di bukit Sion?
Sedemikian hancur luluhnya kota Yerusalem dan bait suci, sehingga tidak layak
lagi untuk dihuni. Jadinya bekas kota itu menjadi daerah “tak bertuan”, tempat
binatang-binatang kecil, a.l. tikus dan sejenisnya, bermukim. Lalu binatang-
binatang kecil ini menarik “anjing-anjing hutan”, yang merupakan binatang yang
dianggap paling mengganggu bagi orang-orang Israel. Jadinya pernyataan di
atas menyiratkan bahwa tak ada lagi orang yang bertempat tinggal di situ [Sumber:
Ibid.].
2.5. Ayat 21: Mengapa orang-orang Yehuda tak dapat kembali sebelum Tuhan memba-
ngun kembali Yerusalem?
Pertama-tama mereka harus bertobat. Itu berarti mengakui kedaulatan mutlak
dari Allah dan dengan itu pula pendamaian (rekonsiliasi) dapat diciptakanNya.
Ini berarti pula bahwa hanya karena kasih karunia Allah, maka Yehuda dapat
“survive to make things right again” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Ibid.].
Informasi: Jelas bahwa ada paralel antara ayat 21 ini dengan Mzm 80: 4,8,20 dan Yer
31:18. Kenyataan ini menolong kita untuk mengetahui suasana/keadaan ketika
doa/permohonan ini disampaikan. “It is clear from Ps. 80 and Jer. that a congre-
gational prayer for restoration formed a normal part of the cult liturgy. It is possi-
ble that such a prayer formed part of he national act of penitence at the new
year.” Ritus ini hanya dapat dilaksanakan di bait suci [yang telah dibangun kem-
bali]. Jadinya ayat ini meng-indikasi-kan zaman sesudah pembuangan sebelum
bait suci dibangun kembali di Yerusalem (baca Informasi pada Pengantar di
atas) [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Peake’s Commentary on the Bible (London:
Thomas Nelson, 1972), p. 737].
2.6. Ayat 22: Apa memang tak ada lagi harapam sama sekali untuk pulih kembali?
Tersirat bahwa si penulis mengakhiri bagian ini dengan emosional. Juga tersirat
adanya pertanyaan si penulis, “What if God doesn’t give Judah another chance?”
Semua ini bisa dimengerti sebagai ungkapan keprihatinan yang amat dalam
terhadap punahnya sebuah negeri dan umat. “But God specializes in second
chances. No sin is too great for God. Only if we reject God and his provision for
our sin, Jesus Christ, will we go beyond the point of no return (Romans 8:35-39)”
[Sumber dan kutipan bahasa Inggeris dari QSB, loc. cit.].

3. Excursus
3.1. How can we hope in a God who abandons us?
Jeremiah steadfastly recognized that the Lord had not abandoned his people, painful as
the present situation was. Jeremiah, the weeping prophet, is also called the prophet of
hope because he foresaw a day when the Lord would reign in the midst of restored, re-
newed and reconciled people.
Jesus knew this paradox between abandonment and hope. In the midst of his suffering
and death on the cross, he cried, My God, my God why have you forsaken me? (Matt. 27:
46). Yet he also knew that he would be resurrected on the third day, opening the gate of
eternal life to all believers. The despair of the cross now has become the gift of life to
perishing sinners.
Abandonment, sorrow, struggle and pain all are transitory. Wholeness, healing, joy and
peace are permanent, for they are part of the very nature of God. That is what sustains the
believer through difficult times. Although Jeremiah grieved over Jerusalem’s destruction,
he knew God would prevail [kutipan dari QSB, p. 1181].
3.2. Israel dan bangsa-bangsa
Dengan peristiwa pembuangan dan berakhirnya kerajaan, Israel tidak lagi merupakan
Negara dan bangsa yang merdeka, melainkan menjadi bangsa yang bergantung pada
bangsa lain, tercerai berai dan dijajah. Persoalan-persoalan baru yang harus digumuli
pada saat itu mencakup soal menanggulangi pengalaman penghukuman. Antara lain,
bagaimana memelihara tradisi-tradisi iman mereka tanpa lambang dan lembaga lahiriah
seperti Rumah Allah dan kerajaan, bagaimana bisa tetap hidup sebagai bangsa kudus dan
bagaimana mempertahankan pengharapan akan masa depan. Tetapi terutama sekali,
Israel menghadapi lagi masalah hubungan umat Allah dengan penguasa Negara asing.
Kata “lagi” sengaja dipergunakan, karena meskipun persoalan itu sangat penting bagi
angkatan pembuangan, namun bukanlah masalah baru dalam sejarah Israel. Bapak-
bapak leluhur Israel menjadi pengembara yang tinggal di negeri yang bukan milik mereka.
Peristiwa keluaran didahului penindasan oleh orang asing selama berabad-abad yang
masih menyala-nyala dalam ingatan bawah sadar bangsa Israel.
Dengan demikian, jelaslah “kekudusan” umat Allah tidak berarti mereka harus memi-
sahkan diri secara total dari bangsa-bangsa lain. Bangsa Israel yang terpilih demi bangsa-
bangsa lain, selalu sadar dan terjun dalam peristiwa-peristiwa internasional di sekitar me-
re-ka [kutipan dari Christopher Wright, Hidup Sebagai Umat Allah, terj. (Jakarta: BPK-GM, 1995), hlm. 124f.].
- - - NR - - -

Tidak ada komentar: