17 Desember 2007

Yesaya 40 : 1 – 5

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipam Lepas)

1. Pengantar

Si penulis (Deutro Yesaya) menyampaikan berita gembira dalam perikop kita hari ini kepada orang-orang yang indentitasnya telah berantakan dan yang hampir-hampir telah kehilangan pengharapan sama sekali. Untuk orang-orang yang berada dalam situasi demikian, berita gembira yang “murahan” tidak saja percuma, tetapi juga kejam. Penghiburan yang tidak ditopang oleh kebenaran dan/atau kenyataan yang sesungguhnya adalah penghiburan hampa. Maklumat yang disampaikan nabi [Deutro] Yesaya semuanya adalah sungguh-sungguh ditopang dengan kebenaran yang disinggung tadi. Informasi: . . . by the later years of the exile it seemed that many had abandoned hope. The Israelites accused Yahweh of having forgotten and forsaken them (e.g. Is. 40:27, 49:14) --- a rich irony in view of the fact that it was they who for centuries had treated Him that way. Into this lethargic despair came the message of Isaiah 40-55, either the preserved words of Isaiah himself from the eighth century now at last relevant, or, as many scholars believe, the words of an anonymous prophet of the calibre of Isaiah (and greatly influenced him) who lived at the time of the exile itself and addressed his stirring message to the exiles. At a time when all they could see was the threatening rise of yet another empire (the Persians), this prophet calls on them to lift up their eyes and hearts once more to see their God on the move bringing liberation at last [kutipan dari Chris Wright, Knowing Jesus through the Old Testament (London: Mashall Pickering, 1992), p. 21 f.]. Nabi Deutro-Yesaya hanya membawakan berita keselamatan saja. Dia tidak bernubuat bahwa keselamatan itu akan datang, melainkan bahwa keselamatan itu sudah datang. Masa pembuangan di Babel sudah selesai, masa penderitaan sudah berakhir [kutipan dari A. Th. Kramer, Singa Telah Mengaum (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 84].

2. Eksposisi

Kebenaran apakah itu?

2.1. Yang pertama ialah bahwa mereka tetap merupakan umat Allah (ayat 1: “umatKu”). Kenapa demikian? Karena Yahweh menghargai dan tetap setia terhadap perjanjian anugerah (“covenant’) yang dulu diadakan antara Dia dengan leluhur mereka. Walaupun memang sudah hancur, namun Yerusalem tidak akan diterlantarkan oleh Tuhan. Dengan itu Allah punya rencana yang membebaskan bagi mereka, justru karena mereka masih tetap mendapat perhatian khusus dari Allah (ayat 2).

2.2. Kebenaran kedua ialah bahwa pendurhakaan dan dosa mereka telah diampuni (ayat 2). Excursus: The penalty for their sins has been paid in full, and consequently they are to be released forthwith from hard labour. The royal pardon has come, the prison doors are flung wide open, and they are free! What good news this is --- but how unexpected! No doubt the inner circle of Isaiah’s disciples long treasured these words. But others, hearing them for the first time in exile, must have been startled by them, as a prisoner emerging from a dungeon blinks at the light. How could this be? What was the explanation for it? Could fifty, sixty, or seventy years of exile pay for rebellion that had gone on for scores of generations? Could it atone even for the sins of those directly affected, let alone for those of their ancestors? The fact of the matter is that there is far more to this announcement of pardon that first meets the eye. There is mystery here that will not be explained fully until chapter 53. But for now the simple announcement is allowed to stand alone in all its stark and bold splendour. You are forgiven! Your sins have been paid for! What more comforting truth could there be for shattered people than that? [kutipan dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England: IVP, 1996), pp. 162 f.]. The following . . . verses . . . have often been cited against the idea that God deals in strict justice with man: Isaiah 40:2 --- “Speak tenderly to Jerusalem . . ., that she has received from the Lord’s hand double [. . . kiplayim] for all her sins.” Jeremiah 16:18 . . . Psalm 7:11 . . . Romans 3:5-6 . . . [kutipan dari Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 1998), pp. 196 f.].

2.3. Kebenaran ketiga ialah bahwa Allah akan bertindak untuk mewujud-nyatakan akta pengampunan yang telah diberlakukanNya. “He will not leave them where they are; he will bring them home” (Webb, loc. cit.) [ayat 3-5]. Tersirat dalam ayat 3 bahwa pembe- basan dilihat sebagai peristiwa “keluaran” yang lebih hebat dari “keluaran” pertama. “The return from exile is in some sense a return of Yahweh himself, bringing his flock with him [ayat 11], and involves a theophany” [ayat 5, 9] (kutipan dari Peake’s Commentary on the Bible [London: Nelson, 1972], p. 517). Excursus: How were these promises fulfilled [ayat 3-5 dan 9]? Those who heard Isaiah’s prophecy associated it with the return of the exiles from Babylon to Jerusalem. We can see another fulfillment, however, because of the New Testament. Isaiah’s word anticipated John the Baptist and the good news announcing the coming Messiah [kutipan dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 1035). . . . as the watching world looks on, it will learn what kind of God he is; his glory . . . will be revealed, and all humankind will see it (5). A note is struck here which will recur more and more clearly as the book moves to its climax. The Lord is a missionary God; what he does for his own, he does not for their sake alone, but that all may come to know him. For the moment the focus is on the people of God themselves. ‘Aliens and exiles’ they might be, but not forever. There is solid comfort in that [kutipan dari Webb, op. cit.].

2.4. Walaupun tidak termasuk dalam perikop bacaan kita hari ini, kebenaran terakhir terdapat dalam ayat 6-8. Kebenaran yang dimaksud ialah bahwa janji dan Firman Allah dapat dipercayai seutuhnya (ayat 8: “firman Allah . . . tetap untuk selama-lamanya”). Excursus: Reliance on the word of God is not fatalistic or superstitious. It is trust in something impersonal like the stars or good-luck charm. It is trust in a person who is committed to us and has all the resources necessary to care for us. It is the word of our God that Isaiah speaks of, a word or message that arises from a relationship. And the truth is that God’s word has the same character as God himself. It is as unchanging and reliable as the God who speaks it [kutipan dari Webb, loc. cit.]. “Suara” siapakah yang dimaksudkan dalam ayat 3 dan 6? Dalam konteks bacaan kita, “suara” di sini berfungsi sebagai pengganti ungkapan “demikianlah firman Tuhan”. Bisa juga: “it emphasises that the message is not the prophet’s own word , but given; and it introduces the primary theme of a highway for Yahweh” [kutipan dari Peake’s Commentary on the Bible, loc. cit.]. We know from the New Testament that this prophecy looked ahead to the voice of John the Baptist (Matt. 3:3). John, a cousin of Jesus, helped prepare the way for Jesus’ ministry by preaching about the need for repentance. As people became aware of their sin, the stage was set for Christ’s saving work [kutipan dari Quest Study Bible, loc. cit.].

3. Refleksi dan Aplikasi
Di sini ada sesuatu yang mengagumkan! Dibuang, diejek, direndahkan, kehilangan segalanya, kerja keras tanpa pengharapan, pekerja asing . . . , lalu mulai memuji Allah yang membuat mujizat dalam suara yang begitu meyakinkan, sehingga memberi pengharapan kepada semua orang. Dimanakah [Deutro] Yesaya, yang bersembunyi di belakang misinya dan hanya menye- but dirinya “suara yang berseru-seru”, mendapatkan kekuatan serupa itu? Dalam imannya kepada Allah. Allah yang “membawa kita keluar dari rumah perhambaan” seperti dalam Kitab Keluaran, tetap dapat membebaskan kita. Ia mempunyai kuasa untuk melakukan hal itu, sebab Ia adalah Pencipta. Dan Ia akan berbuat demikian, sebab Ia setia dan mengasihi kita lebih daripada kasih seorang ibu [kutipan dari Etienne Charpentier, Bagaimana Membaca Perjanjian Lama, terj. (Jakarta: BPK-GM, 1989), hlm. 90]. Dengan nada yang mendesak [Deutro] Yesaya berseru: “Persiapkanlah . . . jalan untuk TUHAN” (Yes 40:3). Yohanes Pembaptis berseru: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis . . . akan datang [seseorang] yang lebih berkuasa dari padaku . . .” (Mrk 1:4, 7). Kedua-duanya menyerukan tema pokok yang sama: persiapan menjelang Tuhan tiba. Untuk kita yang kini berada dalam Minggu Advent IV, bagaimana bentuk dan wujud persiapan kita? Apakah itu dalam wujud nyata atau simbolis, kita terpanggil untuk menaati seruan Yohannes Pembaptis: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis . . . [saduran dan terjemahan bebas dari sumber: Abingdon Preacher’s Annual (Nashville, Tenn.: Abingdon, 1993), p. 378]. [Aplikasi yang relevan diserahkan kepada masing-masing Pelayan Firman sesuai dengan “sikon” jemaat masing-masing].

4. Ilustrasi

Ketika Nelson Mandela menjadi presiden Afrika Selatan, ia menunjuk sebuah komisi untuk membawa orang-orang yang telah bersalah atas kekejaman selama masa“apartheid” (perbe- daan rasial) ke ruang pengadilan. Setiap opsir kulit putih yang secara sukarela menghadapi para penuduhnya dan mengakui kesalahannya, tidak akan dihukum. Suatu hari seorang wanita lanjut usia diperhadapkan secara tatap muka dengan opsir yang secara brutal membunuh putra tunggal dan suami tercintanya. Ketika ditanya apa yang wanita itu inginkan dari opsir itu, ia berkata, “Meskipun saya tidak mempunyai keluarga lagi, saya tetap memiliki banyak cinta untuk diberikan.” Ia meminta agar opsir itu mengunjunginya secara teratur, sehingga ia dapat menjadi ibu baginya. Lalu katanya, “Saya ingin memeluknya sehingga ia dapat mengetahui pengampunan saya adalah sungguh-sungguh tulus.” Selagi wanita tua itu berjalan menuju tempat saksi, opsir itu diliputi oleh rasa malu dan penyesalan yang begitu dalam, sehingga ia pingsan. Kesedihan yang wanita itu timbulkan bukanlah balas dendam yang keji, tetapi api yang menyucikan dari kasih karunia Allah yang dapat memimpin kepada pertobatan dan pendamaian. Itulah pembalasan yang menyelamatkan [kutipan dari Santapan Rohani (Grand Rapids, Mich.: RBC Ministries), Jumat, 28 Oktober 2005]. Kisah tadi hampir-hampir identik dengan tindakan pengampunan dan penyelamatan Tuhan bagi umat Israel menjelang akhir masa pembuangan mereka di Babilonia.

- - - NR - - -

Tidak ada komentar: