07 April 2008

Kis 2 : 1 – 13

(Beberapa Kutipan Lepas)

1. Pengantar: “Analisis Teks secara Historis-Kritis” Istilah yang dipakai oleh Lukas untuk menggambarkan fenomen turunnya Roh Kudus adalah “bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah” (ay. 2). “Bunyi” itu dika- takan oleh Lukas, turun secara “tiba-tiba”. Itu berarti bahwa bunyi itu datang dan terdengar secara mengejutkan. Haenchen menyebut fenomen itu sebagai enigmatic phenomenon, yaitu fenomen yang penuh teka-teki yang membingungkan. Conzelmann menyebut fenomen tersebut sebagai fenomen komparatif (perbandingan) untuk menggambarkan daya kekuatan Roh Kudus yang luar biasa, yang merupakan daya-dinamis dan daya-kreatif. . . . daya- kekuatan-ilahi. Bunyi itu tidak hanya seperti “embusan” yang lembut dan membuai, melainkan seperti “tiupan angin keras dan memenuhi seluruh ruangan”. Kiranya hal ini menunjuk pada sebuah “dorongan” dan “daya-kekuatan-ilahi” yang luar biasa yang membuat siapa pun yang mendengar dan mengalaminya tidak bisa tidak menjadi “bangkit” dan “bergerak”. Secara parallel (sejajar), dalam ay. 3 ditegaskan kembali oleh Lukas bahwa Roh Kudus yang turun sebagai bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh ruangan itu juga tampak sebagai “lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap pada mereka masing- masing”. Dalam perspektif simbolis mengenai Roh Kudus, gambaran “lidah-lidah seperti nyala api” yang bertebaran dan hinggap pada para rasul itu memiliki nuansa makna yang amat indi- vidual. Conzelmann menafsirkan fenomen ini secara menarik. Gambaran pencurahan Roh Kudus kepada para rasul tersebut mengisyaratkan bahwa Roh Kudus memang masuk ke dalam diri para rasul, dan bukan hanya melingkupi kepala mereka seperti sebuah lingkaran halo. Seca- ra kualitatif, gambaran ini memberikan pengertian bahwa Roh Kudus yang merupakan “daya- kekuatan-ilahi” yang hebat itu sungguh-sungguh masuk dan mendorong dari dalam diri para rasul. Haenchen menegaskan bahwa dengan cara itulah, Roh Kudus sungguh-sungguh dicurah- kan kepada para rasul secara pribadi, bukan hanya melalui pendengaran dan penglihatan, mela- inkan melalui pengalaman pribadi dari dalam. Roh Kudus sebagai daya-kekuatan-ilahi yang masuk dan mendorong dari dalam diri para rasul itu secara tegas dirumuskan oleh Lukas dalam teks dengan mengatakan, “maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus” (ay. 4a). Fenomen yang digambarkan dalam ay. 2 dan 3 sebagai “bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah” dan “lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” bukan hanya melingkupi dan memenuhi ruang dan tempat, tetapi masuk secara personal ke dalam pribadi, ke dalam seluruh kehidupan para rasul. Ay. 4a dengan tegas dan jelas mengungkapkan kenyataan ini. Daya-kekuatan Roh Kudus itu membuat para rasul mampu memberikan kesaksian dan mewartakan pengalaman iman dan hubungan pribadi mereka dengan Yesus Kristus. Ay. 4b melukiskan pengalaman awal ini dengan gambaran bahwa “mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain”. Berkat daya-kekuatan Roh Kudus, para rasul mampu berkata-kata. Yang dikatakan dan diwartakan oleh para rasul pasti bukan pengalaman sembarangan, melainkan pe- ngalaman iman akan hubungan mereka dengan Yesus Kristus, sebab dijelaskan dalam ay. 4c bahwa mereka berkata-kata “seperti diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakan- nya”. Yang dikatakan dan diwartakan adalah “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (ay. 11b). Dengan demikian, selain menjadi “dorongan” dan “daya-kekuatan-ilahi” yang menggerakkan, Roh Kudus sebagaimana digambarkan dalam Kis 2:1-13 dapat pula dimengerti sebagai “daya- dinamis” dan “daya-kreatif”. Hal ini secara tekstual terungkap dalam ay. 6, “Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak.” Roh Kudus yang digambarkan sebagai “bunyi” yang meme- nuhi seluruh tempat para rasul duduk itu ternyata juga membuat dan menggerakkan orang banyak untuk “berkerumun”. Lebih lanjut, peranan Roh Kudus yang menjadi “daya-dinamis” dan “daya- kreatif” itu tampak dalam ay. 14. Roh Kudus sebagai “daya-dinamis” membuat Petrus bukan ha- nya “bangkit berdiri”, melainkan “dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka”. Pengalaman ini tidak bisa dilepaskan dari janji Yesus Kristus dalam Kis 1:8, yang mengatakan bahwa para ra- sul akan menerima “kuasa” (dynamis), kalau Roh Kudus turun ke atas mereka, sehingga mereka akan menjadi saksi Kristus di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi [kutipan dari Aloys B. Purnomo, Pr., Roh Kudus Jiwa Gereja yang Hidup (Yogyakarta: Kani- sius, 1998), hlm. 20f.].

2. Perbedaan antara ‘Baptisan’ dan ‘Kepenuhan’ Roh Apa yang terjadi pada hari Pentakosta ialah bahwa Yesus ‘mencurahkan’ Roh dari sorga dan dengan demikian ‘membaptis dengan Roh’, pertama-tama 120 orang, kemudian 3.000 orang. Buah baptisan Roh ini ialah bahwa ‘penuhlah mereka dengan Roh Kudus’ (Kis 2:4). Jadi, kepenuhan Roh adalah akibat dari baptisan Roh. Baptisan itulah --- yakni apa --- yang Yesus perbuat (mencurahkan Roh dari sorga), kepenuhan itulah --- yakni apa --- yang mereka terima. Baptisan adalah pengalaman permulaan yang khusus, kepenuhan dimaksud sebagai akibat tepat, yang terus-menerus, menjadi patokan. Sebagai kejadian permulaan, baptisan tidak diulangi dan tidak dapat hilang, tapi pemenuhan dapat diulangi, dan bagaimanapun juga perlu dipertahankan. Jika tidak dipertahankan akan hilang. Jika hilang, dapat ditemukan lagi [kutipan dari John Stott, Baptisan dan Kepenuhan, terj. (Jakarta: YKBK/OMF, 1999), hlm. 56f; huruf-huruf tebal oleh NR]. Baptism and the gift of Spirit do not invariably coincide. The Acts of the Apostles . . . tell us of the mission to Samaria (8:4-17), the conversion of the centurion Cornelius at Caesarea (Acts 10) and Paul’s meeting with the converted disciples of John (Acts 19:1-7) --- all cases in which the Spirit was given without baptism or before baptism. Someone who is baptized in the name of Jesus may be sure that he is living, as it were, within the Spirit’s forcefield, but baptism does not canalize the action of the Spirit. [ . . . ] It is necessary for Christianity to remember from time to time that the Spirit is not under its control. This is not contradicted by the primitive Church’s habit of speaking, as it soon began to do, of the “gift” of the Spirit (cf. Lk 11:13, and so on). What is implied by this is that the normal, long-term environment of the Christian is the sphere of action of Spirit, the presence of Christ. But the gift of the Spirit remains God’s gift; only he can give it and make it fruitful [kutipan dari The Common Catechism, A Book of Christian Faith (New York: Seabury, 1975), pp. 227f.]. EXPOSING THE MYTH You may remember that our Lord said: “For John truly baptized with water, but you shall be baptized with the Holy Spirit not many days from now” (Acts 1:5 NKJV). But on the Day of Pentecost, does Scripture say, “And they were all baptized with the Holy Spirit”? No! It says they were all “filled” with the Holy Spirit (see Acts 2:4). Why? Because these men [sic.] were going to be speaking in other tongues (not unknown tongues; they were going to speak in known languages), and they were going to serve. And in order for them to serve, they needed the experience of the filling of the Spirit. The baptism of the Holy Spirit is never related to experience. Someone wonder, “Weren’t they baptized, too?” Of course they were, but the point is they were going to serve, and in order to serve they had to be filled. The baptism of the Holy Spirit hasn’t anything to do with the service or experience. The filling is the experience, and it is for service. If you read some older commentaries, you might notice that the writers sometimes use the word “baptize” to mean “filling”. But that was back in the days when you did not have to be as sharp with terms, because there were not these groups as we have today that go off on tangents trying to make the word “baptize” mean something it doesn’t. That’s how the whole business of “seeking the baptism of the Holy Spirit” got started. And among those who teach that we ought to be seeking our baptism, many misrepresent the rest of us by suggesting that we don’t believe baptism is necessary at all! I believe that the baptism of the Holy Spirit is essential. In fact, you’re not a believer unless you’ve been baptized by the Holy Spirit. But I do not believe it is an exoerience. Every believer has been baptized by the Spirit of God. Those on the fanatical fringe ought not to misrepresent us by saying we do not believe in the baptism; we just don’t believe that it is an experience. These same people have been known to teach that we are to wait for the Holy Spirit. May I say how false it is to tell people they are to tarry for the Holy Spirit? Where did our Lord tell us to tarry? He told his apostles to wait for the Day of Pentecost --- it’s already come! It’s a matter of history, and the Spirit of God is here today. The minute any individual puts his faith in Jesus Christ, he’s regenerated, indwelt, and baptized by the Spirit of God [kutipan dari J. Vernon McGee, Through His Spirit (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2003), pp. 140f.].

Excursus:

Kecuali dalam Markus 6:17, . . . Yesus tidak pernah mengajar tentang berbicara dengan bahasa roh, dan para rasul pun tidak pernah menuntutnya sebagai keperluan yang mutlak untuk membuktikan bahwa Roh Kudus telah diterima. Tidak pernah disebutkan bahwa ketiga ribu orang yang percaya dalam Kisah para Rasul pasal 2 berkata-kata dalam bahasa roh, walaupun jelas bahwa mereka telah menerima Roh Kudus. Demikian pula halnya dengan orang lumpuh dalam Kisah para Rasul pasal 3, kelima ribu orang percaya dalam pasal 4, sida-sida dari tanah Etiopia dalam pasal 8, orang-orang percaya di Anto- khia dalam pasal 11, banyak orang percaya yang dimenangkan oleh Paulus dalam perjalanan penginjilannya yang pertama (pasal 13, 14), Lidia dan kepala penjara di Filipi dalam pasal 16. Tidak ada laporan bahwa mereka telah berkata-kata dalam bahasa roh, tetapi ada tercatat bahwa mereka semua dibaptis dengan air. Inilah yang perlu untuk menandai baptisan dengan Roh Kudus. Berkata-kata dalam bahasa roh, bilaman terjadi, penting dan patut dikemukakan, tetapi dalam masyarakat Kristen pada waktu tu bukan merupakan sesuatu yang diperlukan sebagai bukti bahwa Roh Kudus telah diberikan [kutipan dari Donald Bridge dan David Phypers, Karunia-Karunia Roh dan Jemaat, terj. (Bandung: Penerbit KH, 1984), hlm.130f.; huruf-huruf tebal dan miring oleh NR).

3. Untuk Refleksi

Kutipan dari J.L.Ch. Abineno, Roh Kudus dan Pekerjaan-Nya (Jakarta: BPK-GM, 2000), hlm. 29f.) [Adanya perbedaan pandangan mengenai hal-hal yang diutarakan tadi] sering sangat dipertajam, sehingga menimbulkan hal-hal yang buruk yang merugikan. Gereja-gereja Pentakosta memperma- salahkan gereja-gereja lain (=Gereja-gereja Protestan), dan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki Roh Kudus, atau kalaupun mereka memiliki-nya, Roh itu tidak bekerja lagi, karena Ia telah mati terkungkung dalam tradisi dan institusi yang mereka miliki. Buktinya, dalam Gereja-gereja Protestan tidak ada mujizat (=penyembuhan ilahi, dan lain-lain), tidak ada glosolalia (=bahasa roh), tidak ada nubuat, tidak ada baptisan Roh, dan lain-lain. Sebaliknya Gereja-gereja Protestan mempersalahkan Gereja-gereja Pentakosta, bahwa mereka menyalahgunakan (=menyalahtafsirkan) Roh Kudus dan sering mencari realitas-Nya dengan cara emosional, individualistis dan extravagan. Buktinya, pemutusan hubungan antara mujizat dan Injil (Kerajaan Allah), penekanan yang berlebih- lebihan pada pertobatan individuil, penghargaan yang berat sebelah terhadap glosolalia (=bahasa roh), tangisan dan adegan-adegan lain yang emosional dalam kebaktian-kebaktian, dan lain-lain [ . . . ] kita harus mengadakan koreksi kedua jurusan. Pertama kepada Gereja-gereja Pentakosta kita harus katakan, bahwa Roh Kudus tidak dapat dilepaskan dari Yesus Kristus dan dianggap sebagai Oknum atau Pribadi yang berdiri sendiri. Keduanya erat berhubungan, bahkan identik. Roh Kudus, adalah Roh Kristus [Rm 8:9; Gal 4:6; Flp 1:19; 1 Ptr 1:11], Roh Anak. Di dalam Dia Kristus hadir di bumi. Kedua, kepada Gereja-gereja Protestan kita harus katakan, bahwa Roh Kudus bukan hanya “alat” Kristus. Roh Kudus bukan saja Roh Kristus, tetapi sebaliknya Kristus juga adalah Roh (2 Kor 3:17), seperti yang antara lain kita baca dalam 1 Korintus 15:45: “Adam yang akhir (=Kristus) menjadi roh yang menghi- dupkan”. Roh Kudus adalah cara baru dari presensia dan tindakan Kristus di bumi. Oleh kebangkitan- Nya Ia menjadi Oknum (=Pribadi) in action, di mana Ia --- sekarang dalam hubungan mondial --- meneruskan apa yang telah Ia kerjakan dalam hidup-Nya di dunia [ . . . ] Timbul pertanyaan: Kalau demikian bolehkah kita menganggap Roh Kudus sebagi pribadi atau tidak? Patterson (dalam Pelajaran tentang Roh Kudus, 1971) mengatakan: “Ya, boleh, malahan harus Roh Kudus adalah Pribadi Ilahi yang ketiga” [ . . . ] Timbul pertanyaan: Kalau demikian bagaimanakah “identitas” Roh Kudus dan Kristus berada dalam kemuliaan harus kita pikirkan? Telah kita bahas bahwa baik Gereja-gereja Protestan, maupun Gereja- gereja Pentakosta tidak mau mengakui identitas itu. Mereka lebih banyak berkata-kata tentang identitas dan fungsi Kristus dan Roh Kudus. Hal ini . . . tidak mungkin. Memang Roh Kudus bukan hanya “nama lain” dari Kristus yang berada dalam kemuliaan, melainkan Ia bertindak di bumi, sesudah Kristus “naik ke sorga”. Sungguhpun demikian Ia bukan Oknum atau Pribadi yang otonom. Ia adalah “predikat” yang menerangkan pekerjaan Allah dan Kristus dan bagaimana caranya pekerjaan itu dilakukan.

- - - NR - - -

Tidak ada komentar: