(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Pengantar
1.1. Sinopsis
Fasal 33 . . . Allah memberi perintah kepada Musa untuk ke Kanaan. Malaekat Tuhan akan berjalan di depan bangsa itu. Musa mendirikan kemah pertemuan, di mana Tuhan dapat berbicara dengan dia (ayat 1-11). Musa meminta untuk melihat kemuliaan Allah. Waktu dia berdiri di dalam lekuk gunung, dia hanya diizinkan melihat bagian belakang Tuhan [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK- GM, 1996), hlm. 50]. 1.2. Latar Belakang dan Konteks Penggalan/Perikop Bacaan . . . Kel 32 [s/d] 34 ini tersusun dari tiga macam bahan: cerita lembu emas dalam Kel 32, undang-undang yang mengatur kehidupan di tanah Kanaan, lengkap dengan kisah peresmian perjanjian, dalam Kel 34, dan ditengah-tengahnya Kel 33 dengan tiga bagian kecil (ay 1-6, 7-11, 12-23), yang semuanya berkisar pada pertemuan Musa dengan Tuhan. Lembu emas --- pertemuan Musa dengan Tuhan --- pembaruan perjanjian: ketiga fasal ini [Kel 32, 33, 34] memberi kesaksian tentang krisis [oleh karena penyembahan berhala ke- pada lembu emas] di dalam persekutuan yang mesra antara Tuhan dengan umatnya. [ …] Penelitian kita tentang Kel 33 akan menunjukkan, betapa erat perhubungan ketiga fasal ini dengan soal penyertaan ilahi di padang gurun. Mengenai Kel 34, di dalam upacara penye- rahan undang-undang baru inipun terdengar suara Musa meminta “kiranya Tuhan berjalan di tengah-tengah kami” (34:8-9) [jadi bukan hanya sekedar malaikat (33: 2) yang berjalan di depan umat] [kutipan dari C. Barth, Theologia Perjanjian Lama 1 (Jakarta: BPK-GM, 2002), hlm. 231f.].
2. Eksposisi
2.1. Ayat 12-13: Musa ikut merasa gelisah/khawatir, sama seperti yang dirasakan umat, di sekitar isyu tentang penyertaan dan ketidak-ikut-sertaan Tuhan dalam perjalanan melewati padang gurun. Dalam hubungan inilah, maka Musa ingin merasa pasti apakah Allah tetap bisa ditemuinya. Bagaimana memaknai pernyataan Tuhan kepada Musa: “Aku mengenal namamu (NIV: “I know you by name”) dalam ayat 12 dan 17? Ini adalah cara lain untuk mengatakan, “Engkau berkenan bagiKu” dan “Aku telah memilih- mu untuk suatu misi khusus”. Dalam Yoh 10: 3 Yesus memakai ungkapan yang sama [Sumber: Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan,2002), p. 128]. Informasi: Musa telah meminta dan kini ia mencari (ay 13), lalu mengetuk pintu (ay 15, 18). Allah telah berjanji akan menyertai bangsa ini dan akan membawa mereka masuk ke negeri yg dijanjikan, tapi dosa mereka, walaupun itu tidak meniadakan janji ini (bnd ay 2), telah membatasi kasih karunia dan perke- nanan Allah (bnd ay 3). Adalah pelemahan perkenanan Allah ini yg mendo- rong Musa berdoa bukan hanya minta cara masuk badani, tapi juga minta kehadiran Allah dalam kemuliaan di tengah-tengah bangsa itu. Ia tidak menghendaki tanah perjanjian itu tanpa Allah (ay 14), dan tanah perjanjian itu tidak berarti apa-apa bagi bangsa itu tanpa kehadiran yg sama (ay 16). Adalah kehadiran Allah yg melimpahkan perkenanan dan kepastian yg nyata ke atas umatNya, dan menandai mereka sebagai milikNya, untuk kemuliaanNya. Sebab itu Musa menyimpulkan atas dasar perjanjian: Allah tak dapat tidak berjalan bersama kami. Doa semacam itu dijawab. Allah mau menyertai Musa dan bangsa itu, dan ketenteraman tanah Kanaan akan diberikan kepada mereka (ay 14). Jawab semacam itu memberanikan Musa untuk memohon malahan lebih banyak lagi, sebab ia sekarang yakin bahwa memang kasih karunia Allah telah ia dapatkan dan bahwa bangsa itu pada asasnya telah dipulihkan kepada kasih karunia sepenuhnya berdasarkan perjanjian. Ia berdoa supaya ia boleh melihat kemuliaan Allah . . . Ia berhasrat supaya kepadanya diperlihatkan Allah secara khusus --- bukan melihat secara jasmani yg ia rindukan, sebab ia tahu bahwa tidak ada manusia yg dapat melihat Allah lalu tetap hidup, melainkan ia berhasrat menanggapi secara rohani siapa Allah itu dan apa yg nanti Ia akan lakukan dan menjadi untuknya dan untuk bangsanya [kutipan dari Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Kejadian-Ester (Jakarta: YKBK/OMF, 1998), hlm. 181].
2.2. Ayat 18: Musa memohon kehadiran Tuhan tidak hanya secara spiritual. Ia memohon me- nyaksikan sekilas kehadiran Sang Mahakudus. Jelas manusia tak mungkin bertatap muka (‘face to face”) dengan Allah. Jadi untuk permohonan Musa tadi, Allah menjawab: “Engkau tidak akan tahan mmemandang wajahKu, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (ayat 20). Namun Tuhan berkenan memenuhi permo- honan Musa, walaupun hanya sekilas.
2.3. Ayat 20-23: Musa diperkenankan untuk menyaksikan sekilas kemuliaan Allah. Excursus : Dalam mengulas Wahyu 22:3-5, William Barclay menulis sebagai berikut: God’s servants shall see his face. The promise will come true that the pure in heart will see God (Matthew 5:8). We may best understand the greatness of that promise by remembering that the Christian is promised a privilege which was denied even to Moses to whom God’s word was: “You cannot see my face; for man shall not see me and live” (Exodus 33:20, 23). It is in Christ alone that men can see God [kutipan dari William Barclay, The Daily Study Bible, the Revela- tion of John, Vol. 2 (Edinburgh: the Saint Andrew, 1981), p. 222]. 3. Rancangan/Kerangka Khotbah Topik: Melihat/Menyaksikan Allah Teks: Keluaran 33:12-23 (1) Musa berdoa kepada Tuhan. (2) Musa memohon bimbingan dan kasih karunia Tuhan bagi bangsanya disamping bagi dirinya sendiri. (3) Musa dijanjikan penyertaan dan kehadiran Tuhan. (4) Janji tersebut diwujudnyatakan dalam perjalanan umat ke tanah perjanjian. (5) Allah berkenan dan memberkati apa yang diprakarsai-Nya. (6) Allah berkenan menyatakan diri sekilas kepada Musa, tetapi cukup bagi Musa untuk meyakini janji Allah [Saduran/terjemahan bebas dari “Sermon Suggestions” dalam James W. Cox (ed.), The Minister’s Manual 2005 (San Francisco: Jossey - Bass, 2004), p. 237].
- - - NR - - -
22 Desember 2007
Mazmur 119 : 105 – 112
(Beberapa Catatan dan informasi/Kutipan Lepas)
1. Pengantar
“Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati” (Mzm 119:2). Kutipan tadi menunjukkan bahwa masih sejak bagian awal dari Mazmur bacaan kita sekarang ini (Mzm 119) telah diketengahkan faedah/manfaat firman/perintah Allah: a.l. memberi kebahagiaan bagi yang menaatinya.. Dalam ayat 105, yang merupakan ayat pembukaan untuk perikop bacaan kita sekarang ini, faedah/manfaat firman Allah, khususnya sebagai petunjuk dan sumber kebijaksanaan, kembali diketengahkan lagi (bnd. ayat 24, 66, 130, 176). Informasi: Kalau dalam Mazmur Daud di 2 Samuel 22:29 kita dengar: “Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku” (bnd. juga Ayb 29:3), maka dalam mazmur ini hal yang sama dikatakan tentang firman Allah (bnd. Ams 6:23 tentang perintah dan ajaran). Dalam hubungan dengan Allah firman yang tertulis dan firman yang langsung diterima daripadanya berhubungan: merenungkan Kitab Suci membuka pengertian untuk menerima firman hidup dan menghindari salah paham berdasarkan keinginan hati sendiri. [kutipan dari Marie C. Barth dan B.A. Pereira, Tafsiran Alkitab Kitab Mazmur 73-150 (Jakarta: BPK-GM, 1999), hlm. 366f.].
2. Uraian/Eksposisi
2.1. Ayat 105, 106: Bagi si pemazmur firman Allah menerangi perjalanan kehidupannya. What kind of lamp was this (119:105) The ancient lamp was small and flat with a wick and oil. It gave just enough light to see a short distance ahead. Similarly, God’s word gives sufficient light for each step in making moral decisions [kutipan dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 874]. Together, these verses [105, 106] show what kind of light and path are in mind, and verse 104 makes it doubly clear. This is not convenient guidance for one’s career, but truth for moral choices . . . [kutipan dari Derek Kidner, Psalms 73-150 [Leicester, England: IVP, 1975), p. 427]. . . . it is, in other words, a clear guide for all he does. For the first time, he make reference [dalam ayat 106: “bersumpah”] to having sworn and made binding an oath to give careful attention to Yahweh’s just judgments. The allusion is probably to a public commitment to Yahweh’s instruction, in Yahweh’s presence in the Temple and before the congregation [bnd. pengakuan sidi]. Such an act would be both a logical outcome of the poet’s devotion to Torah and also a further incentive to that devotion [kutipan dari The Broadman Bible Commentary, Volume 4 (London: Marshall, Morgan & Scott, 1972), p. 416]. Refleksi: Orang yang percaya menempatkan diri dalam rentetan orang percaya secara turun- menurun dan yakin bahwa firman yang disampaikan kepada angkatan yang lampau sama dengan yang kini Tuhan berikan. Inilah pola iman yang ditekankan dalam reformasi; itulah sebabnya ay. 105 ini menentukan dalam hidup rohani orang Kristen Protestan dan sering terdengar dalam kebaktian. Bahaya yang terkandung dalam tradisi ini ialah bahwa orang tidak lagi mengharapkan firman baru yang diberikan Allah menurut kebebasannya dalam situasi yang baru. [kutipan dari Barth dan Pareira, loc. cit.; huruf-huruf miring oleh NR].
2.2. Ayat 107: (bnd. ayat 65-72.). Si pemazmur kembali mengeluh. Kali ini mungkin karena suatu penyakit baru, tetapi mungkin juga tekanan dari musuhnya yang muncul kembali. His life is in constant danger . . ., and the wicked have set a trap for him. He asks that his life be restored, that is spared, in accord to Yahweh’s word [kutipan dari The Broadman . . ., loc. cit.]. 2.3. Ayat 108: Mazmur puji-pujian menjadi persembahan menggantikan korban syukur. Ps 119:108 speaks of prayer as a voluntary offering, and God is praised for his own generous voluntary offerings to man (Ps 68:9), even when his people have not been faithful to their covenant commitments (Hos 14:4) [kutipan dari New International Encyclopedia of Bible Words (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 1991), p. 308].
3. Excursus: Renungan untuk Anak-Anak
Alat Peraga: Senter kecil dan Alkitab. Bayangkan! Adik [bisa menunjuk salah seorang anak] akan bepergian dengan ayah. Kebetulan ayah adik punya mobil [atau sepeda motor]. Cuma sudah malam dan gelap. Dibatalkan saja, karena gelap? Tetap jadi! Mobil/motor juga bisa berjalan dalam kegelapan. Di pabriknya, mobil-mobil [atau sepeda-sepeda motor] ketika dibuat, diperlengkapi dengan lampu. Sehingga kalau pun malam dan gelap, mobil/motor tetap bisa jalan. Pernahkah lampu listrik di rumah adik padam? Jadinya bagaimana adik berjalan kesana- kemari untuk mengambil barang-barang yang mungkin dibutuhkan? Apa di rumah adik ada senter, seperti ini? [Tunjukkan senternya!]. Senter ini haruslah diletakkan di tempat yang gampang dicapai untuk mengambilnya. Dalam kegelapan, senter ini sangat membantu. Coba bayangkan! Ada seorang yang sakit keras di rumahmu. Tiba waktunya dia harus meminum obatnya. Lampu listrik tiba-tiba padam! [Kalau memungkinkan lampu dalam ruangan dipadamkan, agar gelap]. Perlu ada senter [nyalakan senternya!] untuk berjalan ke lemari obat. Juga perlu senter untuk memilih obat yang tepat. Juga perlu senter untuk bisa membaca petunjuk penggunaannya pada bagian luar kemasan obat itu. Senter ini [tunjukkan lagi!] memberi terang dalam kegelapan,.agar kita dapat melakukan itu semua. [Lampu ruangan dinyalakan lagi] Pada waktunya kalian akan menjadi orang-orang dewasa. Kalian akan membutuhkan alat penerang dalam menjalani kehidupam kalian masing-masing. Untuk itu, senter atau lampu seperti yang ada di mobil tidak bisa menolong kalian. Yang kalian butuhkan adalah INI! [tunjukkan Alkitab-nya]. Seorang satrawan bangsa Israel pernah menulis: “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Firman Tuhan yang tertulis dalam buku ini adalah seperti senter tadi. Kita perlu membacanya dan menghafal ayat-ayat tertentu. Seperti senter tadi, Firman Tuhan akan menuntun kita dalam hidup ini. Ketika kehidupan kita terasa gelap, firman Tuhan menjadi penerang bagi kita. Itu berarti bahwa selama kita rajin membaca Alkitab dan melakukan dengan taat perintah Tuhan yang disampaikan melalui buku ini [tunjukkan lagi Alkitab-nya!], percayalah, kita tak akan berjalan dalam kegelapan [disadur dari The Ministers Manual , Doran’s (San Francisco: Harper & Row, the 1989 edition), p. 13].
- - - NR - - -
1. Pengantar
“Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati” (Mzm 119:2). Kutipan tadi menunjukkan bahwa masih sejak bagian awal dari Mazmur bacaan kita sekarang ini (Mzm 119) telah diketengahkan faedah/manfaat firman/perintah Allah: a.l. memberi kebahagiaan bagi yang menaatinya.. Dalam ayat 105, yang merupakan ayat pembukaan untuk perikop bacaan kita sekarang ini, faedah/manfaat firman Allah, khususnya sebagai petunjuk dan sumber kebijaksanaan, kembali diketengahkan lagi (bnd. ayat 24, 66, 130, 176). Informasi: Kalau dalam Mazmur Daud di 2 Samuel 22:29 kita dengar: “Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku” (bnd. juga Ayb 29:3), maka dalam mazmur ini hal yang sama dikatakan tentang firman Allah (bnd. Ams 6:23 tentang perintah dan ajaran). Dalam hubungan dengan Allah firman yang tertulis dan firman yang langsung diterima daripadanya berhubungan: merenungkan Kitab Suci membuka pengertian untuk menerima firman hidup dan menghindari salah paham berdasarkan keinginan hati sendiri. [kutipan dari Marie C. Barth dan B.A. Pereira, Tafsiran Alkitab Kitab Mazmur 73-150 (Jakarta: BPK-GM, 1999), hlm. 366f.].
2. Uraian/Eksposisi
2.1. Ayat 105, 106: Bagi si pemazmur firman Allah menerangi perjalanan kehidupannya. What kind of lamp was this (119:105) The ancient lamp was small and flat with a wick and oil. It gave just enough light to see a short distance ahead. Similarly, God’s word gives sufficient light for each step in making moral decisions [kutipan dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 874]. Together, these verses [105, 106] show what kind of light and path are in mind, and verse 104 makes it doubly clear. This is not convenient guidance for one’s career, but truth for moral choices . . . [kutipan dari Derek Kidner, Psalms 73-150 [Leicester, England: IVP, 1975), p. 427]. . . . it is, in other words, a clear guide for all he does. For the first time, he make reference [dalam ayat 106: “bersumpah”] to having sworn and made binding an oath to give careful attention to Yahweh’s just judgments. The allusion is probably to a public commitment to Yahweh’s instruction, in Yahweh’s presence in the Temple and before the congregation [bnd. pengakuan sidi]. Such an act would be both a logical outcome of the poet’s devotion to Torah and also a further incentive to that devotion [kutipan dari The Broadman Bible Commentary, Volume 4 (London: Marshall, Morgan & Scott, 1972), p. 416]. Refleksi: Orang yang percaya menempatkan diri dalam rentetan orang percaya secara turun- menurun dan yakin bahwa firman yang disampaikan kepada angkatan yang lampau sama dengan yang kini Tuhan berikan. Inilah pola iman yang ditekankan dalam reformasi; itulah sebabnya ay. 105 ini menentukan dalam hidup rohani orang Kristen Protestan dan sering terdengar dalam kebaktian. Bahaya yang terkandung dalam tradisi ini ialah bahwa orang tidak lagi mengharapkan firman baru yang diberikan Allah menurut kebebasannya dalam situasi yang baru. [kutipan dari Barth dan Pareira, loc. cit.; huruf-huruf miring oleh NR].
2.2. Ayat 107: (bnd. ayat 65-72.). Si pemazmur kembali mengeluh. Kali ini mungkin karena suatu penyakit baru, tetapi mungkin juga tekanan dari musuhnya yang muncul kembali. His life is in constant danger . . ., and the wicked have set a trap for him. He asks that his life be restored, that is spared, in accord to Yahweh’s word [kutipan dari The Broadman . . ., loc. cit.]. 2.3. Ayat 108: Mazmur puji-pujian menjadi persembahan menggantikan korban syukur. Ps 119:108 speaks of prayer as a voluntary offering, and God is praised for his own generous voluntary offerings to man (Ps 68:9), even when his people have not been faithful to their covenant commitments (Hos 14:4) [kutipan dari New International Encyclopedia of Bible Words (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 1991), p. 308].
3. Excursus: Renungan untuk Anak-Anak
Alat Peraga: Senter kecil dan Alkitab. Bayangkan! Adik [bisa menunjuk salah seorang anak] akan bepergian dengan ayah. Kebetulan ayah adik punya mobil [atau sepeda motor]. Cuma sudah malam dan gelap. Dibatalkan saja, karena gelap? Tetap jadi! Mobil/motor juga bisa berjalan dalam kegelapan. Di pabriknya, mobil-mobil [atau sepeda-sepeda motor] ketika dibuat, diperlengkapi dengan lampu. Sehingga kalau pun malam dan gelap, mobil/motor tetap bisa jalan. Pernahkah lampu listrik di rumah adik padam? Jadinya bagaimana adik berjalan kesana- kemari untuk mengambil barang-barang yang mungkin dibutuhkan? Apa di rumah adik ada senter, seperti ini? [Tunjukkan senternya!]. Senter ini haruslah diletakkan di tempat yang gampang dicapai untuk mengambilnya. Dalam kegelapan, senter ini sangat membantu. Coba bayangkan! Ada seorang yang sakit keras di rumahmu. Tiba waktunya dia harus meminum obatnya. Lampu listrik tiba-tiba padam! [Kalau memungkinkan lampu dalam ruangan dipadamkan, agar gelap]. Perlu ada senter [nyalakan senternya!] untuk berjalan ke lemari obat. Juga perlu senter untuk memilih obat yang tepat. Juga perlu senter untuk bisa membaca petunjuk penggunaannya pada bagian luar kemasan obat itu. Senter ini [tunjukkan lagi!] memberi terang dalam kegelapan,.agar kita dapat melakukan itu semua. [Lampu ruangan dinyalakan lagi] Pada waktunya kalian akan menjadi orang-orang dewasa. Kalian akan membutuhkan alat penerang dalam menjalani kehidupam kalian masing-masing. Untuk itu, senter atau lampu seperti yang ada di mobil tidak bisa menolong kalian. Yang kalian butuhkan adalah INI! [tunjukkan Alkitab-nya]. Seorang satrawan bangsa Israel pernah menulis: “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Firman Tuhan yang tertulis dalam buku ini adalah seperti senter tadi. Kita perlu membacanya dan menghafal ayat-ayat tertentu. Seperti senter tadi, Firman Tuhan akan menuntun kita dalam hidup ini. Ketika kehidupan kita terasa gelap, firman Tuhan menjadi penerang bagi kita. Itu berarti bahwa selama kita rajin membaca Alkitab dan melakukan dengan taat perintah Tuhan yang disampaikan melalui buku ini [tunjukkan lagi Alkitab-nya!], percayalah, kita tak akan berjalan dalam kegelapan [disadur dari The Ministers Manual , Doran’s (San Francisco: Harper & Row, the 1989 edition), p. 13].
- - - NR - - -
'Santa Claus Is Coming To Town' Theology
Dave Burchett
I am a little too old and lot too cynical to be swept away by the latest fad in Christendom. I have sat on the sidelines while Jabez prayed, millions were purpose driven and others found their best life. I guess I was just left behind. Others were incredibly excited by one or all of these phenomenons. So I was more than a little surprised to find that God has rocked my world through a ministry I knew little about just a few months ago. Their books and materials have not become an entire section at your local Christian superstore. And that is a shame. Because they have a message that needs to be heard by most of us. The organization is called Leadership Catalyst and they have an incredible book called TrueFaced. I don’t think I have ever had a book (not included in the original 66) impact me as much as this one. Here is how strongly I feel about this book and ministry. I have written two books. I have a son who attends Baylor University and I can tell you the good Baptists at Baylor are very proud of their education. So selling a few books would be awesome as spring semester tution looms. But if you only have the budget to buy one book in the near future I would tell you to buy TrueFaced. (That gives you a hint as to why I rarely am asked to do marketing seminars). I am borrowing one little bit of content that is very timely during this month. John Lynch is one of the authors of the book and in this section he addresses how we are programmed from childhood to default to performance theology. He calls it the “Santa Claus is Coming to Town theology.” You better watch out Better not cry Better not pout I am telling you why Santa Claus is comin’ to town He's making a list…checking it twice…three times…every day Gonna find out who's naughty and nice Santa Claus is comin’ to town He sees you when your sleeping, nows when your awake, he knows when you've been bad or good so be good for goodness sake. Oh, he's watching. Waiting for you to screw up so you will get coal instead of a bicycle. You had better please him. And we teach our kids to put on the mask and be something they are not. Because Santa Claus is comin’ to town. This omniscient being who is judging our every deed is coming to town…and we learn to do the dance early. Buck up…be good. Don't cry. Don't pout. Santa Claus is coming to town (© Copyright 2003, William Thrall, Bruce McNicol, John Lynch. All rights reserved. Unauthorized duplication prohibited). He is exactly right. We learn that we get good things and receive love only when we are good. Santa is pleased (and we later substitute God) when we obey. So we learn early. We had better be good. Or least fool everyone around us to think that we are being good. Ask any child this Christmas if they are being good and I will wager you will never hear this response. “Well, to be honest, I am really struggling with the whole being nice thing. I have actually been pouty and I cried yesterday. It just isn’t working out this Christmas so I suspect the video game system will have to wait.” Nope. What you hear is the lie that we learn early and too often keep handy in our arsenal for a lifetime. “Oh yeah. I am being really good!” I remember (vaguely) the tension of the Santa Claus years. I knew I hadn’t really changed much. I tried to modify my behavior for a week or two leading up to Christmas but I knew I had failed to really be good. I learned a couple of things early. I learned how hard it is to change behavior by sheer willpower and I learned that I could fool Santa by living a lie. I learned that that he would bring me presents in spite of my failures. I did not learn about grace. That maybe Santa gave me gifts because of who I was and maybe he came to my house because I was lovable instead of rewarding me for what I had done to please him. I figured I had fooled him and to get the good stuff I would have to continue to hide the little boy who broke an ornament and then hid it. Isn’t that too often how we view God? We had better not cry. Better not sin. I’m telling you why. Jesus is coming to town. He’s making a list and He is checking it not once or twice but every moment of every day. God knows if you’ve been bad or good so if you want to be healed or happy or prosperous you had better be good for goodness sake. If I do mess up I am scared to death that I will get a bad life or miss all that God has for me. So I put on the mask and try to be really good for Jesus. If I can fool those around me maybe, just maybe, I can fool God too. Satan sells the lie so convincingly. And we buy it for months and years and even decades. But God and Santa are very different in their approach. God does not keep a list. He is not impressed by our hernia inducing straining to control sin. What God sees is Jesus in Dave Burchett when I sin. Jesus offers us so many gifts. But the one we seem to have the hardest time unwrapping is the gift of grace. The gift that allows us to become who God desires us to become as we simply trust Him and quit trying to be “good” for goodness sake. We are saved by grace and faith in Christ. We become like Him by the same radical strategy. Faith that He has changed us into a new creation. And understanding the grace that gives us good gifts even when we don’t deserve them. Don’t let the Santa Claus theology live into the New Year. Go straight to the gift of grace that Jesus left under the Cross. Open it. And clothe yourself in His salvation, acceptance and love. It may be the best gift you have ever given yourself. Dave Burchett is an Emmy Award winning television sports director, author, and Christian speaker. He is the author of When Bad Christians Happen to Good People and Bring'em Back Alive: A Healing Plan for those Wounded by the Church. You can reply by linking through daveburchett.com.
Find this article at: http://www.crosswalk.com/spirituallife/11561774/
I am a little too old and lot too cynical to be swept away by the latest fad in Christendom. I have sat on the sidelines while Jabez prayed, millions were purpose driven and others found their best life. I guess I was just left behind. Others were incredibly excited by one or all of these phenomenons. So I was more than a little surprised to find that God has rocked my world through a ministry I knew little about just a few months ago. Their books and materials have not become an entire section at your local Christian superstore. And that is a shame. Because they have a message that needs to be heard by most of us. The organization is called Leadership Catalyst and they have an incredible book called TrueFaced. I don’t think I have ever had a book (not included in the original 66) impact me as much as this one. Here is how strongly I feel about this book and ministry. I have written two books. I have a son who attends Baylor University and I can tell you the good Baptists at Baylor are very proud of their education. So selling a few books would be awesome as spring semester tution looms. But if you only have the budget to buy one book in the near future I would tell you to buy TrueFaced. (That gives you a hint as to why I rarely am asked to do marketing seminars). I am borrowing one little bit of content that is very timely during this month. John Lynch is one of the authors of the book and in this section he addresses how we are programmed from childhood to default to performance theology. He calls it the “Santa Claus is Coming to Town theology.” You better watch out Better not cry Better not pout I am telling you why Santa Claus is comin’ to town He's making a list…checking it twice…three times…every day Gonna find out who's naughty and nice Santa Claus is comin’ to town He sees you when your sleeping, nows when your awake, he knows when you've been bad or good so be good for goodness sake. Oh, he's watching. Waiting for you to screw up so you will get coal instead of a bicycle. You had better please him. And we teach our kids to put on the mask and be something they are not. Because Santa Claus is comin’ to town. This omniscient being who is judging our every deed is coming to town…and we learn to do the dance early. Buck up…be good. Don't cry. Don't pout. Santa Claus is coming to town (© Copyright 2003, William Thrall, Bruce McNicol, John Lynch. All rights reserved. Unauthorized duplication prohibited). He is exactly right. We learn that we get good things and receive love only when we are good. Santa is pleased (and we later substitute God) when we obey. So we learn early. We had better be good. Or least fool everyone around us to think that we are being good. Ask any child this Christmas if they are being good and I will wager you will never hear this response. “Well, to be honest, I am really struggling with the whole being nice thing. I have actually been pouty and I cried yesterday. It just isn’t working out this Christmas so I suspect the video game system will have to wait.” Nope. What you hear is the lie that we learn early and too often keep handy in our arsenal for a lifetime. “Oh yeah. I am being really good!” I remember (vaguely) the tension of the Santa Claus years. I knew I hadn’t really changed much. I tried to modify my behavior for a week or two leading up to Christmas but I knew I had failed to really be good. I learned a couple of things early. I learned how hard it is to change behavior by sheer willpower and I learned that I could fool Santa by living a lie. I learned that that he would bring me presents in spite of my failures. I did not learn about grace. That maybe Santa gave me gifts because of who I was and maybe he came to my house because I was lovable instead of rewarding me for what I had done to please him. I figured I had fooled him and to get the good stuff I would have to continue to hide the little boy who broke an ornament and then hid it. Isn’t that too often how we view God? We had better not cry. Better not sin. I’m telling you why. Jesus is coming to town. He’s making a list and He is checking it not once or twice but every moment of every day. God knows if you’ve been bad or good so if you want to be healed or happy or prosperous you had better be good for goodness sake. If I do mess up I am scared to death that I will get a bad life or miss all that God has for me. So I put on the mask and try to be really good for Jesus. If I can fool those around me maybe, just maybe, I can fool God too. Satan sells the lie so convincingly. And we buy it for months and years and even decades. But God and Santa are very different in their approach. God does not keep a list. He is not impressed by our hernia inducing straining to control sin. What God sees is Jesus in Dave Burchett when I sin. Jesus offers us so many gifts. But the one we seem to have the hardest time unwrapping is the gift of grace. The gift that allows us to become who God desires us to become as we simply trust Him and quit trying to be “good” for goodness sake. We are saved by grace and faith in Christ. We become like Him by the same radical strategy. Faith that He has changed us into a new creation. And understanding the grace that gives us good gifts even when we don’t deserve them. Don’t let the Santa Claus theology live into the New Year. Go straight to the gift of grace that Jesus left under the Cross. Open it. And clothe yourself in His salvation, acceptance and love. It may be the best gift you have ever given yourself. Dave Burchett is an Emmy Award winning television sports director, author, and Christian speaker. He is the author of When Bad Christians Happen to Good People and Bring'em Back Alive: A Healing Plan for those Wounded by the Church. You can reply by linking through daveburchett.com.
Find this article at: http://www.crosswalk.com/spirituallife/11561774/
Christmas Traditions
by Ted Olsen, former assistant editor of Christian History
The following article is located at: http://www.christianitytoday.com/history/newsletter/christmas/trad.html
When my parents were getting ready to celebrate Christmas in their new home in Denver after moving from Seattle several years ago, they tried to make a list of all our family's Christmas traditions. They wanted to make sure Christmas, even though it was in a new place, still felt exactly like Christmas. So my whole family sat down to share Christmas memories and discuss customs we carried out year after year, knowingly and unknowingly. It took a long time, especially since many of our traditions were detailed: how many presents to open on Christmas Eve (one), what to eat on Christmas morning (scrambled eggs, bacon, and Pillsbury orange rolls), etc. It was a fascinating experience, because we all had "traditions" that were obvious to us, but which other family members had never even considered. Even more surprising, my brothers and I had considered some practices "traditions" when in reality we had only done them once or twice.
As I've been reading about Christmas traditions this week, I've wondered how many of them have such dubious backgrounds. I can't recount all the histories here, but several books available at your library have already done so. The stories are fascinating. Christmas cards began instead as New Year's greetings. The Christmas tree was associated with the Edenic Tree of Knowledge and decorated with apples, a forbidden fruit. Holly was thought to be the tree from which the cross was made. Hanging mistletoe comes from an old Scandinavian military custom: enemies encountering each other under the plant laid down their arms in truce until the next day. What has also surprised me is how many times Francis of Assisi (c. 1181-1226) has come up in these traditions. Apparently, Francis's friars (and perhaps Francis himself) were the first to write simple, happy, Gospel-based songs. These were much lighter and festive than hymns and are considered by historians as the first carols. Francis also is the first person on record to create a Christmas nativity scene. On Christmas Eve 1223, in order to "Set before our bodily eyes รข€| how he [Jesus] lay in a manger," Francis and his companions worshiped in a cave near Greccio, Italy, surrounded by the traditional oxen, sheep, and donkeys. An early Francis biographer recounted, "Neighborhood people prepared with joy according to their capacity, bringing candles and torches to illumine the night that has been the light of the world through its star. Finally, the saint of God arrived and saw it and was glad. The manger was ready, hay was spread, and the ox and ass led in. "Thus, simplicity was honored, poverty exalted, humility praised. Greccio was made a new Bethlehem. The night became as day to the joy of men and animals. The people were happy at this great mystery. the forest echoed with the voices of the congregation; the rocks cried out in jubilation. The friars sang their debt of praise to God, and the night echoed with their hymns. The saint of God stood near the manger, overwhelmed with love and swelling with happiness."
* Christian History issue 42: Francis of Assisi
The following article is located at: http://www.christianitytoday.com/history/newsletter/christmas/trad.html
When my parents were getting ready to celebrate Christmas in their new home in Denver after moving from Seattle several years ago, they tried to make a list of all our family's Christmas traditions. They wanted to make sure Christmas, even though it was in a new place, still felt exactly like Christmas. So my whole family sat down to share Christmas memories and discuss customs we carried out year after year, knowingly and unknowingly. It took a long time, especially since many of our traditions were detailed: how many presents to open on Christmas Eve (one), what to eat on Christmas morning (scrambled eggs, bacon, and Pillsbury orange rolls), etc. It was a fascinating experience, because we all had "traditions" that were obvious to us, but which other family members had never even considered. Even more surprising, my brothers and I had considered some practices "traditions" when in reality we had only done them once or twice.
As I've been reading about Christmas traditions this week, I've wondered how many of them have such dubious backgrounds. I can't recount all the histories here, but several books available at your library have already done so. The stories are fascinating. Christmas cards began instead as New Year's greetings. The Christmas tree was associated with the Edenic Tree of Knowledge and decorated with apples, a forbidden fruit. Holly was thought to be the tree from which the cross was made. Hanging mistletoe comes from an old Scandinavian military custom: enemies encountering each other under the plant laid down their arms in truce until the next day. What has also surprised me is how many times Francis of Assisi (c. 1181-1226) has come up in these traditions. Apparently, Francis's friars (and perhaps Francis himself) were the first to write simple, happy, Gospel-based songs. These were much lighter and festive than hymns and are considered by historians as the first carols. Francis also is the first person on record to create a Christmas nativity scene. On Christmas Eve 1223, in order to "Set before our bodily eyes รข€| how he [Jesus] lay in a manger," Francis and his companions worshiped in a cave near Greccio, Italy, surrounded by the traditional oxen, sheep, and donkeys. An early Francis biographer recounted, "Neighborhood people prepared with joy according to their capacity, bringing candles and torches to illumine the night that has been the light of the world through its star. Finally, the saint of God arrived and saw it and was glad. The manger was ready, hay was spread, and the ox and ass led in. "Thus, simplicity was honored, poverty exalted, humility praised. Greccio was made a new Bethlehem. The night became as day to the joy of men and animals. The people were happy at this great mystery. the forest echoed with the voices of the congregation; the rocks cried out in jubilation. The friars sang their debt of praise to God, and the night echoed with their hymns. The saint of God stood near the manger, overwhelmed with love and swelling with happiness."
* Christian History issue 42: Francis of Assisi
Yesaya 12: 1-6
(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Pengantar
Terjemahan Indonesia jelas membagi kitab nabi Yesaya menjadi dua. Bagian pertama mencakup bab 1-39, sedangkan bagian kedua melingkupi bab 40-66. Pembagian itu tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani. Tetapi berdasarkan berbagai petunjuk dan pertimbangan, pembagian tersebut memang perlu. [ . . . ] Dalam Yes 1-35 terkumpul sejumlah nubuat yang pada pokoknya berasal dari nabi Yesaya yang tampil di wilayah Yehuda sekitar th. 740-700 seb. Mas. [ . . . ] Meskipun nubuat-nubuat yang terkumpul dalam Yes 1-35 sungguh berasal dari nabi Yesa- ya, namun ada kekecualiaan juga. Terdapatlah beberapa tambahan yang cukup penting yang di kemudian hari barulah disisipkan ke dalam kumpulan nubuat-nubuat nabi Yesaya. Begitu misalnya bab 13-14; 24-27; 33; 34-35. Semua bagian cukup besar ini berasal dari nabi-nabi yang tampildi zaman pembuangan atau sesudahnya. [ . . . ] Kitab nabi Yesaya seperti tercantum dalam Alkitab memuat tiga macam kumpulan nubuat. Dalam bab 1-12 terhimpun sejumlah nubuat yang berupa ancaman ditujukan kepada umat Allah di Yehuda. Dalam bab 13-23 terkumpul sejumlah nubuat berupa ancaman tertuju kepada berbagai bangsa yang memusuhi umat Tuhan . . . [kutipan dari C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 245ff.]. Informasi: Fasal 1-12 Fasal 1 merupakan Pendahuluan untuk seluruh kitab Yesaya. Jadi sebenar- nya bagian pertama dimulai dengan fasal
2:1. Di dalam fasal 12 terdapat suatu mazmur yang merupakan penutup liturgis untuk bagian pertama [ . . . ] Fasal 12: Nyanyian syukur atas keselamatan (ayat 1-6). [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 108 dan 110]. 2. Eksposisi 2.1. Mengapa orang-orang diminta untuk berkata: “Aku mau bersyukur . . .”? Karena mereka hanya terpaku pada derita yang mereka sedang alami saat itu, maka sang nabi mendorong mereka untuk mempunyai perspektif yang lebih luas. Ia mendorong mereka untuk menaruh pengharapan mereka kepada Tuhan. Dimulai dengan pengungkapan niat (”Aku mau bersyukur”), diikuti dengan alasan (“murkamu telah surut dan Engkau menghibur aku”), dan ditutup dengan pernyataan iman (“Allah itu keselamatanku”).
2.2. Mengapa emosi Allah nampaknya berubah-rubah(“murka telah surut . . . menghibur”)? Karena kasihNya sedemikian besar bagi umatNya, yang justru “plin-plan” dalam kese- tiaannya kepada Tuhan Juga karena Tuhan sungguh-sungguh berusaha memelihara hubungan dengan umatNya. “If he were indifferent about our sin, for example, his apathy would show he didn’t care about us as his people”. Yesaya secara sengaja menggambar- kan Tuhan ber-emosi untuk memberi “impact” terhadap seruannya dan sekaligus me- mungkinkan umat memahami spektrum dari pihak Allah. Dalam ay. 2 terdapat suatu [“glorius”] paradoks. Allah yang murka pada akhirnya malah menjadi sumber “keselamatan” satu-satunya. “In the end, ‘comfort’ (= salvation) can be found only by fleeing into the arms of the righteous God whose wrath we have incurred” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England: IVP, 1996), p. 78]. Informasi: [Ayat 2] It is noteworthy that trust [LAI: “percaya”] , in many . . . cases, is the alternative to fear [LAI: “gementar”] which might render as elemental anxiety [ . . . ] Human person, as Erikson saw well, are finally confronted with the options of trust and fear. The celebrated human person, in Israel’s horizon, is embedd- ed deeply in trust. This trust is not vague and amorphous; it focuses on Yah- weh as an active agent who sustains and intervenes. From that personal and intimate focus, however, Israel is able to generalize, so that one may come to trust the world over which Yahweh presides as a safe and reliable place in which to live [kutipan dari Walter Brueggemann, Theology of the Old Testament (Minnea- polis: Fortress, 1997), p. 468].
2.3. Ayat 4 – 6 Penggalan ini merupakan suatu nyanyian jemaat, di mana para pengunjung ibadah menyampaikan seruan satu kepada yang lain secara berbalasan untuk “bersyukur . . . kepada Tuhan” (4a), untuk memberitahukan perbuatanNya kepada “bangsa-bangsa” (4b), dan menyatakannya itu semua dengan penuh kesukacitaan dan dengan suara lantang (5-6). Ada dua alasan mengapa layak untuk bersyukur: [1] “perbuatanNya yang mulia” (5a), dan [2] kehadiranNya di Sion (6b). KehadiranNya itu adalah konsekwensi dari perbuatan- Nya yang mulia itu. “It is the LORD’s glorious deeds in judgment and salvation that have established his presence in Zion as the great and Holy One, terms which point unequivo- cally to his kingship” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Webb, op. cit., p. 79]. 3. Refleksi Sesuai dengan konteksnya, nyanyian syukur ini berfungsi sebagai penutup terhadap gambaran pemerintahan dan kekuasaan sang Mesias yang dimulai dalam 11:1. Di pihak lain dalam hu- bungannya dengan pasal 13, maka pasal 12 ini juga sekaligus menjadi klimaks dari bagian pertama kitab nabi Yesaya. Ini tersirat dalam ayat penutup: “Berserulah dan bersorak-sorailah hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung ditengah-tengahmu” (12:6). Bukankah ayat ini analog atau paling tidak sejajar dengan pujian para malaikat dalam Luk 2:14: “Kemulian bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya”? Jadinya bacaan kita dari Yes 12 ini meminta perhatian dan mengingatkan kita pada rasa bersyukur dan bagaimana seharusnya peranannya dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Bersana dengan George Herbert, seorang penyair Inggris abad ke-17, kita memohon: “O Engkau yang telah memberi kami sekian banyak anugerah, sudilah memberi kami satu hal lagi, yaitu hati yang tahu berterima kasih”. Semoga pada hari Natal ini, Roh Kudus menumbuhkan dalam hati kita suatu keinginan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan dengan beberapa cara yang konkret dan nyata. Pikirkanlah apa yang mungkin dapat menjadi ungkapan rasa syukur Anda pada hari Natal ini. Ilustrasi: Seorang pria telah mengambil risiko mati dengan terjun ke dalam sebuah sungai yang sangat deras untuk menyelamatkan seorang anak laki-laki yang hanyut diba- wa arus. Sesudah anak ini diselamatkan, ia lalu berkata kepada pria itu, “Terima kasih. Bapak telah menyelamatkan hidup saya.” Orang itu lalu merangkul anak itu sambil berkata, “Sudahlah, anakku! Sadarlah bahwa hidupmu itu bernilai sehingga layak diselamatkan.” [Sumber dan kutipan sajak dan ilustrasi dari Mark Link SJ, Challenge/ Tantangan, terj. (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 140 dan 147].
- - - NR - - -
1. Pengantar
Terjemahan Indonesia jelas membagi kitab nabi Yesaya menjadi dua. Bagian pertama mencakup bab 1-39, sedangkan bagian kedua melingkupi bab 40-66. Pembagian itu tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani. Tetapi berdasarkan berbagai petunjuk dan pertimbangan, pembagian tersebut memang perlu. [ . . . ] Dalam Yes 1-35 terkumpul sejumlah nubuat yang pada pokoknya berasal dari nabi Yesaya yang tampil di wilayah Yehuda sekitar th. 740-700 seb. Mas. [ . . . ] Meskipun nubuat-nubuat yang terkumpul dalam Yes 1-35 sungguh berasal dari nabi Yesa- ya, namun ada kekecualiaan juga. Terdapatlah beberapa tambahan yang cukup penting yang di kemudian hari barulah disisipkan ke dalam kumpulan nubuat-nubuat nabi Yesaya. Begitu misalnya bab 13-14; 24-27; 33; 34-35. Semua bagian cukup besar ini berasal dari nabi-nabi yang tampildi zaman pembuangan atau sesudahnya. [ . . . ] Kitab nabi Yesaya seperti tercantum dalam Alkitab memuat tiga macam kumpulan nubuat. Dalam bab 1-12 terhimpun sejumlah nubuat yang berupa ancaman ditujukan kepada umat Allah di Yehuda. Dalam bab 13-23 terkumpul sejumlah nubuat berupa ancaman tertuju kepada berbagai bangsa yang memusuhi umat Tuhan . . . [kutipan dari C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 245ff.]. Informasi: Fasal 1-12 Fasal 1 merupakan Pendahuluan untuk seluruh kitab Yesaya. Jadi sebenar- nya bagian pertama dimulai dengan fasal
2:1. Di dalam fasal 12 terdapat suatu mazmur yang merupakan penutup liturgis untuk bagian pertama [ . . . ] Fasal 12: Nyanyian syukur atas keselamatan (ayat 1-6). [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 108 dan 110]. 2. Eksposisi 2.1. Mengapa orang-orang diminta untuk berkata: “Aku mau bersyukur . . .”? Karena mereka hanya terpaku pada derita yang mereka sedang alami saat itu, maka sang nabi mendorong mereka untuk mempunyai perspektif yang lebih luas. Ia mendorong mereka untuk menaruh pengharapan mereka kepada Tuhan. Dimulai dengan pengungkapan niat (”Aku mau bersyukur”), diikuti dengan alasan (“murkamu telah surut dan Engkau menghibur aku”), dan ditutup dengan pernyataan iman (“Allah itu keselamatanku”).
2.2. Mengapa emosi Allah nampaknya berubah-rubah(“murka telah surut . . . menghibur”)? Karena kasihNya sedemikian besar bagi umatNya, yang justru “plin-plan” dalam kese- tiaannya kepada Tuhan Juga karena Tuhan sungguh-sungguh berusaha memelihara hubungan dengan umatNya. “If he were indifferent about our sin, for example, his apathy would show he didn’t care about us as his people”. Yesaya secara sengaja menggambar- kan Tuhan ber-emosi untuk memberi “impact” terhadap seruannya dan sekaligus me- mungkinkan umat memahami spektrum dari pihak Allah. Dalam ay. 2 terdapat suatu [“glorius”] paradoks. Allah yang murka pada akhirnya malah menjadi sumber “keselamatan” satu-satunya. “In the end, ‘comfort’ (= salvation) can be found only by fleeing into the arms of the righteous God whose wrath we have incurred” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England: IVP, 1996), p. 78]. Informasi: [Ayat 2] It is noteworthy that trust [LAI: “percaya”] , in many . . . cases, is the alternative to fear [LAI: “gementar”] which might render as elemental anxiety [ . . . ] Human person, as Erikson saw well, are finally confronted with the options of trust and fear. The celebrated human person, in Israel’s horizon, is embedd- ed deeply in trust. This trust is not vague and amorphous; it focuses on Yah- weh as an active agent who sustains and intervenes. From that personal and intimate focus, however, Israel is able to generalize, so that one may come to trust the world over which Yahweh presides as a safe and reliable place in which to live [kutipan dari Walter Brueggemann, Theology of the Old Testament (Minnea- polis: Fortress, 1997), p. 468].
2.3. Ayat 4 – 6 Penggalan ini merupakan suatu nyanyian jemaat, di mana para pengunjung ibadah menyampaikan seruan satu kepada yang lain secara berbalasan untuk “bersyukur . . . kepada Tuhan” (4a), untuk memberitahukan perbuatanNya kepada “bangsa-bangsa” (4b), dan menyatakannya itu semua dengan penuh kesukacitaan dan dengan suara lantang (5-6). Ada dua alasan mengapa layak untuk bersyukur: [1] “perbuatanNya yang mulia” (5a), dan [2] kehadiranNya di Sion (6b). KehadiranNya itu adalah konsekwensi dari perbuatan- Nya yang mulia itu. “It is the LORD’s glorious deeds in judgment and salvation that have established his presence in Zion as the great and Holy One, terms which point unequivo- cally to his kingship” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Webb, op. cit., p. 79]. 3. Refleksi Sesuai dengan konteksnya, nyanyian syukur ini berfungsi sebagai penutup terhadap gambaran pemerintahan dan kekuasaan sang Mesias yang dimulai dalam 11:1. Di pihak lain dalam hu- bungannya dengan pasal 13, maka pasal 12 ini juga sekaligus menjadi klimaks dari bagian pertama kitab nabi Yesaya. Ini tersirat dalam ayat penutup: “Berserulah dan bersorak-sorailah hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung ditengah-tengahmu” (12:6). Bukankah ayat ini analog atau paling tidak sejajar dengan pujian para malaikat dalam Luk 2:14: “Kemulian bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya”? Jadinya bacaan kita dari Yes 12 ini meminta perhatian dan mengingatkan kita pada rasa bersyukur dan bagaimana seharusnya peranannya dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Bersana dengan George Herbert, seorang penyair Inggris abad ke-17, kita memohon: “O Engkau yang telah memberi kami sekian banyak anugerah, sudilah memberi kami satu hal lagi, yaitu hati yang tahu berterima kasih”. Semoga pada hari Natal ini, Roh Kudus menumbuhkan dalam hati kita suatu keinginan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan dengan beberapa cara yang konkret dan nyata. Pikirkanlah apa yang mungkin dapat menjadi ungkapan rasa syukur Anda pada hari Natal ini. Ilustrasi: Seorang pria telah mengambil risiko mati dengan terjun ke dalam sebuah sungai yang sangat deras untuk menyelamatkan seorang anak laki-laki yang hanyut diba- wa arus. Sesudah anak ini diselamatkan, ia lalu berkata kepada pria itu, “Terima kasih. Bapak telah menyelamatkan hidup saya.” Orang itu lalu merangkul anak itu sambil berkata, “Sudahlah, anakku! Sadarlah bahwa hidupmu itu bernilai sehingga layak diselamatkan.” [Sumber dan kutipan sajak dan ilustrasi dari Mark Link SJ, Challenge/ Tantangan, terj. (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 140 dan 147].
- - - NR - - -
17 Desember 2007
Yesaya 40 : 1 – 5
(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipam Lepas)
1. Pengantar
Si penulis (Deutro Yesaya) menyampaikan berita gembira dalam perikop kita hari ini kepada orang-orang yang indentitasnya telah berantakan dan yang hampir-hampir telah kehilangan pengharapan sama sekali. Untuk orang-orang yang berada dalam situasi demikian, berita gembira yang “murahan” tidak saja percuma, tetapi juga kejam. Penghiburan yang tidak ditopang oleh kebenaran dan/atau kenyataan yang sesungguhnya adalah penghiburan hampa. Maklumat yang disampaikan nabi [Deutro] Yesaya semuanya adalah sungguh-sungguh ditopang dengan kebenaran yang disinggung tadi. Informasi: . . . by the later years of the exile it seemed that many had abandoned hope. The Israelites accused Yahweh of having forgotten and forsaken them (e.g. Is. 40:27, 49:14) --- a rich irony in view of the fact that it was they who for centuries had treated Him that way. Into this lethargic despair came the message of Isaiah 40-55, either the preserved words of Isaiah himself from the eighth century now at last relevant, or, as many scholars believe, the words of an anonymous prophet of the calibre of Isaiah (and greatly influenced him) who lived at the time of the exile itself and addressed his stirring message to the exiles. At a time when all they could see was the threatening rise of yet another empire (the Persians), this prophet calls on them to lift up their eyes and hearts once more to see their God on the move bringing liberation at last [kutipan dari Chris Wright, Knowing Jesus through the Old Testament (London: Mashall Pickering, 1992), p. 21 f.]. Nabi Deutro-Yesaya hanya membawakan berita keselamatan saja. Dia tidak bernubuat bahwa keselamatan itu akan datang, melainkan bahwa keselamatan itu sudah datang. Masa pembuangan di Babel sudah selesai, masa penderitaan sudah berakhir [kutipan dari A. Th. Kramer, Singa Telah Mengaum (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 84].
2. Eksposisi
Kebenaran apakah itu?
2.1. Yang pertama ialah bahwa mereka tetap merupakan umat Allah (ayat 1: “umatKu”). Kenapa demikian? Karena Yahweh menghargai dan tetap setia terhadap perjanjian anugerah (“covenant’) yang dulu diadakan antara Dia dengan leluhur mereka. Walaupun memang sudah hancur, namun Yerusalem tidak akan diterlantarkan oleh Tuhan. Dengan itu Allah punya rencana yang membebaskan bagi mereka, justru karena mereka masih tetap mendapat perhatian khusus dari Allah (ayat 2).
2.2. Kebenaran kedua ialah bahwa pendurhakaan dan dosa mereka telah diampuni (ayat 2). Excursus: The penalty for their sins has been paid in full, and consequently they are to be released forthwith from hard labour. The royal pardon has come, the prison doors are flung wide open, and they are free! What good news this is --- but how unexpected! No doubt the inner circle of Isaiah’s disciples long treasured these words. But others, hearing them for the first time in exile, must have been startled by them, as a prisoner emerging from a dungeon blinks at the light. How could this be? What was the explanation for it? Could fifty, sixty, or seventy years of exile pay for rebellion that had gone on for scores of generations? Could it atone even for the sins of those directly affected, let alone for those of their ancestors? The fact of the matter is that there is far more to this announcement of pardon that first meets the eye. There is mystery here that will not be explained fully until chapter 53. But for now the simple announcement is allowed to stand alone in all its stark and bold splendour. You are forgiven! Your sins have been paid for! What more comforting truth could there be for shattered people than that? [kutipan dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England: IVP, 1996), pp. 162 f.]. The following . . . verses . . . have often been cited against the idea that God deals in strict justice with man: Isaiah 40:2 --- “Speak tenderly to Jerusalem . . ., that she has received from the Lord’s hand double [. . . kiplayim] for all her sins.” Jeremiah 16:18 . . . Psalm 7:11 . . . Romans 3:5-6 . . . [kutipan dari Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 1998), pp. 196 f.].
2.3. Kebenaran ketiga ialah bahwa Allah akan bertindak untuk mewujud-nyatakan akta pengampunan yang telah diberlakukanNya. “He will not leave them where they are; he will bring them home” (Webb, loc. cit.) [ayat 3-5]. Tersirat dalam ayat 3 bahwa pembe- basan dilihat sebagai peristiwa “keluaran” yang lebih hebat dari “keluaran” pertama. “The return from exile is in some sense a return of Yahweh himself, bringing his flock with him [ayat 11], and involves a theophany” [ayat 5, 9] (kutipan dari Peake’s Commentary on the Bible [London: Nelson, 1972], p. 517). Excursus: How were these promises fulfilled [ayat 3-5 dan 9]? Those who heard Isaiah’s prophecy associated it with the return of the exiles from Babylon to Jerusalem. We can see another fulfillment, however, because of the New Testament. Isaiah’s word anticipated John the Baptist and the good news announcing the coming Messiah [kutipan dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 1035). . . . as the watching world looks on, it will learn what kind of God he is; his glory . . . will be revealed, and all humankind will see it (5). A note is struck here which will recur more and more clearly as the book moves to its climax. The Lord is a missionary God; what he does for his own, he does not for their sake alone, but that all may come to know him. For the moment the focus is on the people of God themselves. ‘Aliens and exiles’ they might be, but not forever. There is solid comfort in that [kutipan dari Webb, op. cit.].
2.4. Walaupun tidak termasuk dalam perikop bacaan kita hari ini, kebenaran terakhir terdapat dalam ayat 6-8. Kebenaran yang dimaksud ialah bahwa janji dan Firman Allah dapat dipercayai seutuhnya (ayat 8: “firman Allah . . . tetap untuk selama-lamanya”). Excursus: Reliance on the word of God is not fatalistic or superstitious. It is trust in something impersonal like the stars or good-luck charm. It is trust in a person who is committed to us and has all the resources necessary to care for us. It is the word of our God that Isaiah speaks of, a word or message that arises from a relationship. And the truth is that God’s word has the same character as God himself. It is as unchanging and reliable as the God who speaks it [kutipan dari Webb, loc. cit.]. “Suara” siapakah yang dimaksudkan dalam ayat 3 dan 6? Dalam konteks bacaan kita, “suara” di sini berfungsi sebagai pengganti ungkapan “demikianlah firman Tuhan”. Bisa juga: “it emphasises that the message is not the prophet’s own word , but given; and it introduces the primary theme of a highway for Yahweh” [kutipan dari Peake’s Commentary on the Bible, loc. cit.]. We know from the New Testament that this prophecy looked ahead to the voice of John the Baptist (Matt. 3:3). John, a cousin of Jesus, helped prepare the way for Jesus’ ministry by preaching about the need for repentance. As people became aware of their sin, the stage was set for Christ’s saving work [kutipan dari Quest Study Bible, loc. cit.].
3. Refleksi dan Aplikasi
Di sini ada sesuatu yang mengagumkan! Dibuang, diejek, direndahkan, kehilangan segalanya, kerja keras tanpa pengharapan, pekerja asing . . . , lalu mulai memuji Allah yang membuat mujizat dalam suara yang begitu meyakinkan, sehingga memberi pengharapan kepada semua orang. Dimanakah [Deutro] Yesaya, yang bersembunyi di belakang misinya dan hanya menye- but dirinya “suara yang berseru-seru”, mendapatkan kekuatan serupa itu? Dalam imannya kepada Allah. Allah yang “membawa kita keluar dari rumah perhambaan” seperti dalam Kitab Keluaran, tetap dapat membebaskan kita. Ia mempunyai kuasa untuk melakukan hal itu, sebab Ia adalah Pencipta. Dan Ia akan berbuat demikian, sebab Ia setia dan mengasihi kita lebih daripada kasih seorang ibu [kutipan dari Etienne Charpentier, Bagaimana Membaca Perjanjian Lama, terj. (Jakarta: BPK-GM, 1989), hlm. 90]. Dengan nada yang mendesak [Deutro] Yesaya berseru: “Persiapkanlah . . . jalan untuk TUHAN” (Yes 40:3). Yohanes Pembaptis berseru: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis . . . akan datang [seseorang] yang lebih berkuasa dari padaku . . .” (Mrk 1:4, 7). Kedua-duanya menyerukan tema pokok yang sama: persiapan menjelang Tuhan tiba. Untuk kita yang kini berada dalam Minggu Advent IV, bagaimana bentuk dan wujud persiapan kita? Apakah itu dalam wujud nyata atau simbolis, kita terpanggil untuk menaati seruan Yohannes Pembaptis: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis . . . [saduran dan terjemahan bebas dari sumber: Abingdon Preacher’s Annual (Nashville, Tenn.: Abingdon, 1993), p. 378]. [Aplikasi yang relevan diserahkan kepada masing-masing Pelayan Firman sesuai dengan “sikon” jemaat masing-masing].
4. Ilustrasi
Ketika Nelson Mandela menjadi presiden Afrika Selatan, ia menunjuk sebuah komisi untuk membawa orang-orang yang telah bersalah atas kekejaman selama masa“apartheid” (perbe- daan rasial) ke ruang pengadilan. Setiap opsir kulit putih yang secara sukarela menghadapi para penuduhnya dan mengakui kesalahannya, tidak akan dihukum. Suatu hari seorang wanita lanjut usia diperhadapkan secara tatap muka dengan opsir yang secara brutal membunuh putra tunggal dan suami tercintanya. Ketika ditanya apa yang wanita itu inginkan dari opsir itu, ia berkata, “Meskipun saya tidak mempunyai keluarga lagi, saya tetap memiliki banyak cinta untuk diberikan.” Ia meminta agar opsir itu mengunjunginya secara teratur, sehingga ia dapat menjadi ibu baginya. Lalu katanya, “Saya ingin memeluknya sehingga ia dapat mengetahui pengampunan saya adalah sungguh-sungguh tulus.” Selagi wanita tua itu berjalan menuju tempat saksi, opsir itu diliputi oleh rasa malu dan penyesalan yang begitu dalam, sehingga ia pingsan. Kesedihan yang wanita itu timbulkan bukanlah balas dendam yang keji, tetapi api yang menyucikan dari kasih karunia Allah yang dapat memimpin kepada pertobatan dan pendamaian. Itulah pembalasan yang menyelamatkan [kutipan dari Santapan Rohani (Grand Rapids, Mich.: RBC Ministries), Jumat, 28 Oktober 2005]. Kisah tadi hampir-hampir identik dengan tindakan pengampunan dan penyelamatan Tuhan bagi umat Israel menjelang akhir masa pembuangan mereka di Babilonia.
- - - NR - - -
1. Pengantar
Si penulis (Deutro Yesaya) menyampaikan berita gembira dalam perikop kita hari ini kepada orang-orang yang indentitasnya telah berantakan dan yang hampir-hampir telah kehilangan pengharapan sama sekali. Untuk orang-orang yang berada dalam situasi demikian, berita gembira yang “murahan” tidak saja percuma, tetapi juga kejam. Penghiburan yang tidak ditopang oleh kebenaran dan/atau kenyataan yang sesungguhnya adalah penghiburan hampa. Maklumat yang disampaikan nabi [Deutro] Yesaya semuanya adalah sungguh-sungguh ditopang dengan kebenaran yang disinggung tadi. Informasi: . . . by the later years of the exile it seemed that many had abandoned hope. The Israelites accused Yahweh of having forgotten and forsaken them (e.g. Is. 40:27, 49:14) --- a rich irony in view of the fact that it was they who for centuries had treated Him that way. Into this lethargic despair came the message of Isaiah 40-55, either the preserved words of Isaiah himself from the eighth century now at last relevant, or, as many scholars believe, the words of an anonymous prophet of the calibre of Isaiah (and greatly influenced him) who lived at the time of the exile itself and addressed his stirring message to the exiles. At a time when all they could see was the threatening rise of yet another empire (the Persians), this prophet calls on them to lift up their eyes and hearts once more to see their God on the move bringing liberation at last [kutipan dari Chris Wright, Knowing Jesus through the Old Testament (London: Mashall Pickering, 1992), p. 21 f.]. Nabi Deutro-Yesaya hanya membawakan berita keselamatan saja. Dia tidak bernubuat bahwa keselamatan itu akan datang, melainkan bahwa keselamatan itu sudah datang. Masa pembuangan di Babel sudah selesai, masa penderitaan sudah berakhir [kutipan dari A. Th. Kramer, Singa Telah Mengaum (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 84].
2. Eksposisi
Kebenaran apakah itu?
2.1. Yang pertama ialah bahwa mereka tetap merupakan umat Allah (ayat 1: “umatKu”). Kenapa demikian? Karena Yahweh menghargai dan tetap setia terhadap perjanjian anugerah (“covenant’) yang dulu diadakan antara Dia dengan leluhur mereka. Walaupun memang sudah hancur, namun Yerusalem tidak akan diterlantarkan oleh Tuhan. Dengan itu Allah punya rencana yang membebaskan bagi mereka, justru karena mereka masih tetap mendapat perhatian khusus dari Allah (ayat 2).
2.2. Kebenaran kedua ialah bahwa pendurhakaan dan dosa mereka telah diampuni (ayat 2). Excursus: The penalty for their sins has been paid in full, and consequently they are to be released forthwith from hard labour. The royal pardon has come, the prison doors are flung wide open, and they are free! What good news this is --- but how unexpected! No doubt the inner circle of Isaiah’s disciples long treasured these words. But others, hearing them for the first time in exile, must have been startled by them, as a prisoner emerging from a dungeon blinks at the light. How could this be? What was the explanation for it? Could fifty, sixty, or seventy years of exile pay for rebellion that had gone on for scores of generations? Could it atone even for the sins of those directly affected, let alone for those of their ancestors? The fact of the matter is that there is far more to this announcement of pardon that first meets the eye. There is mystery here that will not be explained fully until chapter 53. But for now the simple announcement is allowed to stand alone in all its stark and bold splendour. You are forgiven! Your sins have been paid for! What more comforting truth could there be for shattered people than that? [kutipan dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England: IVP, 1996), pp. 162 f.]. The following . . . verses . . . have often been cited against the idea that God deals in strict justice with man: Isaiah 40:2 --- “Speak tenderly to Jerusalem . . ., that she has received from the Lord’s hand double [. . . kiplayim] for all her sins.” Jeremiah 16:18 . . . Psalm 7:11 . . . Romans 3:5-6 . . . [kutipan dari Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 1998), pp. 196 f.].
2.3. Kebenaran ketiga ialah bahwa Allah akan bertindak untuk mewujud-nyatakan akta pengampunan yang telah diberlakukanNya. “He will not leave them where they are; he will bring them home” (Webb, loc. cit.) [ayat 3-5]. Tersirat dalam ayat 3 bahwa pembe- basan dilihat sebagai peristiwa “keluaran” yang lebih hebat dari “keluaran” pertama. “The return from exile is in some sense a return of Yahweh himself, bringing his flock with him [ayat 11], and involves a theophany” [ayat 5, 9] (kutipan dari Peake’s Commentary on the Bible [London: Nelson, 1972], p. 517). Excursus: How were these promises fulfilled [ayat 3-5 dan 9]? Those who heard Isaiah’s prophecy associated it with the return of the exiles from Babylon to Jerusalem. We can see another fulfillment, however, because of the New Testament. Isaiah’s word anticipated John the Baptist and the good news announcing the coming Messiah [kutipan dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 1035). . . . as the watching world looks on, it will learn what kind of God he is; his glory . . . will be revealed, and all humankind will see it (5). A note is struck here which will recur more and more clearly as the book moves to its climax. The Lord is a missionary God; what he does for his own, he does not for their sake alone, but that all may come to know him. For the moment the focus is on the people of God themselves. ‘Aliens and exiles’ they might be, but not forever. There is solid comfort in that [kutipan dari Webb, op. cit.].
2.4. Walaupun tidak termasuk dalam perikop bacaan kita hari ini, kebenaran terakhir terdapat dalam ayat 6-8. Kebenaran yang dimaksud ialah bahwa janji dan Firman Allah dapat dipercayai seutuhnya (ayat 8: “firman Allah . . . tetap untuk selama-lamanya”). Excursus: Reliance on the word of God is not fatalistic or superstitious. It is trust in something impersonal like the stars or good-luck charm. It is trust in a person who is committed to us and has all the resources necessary to care for us. It is the word of our God that Isaiah speaks of, a word or message that arises from a relationship. And the truth is that God’s word has the same character as God himself. It is as unchanging and reliable as the God who speaks it [kutipan dari Webb, loc. cit.]. “Suara” siapakah yang dimaksudkan dalam ayat 3 dan 6? Dalam konteks bacaan kita, “suara” di sini berfungsi sebagai pengganti ungkapan “demikianlah firman Tuhan”. Bisa juga: “it emphasises that the message is not the prophet’s own word , but given; and it introduces the primary theme of a highway for Yahweh” [kutipan dari Peake’s Commentary on the Bible, loc. cit.]. We know from the New Testament that this prophecy looked ahead to the voice of John the Baptist (Matt. 3:3). John, a cousin of Jesus, helped prepare the way for Jesus’ ministry by preaching about the need for repentance. As people became aware of their sin, the stage was set for Christ’s saving work [kutipan dari Quest Study Bible, loc. cit.].
3. Refleksi dan Aplikasi
Di sini ada sesuatu yang mengagumkan! Dibuang, diejek, direndahkan, kehilangan segalanya, kerja keras tanpa pengharapan, pekerja asing . . . , lalu mulai memuji Allah yang membuat mujizat dalam suara yang begitu meyakinkan, sehingga memberi pengharapan kepada semua orang. Dimanakah [Deutro] Yesaya, yang bersembunyi di belakang misinya dan hanya menye- but dirinya “suara yang berseru-seru”, mendapatkan kekuatan serupa itu? Dalam imannya kepada Allah. Allah yang “membawa kita keluar dari rumah perhambaan” seperti dalam Kitab Keluaran, tetap dapat membebaskan kita. Ia mempunyai kuasa untuk melakukan hal itu, sebab Ia adalah Pencipta. Dan Ia akan berbuat demikian, sebab Ia setia dan mengasihi kita lebih daripada kasih seorang ibu [kutipan dari Etienne Charpentier, Bagaimana Membaca Perjanjian Lama, terj. (Jakarta: BPK-GM, 1989), hlm. 90]. Dengan nada yang mendesak [Deutro] Yesaya berseru: “Persiapkanlah . . . jalan untuk TUHAN” (Yes 40:3). Yohanes Pembaptis berseru: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis . . . akan datang [seseorang] yang lebih berkuasa dari padaku . . .” (Mrk 1:4, 7). Kedua-duanya menyerukan tema pokok yang sama: persiapan menjelang Tuhan tiba. Untuk kita yang kini berada dalam Minggu Advent IV, bagaimana bentuk dan wujud persiapan kita? Apakah itu dalam wujud nyata atau simbolis, kita terpanggil untuk menaati seruan Yohannes Pembaptis: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis . . . [saduran dan terjemahan bebas dari sumber: Abingdon Preacher’s Annual (Nashville, Tenn.: Abingdon, 1993), p. 378]. [Aplikasi yang relevan diserahkan kepada masing-masing Pelayan Firman sesuai dengan “sikon” jemaat masing-masing].
4. Ilustrasi
Ketika Nelson Mandela menjadi presiden Afrika Selatan, ia menunjuk sebuah komisi untuk membawa orang-orang yang telah bersalah atas kekejaman selama masa“apartheid” (perbe- daan rasial) ke ruang pengadilan. Setiap opsir kulit putih yang secara sukarela menghadapi para penuduhnya dan mengakui kesalahannya, tidak akan dihukum. Suatu hari seorang wanita lanjut usia diperhadapkan secara tatap muka dengan opsir yang secara brutal membunuh putra tunggal dan suami tercintanya. Ketika ditanya apa yang wanita itu inginkan dari opsir itu, ia berkata, “Meskipun saya tidak mempunyai keluarga lagi, saya tetap memiliki banyak cinta untuk diberikan.” Ia meminta agar opsir itu mengunjunginya secara teratur, sehingga ia dapat menjadi ibu baginya. Lalu katanya, “Saya ingin memeluknya sehingga ia dapat mengetahui pengampunan saya adalah sungguh-sungguh tulus.” Selagi wanita tua itu berjalan menuju tempat saksi, opsir itu diliputi oleh rasa malu dan penyesalan yang begitu dalam, sehingga ia pingsan. Kesedihan yang wanita itu timbulkan bukanlah balas dendam yang keji, tetapi api yang menyucikan dari kasih karunia Allah yang dapat memimpin kepada pertobatan dan pendamaian. Itulah pembalasan yang menyelamatkan [kutipan dari Santapan Rohani (Grand Rapids, Mich.: RBC Ministries), Jumat, 28 Oktober 2005]. Kisah tadi hampir-hampir identik dengan tindakan pengampunan dan penyelamatan Tuhan bagi umat Israel menjelang akhir masa pembuangan mereka di Babilonia.
- - - NR - - -
Yesaya 7: 10 – 19
(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Pengantar
[Aram dan Israel Utara mengajak Yehuda memberontak terhadap Asyur. Tetapi Yehuda menolak. Jadinya Aram dan Israel Utara balik menyerang Yehuda. Itulah “perang Syro- Efraemi’] Yesaya 7:1-25 menggambarkan keadaan di Yehuda selama perang Syro-Efraemi [Aram- Israel Utara] (734-733 sM). Pada mulanya perang itu “ . . . hati Ahaz dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin” (Yes 7:2b). Nabi Yesaya diperintahkan Tuhan untuk menemui Ahaz. Dan Yesaya harus membawa anaknya Sear Yasyub (= sisa akan kembali) sebagai tanda pengharapan! Si nabi menegaskan kepada Ahaz bahwa dia tidak usah takut terhadap serangan Aram[“Syro”] dan Israel Utara [“Efraemi”], “kedua puntung kayu api berasap ini” (Yes 7:4). Ahaz harus bersandar kepada Tuhan saja dan tidak boleh bersandar kepada Asyur atau kepada kekuatan sendiri. “Jika kamu tidak percaya, sungguh kamu tidak teguh jaya” (Yes. 7:9). Ahaz diperbolehkan meminta pertanda bahwa Tuhan menyertainya. Tetapi Ahaz menolak dengan alasan munafik: “aku tidak mau mencobai Tuhan” (Yes 7:12). Kemudian Yesaya memberi tanda, walaupun tidak diminta. “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengan- dung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan dia Imanuel” (Yes 7:14). Kata yang dipakai dalam bahasa Ibrani ialah ‘alemah’, yang berarti ‘perempuan muda’, dan bukan perawan atau anak dara (dalam bah. Ibr. ‘betulah’). Dalam hal ini Septuaginta menim- bulkan banyak kesalahan dalam tafsiran dengan terjemahan: ‘parthenos’, yaitu anak dara. Terjemahan Septuaginta ini dikutip dalam Mat 1:21. Mungkin sekali isteri-muda raja Ahaz atau seorang perempuan lain dari kalangan istana yang dimaksudkan dengan ‘perempuan muda’ itu. Anak yang dilahirkan oleh perempuan muda itu diberi nama simbolis: Imanuel (= Allah menyertai kita)., sebagai tanda bahwa Tuhan menyertai Ahaz dalam perang Syro-Efraemi itu. Sebelum anak Imanuel itu tahu membedakan yang baik dari pada yang jahat (setelah dua atau tiga tahun), Tuhan akan menghukum Aram dan Israel Utara. Ahaz menolak tanda-penyertaan oleh Tuhan itu. Menurut keterangan dari 2 Raj 16:7, Ahaz meminta bantuan Asyur, dan bukan dari Tuhan, terhadap ancaman dari Aram dan Israel Uta- ra itu. Dalam Kitab Raja-Raja, Ahaz digambarkan sebagai raja “yang tidak melakukan apa yang benar di mata Tuhan”. Dia mempersembahkan anaknya kepada dewa Molokh. Di Yeru- salem didirikannya sebuah mezbah sesuai dengan bagan dalam agama Asyur (2 Raj 16:10- 11) [kutipan dari A.Th. Kramer, Singa Telah Mengaum (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm 42ff.].
2. Eksposisi
Bagian-bagian terpenting Yesaya tentang mesias adalah 7:13-17; 9:5-6 dan 11:1-9. Ada pan- dapat yang menggabungkan 7:14-16; (8:5-10); 9:1-16 dan 11:1-9 menjadi nubuat Imanuel, karena menyinggung orang yang sama: Imanuel. Kesamaan jati diri dari pribadi tersebut dapat kita lihat dari kenyataan, bahwa kedatangannya selalu di masa akhir. [ . . . ] Dalam penelitian eksegetis, nubuat kelahiran Imanuel ini termasuk bagian Perjanjian Lama yang paling banyak dipertentangkan maknanya. Interpretasi itu antara lain: Imanuel adalah anak Raja Ahaz Imanuel adalah anak Yesaya Imanuel adalah tokoh dari suatu mite Imanuel adalah nama gabungan untuk beberapa anak-anak dari ibu yang berbeda Imanuel adalah suatu rahasia Imanuel adalah mesias (penulis [i.e. Dr. S.M. Siahaan] setuju dengan pendapat terakhir ini) [ . . . ] Dari Yesaya 7; 9 dan 11 jelas dapat kita lihat pertumbuhan pemahaman pengharapan mesia- nis ini, yang akan terus bertumbuh hingga masa-masa nabi pembuangan. Seperti dalam Ye- saya 7:14 dst. Masa keselamatan itu didahului masa penderitaan. Kegelapan yang dinubuat- kan Amos (Am 5:13 dst.) telah tiba. Yesaya tidak merasa perlu menjelaskan lagi jati diri anak dimaksud, karena sudah jelas bagi bangsa Israel dari masa Yesaya hidup. Namanya juga sudah tidak menjadi masalah. Bangsa Israel sudah menunggu pembawa keselamatan yang memunyai predikat Anak Allah. Dengan menunjuk pada proses kelahiran, maka Yesaya menunjuk pada hubungan dengan 7:14 karena mesias yang akan datang itu adalah Imanuel yang kelahirannya dinubuatkan dalam 7:14 [kutipan dari S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GN, 1991), hlm. 18f.].
3 Informasi:
. . . the Immanuel sign contained a promise as well as a threat. For Isaiah and his followers it meant the promise of God’s protecting presence and the eventual fulfillment of God’s good purpose for his people. The preservation of the remnant in Isaiah’s day was part of a process which led finally to the coming of Jesus, the perfectly faithful and righteous one, in whom all God’s promise come to fulfillment. So Matthew was right to see the ultimate fulfillment of the Immanuel saying in Jesus Christ. What was death to Ahaz is life to us who believe [kutipan dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England: IVP, 1997), p. 63].
4. Excursus:
“Mesianisme” Banyak nabi tidak membuat pernyataan apapun tentang mesias (Amos, Hosea, Yoel, Obaja, Zefanya, Maleakhi), sedang yang lain tidak begitu memperhatikan hal ini (Yeremia, Yehezki- el). Kesimpulan seperti itu mengharuskan kita semua menghindari kekaburan dalam menggu- nakan istilah. Warta tentang raja benar dan penyelamat tidak berarti bahwa teks tertentu berbicara tentang mesias dalam arti sempit. Bahkan pernyataan Hagai dan Zakharia bila mereka itu melihat janji lama terpenuhi pada masanya, tidak berarti bahwa itu janji mesias. Mesias dan mesianis hanya dikenakan pada tokoh zaman akhir. Ternyata hanya sedikit teks yang berbicara tentang hal ini. Mutu ilahi dan kurnia istimewa yang tampak dalam seorang raja, ternyata bisa menjadi biasa sekali dalam lingkungan tradisi Timur Tenga kuno. Maka bisa dikatakan bahwa pada zaman kerajaan tidak terdapat nubuat mesianis dalam arti sempit. Baru dalam masa pembuangan – dan dalam lingkungan tertentu, dan bukan dalam lingkungan umat pada umumnya – ada harapan bahwa Allah akan menumbuhkan dinasti Daud. Tetapi harapan seperti itu tidak harus dimengerti mesianis. Dan dengan perjalanan waktu harapan seperti itu berkembang, sejalan dengan harapan keselamatan yang penuh. Dengan demikian maka rumusan yang semula tidak harus dimengerti secara mesianis lambat laun dibaca kembali dalam terang mesias itu. Itu dilakukan oleh beberapa penafsir Yahudi, tetapi juga oleh penafsir Kristen awal. Mereka tidak memperhatikan hubung- an antara pewartaan dan kenyataan, dan tidak pula memperhatikan arti sebenarnya dari suatu rumusan, melainkan menggunakannya sebagai dukungan iman, kutipan susastra, mengideal- kan dan merohanikan sejarah. [ . . . ] Itu tentu tidakberarti bahwa rumusan yang dulu sama sekali kurang artinya. Tetapi harus dikatakan bahwa lebih daripada nubuat yang terpenuhi, rumusan lama itu harus dimengerti sebagai isyarat yang bisa saja terpenuhi kapan dan di mana pun. Kita bisa menerima bahwa sudah lahir seorang mesias, tetapi itu tidak berarti bahwa peperangan segera akan hilang, prajurit tidak lagi berarti, penindasan dan penjajahan lenyap. Itu berarti bahwa hal yang penuh misteri sedang berkembang, dan memberikan harapan pembaharuan yang semestinya. Umat yang berjalan dalam kegelapan lalu melihat terang, lih. Mat 4:15-16. Kita harapkan bahwa terang itu demikian cerah . . . [agar] mengusir kegelapan [kutipan dari St. Darmawijaya Pr., Jiwa & Semangat Perjanjian Lama 2, Warisan Para Nabi (Yogyakarta; Kanisius,1992), hlm. 139ff.].
- - - NR - - -
1. Pengantar
[Aram dan Israel Utara mengajak Yehuda memberontak terhadap Asyur. Tetapi Yehuda menolak. Jadinya Aram dan Israel Utara balik menyerang Yehuda. Itulah “perang Syro- Efraemi’] Yesaya 7:1-25 menggambarkan keadaan di Yehuda selama perang Syro-Efraemi [Aram- Israel Utara] (734-733 sM). Pada mulanya perang itu “ . . . hati Ahaz dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin” (Yes 7:2b). Nabi Yesaya diperintahkan Tuhan untuk menemui Ahaz. Dan Yesaya harus membawa anaknya Sear Yasyub (= sisa akan kembali) sebagai tanda pengharapan! Si nabi menegaskan kepada Ahaz bahwa dia tidak usah takut terhadap serangan Aram[“Syro”] dan Israel Utara [“Efraemi”], “kedua puntung kayu api berasap ini” (Yes 7:4). Ahaz harus bersandar kepada Tuhan saja dan tidak boleh bersandar kepada Asyur atau kepada kekuatan sendiri. “Jika kamu tidak percaya, sungguh kamu tidak teguh jaya” (Yes. 7:9). Ahaz diperbolehkan meminta pertanda bahwa Tuhan menyertainya. Tetapi Ahaz menolak dengan alasan munafik: “aku tidak mau mencobai Tuhan” (Yes 7:12). Kemudian Yesaya memberi tanda, walaupun tidak diminta. “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengan- dung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan dia Imanuel” (Yes 7:14). Kata yang dipakai dalam bahasa Ibrani ialah ‘alemah’, yang berarti ‘perempuan muda’, dan bukan perawan atau anak dara (dalam bah. Ibr. ‘betulah’). Dalam hal ini Septuaginta menim- bulkan banyak kesalahan dalam tafsiran dengan terjemahan: ‘parthenos’, yaitu anak dara. Terjemahan Septuaginta ini dikutip dalam Mat 1:21. Mungkin sekali isteri-muda raja Ahaz atau seorang perempuan lain dari kalangan istana yang dimaksudkan dengan ‘perempuan muda’ itu. Anak yang dilahirkan oleh perempuan muda itu diberi nama simbolis: Imanuel (= Allah menyertai kita)., sebagai tanda bahwa Tuhan menyertai Ahaz dalam perang Syro-Efraemi itu. Sebelum anak Imanuel itu tahu membedakan yang baik dari pada yang jahat (setelah dua atau tiga tahun), Tuhan akan menghukum Aram dan Israel Utara. Ahaz menolak tanda-penyertaan oleh Tuhan itu. Menurut keterangan dari 2 Raj 16:7, Ahaz meminta bantuan Asyur, dan bukan dari Tuhan, terhadap ancaman dari Aram dan Israel Uta- ra itu. Dalam Kitab Raja-Raja, Ahaz digambarkan sebagai raja “yang tidak melakukan apa yang benar di mata Tuhan”. Dia mempersembahkan anaknya kepada dewa Molokh. Di Yeru- salem didirikannya sebuah mezbah sesuai dengan bagan dalam agama Asyur (2 Raj 16:10- 11) [kutipan dari A.Th. Kramer, Singa Telah Mengaum (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm 42ff.].
2. Eksposisi
Bagian-bagian terpenting Yesaya tentang mesias adalah 7:13-17; 9:5-6 dan 11:1-9. Ada pan- dapat yang menggabungkan 7:14-16; (8:5-10); 9:1-16 dan 11:1-9 menjadi nubuat Imanuel, karena menyinggung orang yang sama: Imanuel. Kesamaan jati diri dari pribadi tersebut dapat kita lihat dari kenyataan, bahwa kedatangannya selalu di masa akhir. [ . . . ] Dalam penelitian eksegetis, nubuat kelahiran Imanuel ini termasuk bagian Perjanjian Lama yang paling banyak dipertentangkan maknanya. Interpretasi itu antara lain: Imanuel adalah anak Raja Ahaz Imanuel adalah anak Yesaya Imanuel adalah tokoh dari suatu mite Imanuel adalah nama gabungan untuk beberapa anak-anak dari ibu yang berbeda Imanuel adalah suatu rahasia Imanuel adalah mesias (penulis [i.e. Dr. S.M. Siahaan] setuju dengan pendapat terakhir ini) [ . . . ] Dari Yesaya 7; 9 dan 11 jelas dapat kita lihat pertumbuhan pemahaman pengharapan mesia- nis ini, yang akan terus bertumbuh hingga masa-masa nabi pembuangan. Seperti dalam Ye- saya 7:14 dst. Masa keselamatan itu didahului masa penderitaan. Kegelapan yang dinubuat- kan Amos (Am 5:13 dst.) telah tiba. Yesaya tidak merasa perlu menjelaskan lagi jati diri anak dimaksud, karena sudah jelas bagi bangsa Israel dari masa Yesaya hidup. Namanya juga sudah tidak menjadi masalah. Bangsa Israel sudah menunggu pembawa keselamatan yang memunyai predikat Anak Allah. Dengan menunjuk pada proses kelahiran, maka Yesaya menunjuk pada hubungan dengan 7:14 karena mesias yang akan datang itu adalah Imanuel yang kelahirannya dinubuatkan dalam 7:14 [kutipan dari S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GN, 1991), hlm. 18f.].
3 Informasi:
. . . the Immanuel sign contained a promise as well as a threat. For Isaiah and his followers it meant the promise of God’s protecting presence and the eventual fulfillment of God’s good purpose for his people. The preservation of the remnant in Isaiah’s day was part of a process which led finally to the coming of Jesus, the perfectly faithful and righteous one, in whom all God’s promise come to fulfillment. So Matthew was right to see the ultimate fulfillment of the Immanuel saying in Jesus Christ. What was death to Ahaz is life to us who believe [kutipan dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England: IVP, 1997), p. 63].
4. Excursus:
“Mesianisme” Banyak nabi tidak membuat pernyataan apapun tentang mesias (Amos, Hosea, Yoel, Obaja, Zefanya, Maleakhi), sedang yang lain tidak begitu memperhatikan hal ini (Yeremia, Yehezki- el). Kesimpulan seperti itu mengharuskan kita semua menghindari kekaburan dalam menggu- nakan istilah. Warta tentang raja benar dan penyelamat tidak berarti bahwa teks tertentu berbicara tentang mesias dalam arti sempit. Bahkan pernyataan Hagai dan Zakharia bila mereka itu melihat janji lama terpenuhi pada masanya, tidak berarti bahwa itu janji mesias. Mesias dan mesianis hanya dikenakan pada tokoh zaman akhir. Ternyata hanya sedikit teks yang berbicara tentang hal ini. Mutu ilahi dan kurnia istimewa yang tampak dalam seorang raja, ternyata bisa menjadi biasa sekali dalam lingkungan tradisi Timur Tenga kuno. Maka bisa dikatakan bahwa pada zaman kerajaan tidak terdapat nubuat mesianis dalam arti sempit. Baru dalam masa pembuangan – dan dalam lingkungan tertentu, dan bukan dalam lingkungan umat pada umumnya – ada harapan bahwa Allah akan menumbuhkan dinasti Daud. Tetapi harapan seperti itu tidak harus dimengerti mesianis. Dan dengan perjalanan waktu harapan seperti itu berkembang, sejalan dengan harapan keselamatan yang penuh. Dengan demikian maka rumusan yang semula tidak harus dimengerti secara mesianis lambat laun dibaca kembali dalam terang mesias itu. Itu dilakukan oleh beberapa penafsir Yahudi, tetapi juga oleh penafsir Kristen awal. Mereka tidak memperhatikan hubung- an antara pewartaan dan kenyataan, dan tidak pula memperhatikan arti sebenarnya dari suatu rumusan, melainkan menggunakannya sebagai dukungan iman, kutipan susastra, mengideal- kan dan merohanikan sejarah. [ . . . ] Itu tentu tidakberarti bahwa rumusan yang dulu sama sekali kurang artinya. Tetapi harus dikatakan bahwa lebih daripada nubuat yang terpenuhi, rumusan lama itu harus dimengerti sebagai isyarat yang bisa saja terpenuhi kapan dan di mana pun. Kita bisa menerima bahwa sudah lahir seorang mesias, tetapi itu tidak berarti bahwa peperangan segera akan hilang, prajurit tidak lagi berarti, penindasan dan penjajahan lenyap. Itu berarti bahwa hal yang penuh misteri sedang berkembang, dan memberikan harapan pembaharuan yang semestinya. Umat yang berjalan dalam kegelapan lalu melihat terang, lih. Mat 4:15-16. Kita harapkan bahwa terang itu demikian cerah . . . [agar] mengusir kegelapan [kutipan dari St. Darmawijaya Pr., Jiwa & Semangat Perjanjian Lama 2, Warisan Para Nabi (Yogyakarta; Kanisius,1992), hlm. 139ff.].
- - - NR - - -
Langganan:
Postingan (Atom)