(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Pengantar
“Trito-Yesaya” Kitab Trito-Yesaya terdiri dari Yes. 56-66. Sejarah terjadinya sangat sulit ditentukan. Nama Trito-Yesaya dapat menimbulkan salah pengertian bahwa Kitab ini berasal dari satu orang saja. Sebenarnya Kitab Trito-Yesaya berasal dari berbagai tangan dan berbagai zaman. Yang pasti ialah, bahwa intisari Kitab ini, yaitu Yes. 60-62 dikarang oleh nabi Trito-Yesaya, yang hidup setelah pembuangan di Yehuda. Sekitar inti ini ditempatkan beberapa berita dan nubuat lain dari berbagai tangan dan berbagai zaman. Dari Yes 56:7 misalnya, kita memperoleh kesan bahwa (bertentangan dengan Yes 60:13) Bait Suci di Yerusalem dibangun kembali. Sejarah terjadinya Kitab Trito-Yesaya dapat diperbandingkan dengan tumbuhnya sebuah taruk: pusatnya (Yes 60-62) diperbesar dengan beberapa lapisan yang lain, yang tumbuh sekitarnya [kutipan dari A.Th. Kramer, Singa Telah Mengaum (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 90f.]. Informasi: Chapter 56 launches us into the . . . final part of Isaiah’s vision. It relates to the period following the arrival of the first returnees from Babylon. Isaiah saw the time in prophetic vision . . . It was a time of high expectations and immense difficulties [ . . . ]. But the most serious problems arose from the fact that this small community lived ‘between the times’ [= masa antara; bnd. masa adventus], so to speak. . . . The community lived in the tension between the ‘now’ and the ‘not yet’. They had the beginnings of what God had promised but not the fullness of it. It was a time in many respects like our own, between the first and second comings of Christ. The Kingdom of God has come, but is yet to come. It is an exciting time but also a difficult one, when (as Paul puts it) ‘we ourselves, who have the firstfruits of the Spirit, groan inwardly as we await eagerly for . . . the redemption of our bodies’ [Rm 8:23] [kutipan dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England: IVP, 1996), p. 219].
2. Rancangan/Garis Besar Khotbah
Topic: God’s Blessing of His People
TEXT: Isa. 60:1-6 Comes in the fullness of time. Brings obligation to reflect God’s glory. Is rewarded with astounding influence. [kutipan dari James W. Cox (ed.), The Minister’s Manual 2005 (San Francisco: Jossey-Bass, 2004), p. 159].
3. Eksposisi
Kesuraman dan kekelaman yang melatarbelakangi Yes 59 kini telah berlalu. Kalau pun sisa-sisanya masih ada (60:2,12), itu sudah jauh dan tak berperan lagi. Kini “terang” tiba. Si penulis mestinya telah berulang kali menyaksikan terbitnya sang surya di Yerusalem. Mula-mula muncul dari timur, melewati Bukit Zaitun, lalu melewati dan menyinari kota Yerusalem dan dengan itu mengusir kekelaman dari setiap ruang dan cela yang ada dibawahnya. Hingga kini para turis tetap menikmati pemandangan indah ini ketika mengunjungi Yerusalem [Sumber: Webb, op. cit., p. 231]. Informasi : Its relation to [chapter] 49 discloses the main theme which is the coming of the nations to Zion, the centre of revelation (light-glory-name) (1-3); bringing back the Jews of the dispersion (4, 9); offering their wealth (5b-7); building the walls and beautifying the Temple (10-14). The result is glory and prosperity for Zion [kutipan dari Peake’s Commentary on the Bible (London Thomas Nelson: 1972), p. 532].
3.1. Ayat 3: Bagaimanakah Israel menjadi “cahaya” bagi bangsa-bangsa? Dengan gambaran bagaikan sang surya yang muncul dan menyinari Bukit Sion, begitulah juga kemuliaan Allah ketika Ia mendatangi umatNya. Lalu mereka yang masih berada dalam “lembah kekelaman” akan ikut menikmati “cahaya” itu melalui [bnd. refleksi] umatNya [bnd. pernyataan Yesus dalam Mat 5:14; juga bnd. Yes 58:8,10].
3.2. Ayat 4: Mengapa anak-anak Israel “datang dari jauh”? Dengan diduduki dan dihancurkannya Yerusalem, umat Israel hidup dalam pembuangan dan terserak-serak di berbagai tempat. Di sini Yesaya memba- yangkan kesukacitaan anak-anak laki-laki dan perempuan, ketika mereka kelak kembali ke Yerusalem dari tempat/negeri pembuangan.
3.3. Ayat 5: Bagaimanakah “kelimpahan” dan “kekayaan” itu datang bersama? Mereka yang kembali dari pembuangan membawa serta banyak pemberian berharga (Ezr 1:6-7; 7:15-22). Kelimpahan dan kekayaan tsb. menunjukkan cara Tuhan yang mengherankan dalam memperlengkapi dan menopang umatNya dalam rangka kepulangan mereka ke Yerusalem. Termasuk dalam kelimpahan dan kekayaan tsb. adalah yang bersifat spiritual. Dan ini sekaligus mencermin- kan pulihnya kembali hubungan yang benar antara Allah dan umatNya. [Sumber bacaan utama untuk 3.1-3: Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 1069].
4. Excursus:
“Israel sebagai Paradigma Allah” Pemilihan istilah “paradigma” membutuhkan penjelasan dan alasan. Paradigma berarti sesuatu yang dipergunakan sebagai contoh untuk kasus-kasus lain di mana ada satu prinsip dasar yang tidak berubah, meskipun rinciannya berbeda-beda. [ . . . ] Masyarakat Israel harus dilihat sebagai sesuatu yang bersifat paradigmatis. “Paradigma” adalah kategori yang bermanfaat bagi pemahaman dan penerapan etis seluruh Perjanjian Lama. Dengan melihat kehidupan sosial, lembaga-lembaga dan hukum-hukum Israel secara demikian, kita dapat menghindarkan dua bahaya. Pada satu pihak, itu berarti kita tidak meniru masyarakat Israel secara harfiah. Kita tidak dapat memberlakukan hukum-hukum sosial masyarakat kuno dalam dunia modern. [ . . . ] Pada pihak lain, sistem sosial Israel tidak dapat diabaikan dengan menganggapnya hanya relevan bagi Israel yang historis dan sama sekali tidak dapat dikenakan pada gereja Kristen atau umat manusia pada umumnya. Kalau Israel dimaksudkan menjadi “terang/cahaya” bagi bangsa-bangsa [bnd. Yes 49:6; 60:1), maka terang itu harus dibiarkan bersinar. [Penelitian yang mendalam membuka mata kita] bagaimana aspek-aspek yang berbeda dari kehidupan sosial Israel dapat berlaku sebagai kritik dan koreksi bagi asek-aspek yang serupa dari za- man kita. Pendekatan paradigmatis ini membuat Perujanjian Lama paling bermanfaat sebagai sumber bagi etika sosial Kristen. [ . . . ] Tentu saja bentuk dan ciri-ciri itu bukanlah paradigma satu-satunya bagi etika sosial. Orang Kristen melihat paradigma itu maupun segi-segi Perjanjian Lama lainnya dalam terang zaman baru dan kerajaan Allah yang dimulai oleh Kristus. [Orang Kristen] menempat- kan paradigma sosial Perjanjian Lama berdampingan dengan paradigma kehidupan sosial jemaat Kristen mula-mula maupun ajaran Yesus dan para rasul tentang kehidupam sosial. Hanya dengan demikian ia mulai merumuskan suatu etika sosial Alkitab yang menyeluruh [kutipan dari Christopher Wright, Hidup sebagai Umat Allah, terj. (Jakarta: BPK-GM, 1995), hlm. 42ff.].
- - - NR - - -
17 Desember 2007
10 Desember 2007
Silsilah Yesus Kristus
SILSILAH YESUS KRISTUS
TULISLAH SEJARAH GEREJA/JEMAAT SEBELUM TERLAMBAT
Injil Matius 1: 1 – 17
Pembukaan
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Allah, Hari ini kita merayakan Minggu Advent ke II. Bolehkah saya bertanya “Apakah sejarah GKJ Danareja sudah ditulis?” Kalau belum, pernahkah terpikirkan untuk menulis sejarah GKJ Danareja? Termasuk peranan Jemaat Danareja dalam memayu hayuning bawana atau menyejahterakan dan menyelamatkan mesyarakat sekitarnya? Tentang tokoh dan perintisnya? Bagaimana peranan Bapak/Ibu Lamtara Hadisunarya, misalnya? Sering keberadaan jemaat tidak diperhitungkan oleh masyarakat luas, karena tidak ada catatan tertulis tentang kehadiran dan peranannya dalam menyejahterakan masyarakat sekitarnya. Atau jemaat memang tidak memiliki sesuatu yang berarti untuk ditulis? Karena tidak memiliki peranan apa pun dalam memayu hayuning bawana?
Isi
Menulis sejarah gereja/jemaat berarti menulis kehadiran Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus sudah datang dan bekarya di Danareja. Gusti Yesus sudah dan sedang menyelamatkan Bapak/Ibu yang pagi ini bersekutu di tempat ini. Oh betapa indahnya. Yesus datang membebaskan masyarakat di sini dari segala kemungkaran. Menulis sejarah gereja berarti bukan hanya menulis karya penyelamatan Allah, melainkan juga karya penyelamatan manusia, karya penyelamatan konkret yang pernah dilakukan oleh jemaat/gereja sebagai persekutuan. Dalam hal ini, termasuk karya penyelamatan yang Bapak/Ibu, lakukan. Hari ini, kita bersyukur, penulis Kitab Injil Matius mewariskan karyanya yang agung. Dia bekerja keras, penuh kesabaran mengumpulkan cerita lisan tentang Yesus dari banyak sumber, khususnya cerita lisan dari Rasul Matius dan para cantrik-nya. Kemudian meramunya menjadi tulisan yang terpadu dan indah. Kitab Iniil Matius memiliki 3 bagian utama, yakni Pendahuluan, Isi dan Penutup. Yang kita baca pagi ini masuk dalam pendahuluan. Pendahuluan berisi silsilah Yesus, Yohanes Pembaptis, dan Peresmian Yesus sebagai utusan dan nabi Allah. Sedangkan Bagian Isi – dapat dibagi ke dalam 5 bagian. Pertama, dia mulai berkarya di kampungnya, ditolak, maka hanya sebentar. Kedua, karena ditolak, dia hijrah ke Utara, cukup lama. Kemudian ketiga, dia coba balik lagi ke kampung halamannya – ditolak, jadi hanya sebentar. Terus yang keempat, pindah lagi ke Utara, cukup lama. Kelima, kembali ke Selatan, namun bukan ke kampung halamannya, melainkan ke Yerusalem dan meninggal. Sedangkan bagian ketiga: Penutup, yakni berupa pengutusan Matius menjadi rasul untuk mengabarkan dan melakukan Injil di seluruh dunia, sampai ke ujung bumi, daerah yang belum pernah mendengar Injil atau bidang-bidang baru yang belum dijamah oleh karya penyelamatan Allah. Setelah itu, diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menjadi warisan rohani yang tidak ternilai harganya. Sebuah buku sorga sekaligus buku manusia. Coba bayangkan, kalau penulis Injil Matius itu tidak bersedia menulis Injil Matius. Apa yang akan terjadi? Silsilah Yesus Kristus dalam Kitab Injil Matius merupakan bukti nyata, bahwa Yesus adalah manusia, seperti kita. Yesus tidak turun dari langit jleg, ujug-ujug. Dia memiliki asal-usul. Yesus orang Ibrani, karena keturunan Ibrani asli. Dia orang Ibrani pribumi. Garis keturunannya jelas – sampai Rama Abraham. Meskipun Yesus orang miskin, wong cilik, tetapi berdarah biru, nenek dan kakek moyangnya adalah raja, rasul, dan nabi Ibrani. Yesus orang Ibrani asli dan bekarya untuk orang Ibrani. Dia memakai bahasa dan budaya Ibrani dalam berkarya. Dia bukan orang asing bagi lingkungannya. Dia adalah sah sebagai utusan Allah bagi orang Ibrani. Kalau menggunakan istilah Jawa “Gusti Yesus kuwi ya Jawa tenan”. Bukan berarti bahasa Ibrani lebih suci daripada bahasa Jawa, Batak, Ambon, Indonesia atau Inggris. Tidak ada bahasa mana pun yang lebih tinggi daripada bahasa lain di dunia ini.
Penutup
Marilah kita mengikuti teladan Rasul Matius. Coba kita renungkan dan rencanakan untuk menulis sejarah Injil di Danareja dan sumbangan GKJ Danareja untuk memayu hayuning bawana. Mumpung para sepuh taksih wonten. Para saksi mata masih ada. Menulis sejarah gereja jauh lebih penting dalam memperingati Natal 2007 daripada segala kegiatan lain yang mungkin selama ini biasa kita lakukan. Sebagai hamba masyarakat dan Allah, saya yakin, bahwa pemilik dunia dan gereja yang sejati akan memberi kemampuan pada kita untuk melakukan tugas yang mulia itu. Ikutilah teladan mulia penulis Kitab Injil Matius. Dan kita akan meninggalkan warisan yang lebih mulia daripada segala warisan yang lain yang dapat Bapak/Ibu wariskan. Nama Yesus akan tertulis di sana. Juga nama-nama Bapak/Ibu, sdr dan saudari, satu per satu tertulis dengan tinta emas sorgawi, karena ikut menyelamatkan dunia dan manusia, memayu hayuning bawana. Amin
* Kotbah ini dipersiapkan oleh: Totok S. Wiryasaputra, untuk Ibadah GKJ Danareja, Kaligesing, Purwareja, Jateng, 9 Desember 2007.
Totok S. Wiryasaputra Grief Psychology Counselor GEPOI Foundation Executive Director
Jl. Banteng Utama 38 Jakal Km. 8.5 Yogyakarta 55581
TULISLAH SEJARAH GEREJA/JEMAAT SEBELUM TERLAMBAT
Injil Matius 1: 1 – 17
Pembukaan
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Allah, Hari ini kita merayakan Minggu Advent ke II. Bolehkah saya bertanya “Apakah sejarah GKJ Danareja sudah ditulis?” Kalau belum, pernahkah terpikirkan untuk menulis sejarah GKJ Danareja? Termasuk peranan Jemaat Danareja dalam memayu hayuning bawana atau menyejahterakan dan menyelamatkan mesyarakat sekitarnya? Tentang tokoh dan perintisnya? Bagaimana peranan Bapak/Ibu Lamtara Hadisunarya, misalnya? Sering keberadaan jemaat tidak diperhitungkan oleh masyarakat luas, karena tidak ada catatan tertulis tentang kehadiran dan peranannya dalam menyejahterakan masyarakat sekitarnya. Atau jemaat memang tidak memiliki sesuatu yang berarti untuk ditulis? Karena tidak memiliki peranan apa pun dalam memayu hayuning bawana?
Isi
Menulis sejarah gereja/jemaat berarti menulis kehadiran Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus sudah datang dan bekarya di Danareja. Gusti Yesus sudah dan sedang menyelamatkan Bapak/Ibu yang pagi ini bersekutu di tempat ini. Oh betapa indahnya. Yesus datang membebaskan masyarakat di sini dari segala kemungkaran. Menulis sejarah gereja berarti bukan hanya menulis karya penyelamatan Allah, melainkan juga karya penyelamatan manusia, karya penyelamatan konkret yang pernah dilakukan oleh jemaat/gereja sebagai persekutuan. Dalam hal ini, termasuk karya penyelamatan yang Bapak/Ibu, lakukan. Hari ini, kita bersyukur, penulis Kitab Injil Matius mewariskan karyanya yang agung. Dia bekerja keras, penuh kesabaran mengumpulkan cerita lisan tentang Yesus dari banyak sumber, khususnya cerita lisan dari Rasul Matius dan para cantrik-nya. Kemudian meramunya menjadi tulisan yang terpadu dan indah. Kitab Iniil Matius memiliki 3 bagian utama, yakni Pendahuluan, Isi dan Penutup. Yang kita baca pagi ini masuk dalam pendahuluan. Pendahuluan berisi silsilah Yesus, Yohanes Pembaptis, dan Peresmian Yesus sebagai utusan dan nabi Allah. Sedangkan Bagian Isi – dapat dibagi ke dalam 5 bagian. Pertama, dia mulai berkarya di kampungnya, ditolak, maka hanya sebentar. Kedua, karena ditolak, dia hijrah ke Utara, cukup lama. Kemudian ketiga, dia coba balik lagi ke kampung halamannya – ditolak, jadi hanya sebentar. Terus yang keempat, pindah lagi ke Utara, cukup lama. Kelima, kembali ke Selatan, namun bukan ke kampung halamannya, melainkan ke Yerusalem dan meninggal. Sedangkan bagian ketiga: Penutup, yakni berupa pengutusan Matius menjadi rasul untuk mengabarkan dan melakukan Injil di seluruh dunia, sampai ke ujung bumi, daerah yang belum pernah mendengar Injil atau bidang-bidang baru yang belum dijamah oleh karya penyelamatan Allah. Setelah itu, diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menjadi warisan rohani yang tidak ternilai harganya. Sebuah buku sorga sekaligus buku manusia. Coba bayangkan, kalau penulis Injil Matius itu tidak bersedia menulis Injil Matius. Apa yang akan terjadi? Silsilah Yesus Kristus dalam Kitab Injil Matius merupakan bukti nyata, bahwa Yesus adalah manusia, seperti kita. Yesus tidak turun dari langit jleg, ujug-ujug. Dia memiliki asal-usul. Yesus orang Ibrani, karena keturunan Ibrani asli. Dia orang Ibrani pribumi. Garis keturunannya jelas – sampai Rama Abraham. Meskipun Yesus orang miskin, wong cilik, tetapi berdarah biru, nenek dan kakek moyangnya adalah raja, rasul, dan nabi Ibrani. Yesus orang Ibrani asli dan bekarya untuk orang Ibrani. Dia memakai bahasa dan budaya Ibrani dalam berkarya. Dia bukan orang asing bagi lingkungannya. Dia adalah sah sebagai utusan Allah bagi orang Ibrani. Kalau menggunakan istilah Jawa “Gusti Yesus kuwi ya Jawa tenan”. Bukan berarti bahasa Ibrani lebih suci daripada bahasa Jawa, Batak, Ambon, Indonesia atau Inggris. Tidak ada bahasa mana pun yang lebih tinggi daripada bahasa lain di dunia ini.
Penutup
Marilah kita mengikuti teladan Rasul Matius. Coba kita renungkan dan rencanakan untuk menulis sejarah Injil di Danareja dan sumbangan GKJ Danareja untuk memayu hayuning bawana. Mumpung para sepuh taksih wonten. Para saksi mata masih ada. Menulis sejarah gereja jauh lebih penting dalam memperingati Natal 2007 daripada segala kegiatan lain yang mungkin selama ini biasa kita lakukan. Sebagai hamba masyarakat dan Allah, saya yakin, bahwa pemilik dunia dan gereja yang sejati akan memberi kemampuan pada kita untuk melakukan tugas yang mulia itu. Ikutilah teladan mulia penulis Kitab Injil Matius. Dan kita akan meninggalkan warisan yang lebih mulia daripada segala warisan yang lain yang dapat Bapak/Ibu wariskan. Nama Yesus akan tertulis di sana. Juga nama-nama Bapak/Ibu, sdr dan saudari, satu per satu tertulis dengan tinta emas sorgawi, karena ikut menyelamatkan dunia dan manusia, memayu hayuning bawana. Amin
* Kotbah ini dipersiapkan oleh: Totok S. Wiryasaputra, untuk Ibadah GKJ Danareja, Kaligesing, Purwareja, Jateng, 9 Desember 2007.
Totok S. Wiryasaputra Grief Psychology Counselor GEPOI Foundation Executive Director
Jl. Banteng Utama 38 Jakal Km. 8.5 Yogyakarta 55581
08 Desember 2007
Wolf and Lamb at Peace
Isaiah 11:1-10 Romans 15:4-9 Matthew 3:1-12
This is one of Aesop’s best known fables: A Wolf meets a Lamb straying from the flock. The wolf decides not to pounce on the Lamb right away but first to give the Lamb a reason why he, the Wolf, should eat him. So he says to the Lamb: “Hi, it was you who insulted me last year.”
“Actually,” replies the Lamb in a mournful voice, “I was not born then.”
Then says the Wolf, “But you feed in my pasture.”
“No, sir,” replies the Lamb, “I have not yet tasted grass.”
“Besides,” says the Wolf, “You drink at my well.”
“No,” exclaims the Lamb, “I never yet drank water, for as yet my mother's milk is both food and drink to me.” At that the Wolf seized him and ate him, saying, “Well! I won't stay without supper, even if you refute every one of my accusations.”
Aesop is not the only one who sees human relationships in terms of wolves and lambs. The philosopher, Thomas Hobbes, said about the human condition that “man is wolf to man.” An African Igbo proverb says that “A fish grows big by eating other fish.” Observing the human community and human relationships, one gets the impression that there are two kinds of people, the oppressors and the oppressed. The dividing line between the two groups runs through gender, ethnicity and race, social class and religious affiliation. Invariably one group appears to be the wolf and the other the lamb. Isaiah in the 1st reading today is aware of this state of affairs among humans. He speaks of the human community in terms of wolves and lambs, leopards and kids, lions and calves, bears and cows. He sees that the wolf eats the lamb, the leopard the goat kid, the lion eats the calf and the bear the cow. Isaiah’s interest, however, is not simply in the way things are or have always been but in the way things can be. Isaiah is a man of vision. And here he recounts his vision of the day of the Lord, “the days to come” when God will manifest his glory on all humankind.
The wolf shall live with the lamb, the leopard shall lie down with the kid,
the calf and the lion and the fatling together, and a little child shall lead them. (Isaiah 11:6)
“Impossible,” some people will say on reading this. “He is dreaming. The wolf can never live in peace with the lamb because it is in the nature of the wolf to eat the lamb.” But that is exactly the point. Just as it is impossible, naturally speaking, for the wolf to live in peace with the lamb, so it is impossible for us to live the life of harmonious coexistence in the new world order as envisioned by Isaiah and all the prophets. A radical transformation of our human nature is required. We need a completely new heart. This radical transformation of human nature is possible only by God’s grace.
Grace transforms nature. God’s grace transforms human nature so radically that one needs to experience it to believe it. Grace working in nature accomplishes so much more than we could ever imagine. This is what Isaiah goes on to describe:
The cow and the bear shall graze, their young shall lie down together;
and the lion shall eat straw like the ox. (11:7)
The flesh-eating lion and bear now eat grass like the cow. They lose their hunger for flesh, their thirst for blood. Transformed by grace, it is only then that the wolf can live in peace with the lamb. Only then can the ferocious animals learn to accept their weaker colleagues as equals who have an equal right to life and well-being. And only then can the weaker animals learn to trust the ferocious ones and forgive and forget all the violence they had been made to suffer in the past.
Note that Isaiah is not talking here of “tolerating” or putting up with” the other. The peace of this new world order is not merely an absence of war or friction. No. It is a peace of harmonious live-and-let-live based on justice and the mutual recognition that everyone has got the right not only to life but also to the good life. It is only when the lion and the wolf give up their “natural privileges” and begin to eat grass like the cow that one can truly say that “all animals are equal.” As long as some animals lay claim to being “more equal” than others there can be no justice and no peace.
In our personal and business life do we consciously or unconsciously operate on the principle that for us to win someone else has to lose? The vision of the new world order to which the prophets invite us today is founded on the principle that we can all be winners. The story of the Wolf and the Lamb as told by Aesop and Hobbes is not the full story. The full story of the Wolf and the Lamb, as Isaiah tells us today, will end with “and the lived happily ever after.” We pray for the coming of this new world order, the kingdom of God.
This is one of Aesop’s best known fables: A Wolf meets a Lamb straying from the flock. The wolf decides not to pounce on the Lamb right away but first to give the Lamb a reason why he, the Wolf, should eat him. So he says to the Lamb: “Hi, it was you who insulted me last year.”
“Actually,” replies the Lamb in a mournful voice, “I was not born then.”
Then says the Wolf, “But you feed in my pasture.”
“No, sir,” replies the Lamb, “I have not yet tasted grass.”
“Besides,” says the Wolf, “You drink at my well.”
“No,” exclaims the Lamb, “I never yet drank water, for as yet my mother's milk is both food and drink to me.” At that the Wolf seized him and ate him, saying, “Well! I won't stay without supper, even if you refute every one of my accusations.”
Aesop is not the only one who sees human relationships in terms of wolves and lambs. The philosopher, Thomas Hobbes, said about the human condition that “man is wolf to man.” An African Igbo proverb says that “A fish grows big by eating other fish.” Observing the human community and human relationships, one gets the impression that there are two kinds of people, the oppressors and the oppressed. The dividing line between the two groups runs through gender, ethnicity and race, social class and religious affiliation. Invariably one group appears to be the wolf and the other the lamb. Isaiah in the 1st reading today is aware of this state of affairs among humans. He speaks of the human community in terms of wolves and lambs, leopards and kids, lions and calves, bears and cows. He sees that the wolf eats the lamb, the leopard the goat kid, the lion eats the calf and the bear the cow. Isaiah’s interest, however, is not simply in the way things are or have always been but in the way things can be. Isaiah is a man of vision. And here he recounts his vision of the day of the Lord, “the days to come” when God will manifest his glory on all humankind.
The wolf shall live with the lamb, the leopard shall lie down with the kid,
the calf and the lion and the fatling together, and a little child shall lead them. (Isaiah 11:6)
“Impossible,” some people will say on reading this. “He is dreaming. The wolf can never live in peace with the lamb because it is in the nature of the wolf to eat the lamb.” But that is exactly the point. Just as it is impossible, naturally speaking, for the wolf to live in peace with the lamb, so it is impossible for us to live the life of harmonious coexistence in the new world order as envisioned by Isaiah and all the prophets. A radical transformation of our human nature is required. We need a completely new heart. This radical transformation of human nature is possible only by God’s grace.
Grace transforms nature. God’s grace transforms human nature so radically that one needs to experience it to believe it. Grace working in nature accomplishes so much more than we could ever imagine. This is what Isaiah goes on to describe:
The cow and the bear shall graze, their young shall lie down together;
and the lion shall eat straw like the ox. (11:7)
The flesh-eating lion and bear now eat grass like the cow. They lose their hunger for flesh, their thirst for blood. Transformed by grace, it is only then that the wolf can live in peace with the lamb. Only then can the ferocious animals learn to accept their weaker colleagues as equals who have an equal right to life and well-being. And only then can the weaker animals learn to trust the ferocious ones and forgive and forget all the violence they had been made to suffer in the past.
Note that Isaiah is not talking here of “tolerating” or putting up with” the other. The peace of this new world order is not merely an absence of war or friction. No. It is a peace of harmonious live-and-let-live based on justice and the mutual recognition that everyone has got the right not only to life but also to the good life. It is only when the lion and the wolf give up their “natural privileges” and begin to eat grass like the cow that one can truly say that “all animals are equal.” As long as some animals lay claim to being “more equal” than others there can be no justice and no peace.
In our personal and business life do we consciously or unconsciously operate on the principle that for us to win someone else has to lose? The vision of the new world order to which the prophets invite us today is founded on the principle that we can all be winners. The story of the Wolf and the Lamb as told by Aesop and Hobbes is not the full story. The full story of the Wolf and the Lamb, as Isaiah tells us today, will end with “and the lived happily ever after.” We pray for the coming of this new world order, the kingdom of God.
03 Desember 2007
Ratapan 5:1-22
(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Pengantar
Isi --- Pasal 5: Nyanyian Ratapan mengenai keadaan orang-orang yang masih tinggal di
Yerusalem sesudah jatuhnya kota tersebut. Penulis berdoa dan berseru, agar Tuhan meno-
longnya [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm.
161].
Informasi: Chapter 5 may be from somewhat later in the Exile, when the sharp pains of
defeat had dulled into the chronic ache of captivity [kutipan dari William S LaSor et al.,
Old Testament Survey (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1990), p. 617.
2. Eksposisi
2.1. Ayat 2: Siapakah “orang lain” (NIV: “aliens”) itu ?
Bisa menunjuk pada para pendatang, tetapi bisa juga para pemukim sementara.
Biasanya orang-orang ini berasal dari suku-suku seketurunan dan orang-orang
dari para bangsa tetangga (Im 25:45-55 berbicara tentang pembebasan orang-
orang sejenis ini) [Sumber: Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p.
1186; seterusnya sumber ini dipendekkan QSB].
2.2. Ayat 6: Kapankah Yehuda takluk kepada Mesir dan Asyur?
Beberapa penafsir berpendapat bahwa kedua-duanya menyiratkan mata angin
ke arah mana para pengungsi pergi untuk mendapatkan makanan. Jadinya Mesir
menyiratkan arah “barat” dan Asyur “timur”. Yang lain menafsirkannya sebagai
yang menyiratkan peristiwa historis ketika Yehuda membuat pakta militer pada
abad ke-18 sM (Hos 7:11; 12:1). Masih ada yang lagi yang menafsirkannya seba-
gai yang menyiratkan penyembahan berhala terhadap dewa-dewa yang dipuja di
Mesir dan Asyur (Yer 2:13,18) [Sumber: QSB, loc. cit.].
2.3. Ayat 10-13: Kekejaman apa saja yang telah dilakukan?
Bala tentara Babilonia terkenal sangat kejam dalam menyiksa para musuhnya
yang dikalahkan. “Turning Judah’s society upside down, they raped the women,
hanged the nobles and left their bodies to twist in the sun, forced children into
hard labor and murdered citizens at random”. Pertempuran untuk memperebutkan
Yerusalem mengakibatkan tindakan-tindakan buas, a.l. para ibu, karena sudah
lupa ingatan karena kelaparan yang amat sangat, membantai anak-anaknya untuk
disantap (2:20) [Sumber: Ibid.].
2.4. Ayat 18: Bagaimana memahami pernyataan “anjing-anjing hutan berkeliaran”
di bukit Sion?
Sedemikian hancur luluhnya kota Yerusalem dan bait suci, sehingga tidak layak
lagi untuk dihuni. Jadinya bekas kota itu menjadi daerah “tak bertuan”, tempat
binatang-binatang kecil, a.l. tikus dan sejenisnya, bermukim. Lalu binatang-
binatang kecil ini menarik “anjing-anjing hutan”, yang merupakan binatang yang
dianggap paling mengganggu bagi orang-orang Israel. Jadinya pernyataan di
atas menyiratkan bahwa tak ada lagi orang yang bertempat tinggal di situ [Sumber:
Ibid.].
2.5. Ayat 21: Mengapa orang-orang Yehuda tak dapat kembali sebelum Tuhan memba-
ngun kembali Yerusalem?
Pertama-tama mereka harus bertobat. Itu berarti mengakui kedaulatan mutlak
dari Allah dan dengan itu pula pendamaian (rekonsiliasi) dapat diciptakanNya.
Ini berarti pula bahwa hanya karena kasih karunia Allah, maka Yehuda dapat
“survive to make things right again” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Ibid.].
Informasi: Jelas bahwa ada paralel antara ayat 21 ini dengan Mzm 80: 4,8,20 dan Yer
31:18. Kenyataan ini menolong kita untuk mengetahui suasana/keadaan ketika
doa/permohonan ini disampaikan. “It is clear from Ps. 80 and Jer. that a congre-
gational prayer for restoration formed a normal part of the cult liturgy. It is possi-
ble that such a prayer formed part of he national act of penitence at the new
year.” Ritus ini hanya dapat dilaksanakan di bait suci [yang telah dibangun kem-
bali]. Jadinya ayat ini meng-indikasi-kan zaman sesudah pembuangan sebelum
bait suci dibangun kembali di Yerusalem (baca Informasi pada Pengantar di
atas) [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Peake’s Commentary on the Bible (London:
Thomas Nelson, 1972), p. 737].
2.6. Ayat 22: Apa memang tak ada lagi harapam sama sekali untuk pulih kembali?
Tersirat bahwa si penulis mengakhiri bagian ini dengan emosional. Juga tersirat
adanya pertanyaan si penulis, “What if God doesn’t give Judah another chance?”
Semua ini bisa dimengerti sebagai ungkapan keprihatinan yang amat dalam
terhadap punahnya sebuah negeri dan umat. “But God specializes in second
chances. No sin is too great for God. Only if we reject God and his provision for
our sin, Jesus Christ, will we go beyond the point of no return (Romans 8:35-39)”
[Sumber dan kutipan bahasa Inggeris dari QSB, loc. cit.].
3. Excursus
3.1. How can we hope in a God who abandons us?
Jeremiah steadfastly recognized that the Lord had not abandoned his people, painful as
the present situation was. Jeremiah, the weeping prophet, is also called the prophet of
hope because he foresaw a day when the Lord would reign in the midst of restored, re-
newed and reconciled people.
Jesus knew this paradox between abandonment and hope. In the midst of his suffering
and death on the cross, he cried, My God, my God why have you forsaken me? (Matt. 27:
46). Yet he also knew that he would be resurrected on the third day, opening the gate of
eternal life to all believers. The despair of the cross now has become the gift of life to
perishing sinners.
Abandonment, sorrow, struggle and pain all are transitory. Wholeness, healing, joy and
peace are permanent, for they are part of the very nature of God. That is what sustains the
believer through difficult times. Although Jeremiah grieved over Jerusalem’s destruction,
he knew God would prevail [kutipan dari QSB, p. 1181].
3.2. Israel dan bangsa-bangsa
Dengan peristiwa pembuangan dan berakhirnya kerajaan, Israel tidak lagi merupakan
Negara dan bangsa yang merdeka, melainkan menjadi bangsa yang bergantung pada
bangsa lain, tercerai berai dan dijajah. Persoalan-persoalan baru yang harus digumuli
pada saat itu mencakup soal menanggulangi pengalaman penghukuman. Antara lain,
bagaimana memelihara tradisi-tradisi iman mereka tanpa lambang dan lembaga lahiriah
seperti Rumah Allah dan kerajaan, bagaimana bisa tetap hidup sebagai bangsa kudus dan
bagaimana mempertahankan pengharapan akan masa depan. Tetapi terutama sekali,
Israel menghadapi lagi masalah hubungan umat Allah dengan penguasa Negara asing.
Kata “lagi” sengaja dipergunakan, karena meskipun persoalan itu sangat penting bagi
angkatan pembuangan, namun bukanlah masalah baru dalam sejarah Israel. Bapak-
bapak leluhur Israel menjadi pengembara yang tinggal di negeri yang bukan milik mereka.
Peristiwa keluaran didahului penindasan oleh orang asing selama berabad-abad yang
masih menyala-nyala dalam ingatan bawah sadar bangsa Israel.
Dengan demikian, jelaslah “kekudusan” umat Allah tidak berarti mereka harus memi-
sahkan diri secara total dari bangsa-bangsa lain. Bangsa Israel yang terpilih demi bangsa-
bangsa lain, selalu sadar dan terjun dalam peristiwa-peristiwa internasional di sekitar me-
re-ka [kutipan dari Christopher Wright, Hidup Sebagai Umat Allah, terj. (Jakarta: BPK-GM, 1995), hlm. 124f.].
- - - NR - - -
1. Pengantar
Isi --- Pasal 5: Nyanyian Ratapan mengenai keadaan orang-orang yang masih tinggal di
Yerusalem sesudah jatuhnya kota tersebut. Penulis berdoa dan berseru, agar Tuhan meno-
longnya [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm.
161].
Informasi: Chapter 5 may be from somewhat later in the Exile, when the sharp pains of
defeat had dulled into the chronic ache of captivity [kutipan dari William S LaSor et al.,
Old Testament Survey (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1990), p. 617.
2. Eksposisi
2.1. Ayat 2: Siapakah “orang lain” (NIV: “aliens”) itu ?
Bisa menunjuk pada para pendatang, tetapi bisa juga para pemukim sementara.
Biasanya orang-orang ini berasal dari suku-suku seketurunan dan orang-orang
dari para bangsa tetangga (Im 25:45-55 berbicara tentang pembebasan orang-
orang sejenis ini) [Sumber: Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p.
1186; seterusnya sumber ini dipendekkan QSB].
2.2. Ayat 6: Kapankah Yehuda takluk kepada Mesir dan Asyur?
Beberapa penafsir berpendapat bahwa kedua-duanya menyiratkan mata angin
ke arah mana para pengungsi pergi untuk mendapatkan makanan. Jadinya Mesir
menyiratkan arah “barat” dan Asyur “timur”. Yang lain menafsirkannya sebagai
yang menyiratkan peristiwa historis ketika Yehuda membuat pakta militer pada
abad ke-18 sM (Hos 7:11; 12:1). Masih ada yang lagi yang menafsirkannya seba-
gai yang menyiratkan penyembahan berhala terhadap dewa-dewa yang dipuja di
Mesir dan Asyur (Yer 2:13,18) [Sumber: QSB, loc. cit.].
2.3. Ayat 10-13: Kekejaman apa saja yang telah dilakukan?
Bala tentara Babilonia terkenal sangat kejam dalam menyiksa para musuhnya
yang dikalahkan. “Turning Judah’s society upside down, they raped the women,
hanged the nobles and left their bodies to twist in the sun, forced children into
hard labor and murdered citizens at random”. Pertempuran untuk memperebutkan
Yerusalem mengakibatkan tindakan-tindakan buas, a.l. para ibu, karena sudah
lupa ingatan karena kelaparan yang amat sangat, membantai anak-anaknya untuk
disantap (2:20) [Sumber: Ibid.].
2.4. Ayat 18: Bagaimana memahami pernyataan “anjing-anjing hutan berkeliaran”
di bukit Sion?
Sedemikian hancur luluhnya kota Yerusalem dan bait suci, sehingga tidak layak
lagi untuk dihuni. Jadinya bekas kota itu menjadi daerah “tak bertuan”, tempat
binatang-binatang kecil, a.l. tikus dan sejenisnya, bermukim. Lalu binatang-
binatang kecil ini menarik “anjing-anjing hutan”, yang merupakan binatang yang
dianggap paling mengganggu bagi orang-orang Israel. Jadinya pernyataan di
atas menyiratkan bahwa tak ada lagi orang yang bertempat tinggal di situ [Sumber:
Ibid.].
2.5. Ayat 21: Mengapa orang-orang Yehuda tak dapat kembali sebelum Tuhan memba-
ngun kembali Yerusalem?
Pertama-tama mereka harus bertobat. Itu berarti mengakui kedaulatan mutlak
dari Allah dan dengan itu pula pendamaian (rekonsiliasi) dapat diciptakanNya.
Ini berarti pula bahwa hanya karena kasih karunia Allah, maka Yehuda dapat
“survive to make things right again” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Ibid.].
Informasi: Jelas bahwa ada paralel antara ayat 21 ini dengan Mzm 80: 4,8,20 dan Yer
31:18. Kenyataan ini menolong kita untuk mengetahui suasana/keadaan ketika
doa/permohonan ini disampaikan. “It is clear from Ps. 80 and Jer. that a congre-
gational prayer for restoration formed a normal part of the cult liturgy. It is possi-
ble that such a prayer formed part of he national act of penitence at the new
year.” Ritus ini hanya dapat dilaksanakan di bait suci [yang telah dibangun kem-
bali]. Jadinya ayat ini meng-indikasi-kan zaman sesudah pembuangan sebelum
bait suci dibangun kembali di Yerusalem (baca Informasi pada Pengantar di
atas) [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Peake’s Commentary on the Bible (London:
Thomas Nelson, 1972), p. 737].
2.6. Ayat 22: Apa memang tak ada lagi harapam sama sekali untuk pulih kembali?
Tersirat bahwa si penulis mengakhiri bagian ini dengan emosional. Juga tersirat
adanya pertanyaan si penulis, “What if God doesn’t give Judah another chance?”
Semua ini bisa dimengerti sebagai ungkapan keprihatinan yang amat dalam
terhadap punahnya sebuah negeri dan umat. “But God specializes in second
chances. No sin is too great for God. Only if we reject God and his provision for
our sin, Jesus Christ, will we go beyond the point of no return (Romans 8:35-39)”
[Sumber dan kutipan bahasa Inggeris dari QSB, loc. cit.].
3. Excursus
3.1. How can we hope in a God who abandons us?
Jeremiah steadfastly recognized that the Lord had not abandoned his people, painful as
the present situation was. Jeremiah, the weeping prophet, is also called the prophet of
hope because he foresaw a day when the Lord would reign in the midst of restored, re-
newed and reconciled people.
Jesus knew this paradox between abandonment and hope. In the midst of his suffering
and death on the cross, he cried, My God, my God why have you forsaken me? (Matt. 27:
46). Yet he also knew that he would be resurrected on the third day, opening the gate of
eternal life to all believers. The despair of the cross now has become the gift of life to
perishing sinners.
Abandonment, sorrow, struggle and pain all are transitory. Wholeness, healing, joy and
peace are permanent, for they are part of the very nature of God. That is what sustains the
believer through difficult times. Although Jeremiah grieved over Jerusalem’s destruction,
he knew God would prevail [kutipan dari QSB, p. 1181].
3.2. Israel dan bangsa-bangsa
Dengan peristiwa pembuangan dan berakhirnya kerajaan, Israel tidak lagi merupakan
Negara dan bangsa yang merdeka, melainkan menjadi bangsa yang bergantung pada
bangsa lain, tercerai berai dan dijajah. Persoalan-persoalan baru yang harus digumuli
pada saat itu mencakup soal menanggulangi pengalaman penghukuman. Antara lain,
bagaimana memelihara tradisi-tradisi iman mereka tanpa lambang dan lembaga lahiriah
seperti Rumah Allah dan kerajaan, bagaimana bisa tetap hidup sebagai bangsa kudus dan
bagaimana mempertahankan pengharapan akan masa depan. Tetapi terutama sekali,
Israel menghadapi lagi masalah hubungan umat Allah dengan penguasa Negara asing.
Kata “lagi” sengaja dipergunakan, karena meskipun persoalan itu sangat penting bagi
angkatan pembuangan, namun bukanlah masalah baru dalam sejarah Israel. Bapak-
bapak leluhur Israel menjadi pengembara yang tinggal di negeri yang bukan milik mereka.
Peristiwa keluaran didahului penindasan oleh orang asing selama berabad-abad yang
masih menyala-nyala dalam ingatan bawah sadar bangsa Israel.
Dengan demikian, jelaslah “kekudusan” umat Allah tidak berarti mereka harus memi-
sahkan diri secara total dari bangsa-bangsa lain. Bangsa Israel yang terpilih demi bangsa-
bangsa lain, selalu sadar dan terjun dalam peristiwa-peristiwa internasional di sekitar me-
re-ka [kutipan dari Christopher Wright, Hidup Sebagai Umat Allah, terj. (Jakarta: BPK-GM, 1995), hlm. 124f.].
- - - NR - - -
Mazmur 105: 1-11
(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Pengantar
Mazmur ini men-cerita-kan sejarah Israel dari masa Abraham hingga dengan waktu
didudukinya Tanah Kanaan (sebagai cerita/narasi lihat penjelasan pada point 3 di ba-
wah). Pendudukan Kanaan (ay. 44) ini merupakan pemenuhan janji Tuhan kepada
Yakub (ay. 11), walaupun sebenarnya janji ini pertama kali disampaikan kepada
Abraham. Pemaparan ini disuguhkan sedemikian rupa, sehingga para pembaca dapat
menyimak bahwa dalam rangka dipenuhinya janji tsb. nyata sekali tangan Tuhan
bekerja, betapapun banyak tantangan dan kendala yang harus diatasi.
Sama seperti Mzm 78, kisah dituturkan dalam konteks ibadah. Ini di-indikasi-kan
oleh ayat 1-6, yang merupakan panggilan beribadah. Lalu bersama-sama dengan Mzm
98, maka ke-15 ayat pertama dari Mazmur bacaan kita ini juga didapati dalam 1 Taw
16. Di situ ayat-ayat tsb. merupakan bagian dari pujian yang dikaitkan dengan peristi-
wa ketika Daud membawa tabut Allah ke Yerusalem.
2. Eksposisi
[Sumber bacaan utama: Robert Davidson, The Vitality of Worship (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1998),
pp. 342ff.].
2.1. Ayat 1-6: Panggilan beribadah
Panggilan ini dinyatakan dalam ungkapan-ungkapan: “Bersyukurlah . . . perkenalkan-
lah . . .” (ay. 1), “Bernyanyilah . . . bermazmurlah . . .” (ay. 2), Bermegahlah . . . bersuka
hati . . .” (ay. 3), Carilah . . . carilah” (ay. 4), “Ingatlah . . .” (ay. 5). Inilah sebuah ibadah
yang diwarnai dan disirami oleh sukacita dan syukur untuk segala sesuatu yang Allah
telah lakukan: “perbuatanNya yang ajaib” (ay. 2, 5), “kekuatanNya . . . wajahNya” (ay. 4).
Beribadah berarti hadir untuk “bernyanyilah . . . bermazmurlah” (ay. 2). “Penghukuman-
penghukuman” yang diucapkanNya (ay. 5) adalah keputusan-keputusan yang diambilnya
dalam rangka melawan orang-orang dan hal-hal yang menindas umatNya. Ibadah ini di-
persembahkan oleh mereka yang merasa sebagai keturunan langsung dari Abraham,
“anak-anak Yakub” , “orang-orang pilihanNya” (ay. 6).
2.2. Ayat 7-11: Hakikat umat Allah
Itu berarti bahwa “the God whose writ runs throughout the world” adalah Allah yang
memiliki kita. “Allah kita” (ay. 7) menyatakan suatu relasi. Ini diungkapkan dalam istilah
“perjanjian” (ay. 8 dan 10; NIV: “covenant”). Perjanjian ini “diikatnya dengan Abraham”
(ay. 9; bnd. Kej 15 dan 17), diteruskan ke Ishak (bnd. Kej 26:3-5), dan Yakub yang ke-
mudian bernama Israel (Kej 28:13-17), dan merupakan “perjanjian kekal bagi Israel” (ay.
10; bnd. Kej 35:10 dst.). Di sini bobot perjanjian tsb. adalah pada “tanah Kanaan” (ay.
11). Ungkapan “selama-lamanya/kekal” dimunculkan dalam ay. 8 dan 10 dan yang
dipadukan dengan ungkapan “seribu angkatan [generasi]” (ay. 8). Ini menyiratkan bahwa
perjanjian ini tidak batal oleh waktu maupun keadaan. Untuk ini umat perlu selalu
didorong untuk mengingat perjanjian tsb. Sedangkan untuk Tuhan sendiri hal ini tidak
perlu, karena “Ia ingat selama-lamanya” (ay. 8) dan oleh karena itu Ia selalu memelihara
perjanjian tsb.
3. Excursus: Penafsiran Naratif
Apakah narasi itu?
Kata “narasi” berasal dari bahasa Latin narrare (kata kerja), yang berarti bercerita, mencerita-
kan, mengisahkan, dan narratus (kata benda), yang berarti cerita. Kamus Besar Bahasa Indo-
nesia merumuskan narasi sebagai: penceritaan suatu cerita atau kejadian, deskripsi dari sua-
tu kejadian atau peristiwa, kisah, tema suatu karya seni. Kata “naratif” merupakan kata sifat,
yang berarti: bersifat narasi, bersifat nenguraikan (menjelaskan); prosa yang subjeknya ada-
lah rangkaian kejadian. Jadi, menurut informasi dari kamus, narasi itu berarti suatu cerita.
Menurut Gorys Keraf ada dua unsur dasar dari suatu karangan yang disebut narasi, yakni
rangkaian perbuatan dan terjadi dalam rangkaian waktu . . . Selain kedua unsur dasar terse-
but, suatu narasi juga memiliki alur. Alur dibentuk oleh tiga unsur, yakni kejadian, tokoh, dan
konflik.
Gabriel Fackre merumuskan cerita sebagai sejumlah karakter dan kejadian dalam sebuah
alur yang bergerak dalam ruang dan waktu melalui konflik menuju penyelesaian. Dengan de-
mikian unsur konflik penting. Tanpa adanya konflik, suatu narasi menjadi tidak tuntas. Sebab
konflik memungkinkan hidup manusia digambarkan dengan warna yang serba indah. Suatu
narasi tidak menggambarkan kehidupan secara hitam putih, tetapi penuh dengan tantangan
dan usaha menemukan keselarasan antara cita-cita ajaran moral dan kenyataan hidup [kutipan
dari F.X. Didik Bagiyowinadi, Pewartaan Naratif (Yogyakarta, Pusat Pastoral, 2000/No 7), hlm. 5f.].
. . . Berbeda dengan uraian ilmiah, cerita justru mampu menyimpan sejumlah ketidakjelasan
makna yang pada gilirannya mengundang berbagai tafsiran. Karena sifat uniknya ini, [bisa di-]
asumsikan bahwa si penulis cerita memang sengaja menyampaikan “suatu” berita atau mak-
na melalui sarana cerita, supaya pendengarnya lebih terlibat dalam memberi makna. Bentuk
keterlibatan si pendengar ialah bahwa untuk memahami cerita itu ia harus menafsir: “melihat
tanda-tanda yang saling berkait”, “memberi makna” kepada cerita yang didengarnya. [ . . . ]
Didalam penyampaian cerita, terjadi “estafet” berita atau makna. Pertama Si Pencerita
menyerahkan tongkat berita/maknanya kepada Sang Cerita, lalu Sang Cerita menyerahkan
tongkat itu kepada Si Pendengar(/Pembaca). Namun, berhubung sarana yang digunakan
dalam penyampaian berita/makna itu adalah suatu Cerita, maka terjadi perubahan berita/
makna. Hal ini terjadi karena Cerita mempunyai dinamika uniknya, yaitu bahwa ia dapat
menjadikan “suatu” berita/makna menjadi “beberapa” berita/makna. Keunikan ini, bila diung-
kapkan dengan cara lain, ialah bahwa suatu Cerita --- pada saat ia telah selesai ditulis oleh
penulisnya --- mempunyai kehidupannya sendiri yang tidak lagi tergantung kepada si penulis.
Dunia cerita adalah dunia yang mandiri atau utuh pada dirinya [ . . . ]
Munculnya berbagai makna itu selain disebabkan oleh dinamika Cerita, juga disebabkan
oleh sifat hakikinya yang lain, yaitu Cerita itu senantiasa hidup di dalam pertalian segitiga:
Pencerita-Cerita-Pendengar. Tak ada Pencerita tanpa Pendengar: Dalam bercerita, si penulis
mau tak mau menciptakan seorang pencerita di dalam dunia ceritanya (entah sebagai “orang
Ketiga” entah sebagai “Aku”). . . . Kitab Injil Markus belum bercerita apa-apa sampai ada
Pendengar kongkrit yang mau membacanya.
Akhirnya kita perlu menyadari bahwa peristiwa membaca adalah peristiwa bersisi ganda.
Pada saat membaca atau memberi makna, si pembaca/penafsir sebenarnya sudah diundang
oleh cerita itu untuk terlibat. . . . Apalagi bila kita memperhitungkan fakta bahwa cerita-cerita
Kitab Suci digunakan dalam konteks umat sebagai pendengar, maka ada kemungkinan bah-
wa cerita-cerita ini disusun bukan hanya untuk menyampaikan “hasil” (makna), tetapi juga
agar “proses”-nya (pemaknaan) dihayati pembaca. Jelasnya si penulis (/orang percaya) mela-
lui cerita Kitab Suci yang disusunnya mengundang umat untuk ikut terlibat dalam “pergumulan
iman”-nya dalam mencari dan memberi makna di dalam cerita itu, maupun di luar cerita itu:
dalam kehidupan mereka di hadapan Tuhan [kutipan dari Adji A. Sutama, “Pembaca Diundang untuk
Terlibat”, dalam Majalah Gema Duta Wacana, Yogyakarta, No. 45 Tahun 1993, hlm. 86ff.].
- - - NR - - -
1. Pengantar
Mazmur ini men-cerita-kan sejarah Israel dari masa Abraham hingga dengan waktu
didudukinya Tanah Kanaan (sebagai cerita/narasi lihat penjelasan pada point 3 di ba-
wah). Pendudukan Kanaan (ay. 44) ini merupakan pemenuhan janji Tuhan kepada
Yakub (ay. 11), walaupun sebenarnya janji ini pertama kali disampaikan kepada
Abraham. Pemaparan ini disuguhkan sedemikian rupa, sehingga para pembaca dapat
menyimak bahwa dalam rangka dipenuhinya janji tsb. nyata sekali tangan Tuhan
bekerja, betapapun banyak tantangan dan kendala yang harus diatasi.
Sama seperti Mzm 78, kisah dituturkan dalam konteks ibadah. Ini di-indikasi-kan
oleh ayat 1-6, yang merupakan panggilan beribadah. Lalu bersama-sama dengan Mzm
98, maka ke-15 ayat pertama dari Mazmur bacaan kita ini juga didapati dalam 1 Taw
16. Di situ ayat-ayat tsb. merupakan bagian dari pujian yang dikaitkan dengan peristi-
wa ketika Daud membawa tabut Allah ke Yerusalem.
2. Eksposisi
[Sumber bacaan utama: Robert Davidson, The Vitality of Worship (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1998),
pp. 342ff.].
2.1. Ayat 1-6: Panggilan beribadah
Panggilan ini dinyatakan dalam ungkapan-ungkapan: “Bersyukurlah . . . perkenalkan-
lah . . .” (ay. 1), “Bernyanyilah . . . bermazmurlah . . .” (ay. 2), Bermegahlah . . . bersuka
hati . . .” (ay. 3), Carilah . . . carilah” (ay. 4), “Ingatlah . . .” (ay. 5). Inilah sebuah ibadah
yang diwarnai dan disirami oleh sukacita dan syukur untuk segala sesuatu yang Allah
telah lakukan: “perbuatanNya yang ajaib” (ay. 2, 5), “kekuatanNya . . . wajahNya” (ay. 4).
Beribadah berarti hadir untuk “bernyanyilah . . . bermazmurlah” (ay. 2). “Penghukuman-
penghukuman” yang diucapkanNya (ay. 5) adalah keputusan-keputusan yang diambilnya
dalam rangka melawan orang-orang dan hal-hal yang menindas umatNya. Ibadah ini di-
persembahkan oleh mereka yang merasa sebagai keturunan langsung dari Abraham,
“anak-anak Yakub” , “orang-orang pilihanNya” (ay. 6).
2.2. Ayat 7-11: Hakikat umat Allah
Itu berarti bahwa “the God whose writ runs throughout the world” adalah Allah yang
memiliki kita. “Allah kita” (ay. 7) menyatakan suatu relasi. Ini diungkapkan dalam istilah
“perjanjian” (ay. 8 dan 10; NIV: “covenant”). Perjanjian ini “diikatnya dengan Abraham”
(ay. 9; bnd. Kej 15 dan 17), diteruskan ke Ishak (bnd. Kej 26:3-5), dan Yakub yang ke-
mudian bernama Israel (Kej 28:13-17), dan merupakan “perjanjian kekal bagi Israel” (ay.
10; bnd. Kej 35:10 dst.). Di sini bobot perjanjian tsb. adalah pada “tanah Kanaan” (ay.
11). Ungkapan “selama-lamanya/kekal” dimunculkan dalam ay. 8 dan 10 dan yang
dipadukan dengan ungkapan “seribu angkatan [generasi]” (ay. 8). Ini menyiratkan bahwa
perjanjian ini tidak batal oleh waktu maupun keadaan. Untuk ini umat perlu selalu
didorong untuk mengingat perjanjian tsb. Sedangkan untuk Tuhan sendiri hal ini tidak
perlu, karena “Ia ingat selama-lamanya” (ay. 8) dan oleh karena itu Ia selalu memelihara
perjanjian tsb.
3. Excursus: Penafsiran Naratif
Apakah narasi itu?
Kata “narasi” berasal dari bahasa Latin narrare (kata kerja), yang berarti bercerita, mencerita-
kan, mengisahkan, dan narratus (kata benda), yang berarti cerita. Kamus Besar Bahasa Indo-
nesia merumuskan narasi sebagai: penceritaan suatu cerita atau kejadian, deskripsi dari sua-
tu kejadian atau peristiwa, kisah, tema suatu karya seni. Kata “naratif” merupakan kata sifat,
yang berarti: bersifat narasi, bersifat nenguraikan (menjelaskan); prosa yang subjeknya ada-
lah rangkaian kejadian. Jadi, menurut informasi dari kamus, narasi itu berarti suatu cerita.
Menurut Gorys Keraf ada dua unsur dasar dari suatu karangan yang disebut narasi, yakni
rangkaian perbuatan dan terjadi dalam rangkaian waktu . . . Selain kedua unsur dasar terse-
but, suatu narasi juga memiliki alur. Alur dibentuk oleh tiga unsur, yakni kejadian, tokoh, dan
konflik.
Gabriel Fackre merumuskan cerita sebagai sejumlah karakter dan kejadian dalam sebuah
alur yang bergerak dalam ruang dan waktu melalui konflik menuju penyelesaian. Dengan de-
mikian unsur konflik penting. Tanpa adanya konflik, suatu narasi menjadi tidak tuntas. Sebab
konflik memungkinkan hidup manusia digambarkan dengan warna yang serba indah. Suatu
narasi tidak menggambarkan kehidupan secara hitam putih, tetapi penuh dengan tantangan
dan usaha menemukan keselarasan antara cita-cita ajaran moral dan kenyataan hidup [kutipan
dari F.X. Didik Bagiyowinadi, Pewartaan Naratif (Yogyakarta, Pusat Pastoral, 2000/No 7), hlm. 5f.].
. . . Berbeda dengan uraian ilmiah, cerita justru mampu menyimpan sejumlah ketidakjelasan
makna yang pada gilirannya mengundang berbagai tafsiran. Karena sifat uniknya ini, [bisa di-]
asumsikan bahwa si penulis cerita memang sengaja menyampaikan “suatu” berita atau mak-
na melalui sarana cerita, supaya pendengarnya lebih terlibat dalam memberi makna. Bentuk
keterlibatan si pendengar ialah bahwa untuk memahami cerita itu ia harus menafsir: “melihat
tanda-tanda yang saling berkait”, “memberi makna” kepada cerita yang didengarnya. [ . . . ]
Didalam penyampaian cerita, terjadi “estafet” berita atau makna. Pertama Si Pencerita
menyerahkan tongkat berita/maknanya kepada Sang Cerita, lalu Sang Cerita menyerahkan
tongkat itu kepada Si Pendengar(/Pembaca). Namun, berhubung sarana yang digunakan
dalam penyampaian berita/makna itu adalah suatu Cerita, maka terjadi perubahan berita/
makna. Hal ini terjadi karena Cerita mempunyai dinamika uniknya, yaitu bahwa ia dapat
menjadikan “suatu” berita/makna menjadi “beberapa” berita/makna. Keunikan ini, bila diung-
kapkan dengan cara lain, ialah bahwa suatu Cerita --- pada saat ia telah selesai ditulis oleh
penulisnya --- mempunyai kehidupannya sendiri yang tidak lagi tergantung kepada si penulis.
Dunia cerita adalah dunia yang mandiri atau utuh pada dirinya [ . . . ]
Munculnya berbagai makna itu selain disebabkan oleh dinamika Cerita, juga disebabkan
oleh sifat hakikinya yang lain, yaitu Cerita itu senantiasa hidup di dalam pertalian segitiga:
Pencerita-Cerita-Pendengar. Tak ada Pencerita tanpa Pendengar: Dalam bercerita, si penulis
mau tak mau menciptakan seorang pencerita di dalam dunia ceritanya (entah sebagai “orang
Ketiga” entah sebagai “Aku”). . . . Kitab Injil Markus belum bercerita apa-apa sampai ada
Pendengar kongkrit yang mau membacanya.
Akhirnya kita perlu menyadari bahwa peristiwa membaca adalah peristiwa bersisi ganda.
Pada saat membaca atau memberi makna, si pembaca/penafsir sebenarnya sudah diundang
oleh cerita itu untuk terlibat. . . . Apalagi bila kita memperhitungkan fakta bahwa cerita-cerita
Kitab Suci digunakan dalam konteks umat sebagai pendengar, maka ada kemungkinan bah-
wa cerita-cerita ini disusun bukan hanya untuk menyampaikan “hasil” (makna), tetapi juga
agar “proses”-nya (pemaknaan) dihayati pembaca. Jelasnya si penulis (/orang percaya) mela-
lui cerita Kitab Suci yang disusunnya mengundang umat untuk ikut terlibat dalam “pergumulan
iman”-nya dalam mencari dan memberi makna di dalam cerita itu, maupun di luar cerita itu:
dalam kehidupan mereka di hadapan Tuhan [kutipan dari Adji A. Sutama, “Pembaca Diundang untuk
Terlibat”, dalam Majalah Gema Duta Wacana, Yogyakarta, No. 45 Tahun 1993, hlm. 86ff.].
- - - NR - - -
Making Ready for the Lord's Coming
SUNDAY HOMILIES FOR YEAR A
By Fr Munachi E. Ezeogu, cssp
Homily for 1st Sunday of Advent
Isaiah 2:1-5 Romans 13:11-14 Matthew 24:37-44
John F. Kennedy is said to be very fond of a particular story. During his 1960 presidential campaign he often used it to close his speeches. It is the story of Colonel Davenport, Speaker of the Connecticut House of Representatives back in 1789. One day, while the House was in session, the sky of Hartford suddenly grew dark and gloomy. Some of the representatives looked out the windows and thought this was a sign that the end of the world had come. An uproar ensued with the representatives calling for immediate adjournment. But Davenport rose and said, “Gentlemen, the Day of Judgment is either approaching or it is not. If it is not, there is no cause for adjournment. If it is, I choose to be found doing my duty. Therefore, I wish that candles be brought.” Candles were brought and the session continued.
Today’s gospel speaks about the coming of the Lord at the end of the world and how to prepare for it. In our world today, there are two big mistakes people make with regard to the coming of the Lord. One is to prepare for it with paranoid anxiety. The other is to dismiss it with nonchalant abandon and do nothing about it. What does the gospel tell us about the end of the world and how to prepare for it?
The gospel uses two images to make the point that “you do not know on what day your Lord is coming” (Matthew 24:42b). One is the flood which overtook the unprepared people of Noah’s time. The other is the analogy of a thief in the night, who always comes unannounced. The Lord’s coming and the end of the world as we know it will occur suddenly and unexpectedly. It will come unannounced, springing a surprise on an unsuspecting world. Like a wise householder, therefore, we are urged to be watchful and ready.
What does it mean to be watchful and ready? It does not mean to go about listening to and getting excited over the end-of-time prophecies and visions that have multiplied in our day. Rather it is, as Colonel Davenport rightly says, to be more assiduous and faithful to our duties as responsible children of the world and of God. The early Christians used sleep as figurative language for the life of sinful indulgence. Paul says in 1Thessalonians 5:6-8
So then let us not fall asleep as others do, but let us keep awake and be sober; for those who sleep sleep at night, and those who are drunk get drunk at night. But since we belong to the day, let us be sober, and put on the breastplate of faith and love, and for a helmet the hope of salvation.
To be awake, therefore, is to live a life of faithful service to the Lord, following the Lord’s commands and abiding in his grace. In fact, our gospel story today is followed by the Parable of the Wise Servant who faithfully carries out his master’s instructions while his master is on a journey. His master returns unexpectedly and finds the servant still following the instructions he gave him. In the same way, there is no better way for us to ready ourselves for the unexpected coming of the Lord at the end of time than faithfully carrying out his commands in our daily lives.
Why is it futile for us to run about in search of a calendar for the end-times and the Lord’s coming? Because actually the great Day of the Lord can overtake us individually any day, any time. The day we die is the day we appear before God. Why should I be stockpiling for the Day of the Lord in two or three years time when I am not even sure of tomorrow? For everyone of us there is an individual Day of the Lord, the day we appear in personal judgment before God and there is the general Day of the Lord, the day of general judgment of all humankind. The Day of the Lord is as near to each of us as the day of our death, which could be any day.
As we begin today a new cycle of the church’s year of grace, let us resolve to shun the doomsday paranoia on the one hand and reckless complacency on the other. Let us resolve to be always awake in the spirit by living a life of faith and love in service to the Lord so that whenever he comes we shall be ready to follow him into the glory of eternity.
By Fr Munachi E. Ezeogu, cssp
Homily for 1st Sunday of Advent
Isaiah 2:1-5 Romans 13:11-14 Matthew 24:37-44
John F. Kennedy is said to be very fond of a particular story. During his 1960 presidential campaign he often used it to close his speeches. It is the story of Colonel Davenport, Speaker of the Connecticut House of Representatives back in 1789. One day, while the House was in session, the sky of Hartford suddenly grew dark and gloomy. Some of the representatives looked out the windows and thought this was a sign that the end of the world had come. An uproar ensued with the representatives calling for immediate adjournment. But Davenport rose and said, “Gentlemen, the Day of Judgment is either approaching or it is not. If it is not, there is no cause for adjournment. If it is, I choose to be found doing my duty. Therefore, I wish that candles be brought.” Candles were brought and the session continued.
Today’s gospel speaks about the coming of the Lord at the end of the world and how to prepare for it. In our world today, there are two big mistakes people make with regard to the coming of the Lord. One is to prepare for it with paranoid anxiety. The other is to dismiss it with nonchalant abandon and do nothing about it. What does the gospel tell us about the end of the world and how to prepare for it?
The gospel uses two images to make the point that “you do not know on what day your Lord is coming” (Matthew 24:42b). One is the flood which overtook the unprepared people of Noah’s time. The other is the analogy of a thief in the night, who always comes unannounced. The Lord’s coming and the end of the world as we know it will occur suddenly and unexpectedly. It will come unannounced, springing a surprise on an unsuspecting world. Like a wise householder, therefore, we are urged to be watchful and ready.
What does it mean to be watchful and ready? It does not mean to go about listening to and getting excited over the end-of-time prophecies and visions that have multiplied in our day. Rather it is, as Colonel Davenport rightly says, to be more assiduous and faithful to our duties as responsible children of the world and of God. The early Christians used sleep as figurative language for the life of sinful indulgence. Paul says in 1Thessalonians 5:6-8
So then let us not fall asleep as others do, but let us keep awake and be sober; for those who sleep sleep at night, and those who are drunk get drunk at night. But since we belong to the day, let us be sober, and put on the breastplate of faith and love, and for a helmet the hope of salvation.
To be awake, therefore, is to live a life of faithful service to the Lord, following the Lord’s commands and abiding in his grace. In fact, our gospel story today is followed by the Parable of the Wise Servant who faithfully carries out his master’s instructions while his master is on a journey. His master returns unexpectedly and finds the servant still following the instructions he gave him. In the same way, there is no better way for us to ready ourselves for the unexpected coming of the Lord at the end of time than faithfully carrying out his commands in our daily lives.
Why is it futile for us to run about in search of a calendar for the end-times and the Lord’s coming? Because actually the great Day of the Lord can overtake us individually any day, any time. The day we die is the day we appear before God. Why should I be stockpiling for the Day of the Lord in two or three years time when I am not even sure of tomorrow? For everyone of us there is an individual Day of the Lord, the day we appear in personal judgment before God and there is the general Day of the Lord, the day of general judgment of all humankind. The Day of the Lord is as near to each of us as the day of our death, which could be any day.
As we begin today a new cycle of the church’s year of grace, let us resolve to shun the doomsday paranoia on the one hand and reckless complacency on the other. Let us resolve to be always awake in the spirit by living a life of faith and love in service to the Lord so that whenever he comes we shall be ready to follow him into the glory of eternity.
Mazmur 130
(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Garis Besar: Susunan dan Sinopsis
Ay. 1-2 : meminta perhatian Tuhan dari dalam jurang;
3-4 : hanya Tuhan saja dapat mengatasi pemisahan yang disebabkan dosa;
5-6 : menanti-nantikan TUHAN;
7-8 : yang membebaskan umat-Nya
[kutipan dari Marie C. Barth dan B.A. Pareira, Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 73-150 (Jakarta: BPK-GM, 1999), hlm.
408].
Informasi: Mazmur ini mempunyai ke-khas-an sendiri. Dibandingkan dengan Mzm 51, maka
Mzm 130 mempunyai nuansa permohonan tobat yang lebih kental. Sedangkan
Mzm 51 mengetengahkan bobot pengakuan dosa. Namun terlepas dari perbeda-
an penekanan tadi, kedua Mazmur ini mencerminkan konteks unsur pengakuan
dosa dalam tata ibadah. Perlu juga diperhatikan bahwa ayat 7a dan 8, di mana
dosa umat Israel dimohonkan untuk diampuni, merupakan tambahan kemudian
[Sumber: Claus Westermann, The Living Psalms, trans. (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans,
1989), p. 117].
2. Eksposisi
2.1. Ayat 1 : Tersirat di sini bahwa Allah mau mendengarkan doa orang-orang yang dengan
“ketulusan dan kejujuran” mengakui kegagalan dan keterpurukan mereka diha-
dapanNya. Sekaligus ini menjadi suatu “model for how we might express our-
selves to Him” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari What does the Bible Say About . . .
(Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2002), p. 82].
2.2. Ayat 3-4: Apa Tuhan memangnya punya sejenis ‘buku catatan’ (Inggris: book of
record)?
Ya (bnd. Mzm 56:9: “menghitung-hitung”; “Kaudaftarkan”). Namun dalam
PL juga disaksikan bahwa untuk catatan-catatan [dosa] ini, Tuhan rela meng-
hapusnya. “God’s mercy provided a means for his people to start over again
with a clean record” --- asal mereka dengan “tulus dan jujur” mengakui dosa-
dosanya dan sungguh-sungguh bertobat [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Quest
Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 881; untuk seterusnya sumber ini dipen-
dekkan QSB].
Informasi: God’s motive in forgiving is clear in the OT, and there is celebration
of God’s character as a forgiving Person [Kel 34:7; Bil 14:18; Neh 9:
17; Mzm 86:5; 99:8; 130:3-4; Dan 9:9] [kutipan bahasa Inggris dari New
International Encyclopedia of Bible Words (Grand Rapids, Mich.: Zondervan,
1991), p. 289].
2.3. Ayat 5-6: Mengapa si pemazmur sebegitu mendambakan Tuhan?
Dengan menyadari bahwa Allah rela mengampuni, maka ini menimbulkan
hasrat dan niat yang dalam dari pemazmur untuk lebih mengenal Allah. Juga
dengan meyakini kasih setia Allah, maka si pemazmur tidak ragu-ragu men-
curahkan isi hatinya kepada Allah. Keyakinannya ini melebihi keyakinan
seorang pengawal akan kepastian berlalunya malam dan terbitnya surya pagi
2.4. Ayat 7-8: Bagaimana Perjanjian Lama memahami “pembebasan” [NIV: “redemp-
tion” = “penebusan”]?
Dengan latar belakang tindakan pembebasan Allah bagi Israel, baik dari
perhambaan di Mesir, maupun dari pembuangan di Babel, maka pembebasan/
penyelamatan adalah untuk seluruh umat, yakni secara kolektif, bukan secara
pribadi. Walaupun di sana-sini ada tersirat dalam PL (a.l. Yeh 18:14-20) tentang
pembebasan/penyelamatan pribadi, baru kelak dalam PB gagasan penyelamatan
pribadi berkembang penuh dalam hubungannya dengan tindakan pembebasan/
penyelamatan/penebusan Yesus Kristus [Sumber: QSB, loc. cit.].
Informasi: Perlu diperhatikan bahwa dalam keseluruhan PL, hanyalah dalam Mzm
130:7-8 inilah istilah “pembebasan” (Ibrani: padah] dikaitkan dengan pembe-
basan dari dosa. Gagasan ini baru kelak dikembangkan secara penuh dalam
PB [Sumber: New International Encyclopedia . . ., p. 516].
Ungkapan “berharap” [Ibrani: yahal] sering sekali muncul dalam Mazmur-
Mazmur. Dengan seruan “berharaplah”, maka kita diundang untuk sekarang ini
berharap dalam hubungan kita dengan Allah. Pendek kata, “harapan” menyirat-
kan relasi. Dalam pemahaman inilah, maka PL beranggapan bahwa [1] Allah
adalah Pembebas yang akan membebaskan seseorang yang berharap kepa-
daNya, dan oleh karena itu [2] adalah patut bahwa kita menanti dengan “tawak-
kal” sampai Allah bertindak [Sumber: Ibid., p. 343f.].
“Kasih setia” (Ibrani: khesed) dalam Mazmur-Mazmur dikaitkan dengan (1)
ibadah (5:8; 26:3); dengan (2) diluputkan dari musuh (6:5; 17:7; dsb.); dengan
(3) perlindungan (21:8; 32:10; 6 dsb.); dengan (4) pengampunan (25:7; 51:3;
86:5; 130: 7; dsb.) [Sumber: Ibid., p. 419].
Kasih setia merupakan padanan kata Ibrani khesed. Paling banyak muncul
dalam Mzm. Di tempat-tempat lain khesed diterjemahkan ‘belas kasihan’,
‘kemurahan hati’, dan ‘kebaikan’. . . . Asal usul etimologisnya tidak jelas. Suatu
penyelidikan mengenai ay-ay di mana kata itu dijumpai (mis Mzm 89), meng-
ungkapkan bahwa kata itu sangat erat hubungannya dengan dua pengertian,
yaitu ‘perjanjian [anugerah]’ dan ‘kesetiaan’. Artinya mungkin dapat dirangkum
sebagai ‘kasih yang mantap teguh atas dasar perjanjian yg telah dibuat’. Arti ini
digunakan untuk menggambarkan baik sikap Allah terhadap umat-Nya maupun
sikap umat Allah terhadap Dia; penggunaan yg kedua khususnya dalam Hos.
[kutipan dari Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jild 1, terj. (Jakarta: YKBK/OMF, t.t.), hlm. 528].
3. Refleksi
C a t a t a n D o s a K i t a
Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-
kesalahan,Tuhan, siapakah yang dapat tahan?
(Mzm 130:3)
“Dari jurang yang dalam”, pemazmur berseru kepada Allah (Mzm 130:1). Lalu, masalahnya dikemuka-
kan, yaitu rasa bersalah yang luar biasa karena berbagai hal yang telah ia lakukan dan tidak lakukan di
masa lalu. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat
tahan?” (ayat 3).
Namun, puji Tuhan, Allah mengampuni. Dia tak menyimpan catatan dosa masa lalu, entah betapa
banyak atau menyedihkannya dosa itu. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka
yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1). Pengampunan Allah membuat kita takut akan Dia (Mzm
130:4). Kita menyembah dan mengagungkan Allah, karena anugerah dan pengampunan yang membu-
at kita mengasihi Dia.
Namun bagaimana jika kita terpeleset lagi ke dosa lama? Bagaimana jika dosa itu masih ada? Kita
harus bertobat dan “menanti-nantikan Tuhan” (Mzm 130:5). Dan, bersabar saat Allah bekerja. Kita bu-
kan orang sakit yang tak berpengharapan. Kita bisa “berharap” kepada Pribadi yang akan melepaskan
sesuai waktu-Nya.
Kita tahu dua kepastian: Kasih Allah tak pernah gagal, yaitu bahwa Dia tak akan pernah meninggal-
kan kita atau mengabaikan kita (Ibrani 13:5). Dan, janji Allah tentang penebusan total akan berlangsung
pada waktunya --- Dia akan menebus kita dari semua pelanggaran kita (Mzm 130:8), lalu membawa ki-
ta ke dalam kemuliaan-Nya tanpa noda dan penuh sukacita (Yudas 24).
Kita diampuni! Kita bebas! Bersama pemazmur, mari kita menyembah Tuhan saat menantikan keda-
tangan-Nya ---DHR [kutipan dari Renungan Harian, Kamis, 30 Agustus 2007 (Yogyakarta: Yayasan
Gloria/RBC Ministries)].
4. Excursus: “Kesalahan [dan Rasa Bersalah] . . .”
Banyak ahli psikologi mencatat kesalahan [yakni rasa bersalah] sebagai salah satu masalah utama
para klien mereka. Seringkali kesalahan mempengaruhi sebagian besar orang beragama. Mengapa
ajaran Kristen, yang menjanjikan pengampunan dan perbaikan terhadap kesalahan, kadang-kadang
seakan-akan menjadi penyebab persoalan lebih besar?
Sarana yang menyatakan kepada Anda bahwa Anda bersalah biasanya disebut kesadaran. Kesa-
daran berkomunkasi melalui emosi Anda dan memberi peringatan kepada Anda apabila ada masalah
di dalam kehidupan Anda. [ . . . ]
Kalau Anda Benar-Benar Bersalah
[ . . . ] Bagaimana kalau kesalahan Anda ternyata kesalahan yang sesungguhnya? Apakah yang
akan Anda lakukan kemudian? Saya dapat memperkirakan tiga tindakan yang memungkinkan untuk
dilaksanakan.
Yang pertama adalah menghukum diri Anda sendiri. “Saya tentulah orang yang buruk laku. Oh, be-
tapa bersalahnya saya! Wah, saya sangat menyakiti Tuhan!” [ . . . ]
Tindakan lainnya adalah menyangkali bahwa kesalahan akan menampakkan diri. “Kesalahan adalah
getaran perasaan saja. Ia melumpuhkan dan menekan perasaan banyak orang yang hebat serta mem-
buat mereka tidak menikmati kehidupan mereka. Tuhan menghendaki agar saya merasa bahagia. Ka-
rena itu saya tidak membiarkan diri saya merasa bersalah.” [ . . . ]
Tindakan ketiga ialah berusaha menemukan alasannya mengapa Anda merasa bersalah dan beru-
saha menghentikannya. Secara analogi, hal ini sama seperti Anda merasa sakit sekali pada kaki Anda,
kemudian Anda melepas sepatu Anda serta mencari sumber rasa sakit itu. Itulah cara terbaik untuk
menghadapi rasa sakit. Pada kenyataannya, tujuan rasa sakit itu adalah untuk menarik perhatian Anda.
Sama saja, rasa bersalah dimaksudkan supaya Anda menemukan sumber perasaan Anda. [ . . . ]
Dengan ini, saya tidak bermaksud untuk mulai mendorong seseorang menilik dirinya. Itu tidak sehat.
Kita dapat menemukan banyak sekali dosa kalau kita mau berusaha cukup keras untuk menemukan-
nya, dan beberapa di antara kita bahkan menemukan dosa-dosa yang sama sekali bukan hasil perbuat-
an mereka. Jangan lakukan hal itu! Cukup Anda bertanya: Adakah Tuhan menghendaki saya melaku-
kan sesuatu yang telah saya abaikan selama ini? Adakah hal itu benar-benar dikehendaki Tuhan untuk
saya lakukan, sesuatu yang akan disetujui oleh orang Kristen lain? Kalau benar demikian, lakukanlah.
Jangan terlalu lama berdoa, mendoakan sambil menangis untuk mendapatkan pengampunan. Cukup
ubahlah perilaku Anda.
Mengobati Luka
Namun Anda juga perlu penyembuhan. Ketika Anda jatuh, Anda dapat segera membuat keputusan
untuk tidak berlari dan lebih berhati-hati lagi, tetapi Anda masih harus memperhatikan lutut Anda yang
terluka yang memerlukan obat. [Rasa bersalah] juga memerlukan obat: obat yang berupa pengampun-
an dan pemeliharaan Tuhan. Sekali lagi, 1 Yohanes menolong: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia
adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala
kejahatan” (1:9). Janganlah hal ini kita jadikan pokok persoalan besar dengan memeriksa diri secara
berlebihan. Firman ini sederhana bunyinya. Satu-satunya harapannya ialah bahwa pengakuan Anda
hendaknya tulus: “Tuhan, saya menyadari bahwa saya salah dan Engkau benar. Saya bingung, saya
menyesal. Apakah Engkau berkenan mengampuni saya dan menempatkan saya di jalan yang benar
lagi?” Sudah cukup, dan Yohanes berkata dengan jelas bahwa setelah Anda melakukan tindakan
berdoa itu, Tuhan akan membersihkan Anda dari semua dosa Anda. Tuhan tidak [sekedar] member-
sihkan sampai mencapai kebersihan 80 % [saja] atau melalui proses pengampunan yang memerlukan
bertahun-tahun lamanya. Saat itu juga, Ia membersihkan Anda dari dosa tersebut [kutipan dari Verne
Becker et al., Muda-Mudi, Inilah Jawabannya, terj. (Jakarta: BPK-GM, 2000), hlm. 34ff.].
- - - NR - - -
1. Garis Besar: Susunan dan Sinopsis
Ay. 1-2 : meminta perhatian Tuhan dari dalam jurang;
3-4 : hanya Tuhan saja dapat mengatasi pemisahan yang disebabkan dosa;
5-6 : menanti-nantikan TUHAN;
7-8 : yang membebaskan umat-Nya
[kutipan dari Marie C. Barth dan B.A. Pareira, Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 73-150 (Jakarta: BPK-GM, 1999), hlm.
408].
Informasi: Mazmur ini mempunyai ke-khas-an sendiri. Dibandingkan dengan Mzm 51, maka
Mzm 130 mempunyai nuansa permohonan tobat yang lebih kental. Sedangkan
Mzm 51 mengetengahkan bobot pengakuan dosa. Namun terlepas dari perbeda-
an penekanan tadi, kedua Mazmur ini mencerminkan konteks unsur pengakuan
dosa dalam tata ibadah. Perlu juga diperhatikan bahwa ayat 7a dan 8, di mana
dosa umat Israel dimohonkan untuk diampuni, merupakan tambahan kemudian
[Sumber: Claus Westermann, The Living Psalms, trans. (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans,
1989), p. 117].
2. Eksposisi
2.1. Ayat 1 : Tersirat di sini bahwa Allah mau mendengarkan doa orang-orang yang dengan
“ketulusan dan kejujuran” mengakui kegagalan dan keterpurukan mereka diha-
dapanNya. Sekaligus ini menjadi suatu “model for how we might express our-
selves to Him” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari What does the Bible Say About . . .
(Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2002), p. 82].
2.2. Ayat 3-4: Apa Tuhan memangnya punya sejenis ‘buku catatan’ (Inggris: book of
record)?
Ya (bnd. Mzm 56:9: “menghitung-hitung”; “Kaudaftarkan”). Namun dalam
PL juga disaksikan bahwa untuk catatan-catatan [dosa] ini, Tuhan rela meng-
hapusnya. “God’s mercy provided a means for his people to start over again
with a clean record” --- asal mereka dengan “tulus dan jujur” mengakui dosa-
dosanya dan sungguh-sungguh bertobat [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Quest
Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 881; untuk seterusnya sumber ini dipen-
dekkan QSB].
Informasi: God’s motive in forgiving is clear in the OT, and there is celebration
of God’s character as a forgiving Person [Kel 34:7; Bil 14:18; Neh 9:
17; Mzm 86:5; 99:8; 130:3-4; Dan 9:9] [kutipan bahasa Inggris dari New
International Encyclopedia of Bible Words (Grand Rapids, Mich.: Zondervan,
1991), p. 289].
2.3. Ayat 5-6: Mengapa si pemazmur sebegitu mendambakan Tuhan?
Dengan menyadari bahwa Allah rela mengampuni, maka ini menimbulkan
hasrat dan niat yang dalam dari pemazmur untuk lebih mengenal Allah. Juga
dengan meyakini kasih setia Allah, maka si pemazmur tidak ragu-ragu men-
curahkan isi hatinya kepada Allah. Keyakinannya ini melebihi keyakinan
seorang pengawal akan kepastian berlalunya malam dan terbitnya surya pagi
2.4. Ayat 7-8: Bagaimana Perjanjian Lama memahami “pembebasan” [NIV: “redemp-
tion” = “penebusan”]?
Dengan latar belakang tindakan pembebasan Allah bagi Israel, baik dari
perhambaan di Mesir, maupun dari pembuangan di Babel, maka pembebasan/
penyelamatan adalah untuk seluruh umat, yakni secara kolektif, bukan secara
pribadi. Walaupun di sana-sini ada tersirat dalam PL (a.l. Yeh 18:14-20) tentang
pembebasan/penyelamatan pribadi, baru kelak dalam PB gagasan penyelamatan
pribadi berkembang penuh dalam hubungannya dengan tindakan pembebasan/
penyelamatan/penebusan Yesus Kristus [Sumber: QSB, loc. cit.].
Informasi: Perlu diperhatikan bahwa dalam keseluruhan PL, hanyalah dalam Mzm
130:7-8 inilah istilah “pembebasan” (Ibrani: padah] dikaitkan dengan pembe-
basan dari dosa. Gagasan ini baru kelak dikembangkan secara penuh dalam
PB [Sumber: New International Encyclopedia . . ., p. 516].
Ungkapan “berharap” [Ibrani: yahal] sering sekali muncul dalam Mazmur-
Mazmur. Dengan seruan “berharaplah”, maka kita diundang untuk sekarang ini
berharap dalam hubungan kita dengan Allah. Pendek kata, “harapan” menyirat-
kan relasi. Dalam pemahaman inilah, maka PL beranggapan bahwa [1] Allah
adalah Pembebas yang akan membebaskan seseorang yang berharap kepa-
daNya, dan oleh karena itu [2] adalah patut bahwa kita menanti dengan “tawak-
kal” sampai Allah bertindak [Sumber: Ibid., p. 343f.].
“Kasih setia” (Ibrani: khesed) dalam Mazmur-Mazmur dikaitkan dengan (1)
ibadah (5:8; 26:3); dengan (2) diluputkan dari musuh (6:5; 17:7; dsb.); dengan
(3) perlindungan (21:8; 32:10; 6 dsb.); dengan (4) pengampunan (25:7; 51:3;
86:5; 130: 7; dsb.) [Sumber: Ibid., p. 419].
Kasih setia merupakan padanan kata Ibrani khesed. Paling banyak muncul
dalam Mzm. Di tempat-tempat lain khesed diterjemahkan ‘belas kasihan’,
‘kemurahan hati’, dan ‘kebaikan’. . . . Asal usul etimologisnya tidak jelas. Suatu
penyelidikan mengenai ay-ay di mana kata itu dijumpai (mis Mzm 89), meng-
ungkapkan bahwa kata itu sangat erat hubungannya dengan dua pengertian,
yaitu ‘perjanjian [anugerah]’ dan ‘kesetiaan’. Artinya mungkin dapat dirangkum
sebagai ‘kasih yang mantap teguh atas dasar perjanjian yg telah dibuat’. Arti ini
digunakan untuk menggambarkan baik sikap Allah terhadap umat-Nya maupun
sikap umat Allah terhadap Dia; penggunaan yg kedua khususnya dalam Hos.
[kutipan dari Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jild 1, terj. (Jakarta: YKBK/OMF, t.t.), hlm. 528].
3. Refleksi
C a t a t a n D o s a K i t a
Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-
kesalahan,Tuhan, siapakah yang dapat tahan?
(Mzm 130:3)
“Dari jurang yang dalam”, pemazmur berseru kepada Allah (Mzm 130:1). Lalu, masalahnya dikemuka-
kan, yaitu rasa bersalah yang luar biasa karena berbagai hal yang telah ia lakukan dan tidak lakukan di
masa lalu. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat
tahan?” (ayat 3).
Namun, puji Tuhan, Allah mengampuni. Dia tak menyimpan catatan dosa masa lalu, entah betapa
banyak atau menyedihkannya dosa itu. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka
yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1). Pengampunan Allah membuat kita takut akan Dia (Mzm
130:4). Kita menyembah dan mengagungkan Allah, karena anugerah dan pengampunan yang membu-
at kita mengasihi Dia.
Namun bagaimana jika kita terpeleset lagi ke dosa lama? Bagaimana jika dosa itu masih ada? Kita
harus bertobat dan “menanti-nantikan Tuhan” (Mzm 130:5). Dan, bersabar saat Allah bekerja. Kita bu-
kan orang sakit yang tak berpengharapan. Kita bisa “berharap” kepada Pribadi yang akan melepaskan
sesuai waktu-Nya.
Kita tahu dua kepastian: Kasih Allah tak pernah gagal, yaitu bahwa Dia tak akan pernah meninggal-
kan kita atau mengabaikan kita (Ibrani 13:5). Dan, janji Allah tentang penebusan total akan berlangsung
pada waktunya --- Dia akan menebus kita dari semua pelanggaran kita (Mzm 130:8), lalu membawa ki-
ta ke dalam kemuliaan-Nya tanpa noda dan penuh sukacita (Yudas 24).
Kita diampuni! Kita bebas! Bersama pemazmur, mari kita menyembah Tuhan saat menantikan keda-
tangan-Nya ---DHR [kutipan dari Renungan Harian, Kamis, 30 Agustus 2007 (Yogyakarta: Yayasan
Gloria/RBC Ministries)].
4. Excursus: “Kesalahan [dan Rasa Bersalah] . . .”
Banyak ahli psikologi mencatat kesalahan [yakni rasa bersalah] sebagai salah satu masalah utama
para klien mereka. Seringkali kesalahan mempengaruhi sebagian besar orang beragama. Mengapa
ajaran Kristen, yang menjanjikan pengampunan dan perbaikan terhadap kesalahan, kadang-kadang
seakan-akan menjadi penyebab persoalan lebih besar?
Sarana yang menyatakan kepada Anda bahwa Anda bersalah biasanya disebut kesadaran. Kesa-
daran berkomunkasi melalui emosi Anda dan memberi peringatan kepada Anda apabila ada masalah
di dalam kehidupan Anda. [ . . . ]
Kalau Anda Benar-Benar Bersalah
[ . . . ] Bagaimana kalau kesalahan Anda ternyata kesalahan yang sesungguhnya? Apakah yang
akan Anda lakukan kemudian? Saya dapat memperkirakan tiga tindakan yang memungkinkan untuk
dilaksanakan.
Yang pertama adalah menghukum diri Anda sendiri. “Saya tentulah orang yang buruk laku. Oh, be-
tapa bersalahnya saya! Wah, saya sangat menyakiti Tuhan!” [ . . . ]
Tindakan lainnya adalah menyangkali bahwa kesalahan akan menampakkan diri. “Kesalahan adalah
getaran perasaan saja. Ia melumpuhkan dan menekan perasaan banyak orang yang hebat serta mem-
buat mereka tidak menikmati kehidupan mereka. Tuhan menghendaki agar saya merasa bahagia. Ka-
rena itu saya tidak membiarkan diri saya merasa bersalah.” [ . . . ]
Tindakan ketiga ialah berusaha menemukan alasannya mengapa Anda merasa bersalah dan beru-
saha menghentikannya. Secara analogi, hal ini sama seperti Anda merasa sakit sekali pada kaki Anda,
kemudian Anda melepas sepatu Anda serta mencari sumber rasa sakit itu. Itulah cara terbaik untuk
menghadapi rasa sakit. Pada kenyataannya, tujuan rasa sakit itu adalah untuk menarik perhatian Anda.
Sama saja, rasa bersalah dimaksudkan supaya Anda menemukan sumber perasaan Anda. [ . . . ]
Dengan ini, saya tidak bermaksud untuk mulai mendorong seseorang menilik dirinya. Itu tidak sehat.
Kita dapat menemukan banyak sekali dosa kalau kita mau berusaha cukup keras untuk menemukan-
nya, dan beberapa di antara kita bahkan menemukan dosa-dosa yang sama sekali bukan hasil perbuat-
an mereka. Jangan lakukan hal itu! Cukup Anda bertanya: Adakah Tuhan menghendaki saya melaku-
kan sesuatu yang telah saya abaikan selama ini? Adakah hal itu benar-benar dikehendaki Tuhan untuk
saya lakukan, sesuatu yang akan disetujui oleh orang Kristen lain? Kalau benar demikian, lakukanlah.
Jangan terlalu lama berdoa, mendoakan sambil menangis untuk mendapatkan pengampunan. Cukup
ubahlah perilaku Anda.
Mengobati Luka
Namun Anda juga perlu penyembuhan. Ketika Anda jatuh, Anda dapat segera membuat keputusan
untuk tidak berlari dan lebih berhati-hati lagi, tetapi Anda masih harus memperhatikan lutut Anda yang
terluka yang memerlukan obat. [Rasa bersalah] juga memerlukan obat: obat yang berupa pengampun-
an dan pemeliharaan Tuhan. Sekali lagi, 1 Yohanes menolong: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia
adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala
kejahatan” (1:9). Janganlah hal ini kita jadikan pokok persoalan besar dengan memeriksa diri secara
berlebihan. Firman ini sederhana bunyinya. Satu-satunya harapannya ialah bahwa pengakuan Anda
hendaknya tulus: “Tuhan, saya menyadari bahwa saya salah dan Engkau benar. Saya bingung, saya
menyesal. Apakah Engkau berkenan mengampuni saya dan menempatkan saya di jalan yang benar
lagi?” Sudah cukup, dan Yohanes berkata dengan jelas bahwa setelah Anda melakukan tindakan
berdoa itu, Tuhan akan membersihkan Anda dari semua dosa Anda. Tuhan tidak [sekedar] member-
sihkan sampai mencapai kebersihan 80 % [saja] atau melalui proses pengampunan yang memerlukan
bertahun-tahun lamanya. Saat itu juga, Ia membersihkan Anda dari dosa tersebut [kutipan dari Verne
Becker et al., Muda-Mudi, Inilah Jawabannya, terj. (Jakarta: BPK-GM, 2000), hlm. 34ff.].
- - - NR - - -
Langganan:
Postingan (Atom)