19 Maret 2008

Amsal 16 : 1 - 4

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar Amsal, Kitab.

Judul Ibraninya misyle, ‘amsal dari’, adalah singkatan dari misyle syelomoh ‘amsal-amsal Salomo’, 1:1. Sebagai himpunan dari kumpulan-kumpulan amsal, Ams adalah kitab panduan bagi hidup yg berhasil. Tanpa secara langsung menekankan tema-tema pro- fetis yg besar (ump perjanjian) Ams menunjukkan bagaimana iman khusus Israel mempenga- ruhi hidupnya yg umum [kutipan dari Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1, terj. (Jakarta: YKBK/OMF, 1992), hlm. 46]. Hebrew wisdom is the art of success, and Proverbs is a guidebook for successful living. By citing and illustrating both negative and positive rules of life, Proverbs clarifies right and wrong conduct in a host of situations. . . . their aim was to apply the principles of Israel’s covenant faith to everyday attitudes and experiences. The laws of love (Lev. 19:18; Deut. 6:5; cf. Mark 12:29-31) are central Old Testament emphases, and Proverbs serves as an extended commentary on them. Every true Israelites was bound to view God’s law as an unconditional obligation demanding full allegiance and total obedience. [ . . . ] The prime mission of Proverbs is to spell out strikingly, memorably, and concisely just what it means to be fully at God’s disposal [kutipan dari William Sanford LaSor, et. al., Old Testament Survey (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1990), pp. 547f.]. . . . Prov. has an anthropological focus. It looks at man qua man, rather than in the light of God. The human will, rather than the redeeming action of God, is the decisive factor in a man’s destiny. . . . The way of knowledge rather than the life of faith is dominant in the Wisdom Movement [kutipan dari Peake’s Commentary on the Bible (London: Thomas Nelson, 1972), p. 444]. Bacaan kita hari ini termasuk dalam kumpulan ‘Amsal-amsal Salomo’ (10:1-22:6). Kurang lebih 375 amsal muncul dalam kumpulan ini. Bagian terbesar dari amsal- amsal ini tidak mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Informasi: Sekalipun nada keagamaan diperdengarkan (bnd 15:3, 8-9, 11; 16:1-9 dab), na- mun bagian terbesar amsal-amsal [dalam kumpulan ini] tidak menunjuk secara khusus kepada iman Israel, melainkan didasarkan atas pengamatan-pengamatan praktis dari hidup sehari-hari [kutipan dari Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, loc. cit.].

2. Eksposisi

Ayat 1 – 4 (9, 33): Mengapa harus mengambil keputusan, kalau pada akhirnya Allah sendiri jugalah yang menentukan “kata terakhir”? Informasi: God’s overriding veto sounds strange in a book about how to make wise choices. But it is consistent with the rest of the Bible. We are urged to act wisely, for our life’s outcome depends on these decisions. Yet, despite what we decide to do, God has the final word. For the wise, this is a comforting thought: God is in control. For the foolish, however, it’s a source of frustration, because God will overrules misdirected plans [kutipan dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 921]. The Bible nowhere suggests that men are free from God’s decretive will or providential governance. In fact, everywhere it affirms just the contrary. It teaches that God’s purpose and his providential execution of his eternal purpose determine all things. ……………………………………………………………………………………………….
The wise man of Proverbs 16 acclaimed God’s sovereign rule over men when he declared: “To man belong plans of the heart, but from the Lord comes the reply of tongue” (Prov. 16:1); again, “The Lord has made everything for himself, even the wicked for the day of evil” (v. 4); yet again, “In his heart a man plans his course, but the Lord determines his steps” (v.9); and finally “The lot is cast into the lap; but its every decision is from the Lord (v. 33)

3. Excursus: “PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN KEMAHAKUASAAN ALLAH”

[kutipan dari Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 1998), pp. 356 and 362]. Kadang-kadang saya ditanyai, “Jika Allah itu mahakuasa, mengapa saya susah-susah mengambil keputusan?” Jelaslah bahwa orang yang mengajukan pertanyaan ini mendefinisikan kemahakuasaan sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesulitan bagi mereka untuk mengambil keputusan. Pastilah mereka berpikir bahwa kemahakuasaan Allah-lah yang menyebabkan segala sesuatu terjadi sebagaimana kita lihat sehingga tidak ada seorang pun yang dapat berbuat apa-apa. Jika demikian, mengapa harus berpura-pura menjadi pemeran yang penting yang keputusan- keputusannya sangat berpengaruh? Keputusan kita tidak akan berarti: apa yang harus terjadi, akan terjadi. [ . . . ] Jadi, yang paling penting ialah menjaga agar kita tidak salah mendefinisikan kemahakua- saan Allah. Kedaulatan-Nya tak boleh dikacaukan dengan determinisme apa pun juga. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya untuk menjalankan pemerintahan secara bertang- gung jawab di bumi. Ia membuat kita mampu mengasihi Dia dan mengadakan hubungan de- ngan Dia. Tak satu pun dari hal-hal ini menjadi masuk akal kecuali kita adalah pelaku-pelaku yang tidak ditentukan. Sudah tentu Allah mengambil risiko ketika menciptakan makhluk bebas seperti kita. Akan lebih mudah bila Ia memprogramkan kita untuk melakukan hal-hal yang benar sepanjang waktu. Tetapi pastilah Allah menganggap bahwa risiko itu sudah sepantasnya. Pasti, Ia telah mempertimbangkan kemungkinan membuat manusia yang berfungsi seperti mesin. Tetapi ia memutuskan untuk tidak berbuat demikian. Sebagai gantinya Ia membuat makhluk yang ber- kehendak bebas. Mungkin hal itu disebabkan karena Ia ingin mengadakan perjanjian pribadi dengan manusia. Jikalau demikian, kebebasan adalah sangat perlu. Saudara tidak dapat mengadakan hubungan kasih yang dipaksakan. [ . . . ] Sekarang kita dapat menjawab pertanyaan yang mula-mula itu. Jika Allah berdaulat dan mahakuasa, mengapa kita harus bersusah-payah mengambil keputusan? Sebenarnya ke- daulatan Allah bersifat fleksibel yang mengajak kita untuk bekerja sama di dalam mencapai masa depan. [ . . . ] Keputusan kita memang penting karena Allah menghormatinya ketika Ia membentuk masa depan. Kemahakuasaan Allah dibesarkan, bukan berkurang, ketika kita menyadari bahwa Ia telah memberikan kita kebebasan sesungguhnya. Martabat kita tidak mungkin lebih besar daripada ketika kita melihat betapa Allah sendiri mementingkan keputusan kita. “Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian . . . Pilihlah kehidupan” (Ulangan 30:19) [kutipan dari Clark H. Pinnock, “Pengambilan Keputusan dan Kemahakuasaan Allah” dalam Pola Hidup Kristen, Penerapan Praktis, terj. (Malang: Gandum Mas, 2002), hlm. 848ff., huruf-huruf miring oleh NR].

4. Refleksi

Kita boleh memikirkan masa depan dan merencanakan kehidupan secermat mungkin, tetapi Allah yang akan menentukan. Dialah yang akan mengubah impian kita menjadi kenyataan --- atau membe- lokkan kehidupan kita ke arah yang sama sekali berbeda dari rencana semula. Chuck Colson adalah seorang pengacara muda cemerlang yang berencana meniti tangga pengaruh dan kekuasaan. Sebagai pengacara khusus Presiden Nixon, karirnya terus menanjak sampai Tuhan campur tangan dalam hidupnya. Karena keterlibatannya dalam merahasiakan skandal Watergate, ia dimasukkan ke dalam penjara. Selama masa krisis inilah ia berpaling kepada Kristus. Kini ia bersaksi bahwa pelayanannya sebagai direktur Prison Fellowship (Persekutuan Narapidana) jauh lebih berharga dari pada kehidupannya dahulu di dunia politik yang tidak mengenal Allah. Kita semua pernah mengalami perubahan arah hidup. Kita berencana melakukan sesuatu tetapi kemudian ternyata kita melakukan sesuatu yang lain. Sebagai mahasiswa sekolah Alkitab, saya beren- cana menjadi seorang pendeta. Akan tetapi, Allah mengarahkan langkah kaki saya dan memimpin saya untuk masuk ke ladang pelayanan dengan menjadi pendidik, penulis, dan penyunting. Jika kita percaya kepada Tuhan, maka kita tidak perlu panik atau kecewa ketika rencana-rencana kita gagal atau arah hidup kita diubah secara tiba-tiba. Memang bijaksana untuk menyusun rencana, tetapi pada akhirnya Tuhanlah yang mengarahkan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Dan jalan- Nya selalu jauh lebih baik dari jalan yang kita pilih. DCE [kutipan dari Renungan Harian, 21 Agustus 1998, terj. (Yogyakarta: Yayasan Gloria/RBC Ministries)].
- NR -

1 komentar:

Titi mengatakan...

Halo Deddy, apa kabar, semoga masih mengingat diriku. Trimakasih, tulisannya membantuku dlm persiapan. Klo lagi browsing, mampir ya ke tempatku.
Ini alamatku http://titimangape.blogspot.com