26 Februari 2008

Yohanes 1 9 : 2 8 – 2 9

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1.Pengantar

Tidak lama kemudian tubuhNya menjadi kering akibat penyaliban itu. BibirNya melepuh. Dalam penderitaanNya yang dalam, regu serdadu mendengar bisikanNya, “Aku haus” (Yoh 19:28c). Salah seorang serdadu berbelas-kasihan terhadap Yesus. Ia mengambil bunga karang, mencelupnya dalam anggur asam, suatu minuman yang digunakan serdadu-serdadu itu untuk membius kesakitan. Dengan sebatang hisop, bunga karang itu disentuhkannya ke mulut Yesus. Yesus bersyukur kepada serdadu yang hatinya belum membatu itu dan masih mampu bersim- pati dengan penderitaan hebat seseorang [kutipan dari Robert R. Boehlke, Siapakah Yesus Sebeneranya? (Jakarta: BPK-GM, 1991), hlm. 95]. Informasi: Ketika Yohanes menulis injilnya, kira-kira pada tahun 100, ajaran sesat gnostik sedang berpengaruh. Salah satu ciri ajaran ini ialah anggapannya bahwa yang rohani semuanya baik, sedangkan yang bersifat jasmani/benda semuanya jelek. Dengan anggapan ini, maka bagi mereka disimpulkan bahwa Yesus, sebagai Allah yang adalah roh adanya, sebenarnya tidak merasakan penderitaan di kayu salib. Menentang ajaran ini, Yohanes adalah satu-satunya penulis injil yang menyuguh- kan fakta bahwa Yesus merasa haus; “he wishes to show that [Jesus] was really human and really underwent the agony of the Cross [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari William Barclay, The Daily Study Bible, the Gospel of John, Vol. 2 (Edinburgh: the Saint Andrew, 1981), pp. 257f.]. . . . John sees deeper than the natural. Jesus here fulfils the Scripture, and, John implies, to some degree deliberately. Already so many details of the Old Testament depictions of the divine sufferer have been fulfilled; Jesus seeks one more, that in Psalm 69:3, 21, ‘my throat is parched . . . and gave me vinegar for my thirst’ (cf. also Ps. 22:12-18). So the one who offered living water, which would mean never thirsting again, the one who cried on the last day of feast, ‘If anyone is thirsty, let him come to me and drink’, he now cries, I am thirsty [kutipan dari Bruce Milne, The Message of John (Leicester, England: IVP, 1993), p. 281].

2. Renungan [kutipan dari Renungan Malam, Tujuh Ucapan Yesus di Kayu Salib (Yogyakarta: Andi, April 2002), hlm 23 dan 25].

2.1. KEHAUSAN ILAHI Di dalam sebuah film dokumenter tentang kehidupan di gurun, banyak binatang maupun manusia yang mati kekeringan jika tidak segera mendapat air. Suku setempat biasanya menanam orang yang mengalami dehidrasi ke dalan tanah agar cairan tubuhnya tidak habis. Apa yang Yesus alami jauh lebih mengerikan daripada di gurun. Dia tidak meng- alami dehidrasi tubuh, namun kekeringan jiwa yang luar biasa. Pemazmur sangat paham akan hal ini ketika dia berkata, “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bi- lakah aku boleh datang melihat Allah?” (42:3). Kehausan Tuhan kita di atas kayu salib jauh lebih berat ketimbang yang dihasilkan dari dahi yang pening, lidah yang bengkak, dan tubuh yang kekeringan. Yang dialami Tuhan kita bukan hanya penderitaan fisik. Selama jam-jam yang panjang di atas kayu salib, Dia melalui siksaan neraka. Dia, Allah yang kasih-Nya tak terbatas, dibebani dengan kebencian umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Dia, Allah dengan kekudusan sempurna, dibuat berdosa karena kita. Dia, Allah yang Mahakuasa, digantung “tak berdaya” di kayu salib untuk di- olok-olok oleh manusia yang rapuh. Kemudian, panasnya murka Allah diarahkan kepada- Nya. Semua penderitaan yang digabungkan jadi satu ini membuat-Nya mengalami dehi- drasi “jiwa” Yesus Kristus saat Dia merendahkan Diri-Nya sendiri dan patuh sampai mati. Tidaklah mengherankan jika Dia berteriak, “Aku haus.” Karena penderitaan yang dialami oleh Yesus, piala kita penuh saat ini, dan kelak kita akan bersama Dia di tanah di mana tidak ada lagi orang kehausan.

2.2. APA YANG ENGKAU LAKUKAN KEPADA SESAMA “Ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum” --- Matius 25:42 Kisah pemisahan antara domba dan kambing sangat akrab di telinga kita. Kepada domba Raja itu berkata, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Kepada kambing Dia berkata, “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyah- lah ke dalam api yang kekal yang telah tersedia untuik Iblis dan malaikat-malaikatnya. Se- bab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus; kamu tidak mem- beri Aku minum.” Tanggapan dari domba dan kambing sama, “Bilamanakah kami melihat Engkau haus dan kami memberi (tidak memberi) Engkau minum?” Dan jawaban Raja itu adalah, “Se- sungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan (tidak kamu lakukan) untuk salah se- orang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya (tidak melaku- kannya) untuk Aku.” Kapan saja orang kesepian, tertekan, sakit, putus asa, dan terbelunggu dosa, ada Yesus yang berkata, “Aku haus.” Marilah kita memberi diri kita sendiri dan sumber daya yang kita miliki kepada orang lain. Marilah kita tanpa jemu-jemu besaksi kepada sesame tentang Air Hidup. Dengan jalan demikian, kita memuaskan dahaga orang banyak. Kare- na Dia berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untk Aku” (lih. Mat 25:31- 46).

3. Excursus Ucapan-ucapan Yesus . . . pada kenyataannya ada petunjuk yang kuat dalam Perjanjian Baru bahwa ucapan- ucapan Yesus sangat dihormati sebagaimana adanya. Itulah yang selayaknya dapat diha- rapkan dalam situasi Palestina abad pertama, mengingat para ahli Yahudi menuntut dengan tegas bahwa pengajaran yang berwenang harus dipelihara dengan saksama, dan kelihatan- nya umat Kristen khususnya para rasul memainkan peranan penting di dalam memelihara tradisi pengajaran Kristus dengan teliti. Lagi pula para ahli yang telah mempelajari secara rinci ciri-ciri linguistik dan gaya bahasa ucapan-ucapan Yesus dalam kitab-kitab Injil terkesan dengan gaya mengajar khas yang masih tetap dapat dilihat di dalamnya, walaupun selama bertahun-tahun diteruskan secara lisan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Tentu ini tidak berarti bahwa ucapan-ucapan Yesus selalu dimuat secara kata demi kata ke dalam kitab-kitab Injil. Mungkin sekali Yesus pada umumnya berbicara dalam bahasa Aram, sehingga ucapan-ucapan itu sekurang-kurangnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Jelas juga telah terjadi proses pemilihan akan ucapan-ucapan mana yang dipelihara dan dimasukkan ke dalam kitab-kitab Injil, dan dalam proses itu ucapan-ucapan tertentu kadang-kadang diatur kembali ke dalam kelompok-kelompok yang cocok bagi tujuan menga- jar. Perbandingan antara kitab-kitab Injil juga menunjukkan bahwa pengalimatan suatu ucap- an dapat berbeda-beda, guna menonjolkan hal-hal yang paling cocok dengan konteks para penulis. Kadang-kadang, terutama dalam Injil Yohanes, ucapan Yesus disadur dengan agak bebas. Tetapi semuanya itu sangat berbeda dengan menciptakan “ucapan-ucapan Yesus” sesuai dengan kebutuhan pada dasa warsa berikutnya, dan bahan bukti menunjukkan bahwa hampir tidak mungkin ada kebiasaan seperti itu. Walaupun ada sedikit perbedaan di dalam pengalimatan dan urutan ucapan-ucapan yang terpelihara, kita mempunyai alasan yang kuat untuk mengandalkan isi pengajaran Yesus seperti yang tercatat dalam kitab-kitab Injil [kutipan dari R.T. France, Yesus Sang Radikal, terj. (Jakarta: BOPK-GM, 1996), hlm. 184f.].

- - - NR - - -

Tidak ada komentar: