13 Januari 2008

Ulangan 7 : 12 – 16

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar
Kronologi kr. (kira-kira) tahun 1446 sM: Keluaran (Exodus) dari Mesir. kr. 1446-1406 sM : Pengembaraan di padang gurun. kr. 1445 sM : Pemberian Dasa Titah kr. 1406 sM : Musa meninggal dan digantikan oleh Yosua. Umat Israel memasuki Tanah Kanaan. Kitab Ulangan ditulis. [Sumber: Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 246]. Informasi Kitab Ulangan seperti yang ada pada kita sekarang, adalah puncak kulminasi dari satu sejarah yang panjang, pokok utamanya masih dapat kita temukan kem- bali dengan beberapa perkiraan. Di kerajaan Utara, sebelum kejatuhan Samaria tahun 721 [sM], orang-orang mulai menyadari bahwa peraturan-peraturan yang diberikan oleh Musa tak se- suai lagi dengan kenyataan: dibuat untuk kaum pengembara, sedangkan Israel sudah menjadi bangsa yang terorganisasi (negara). Problem-problem baru muncul, dengan tingkat kesungguhan yang lebih kecil atau besar. Sebagai contoh, wajib militer bagi pria muda yang telah menikah, ba- haya dari sekte-sekte kafir yang dipraktekkan di Kanaan; ketidakadilan dari go- longan kaya yang menggilas mereka yang tak mampu . . . Jadi adalah perlu menata kembali peraturan-peraturan, menjadikannya sebagai “edisi kedua”. Demikianlah caranya bagaimana sedikit demi sedikit peraturan-peraturan dan adat-istiadat membentuk Kitab Ulangan; Taurat yang kedua menjadi kenyataan [kutipan dari Etienne Charpentier, Bagaimana Membaca Perjanjian Lama, terj. (Jakarta: BPK-GM, 1989), hlm. 75]. Kitab Ulangan . . . tidak melanjutkan kisah yang tercantum dalam keempat Kitab lain dari Pentateukh (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan). Sebaliknya Kitab Ulangan mengulang banyak bahan, baik yang berupa cerita maupun yang berupa hukum, yang termaktub dalam kitab-kitab lain. Namun demikian Kitab Ulangan tidak menyalin kitab-kitab lain itu. Ada juga perbedaan yang mencolok. Oleh karena itu kitab kelima dari Pentateukh ini mengulang bahan, khususnya hukum, maka dinamakan Kitab Ulangan. Perbedaan yang mencolok antara Ulangan dengan Keluaran, Imamat dan Bi- langan ialah: Ulangan tidak berupa kisah, melainkan wejangan. Menurut gambar- an Kitab Ulangan pada akhir perjalanan umat Israel di gurun, yaitu ketika berada di negeri Moab di perbatasan negeri yang dijanjikan, Musa menyampakan kepa- da segenar umat yang sedang berkumpul wejangan-wejangan terakhir. Wejangan-wejangan itu (ada tiga, yaitu 1:6-4:40; 5:1-11:32 [bacaan kita bera- da dalam penggalan ini] + 26:16-28:68; 29:2-30:20) mengajak dan menasehati umat supaya tetap setia pada perjanjian yang diadakan di gunung Sinai dan yang sekarang dibaharui [kutipan dari C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 1992), 127f.]. Fasal 7 - Ayat 1-11: sikap kepada penduduk tanah Kanaan. Ayat 12-26: janji berkat [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 63].

2. Eksposisi
[Sumber utama: Raymond Brown, The Message of Deuteronomy (Leicester, England, IVP, 1993)].
Sebaiknya kita mulai dengan mengingat kembali urutan peristiwa sebelum ini. Adalah oleh prakarsa Allah sendiri, dan semata-mata atas kemurahan hatiNya, sehingga umat Israel dipilih, dikasihi untuk diselamatkan (ay. 6-8). Umat diharapkan untuk juga mengasihi Tuhan dan setia memelihara perjanjian anugerah yang telah disepakati (ay. 9). Kalau ini semua di- wujujudnyatakan, Allah berjanji mememenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka seterusnya. Dari umat dibutuhkan ketahanan iman untuk mampu memenuhi apa yang diharapkan dari mereka.tadi. Sesudah terbiasa mengembara di padang gurun selama 38 tahun, adalah wajar kalau mereka merasa khawatir ketika akan memasuki Tanah Kanaan dengan segala hal-hal yang baru dan asing bagi mereka (ay. 17, 21). Menyadari kekuatiran mereka ini, maka Allah berjanji dan menjamin berbagai hal yang menyangkut kesejahteraan keluarga, kesehatan dan kebutuhan ekonomis mereka (ay. 13-15). Beberapa orang di antara mereka, sebagai anak- anak, pastilah masih mengingat bagaimana mereka tak putus-putusnya ditimpa berbagai pe- nyakit di Mesir dulu (ay. 15). Dalam ayat 12-15, Allah memberi jaminan bahwa selama mereka setia kepadaNya, dan mematuhi perjanjian anugerah yang telah disepakati itu, maka Allah pun . . . memegang perjanjian dan kasih setiaNya, . . . mengasihi, . . . memberkati . . . dan membuat mereka banyak. Satu perkara mereka harus cegah: tidak ada ilah lain, kecuali Yahweh! Mencegah ini terjadi, maka dalam ayat 16 mereka diberi petunjuk dan pengarahan oleh Musa. [Untuk di-diskusi-kan] Mengapa mereka diminta untuk jangan merasa sayang kepada segala bangsa yang diserahkan kepada mereka? Informasi: Mereka berada dalam suasana perang. Seorang prajurit diamanatkan untuk membunuh musuh sebelum dia sendiri dibunuh oleh musuh. Tetapi untuk umat Israel ada alasan lain. Mereka telah dipilih sebagai umat Allah. Jadinya mereka menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menumpas musuh-musuhNya, a.l. orang-orang Kanani yang menyembah berhala. Diperlukan ketegasan melakukan tindakan ini. Kalau tidak, kekudusan mereka sebagai umat Allah bisa ternoda, ter- masuk kesetiaan mereka kepada Yahweh bisa memudar. “To make a treaty with the Canaanites would indicate that they recognized Canaanite gods” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Quest Study Bible, p. 257]. Anjuran ini harus dilihat dalam konteksnya, yaitu sebagi bagian dari retrospeksi mazhab Ulangan: “sekiranya [=andai kata] segala unsur kekafiran sudah ditumpas dari tanah Kanaan waktu nenek-moyang kita masuk ke mari, pastilah pengabdian kita kepada YHWH tetap berada dalam keadaan murni. Apa yang disebut ‘belas- kasihan manusiawi’ terhadap unsur-unsur kekafiran dalam lingkunagn kita, sebe- narnya merupakan kedok untuk menutupi kompromi”. Semangat agamani yang demikian dapat kita hormati; namun harus diakui bahwa dalam terang Perjanjian Baru, cara penegakan kemurnian agama seperti yang diusulkan di sini adalah salah. Bandingkan perkataan Tuhan Yesus, yang membetulkan sikap “benci musuh” (Mat 5:43 br). Bandingkan juga ajaran Rasul Paulus (Rm 12:14-20). Dapat disimpulkan bahwa nas Perjanjian Lama di sini tidak berbicara kepada kita secara langsung: sikap terhadap musuh yang dianjurkannya tidak boleh kita tiru; namun semangatnya untuk kehormatan nama Tuhan patut dicita-citakan [kutip- an dari I.J. Cairns, Tafsiran Alkitab, Kitab Ulangan Pasal 1-11 (Jakarta: BPK-GM, 2003), hlm. 148].

- - - NR - - -

1 komentar:

Muljadi mengatakan...

Bila tanggal permulaan bait Salomo antara tahun 966 dan 961 SM. dan sesorang menghitung balik 480 tahun dari 966 SM, maka tahun Keluaran menjadi tahun 1446 SM, suatu tahun Jumat (seharusnya tahun Minggu) atau suatu tahun yang tidak sinkron dengan 70 minggu dari Daniel maupun tahun Yobel dari Yehezkiel di tahun 702 SM. Kemudian, bila kita menghitung 480 tahun dari tahun masuknya Israel ke kanaan di tahun 1397 SM, maka tahun yang dihasilkan untuk tahun keempat Salomo menjadi beberapa tahun dari batas waktu yang sejarah izinkan.

Mohon komentarnya. Terima kasih sebelumnya.