PENCURAHAN ROH DI KAISAREA
(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Pertanyaan pertama yang perlu dimunculkan ialah mengapa Petrus yang diutus Tuhan ke Kaisarea? Bukankah di sana sudah ada Filipus (8:5) yang sudah lebih duluan mengabarkan Injil di sana? Mengapa justru Petrus yang harus jauh-jauh datang dari Yerusalem? Pemba- caan dari perikop kita hari ini menyiratkan bahwa Allah ingin merontokkan “tembok pemisah rasial” dalam hati Petrus.
2. Cukup menarik untuk memperbandingkan pandangan/sikap Petrus kepada Kornelius dengan pandangan/sikap Tuhan sendiri kepada Kornelius. PETRUS terhadap KORNELIUS ALLAH terhadap KORNELIUS * Kornelius tinggal di Kaisarea [wilayah * Kornelius adalah seorang yang “orang kafir”], markas tentara yang saleh (10:2). penjajah Romawi (10:1) * Perwira pasukan pendudukan Romawi * Takut akan Allah termasuk seisi (10:1). rumah/keluarga-nya (10:2). * Dari pasukan Italia --- semuanya orang * Penyumbang besar bagi orang- Italia --- “orang-orang asing” (10:1). orang miskin (10:2). * Jadinya bukan orang Yahudi (10:1). * Seorang yang tekun berdoa. Doa dan sedekahnya berkenan di hadirat Tuhan (10:2, 4). * Karena itu dianggap najis, sama * Patuh dan hormat kepada ma- seperti binatang-binatang bagi orang- laikat Tuhan (10:7-8). orang Yahudi (10:11-16). * “Haram” untuk dikunjungi (10:28). * Dinyatakan tidak haram oleh Tuhan (10:15). * Tak bersunat; haram untuk makan * Amat mendesak untuk Petrus bersama (11:3). datangi (10:5. 19-20).
2.1. Untuk Petrus, dan sebagai seorang Yahudi sejati, apa yang diutarakan di atas seyogya- nya membuat Kornelius “tahu diri” untuk tidak mengundang Petrus datang ke rumahnya. Lebih tak pantas lagi bagi Kornelius untuk se-kepercayaan dengan orang- orang Yahudi. Harap disadari bahwa pandangan Petrus di atas merupakan pandangan rata-rata semua orang Yahudi pada jaman itu. Ketika menjadi Kristen adalah masih sangat sukar bagi mereka untuk melepaskan pandangan di atas, termasuk Petrus sendiri Jadinya betapa sukarnya pula bagi mereka untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi (Inggris: “Gentiles”), seperti a.l. Kornelius.
2.2. Betapa pandangan/sikap Tuhan bertolak belakang dengan pandangan/sikap Petrus tadi. Demi dan karena PutraNya, Allah mulai membuka pintu bagi orang-orang bukan Yahudi. Tuhan menghardik Petrus, kataNya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram” (10:15; bnd. Mrk.7: 19). Karena Kristus, perwira itu, yang walaupun bukan orang Yahudi, dapat ditahirkan dari dosa dan dengan itu ia menjadi layak di hadapan Allah. Dengan itu pula “tembok pemisah rasial” di hati Petrus dirontokkan, ketika Roh Kudus dicurahkan juga kepada Kornelius dan orang- orang bukan Yahudi lainnya yang berkumpul di rumahnya saat itu (10:44-45). Topik untuk Diskusi (1): Pandangan/sikap Petrus di atas merupakan contoh dari pandangan/sikap eksklusif. Di mana letak perbedaan pandangan/sikap Petrus itu dengan pandangan/sikap saudara- saudara sebangsa kita yang melarang golongan Islam Ahmadiyah dan/atau menutup gedung-gedung gereja, bahkan disertai dengan tindakan kekerasan atau dengan ancaman?
3. Kisah Para Rasul melaporkan empat peristiwa pencurahan Roh Kudus, masing- masing dengan ke-khas-annya. Dalam Kis 2:1-4 Roh dicurahkan kepada (i) orang-orang Yahudi. Dalam Kis 8:15-17 kepada (ii) orang-orang di tanah Samaria. Dalam Kis 10:44 dst. kepada (iii) orang-orang bukan Yahudi (Inggris: “Gentiles”). Dalam Kis 19:6 kepada (iv) para pengikut Yohanes [Pembaptis].
Catatan: Bagi kita orang-orang Kristen di Indonesia, yang merupakan orang-orang bukan Yahudi, peristiwa pencurahan Roh di Kaisarea (Kis 10:44 dst.) pada dasarnya tak kalah pentingnya dengan peristiwa Pentakosta di Yerusalem (Kis 2:1-4). Mengapa demikian? Karena di Kaisarea-lah untuk pertama kalinya Roh Kudus dicurahkan atas orang-orang bukan Yahudi (10:45). Pentingnya peristiwa pencurahan Roh di Kaisarea juga didukung oleh kenyataan bahwa sebanyak dua kali peristiwa ini dituturkan dalam Kisah Para Rasul, yakni dalam (i) perikop bacaan kita, dan (ii) dalam 11:15 dst. Dan Kornelius? “[He] is the pagan saint par excellence of the New Testament,” demikian pernyataan Dr. Clark H. Pinnock [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Nash- ville, Tenn.: Thomas Nelson, 1998), p. 1090; huruf tebal oleh penulis].
4. Pertanyaan Petrus dalam ayat 47 hendaknya lebih banyak dipahami sebagai tantangan Petrus yang ditujukan khusus kepada orang-orang Yahudi Kristen yang menyertainya dari Yope (ayat 23 dan 45). Petrus mau menandaskan kepada mereka bahwa ternyata orang-orang tidak bersunat pun dihinggapi Roh Kudus, sama seperti yang dialami oleh orang-orang Yahudi yang bersunat pada peristiwa Pentakosta di Yerusalem sebelumnya. Tindakan “membaptis . . . dengan air” (ayat 47) merupakan akta simbolis yang menandai pelepasan dari kuasa kegelap- an dan dipindahkan/dialihkan ke dalam Kerajaan AnakNya (Kol 1:13). Catatan: Pemahaman di atas penting dihayati, justru karena saudara-saudara se-iman kita dari gereja-gereja aliran “Pantekosta” dan/atau golongan Karismatik merujuk, antara lain, pada peristiwa Kaisarea tsb. sebagai landasan untuk “keharusan” seseorang berusaha memperoleh baptisan Roh.
5. Ilustrasi.
Gary Dougherty, seorang Penginjil yang melayani di RBC Ministries di Grand Rapids, Michigan, sedang dalam perjalanan ke rumah dari gereja pada suatu sore, saat ia melihat seorang pria muda datang dari arah yang berlawanan dengannya. Suatu dorongan yang kuat muncul di dalam diri Gary untuk berbicara kepada pemuda ini mengenai menjadi seorang Kristen. Awalnya dia ragu-ragu, namun kemudian dia berkata kepada orang yang benar-benar asing baginya itu, “Maafkan saya, tetapi saya percaya Allah menginginkan saya untuk memberi tahu Anda tentang bagaimana menjadi seorang Kristen.” “Saya baru saja mengajukan pertanyaan itu kepada ibu pacar saya,” kata pemuda itu, “tetapi dia tidak tahu.” “Maksudnya, Anda mau menjadi seorang Kristen?” tanya Gary. “Ya, saya mau!” jawabnya. Masih dalam keraguan, Gary bertanya lagi kepadanya dan kemudian menceritakan rencana keselamatan dengannya. Malam itu, seorang pemuda menerima Yesus sebagai Juru Selamat- nya (dikutip dari Santapan Rohani, Minggu, 13 Nopember 2005) Topik untuk Diskusi (2): Petrus mula-mula berprasangka dan ragu-ragu. Gary dalam ilustrasi di atas kurang-lebih sama. Tetapi kedua-duanya dengar-dengaran kepada Roh Kudus. Bagaimana dengan kita? Maukah kita mendengar dan menaatiNya bila Roh berkata: “. . . jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh . . . (10:20).
- - - NR - - -
06 Februari 2008
04 Februari 2008
Like Parents, Like Children
http://munachi.com/z/presentation.htm
http://www.christianitytoday.com/tc/2008/001/8.7.html
Malachi 3:1-4 Hebrews 2:10-11, 13-18 Luke 2:22-40
A scholar was conducting a study of an Amish village. The Amish are a branch of the Mennonite church who live in traditional rural villages far from industrialization and technology: no computers, televisions, refrigerators and telephones. In his study of the Amish village school, the researcher noticed that Amish children never screamed or yelled. That surprised him. So he decided to check it out with the schoolteacher. He told the teacher that he had not once heard an Amish child yell, and asked him why that was so. The teacher replied, “Well, have you ever heard an Amish parent yell?” The inference is clear: Like the parents, so the children!
We are all familiar with Mother’s Day and Father’s Day which we celebrate every year. Why is there not a Parents’ Day where we celebrate father and mother together as a couple? Today should be a good day to focus on both parents together, as we see both parents of Jesus, Joseph and Mary, together make the long journey to Jerusalem to present their firstborn child in the Temple as the law of God required. In the image of Joseph and Mary presenting Jesus in the Temple, we have a wonderful model of husband and wife united in practicing the faith and in raising their child in the faith.
We read that “When the time came for their purification according to the law of Moses, they brought him up to Jerusalem to present him to the Lord” (2:22) There is a confusion of detail here because, according to Jewish law, purification was for the mother alone while presentation was for the child. The story appears to be speaking of the two ceremonies as if they were one. Luke stresses the fact that they are doing it “as it is written in the law of the Lord” (verse 23). Joseph and Mary are presented as people who keep God’s laws. Moreover, they are presented as doing it together. It is easier to walk in the ways of God when husband and wife walk it together and encourage each other along the way. The author of Ecclesiastes had something like this in mind when he wrote: “Two are better than one, because they have a good return for their work: If one falls down, his friend can help him up. But pity the man who falls and has no one to help him up!” (Ecclesiastes 4:9-10). Husband and wife are companions in the journey of life, especially in the journey to our ultimate destination. We see this as we contemplate Joseph and Mary together in the Temple in obedience to God’s law.
The aspect of today’s celebration that some people have a problem with is this: why would the baby Jesus, who is not in a position to say yes or no, be initiated into the Jewish religion without his consent? This is a problem especially for those of us who question the value of infant baptism. Some Christians today feel that baptism has no value until a child reaches the age of reason and then is able to decide for oneself. But this is not the example that Mary and Joseph are giving us today. The concern about the value of infant baptism is a concern that is born out of the exaggerated individualism of the modern society. In the biblical era, people saw the whole family as one entity. The question of husband, wife and child belonging to different religions was unthinkable because religion was supposed to play a role in cementing the family unity. Thus we hear in Acts of the Apostles that when certain men and women were converted, they were baptised together with all their household (Acts 16:15, 31; 18:18).
If parents are supposed to provide their children with the basic necessities of life, what is more basic than one’s faith in God. No parents would think of allowing their children to decide whether they want to go to school or not, whether they want to learn the common language or not, whether they want to be a citizen of their country or not. We make these decisions for them, knowing fully well that when they grow up, they may decide to continue with what we gave them or abandon it. But only a foolish parent would refuse to send a child to school or teach a child their language and tradition in the name of respecting the child’s freedom to choose. Similarly parents have a responsibility to initiate their children into their faith traditions. This is what we see today in the feast of presentation as Joseph and Mary present Baby Jesus in the Jewish Temple.
As parents, we have the duty and privilege of raising our children in such a way that they grow up to become good and responsible citizens as well as committed children of God. The example of Joseph and Mary, and the example of the Amish community, show us that the best way to achieve this is not just by talking and shouting at them but by leading the way and showing them by the example of our own lives.
http://www.christianitytoday.com/tc/2008/001/8.7.html
Malachi 3:1-4 Hebrews 2:10-11, 13-18 Luke 2:22-40
A scholar was conducting a study of an Amish village. The Amish are a branch of the Mennonite church who live in traditional rural villages far from industrialization and technology: no computers, televisions, refrigerators and telephones. In his study of the Amish village school, the researcher noticed that Amish children never screamed or yelled. That surprised him. So he decided to check it out with the schoolteacher. He told the teacher that he had not once heard an Amish child yell, and asked him why that was so. The teacher replied, “Well, have you ever heard an Amish parent yell?” The inference is clear: Like the parents, so the children!
We are all familiar with Mother’s Day and Father’s Day which we celebrate every year. Why is there not a Parents’ Day where we celebrate father and mother together as a couple? Today should be a good day to focus on both parents together, as we see both parents of Jesus, Joseph and Mary, together make the long journey to Jerusalem to present their firstborn child in the Temple as the law of God required. In the image of Joseph and Mary presenting Jesus in the Temple, we have a wonderful model of husband and wife united in practicing the faith and in raising their child in the faith.
We read that “When the time came for their purification according to the law of Moses, they brought him up to Jerusalem to present him to the Lord” (2:22) There is a confusion of detail here because, according to Jewish law, purification was for the mother alone while presentation was for the child. The story appears to be speaking of the two ceremonies as if they were one. Luke stresses the fact that they are doing it “as it is written in the law of the Lord” (verse 23). Joseph and Mary are presented as people who keep God’s laws. Moreover, they are presented as doing it together. It is easier to walk in the ways of God when husband and wife walk it together and encourage each other along the way. The author of Ecclesiastes had something like this in mind when he wrote: “Two are better than one, because they have a good return for their work: If one falls down, his friend can help him up. But pity the man who falls and has no one to help him up!” (Ecclesiastes 4:9-10). Husband and wife are companions in the journey of life, especially in the journey to our ultimate destination. We see this as we contemplate Joseph and Mary together in the Temple in obedience to God’s law.
The aspect of today’s celebration that some people have a problem with is this: why would the baby Jesus, who is not in a position to say yes or no, be initiated into the Jewish religion without his consent? This is a problem especially for those of us who question the value of infant baptism. Some Christians today feel that baptism has no value until a child reaches the age of reason and then is able to decide for oneself. But this is not the example that Mary and Joseph are giving us today. The concern about the value of infant baptism is a concern that is born out of the exaggerated individualism of the modern society. In the biblical era, people saw the whole family as one entity. The question of husband, wife and child belonging to different religions was unthinkable because religion was supposed to play a role in cementing the family unity. Thus we hear in Acts of the Apostles that when certain men and women were converted, they were baptised together with all their household (Acts 16:15, 31; 18:18).
If parents are supposed to provide their children with the basic necessities of life, what is more basic than one’s faith in God. No parents would think of allowing their children to decide whether they want to go to school or not, whether they want to learn the common language or not, whether they want to be a citizen of their country or not. We make these decisions for them, knowing fully well that when they grow up, they may decide to continue with what we gave them or abandon it. But only a foolish parent would refuse to send a child to school or teach a child their language and tradition in the name of respecting the child’s freedom to choose. Similarly parents have a responsibility to initiate their children into their faith traditions. This is what we see today in the feast of presentation as Joseph and Mary present Baby Jesus in the Jewish Temple.
As parents, we have the duty and privilege of raising our children in such a way that they grow up to become good and responsible citizens as well as committed children of God. The example of Joseph and Mary, and the example of the Amish community, show us that the best way to achieve this is not just by talking and shouting at them but by leading the way and showing them by the example of our own lives.
Humor from our readers
http://www.christianitytoday.com/tc/2008/001/8.7.html
Kids of the Kingdom
Bragging on Mom
I recently read a story to a kindergarten class at my hometown church. I stopped reading at one point to ask, "Does anybody know what the word 'brag' means?" "Oh, I know that word!" replied a precocious little girl. "My mommy does it all the time!"
—Allison Lee, Orlando, Florida
Going Out With a Bang!
When my dad, a WWII vet, died, he had a military burial with a color guard, taps, and a 21-gun salute. A few days later, I learned from our babysitter how my 4-year-old daughter, Grace, had described the scene: "I went to a funeral. We went to a church, then we went to the seminary (cemetery) and everyone cried and cried. And then they shot Grandpa and it was over."
—Mary Officer, West Des Moines, Iowa
Adapting to Adoption
Our adopted son, Isaac, invited a friend to attend church with us one Sunday. His friend Zack asked Isaac, "Have you been baptized?" Isaac thought a minute, and then sagely answered, "No, I was adopted!"
—Melissa Baldwin, Granger, Indiana
Donkey Woes
Our 3-year-old daughter, Kerry, had a small role in the Christmas drama at church. She rehearsed the story over and over at home. She became Mary and her doll was Baby Jesus. She walked past me carrying the baby from her room to the den several times, and said, "I guess you wonder why we are walking."
"Yes, Mary, I do. Why are you walking?" I asked.
"Well," she replied with obvious disgust, "our donkey died!"
—Winnie Holley, Jasper, Georgia
Kids of the Kingdom
Bragging on Mom
I recently read a story to a kindergarten class at my hometown church. I stopped reading at one point to ask, "Does anybody know what the word 'brag' means?" "Oh, I know that word!" replied a precocious little girl. "My mommy does it all the time!"
—Allison Lee, Orlando, Florida
Going Out With a Bang!
When my dad, a WWII vet, died, he had a military burial with a color guard, taps, and a 21-gun salute. A few days later, I learned from our babysitter how my 4-year-old daughter, Grace, had described the scene: "I went to a funeral. We went to a church, then we went to the seminary (cemetery) and everyone cried and cried. And then they shot Grandpa and it was over."
—Mary Officer, West Des Moines, Iowa
Adapting to Adoption
Our adopted son, Isaac, invited a friend to attend church with us one Sunday. His friend Zack asked Isaac, "Have you been baptized?" Isaac thought a minute, and then sagely answered, "No, I was adopted!"
—Melissa Baldwin, Granger, Indiana
Donkey Woes
Our 3-year-old daughter, Kerry, had a small role in the Christmas drama at church. She rehearsed the story over and over at home. She became Mary and her doll was Baby Jesus. She walked past me carrying the baby from her room to the den several times, and said, "I guess you wonder why we are walking."
"Yes, Mary, I do. Why are you walking?" I asked.
"Well," she replied with obvious disgust, "our donkey died!"
—Winnie Holley, Jasper, Georgia
31 Januari 2008
1 Yohanes 2 : 7 – 1 4
(Berberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Pengantar
Ketika Yohanes menulis suratnya yang pertama, masalah-masalah yang ditunjukkan dalam Injilnya telah muncul secara lebih jelas. Pandangan-pandangan sesat tentang oknum Kristus sedang menimbulkan akibat-akibat yang hebat dalam pelayanan pas- toral. Pandangan-pandangan ini tidak hanya mengancam persatuan gereja, tetapi juga menimbulkan kebingungan tentang hakikat pengalaman Kristen dan merusak standar moral. Sebagai akibatnya, dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak seperti ini, Yohanes menulis suatu surat yang tajam yang lebih bersifat pastoral daripada polemis. Suratnya merupakan contoh dari ajaran pastoral --- “karya agung dalam seni memba- ngun”. Di seluruh surat ini dan kedua suratnya yang lain, Yohanes secara hati-hati mene- rangkan hubungannya dengan pembacanya agar mereka menghargai motivasinya untuk mengajar mereka. Mereka adalah “anak-anak”-nya (2:1,12,13,18 dst . . .) dan “saudara-saudara”-nya “yang kekasih” (2:7; 3:2,21 dst. . . .). Yohanes hendak memba- ngun di atas rasa kasih dan kelembutan yang sudah terbentuk dalam hubungannya dengan mereka. Tambahan pula ini menolong kita memahami perhatiannya terhadap sukacitanya sendiri (1:4; . . . ), karena sukacitanya seorang bapa terikat erat dengan kesejahteraan anak-anaknya. Metode yang dipakainya untuk mengajar adalah pengulangan. Ia tidak berhasrat untuk menyampaikan ajaran ciptaannya sendiri, tetapi hanya mengingatkan mereka tentang apa yang mereka sudah ketahui (2:21; bnd. 2:7-8 . . . ). Mereka tidak perlu belajar hal-hal yang baru. Mereka hanya perlu memahami dengan lebih baik apa yang mereka ketahui. Karena itu, Yohanes secara saksama menjelaskan kembali hal-hal yang sama dalam suratnya yang pertama. Hal ini menyebabkan sebagian orang ber- pendapat bahwa surat-suratnya merupakan surat edaran. Findlay berkata, “Di bawah permukaan sifat Yohanes yang tenang, terdapat kegai- rahan yang terpendam, hasrat yang kadang-kadang berkobar dengan kedahsyatan yang mengejutkan.” Ini terbukti dalam surat-suratnya. Namun, metode mengajarnya hampir seluruhnya positif. Walaupun perhatiannya dicurahkan untuk melawan guru-guru se- sat, namun hanya kadang-kadang ia menyerang mereka secara langsung. Inti pende- katannya adalah membuat pernyataan yang positif tentang kebenaran. Sebab utama dari gangguan adalah ajaran sebagian orang bahwa Kristus tidak da- tang dalam keadaan sebagai manusia, tetapi hanya kelihatan sebagai manusia. Orang- orang yang mengajarkan hal ini menganggap diri mereka telah mencapai pengertian yang benar tentang iman dan memandang rendah kepada orang yang belum menerima pencerahan ini. Pandangan mereka bahwa Yesus tidak datang dalam keadaan manusia mengandung sejumlah akibat moral. Pada satu sisi mereka percaya bahwa semua yang bersifat benda adalah jahat. Akan tetapi, di sisi lain, mereka hidup dalam lingkungan Roh dan sesudah memperoleh kemenangan dari kedagingan melalui pencerahan, me- reka telah mencapai kesempurnaan. Pandangan seperti ini memimpin kepada ketidak- pedulian etis dan antinomianisme. Kehadiran guru-guru sesat menyebabkan sebagian orang Kristen meragukan keab- sahan pertobatan mereka dan menjadi bingung tentang pengalaman Kristen mereka. Apakah yang akan mereka lakukan dengan dosa dalam kehidupan mereka? Apakah ini merupakan indikasi bahwa mereka belum mencapai kesempurnaan ataukah mungkin mereka bodoh karena menaruh perhatian kepada dosa? Bagaimana tentang hubungan mereka dengan dunia? Dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang-orang yang secara rohani tidak cocok dengan mereka? Jawaban Yohanes mulai dengan menetapkan dan meneguhkan kebenaran dari ajar- an yang telah mereka terima (1:1-3). Satu-satunya dasar untuk keyakinan mengenai kedudukan mereka di hadapan Allah ialah keyakinan yang datang dari pengetahuan akan kebenaran, bukan keyakinan yang dibangun di atas dasar yang tidak pasti dari pengalaman subyektif mereka sendiri. Karena itu, dengan sabar Yohanes menjelaskan kembali kebenaran tentang hakikat dasar Kristus, sambil mengingatkan mereka untuk berwaspada terhadap antikristus-antikristus (2:18-27) dan tahu membedakan ajaran- ajaran yang mereka terima (4:1-3). [ . . . ] Pada awal suratnya, Yohanes menyatakan pemahamannya akan kegelapan (1:5-7). Guru-guru sesat mengajarkan tentang perlunya melepaskan diri dari dunia fisik yang gelap ini menuju terang “gnosis” (pengetahuan), namun bagi Yohanes, hakikat kege- lapan bukanlah fisik tetapi moral, tepatnya amoral. Yohanes menganggap perbuatan membenci saudara, sebagai berada dalam kegelapan (2:9,11). Memang benar bahwa dunia tidak boleh diterima begitu saja tanpa bersikap kritis (2:15-17), karena pada dasarnya dunia menentang Allah. Akan tetapi, apa yang dimaksudkan Yohanes dengan “dunia” bukanlah wujud fisiknya, tetapi sistem kemanusiaan yang diatur dengan hukum-hukum Allah [kutipan dari Derek J. Tidball, Teologi Penggemba laan, Suatu Pengantar, terj. (Malang: Gandum Mas, 1995), hlm. 102ff.].
2. Eksposisi [Sumber utama: TNIV Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2006), pp. 2104].
Ayat 7-8 : “perintah baru”, lihat Yoh 13:34-35. Masih sejak Perjanjian Lama telah dicantumkan perintah kasih itu (lihat Im 19:18). Bahwa ini dibaharui dan menjadi segar lagi, itu nampak: (i) dalam ungkapan kasih ilahi melalui penyaliban Yesus; (ii) dalam ulasan dan wejangan Yesus tentang Taurat (lihat Mat 5), dan (iii) pengalaman langsung orang-orang percaya yang bertumbuh dalam kasih-cinta satu terhadap yang lain. “dari mulanya”, yakni sejak pertama kalinya mereka mendengar Injil. “terang yang benar” [NIV: “true light”]. Ungkapan ini menunjuk pada Injil Yesus Kristus, Dia yang adalah “terang dunia” (Yoh 8:12). Ayat 9-10 : “membenci” . . . “mengasihi”. Dalam Perjanjian Baru “membenci” dan “mengasihi” lebih banyak dipahami sebagai sikap dan/atau tingkah laku nyata, dan bukan pertama-tama sebagai tabiat dan/atau sifat. Ayat 12-14: Dengan mengulangi apa (“menulis”) yang dinyatakannya dalam ayat 1, Yohanes ingin memberi jaminan kepada para pembaca suratnya bahwa walaupun suratnya berisi anjuran/perintah yang ketat dan keras, tetapi ia yakin akan keselamatan mereka.
3. Refleksi . . .
Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Yoh 13:34 Pernakah Anda bertanya mengapa tubuh Kristus yang telah bangkit masih meninggalkan luka akibat paku dan tombak setelah kebangkitan? Aku percaya hal itu karena Allah ingin supaya kita tidak pernah melupakan bagaimana kita telah saling melukai. Ia ingin kita tahu bahwa, walaupun dosa berkuasa melukai, kuasa-Nya untuk mengampuni jauh lebih besar. Dalam bacaan Alkitab [Yoh 20:19-23], Kristus yang bangkit kembali kepada mereka yang telah menyangkal dan meninggalkan Dia, serta memberi damai sejahtera. Kita memerlukan damai sejahtera. Sungguh menyedihkan jika ternyata dalam tubuh Kristus sekalipun kita saling melukai. Setiap kita bersalah karena menyakiti, sama seperti masing- masing kita pernah menderita di tangan saudara-saudara kita. Kita tidak meniru Kristus dalam perkataan dan perbuatan. Di gereja, tempat aku melayani, kami menghadapi situasi di mana seorang staf pergi setelah merasa terluka. Aku memohon pengampunan, dan ia mengulurkan- nya. Aku percaya, kita pun telah melukai Kristus seperti itu. Jika aku telah mendapatkan hikmat setelah bertahun-tahun, maka hikmat itu adalah: Perbu- atan kita juga merupakan kesaksian bagi Kristus, sama seperti usaha yang kita lakukan. Atau, dengan kata lain: hasil yang kita capai tidak membenarkan cara demi mencapainya, jika cara itu memang salah. Cara kita harus sesuai dengan jalan, kebenaran, dan kehidupan Kristus. Mike Ripski (Tennessee) [kutipan dari Saat Teduh, Minggu, 24 Februari 2008, terj. (Jakarta: BPK-GM).
- - - NR - - -
1. Pengantar
Ketika Yohanes menulis suratnya yang pertama, masalah-masalah yang ditunjukkan dalam Injilnya telah muncul secara lebih jelas. Pandangan-pandangan sesat tentang oknum Kristus sedang menimbulkan akibat-akibat yang hebat dalam pelayanan pas- toral. Pandangan-pandangan ini tidak hanya mengancam persatuan gereja, tetapi juga menimbulkan kebingungan tentang hakikat pengalaman Kristen dan merusak standar moral. Sebagai akibatnya, dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak seperti ini, Yohanes menulis suatu surat yang tajam yang lebih bersifat pastoral daripada polemis. Suratnya merupakan contoh dari ajaran pastoral --- “karya agung dalam seni memba- ngun”. Di seluruh surat ini dan kedua suratnya yang lain, Yohanes secara hati-hati mene- rangkan hubungannya dengan pembacanya agar mereka menghargai motivasinya untuk mengajar mereka. Mereka adalah “anak-anak”-nya (2:1,12,13,18 dst . . .) dan “saudara-saudara”-nya “yang kekasih” (2:7; 3:2,21 dst. . . .). Yohanes hendak memba- ngun di atas rasa kasih dan kelembutan yang sudah terbentuk dalam hubungannya dengan mereka. Tambahan pula ini menolong kita memahami perhatiannya terhadap sukacitanya sendiri (1:4; . . . ), karena sukacitanya seorang bapa terikat erat dengan kesejahteraan anak-anaknya. Metode yang dipakainya untuk mengajar adalah pengulangan. Ia tidak berhasrat untuk menyampaikan ajaran ciptaannya sendiri, tetapi hanya mengingatkan mereka tentang apa yang mereka sudah ketahui (2:21; bnd. 2:7-8 . . . ). Mereka tidak perlu belajar hal-hal yang baru. Mereka hanya perlu memahami dengan lebih baik apa yang mereka ketahui. Karena itu, Yohanes secara saksama menjelaskan kembali hal-hal yang sama dalam suratnya yang pertama. Hal ini menyebabkan sebagian orang ber- pendapat bahwa surat-suratnya merupakan surat edaran. Findlay berkata, “Di bawah permukaan sifat Yohanes yang tenang, terdapat kegai- rahan yang terpendam, hasrat yang kadang-kadang berkobar dengan kedahsyatan yang mengejutkan.” Ini terbukti dalam surat-suratnya. Namun, metode mengajarnya hampir seluruhnya positif. Walaupun perhatiannya dicurahkan untuk melawan guru-guru se- sat, namun hanya kadang-kadang ia menyerang mereka secara langsung. Inti pende- katannya adalah membuat pernyataan yang positif tentang kebenaran. Sebab utama dari gangguan adalah ajaran sebagian orang bahwa Kristus tidak da- tang dalam keadaan sebagai manusia, tetapi hanya kelihatan sebagai manusia. Orang- orang yang mengajarkan hal ini menganggap diri mereka telah mencapai pengertian yang benar tentang iman dan memandang rendah kepada orang yang belum menerima pencerahan ini. Pandangan mereka bahwa Yesus tidak datang dalam keadaan manusia mengandung sejumlah akibat moral. Pada satu sisi mereka percaya bahwa semua yang bersifat benda adalah jahat. Akan tetapi, di sisi lain, mereka hidup dalam lingkungan Roh dan sesudah memperoleh kemenangan dari kedagingan melalui pencerahan, me- reka telah mencapai kesempurnaan. Pandangan seperti ini memimpin kepada ketidak- pedulian etis dan antinomianisme. Kehadiran guru-guru sesat menyebabkan sebagian orang Kristen meragukan keab- sahan pertobatan mereka dan menjadi bingung tentang pengalaman Kristen mereka. Apakah yang akan mereka lakukan dengan dosa dalam kehidupan mereka? Apakah ini merupakan indikasi bahwa mereka belum mencapai kesempurnaan ataukah mungkin mereka bodoh karena menaruh perhatian kepada dosa? Bagaimana tentang hubungan mereka dengan dunia? Dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang-orang yang secara rohani tidak cocok dengan mereka? Jawaban Yohanes mulai dengan menetapkan dan meneguhkan kebenaran dari ajar- an yang telah mereka terima (1:1-3). Satu-satunya dasar untuk keyakinan mengenai kedudukan mereka di hadapan Allah ialah keyakinan yang datang dari pengetahuan akan kebenaran, bukan keyakinan yang dibangun di atas dasar yang tidak pasti dari pengalaman subyektif mereka sendiri. Karena itu, dengan sabar Yohanes menjelaskan kembali kebenaran tentang hakikat dasar Kristus, sambil mengingatkan mereka untuk berwaspada terhadap antikristus-antikristus (2:18-27) dan tahu membedakan ajaran- ajaran yang mereka terima (4:1-3). [ . . . ] Pada awal suratnya, Yohanes menyatakan pemahamannya akan kegelapan (1:5-7). Guru-guru sesat mengajarkan tentang perlunya melepaskan diri dari dunia fisik yang gelap ini menuju terang “gnosis” (pengetahuan), namun bagi Yohanes, hakikat kege- lapan bukanlah fisik tetapi moral, tepatnya amoral. Yohanes menganggap perbuatan membenci saudara, sebagai berada dalam kegelapan (2:9,11). Memang benar bahwa dunia tidak boleh diterima begitu saja tanpa bersikap kritis (2:15-17), karena pada dasarnya dunia menentang Allah. Akan tetapi, apa yang dimaksudkan Yohanes dengan “dunia” bukanlah wujud fisiknya, tetapi sistem kemanusiaan yang diatur dengan hukum-hukum Allah [kutipan dari Derek J. Tidball, Teologi Penggemba laan, Suatu Pengantar, terj. (Malang: Gandum Mas, 1995), hlm. 102ff.].
2. Eksposisi [Sumber utama: TNIV Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2006), pp. 2104].
Ayat 7-8 : “perintah baru”, lihat Yoh 13:34-35. Masih sejak Perjanjian Lama telah dicantumkan perintah kasih itu (lihat Im 19:18). Bahwa ini dibaharui dan menjadi segar lagi, itu nampak: (i) dalam ungkapan kasih ilahi melalui penyaliban Yesus; (ii) dalam ulasan dan wejangan Yesus tentang Taurat (lihat Mat 5), dan (iii) pengalaman langsung orang-orang percaya yang bertumbuh dalam kasih-cinta satu terhadap yang lain. “dari mulanya”, yakni sejak pertama kalinya mereka mendengar Injil. “terang yang benar” [NIV: “true light”]. Ungkapan ini menunjuk pada Injil Yesus Kristus, Dia yang adalah “terang dunia” (Yoh 8:12). Ayat 9-10 : “membenci” . . . “mengasihi”. Dalam Perjanjian Baru “membenci” dan “mengasihi” lebih banyak dipahami sebagai sikap dan/atau tingkah laku nyata, dan bukan pertama-tama sebagai tabiat dan/atau sifat. Ayat 12-14: Dengan mengulangi apa (“menulis”) yang dinyatakannya dalam ayat 1, Yohanes ingin memberi jaminan kepada para pembaca suratnya bahwa walaupun suratnya berisi anjuran/perintah yang ketat dan keras, tetapi ia yakin akan keselamatan mereka.
3. Refleksi . . .
Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Yoh 13:34 Pernakah Anda bertanya mengapa tubuh Kristus yang telah bangkit masih meninggalkan luka akibat paku dan tombak setelah kebangkitan? Aku percaya hal itu karena Allah ingin supaya kita tidak pernah melupakan bagaimana kita telah saling melukai. Ia ingin kita tahu bahwa, walaupun dosa berkuasa melukai, kuasa-Nya untuk mengampuni jauh lebih besar. Dalam bacaan Alkitab [Yoh 20:19-23], Kristus yang bangkit kembali kepada mereka yang telah menyangkal dan meninggalkan Dia, serta memberi damai sejahtera. Kita memerlukan damai sejahtera. Sungguh menyedihkan jika ternyata dalam tubuh Kristus sekalipun kita saling melukai. Setiap kita bersalah karena menyakiti, sama seperti masing- masing kita pernah menderita di tangan saudara-saudara kita. Kita tidak meniru Kristus dalam perkataan dan perbuatan. Di gereja, tempat aku melayani, kami menghadapi situasi di mana seorang staf pergi setelah merasa terluka. Aku memohon pengampunan, dan ia mengulurkan- nya. Aku percaya, kita pun telah melukai Kristus seperti itu. Jika aku telah mendapatkan hikmat setelah bertahun-tahun, maka hikmat itu adalah: Perbu- atan kita juga merupakan kesaksian bagi Kristus, sama seperti usaha yang kita lakukan. Atau, dengan kata lain: hasil yang kita capai tidak membenarkan cara demi mencapainya, jika cara itu memang salah. Cara kita harus sesuai dengan jalan, kebenaran, dan kehidupan Kristus. Mike Ripski (Tennessee) [kutipan dari Saat Teduh, Minggu, 24 Februari 2008, terj. (Jakarta: BPK-GM).
- - - NR - - -
Lukas 23 : 33 – 34
(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Lukas menyuguhkan tiga dari tujuh ucapan Yesus di kayu salib. [1] “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (23:34). [2] “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (23:43). [3] “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (23:46). Informasi: Whatever abandonment Jesus may have felt, [we] believe that at the very end he en- trusted his spirit to the God of love and grace he had believed in all of his life. God had not abandoned him. God was there, with him, even at the end [kutipan dari The Minister’s Manual 2005 (San Francisco: Jossey-Bass, 2005), p. 75].
2. Laporan pandangan mata dalam ayat 32-33 (bnd. Mrk 15:28) merupakan gema dari Yes 53:12 --- “ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak . . . dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak”. Sedangkan doa Yesus seperti yang terdapat dalam ayat 34 dapat dianggap sebagai ucapan asli dari mulut Yesus sendiri (ipsissima verba) berdasarkan paralel-nya dengan ucapan Stefanus (Kis 7:60), ketika akan dihukum mati.
3. Sebagai ucapan Yesus yang pertama dari kayu salib (ayat 34), doa ini diucapkan demi kepentingan musuh-musuhNya. Informasi: KebutuhanNya sendiri bersifat jasmani dan adalah nisbi artinya, berlangsung sementara saja, sedangkan kebutuhan pokok regu serdadu, para penonton yang hanya ingin tahu itu saja dan pemimpin-pemimpin agama itu bersifat rohani, dan karena itu keadaannya jauh lebih parah. Regu serdadu itu hanya mentaati perintah atasan mereka dan tugas menyalib- kan orang sudah menjadi pekerjaan yang rutin, tetapi tindakan apakah yang akan mereka ambil, seandainya mereka tahu siapa sebenarnya korban yang di tengah kedua salib itu? Apakah mereka akan menolak perintah atasan mereka dengan mempertaruhkan jiwa mereka sedemikian rupa sehingga mereka sendiri akan disalibkan juga? Orang banyak yang dulu berteriak “Salibkan Dia”, mungkin tidak, mereka juga belum sadar akan kejahatan yang sedang berlangsung di hadapan mereka. Barangkali yang paling sulit diampuni ialah para penguasa Yahudi dan Romawi. Mereka masing-masing yakin bahwa mereka mempertahankan hukum negara atau hukum Allah dan karena itu merasa benar dalam tindakan mereka. Meskipun begitu, Yesus memohon supaya Allah mengampuni mereka juga [kutipan dari Robert R. Boehlke, Siapakah Yesus Sebenarnya? (Jakarta: BPK-GM, 1991), hlm. 94].
4. Bagaimana kita seharusnya memahami pernyataan Yesus: “ . . . sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”? Kita harus ingat bahwa ada berbagai ketidaktahuan yang berbeda-beda. Paulus boleh menegaskan bahwa di masa-masa dia menganiaya gereja dia kenyataannya “seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang biadab”, tetapi dia memperoleh kasih karunia, dia berkata, “karena aku melakukannya tanpa pengetahuan, yaitu diluar iman” (1 Timotius 1:13). Dia tetap menganggap dosa seperti itu sebagai sesuatu yang tidak berarti apa-apa. Dia tetap memerlukan pengampunan, dan dia bersuka cita karena dia telah menerima pengampunan itu. Apa yang telah dilakukannya adalah salah, tetapi Paulus telah bertobat dan diampuni atas kesalahan itu. Namun ada juga dosa-dosa lain yang dilakukan dalam ketidak tahuan yang tidak diampuni. Penya- liban Tuhan Yesus adalah dosa yang dilakukan tanpa kesadaran. Yesus berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan Dia, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Meskipun mereka tidak mengerti bahwa mereka sedang membunuh Anak Allah yang sejati, tetap mereka melakukan suatu dosa yang serius. Kita tidak boleh berpikir kalau itu akan dihapuskan begitu saja., sebagai sesuatu yang tidak berarti apa-apa [kutipan dari Leon Morris, Salib Yesus, terj. (Malang: SAAT, 1991), hlm. 60 f.].
5. Apakah Allah berkenan mengampuni orang-orang yang tidak mau menyesal dan/atau tak mau bertobat? “Apakah mereka diampuni? Kita tidak tahu” (kutipan dari Morris, loc. cit.). Informasi: Why should God forgive those who don’t repent [bnd. Kis 7:60]? No one is forgiven against his or her will. But Stephen [followed] Christ’s example, praying that his murderers would find salvation. Stephen’s prayer may have contributed to Saul’s later conversion, although Saul had to repent and turn to God to receive forgiveness [Kis 9] (kutipan dari Quest Study Bible [Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003], p. 1573; sisipan dan pengutipan ayat-ayat dalam bahasa Indonesia oleh NR). Marcus Aurelius, the great Roman Emperor and a Stoic saint, used to say to himself every morning, “To-day you will meet all kinds of unpleasant people; they will hurt you, and injure you, and insult you; but you cannot live like that; you know better, for you are a man in whom the spirit of God dwells.” Others may have in their hearts the unforgiving spirit, others may sin in ignorance; but we know better. We are Christ’s men and women; and we must forgive as He forgave” [kutipan dari William Barclay, The Daily Study Bible, The Godpel of Luke (Edinburgh: the Saint Andrews, 1981), p. 285 f.].
6. Ilustrasi Pada suatu hari, untuk menghindarkan diri dari musuh, seorang pelarian masuk ke sebuah desa kecil. Orang-orang di desa itu sangat baik terhadap dia dan memberinya tempat untuk tinggal. Akan tetapi ketika tentara-tentara yang mengejar pelarian itu bertanya kepada mereka di mana pelarian itu bersembunyi, semua orang menjadi sangat ketakutan. Tentara-tentara itu mengancam akan membakar seluruh desa dan membunuh semua orang di sana kalau pelarian itu tidak diserahkan sebelum fajar. Orang-orang itu pergi kepada pelayan jemaah [pendeta] dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Pelayan jemaah bingung apakah ia harus menyerahkan pelarian itu atau membiarkan jemaahnya dibunuh oleh tentara. Ia masuk ke kamarnya dan membaca Kitab Suci dengan harapan akan dapat menemukan jawaban sebelum fajar. Sesudah berjam-jam ia membaca, menjelang pagi ia sampai pada ayat yang berbunyi, “Lebih baik satu orang mati demi keselamatan seluruh bangsa.” Kemudian pelayan jemaah itu menutup Kitab Sucinya, memanggil tentara-tentara dan memberitahukan tempat persembunyian pelarian itu kepada mereka. Sesudah pelarian itu dibawa pergi untuk dibunuh, di desa itu diadakan perayaan besar karena pelayan jemaah telah menyelamatkan hidup jemaahnya. Akan tetapi pelayan jemaah itu tidak ikut merayakan. Ia terbenam dalam kesedihan dan tinggal di kamarnya. Pada malam itu malaikat datang kepadanya dan bertanya, “Apa yang sudah kau lakukan?” Ia menjawab, “Saya sudah menyerahkan pelarian itu kepada musuh.” Lalu malaikat itu berkata, “Tida tahukah engkau bahwa engkau telah menyerahkan Mesias?” “Bagaimana saya tahu?” jawab pelayan jemaah itu dengan cemas. Kemudian malaikat itu berkata, “Seandainya engkau tidak membaca Kitab Suci tetapi mengunjungi pelarian itu sekali saja dan memandang matanya, engkau akan tahu” [dikutip dari Henri J.M. Nouwen, Yang Terluka yang Menyembuhkan (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 31].
- - - NR - - -
1. Lukas menyuguhkan tiga dari tujuh ucapan Yesus di kayu salib. [1] “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (23:34). [2] “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (23:43). [3] “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (23:46). Informasi: Whatever abandonment Jesus may have felt, [we] believe that at the very end he en- trusted his spirit to the God of love and grace he had believed in all of his life. God had not abandoned him. God was there, with him, even at the end [kutipan dari The Minister’s Manual 2005 (San Francisco: Jossey-Bass, 2005), p. 75].
2. Laporan pandangan mata dalam ayat 32-33 (bnd. Mrk 15:28) merupakan gema dari Yes 53:12 --- “ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak . . . dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak”. Sedangkan doa Yesus seperti yang terdapat dalam ayat 34 dapat dianggap sebagai ucapan asli dari mulut Yesus sendiri (ipsissima verba) berdasarkan paralel-nya dengan ucapan Stefanus (Kis 7:60), ketika akan dihukum mati.
3. Sebagai ucapan Yesus yang pertama dari kayu salib (ayat 34), doa ini diucapkan demi kepentingan musuh-musuhNya. Informasi: KebutuhanNya sendiri bersifat jasmani dan adalah nisbi artinya, berlangsung sementara saja, sedangkan kebutuhan pokok regu serdadu, para penonton yang hanya ingin tahu itu saja dan pemimpin-pemimpin agama itu bersifat rohani, dan karena itu keadaannya jauh lebih parah. Regu serdadu itu hanya mentaati perintah atasan mereka dan tugas menyalib- kan orang sudah menjadi pekerjaan yang rutin, tetapi tindakan apakah yang akan mereka ambil, seandainya mereka tahu siapa sebenarnya korban yang di tengah kedua salib itu? Apakah mereka akan menolak perintah atasan mereka dengan mempertaruhkan jiwa mereka sedemikian rupa sehingga mereka sendiri akan disalibkan juga? Orang banyak yang dulu berteriak “Salibkan Dia”, mungkin tidak, mereka juga belum sadar akan kejahatan yang sedang berlangsung di hadapan mereka. Barangkali yang paling sulit diampuni ialah para penguasa Yahudi dan Romawi. Mereka masing-masing yakin bahwa mereka mempertahankan hukum negara atau hukum Allah dan karena itu merasa benar dalam tindakan mereka. Meskipun begitu, Yesus memohon supaya Allah mengampuni mereka juga [kutipan dari Robert R. Boehlke, Siapakah Yesus Sebenarnya? (Jakarta: BPK-GM, 1991), hlm. 94].
4. Bagaimana kita seharusnya memahami pernyataan Yesus: “ . . . sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”? Kita harus ingat bahwa ada berbagai ketidaktahuan yang berbeda-beda. Paulus boleh menegaskan bahwa di masa-masa dia menganiaya gereja dia kenyataannya “seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang biadab”, tetapi dia memperoleh kasih karunia, dia berkata, “karena aku melakukannya tanpa pengetahuan, yaitu diluar iman” (1 Timotius 1:13). Dia tetap menganggap dosa seperti itu sebagai sesuatu yang tidak berarti apa-apa. Dia tetap memerlukan pengampunan, dan dia bersuka cita karena dia telah menerima pengampunan itu. Apa yang telah dilakukannya adalah salah, tetapi Paulus telah bertobat dan diampuni atas kesalahan itu. Namun ada juga dosa-dosa lain yang dilakukan dalam ketidak tahuan yang tidak diampuni. Penya- liban Tuhan Yesus adalah dosa yang dilakukan tanpa kesadaran. Yesus berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan Dia, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Meskipun mereka tidak mengerti bahwa mereka sedang membunuh Anak Allah yang sejati, tetap mereka melakukan suatu dosa yang serius. Kita tidak boleh berpikir kalau itu akan dihapuskan begitu saja., sebagai sesuatu yang tidak berarti apa-apa [kutipan dari Leon Morris, Salib Yesus, terj. (Malang: SAAT, 1991), hlm. 60 f.].
5. Apakah Allah berkenan mengampuni orang-orang yang tidak mau menyesal dan/atau tak mau bertobat? “Apakah mereka diampuni? Kita tidak tahu” (kutipan dari Morris, loc. cit.). Informasi: Why should God forgive those who don’t repent [bnd. Kis 7:60]? No one is forgiven against his or her will. But Stephen [followed] Christ’s example, praying that his murderers would find salvation. Stephen’s prayer may have contributed to Saul’s later conversion, although Saul had to repent and turn to God to receive forgiveness [Kis 9] (kutipan dari Quest Study Bible [Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003], p. 1573; sisipan dan pengutipan ayat-ayat dalam bahasa Indonesia oleh NR). Marcus Aurelius, the great Roman Emperor and a Stoic saint, used to say to himself every morning, “To-day you will meet all kinds of unpleasant people; they will hurt you, and injure you, and insult you; but you cannot live like that; you know better, for you are a man in whom the spirit of God dwells.” Others may have in their hearts the unforgiving spirit, others may sin in ignorance; but we know better. We are Christ’s men and women; and we must forgive as He forgave” [kutipan dari William Barclay, The Daily Study Bible, The Godpel of Luke (Edinburgh: the Saint Andrews, 1981), p. 285 f.].
6. Ilustrasi Pada suatu hari, untuk menghindarkan diri dari musuh, seorang pelarian masuk ke sebuah desa kecil. Orang-orang di desa itu sangat baik terhadap dia dan memberinya tempat untuk tinggal. Akan tetapi ketika tentara-tentara yang mengejar pelarian itu bertanya kepada mereka di mana pelarian itu bersembunyi, semua orang menjadi sangat ketakutan. Tentara-tentara itu mengancam akan membakar seluruh desa dan membunuh semua orang di sana kalau pelarian itu tidak diserahkan sebelum fajar. Orang-orang itu pergi kepada pelayan jemaah [pendeta] dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Pelayan jemaah bingung apakah ia harus menyerahkan pelarian itu atau membiarkan jemaahnya dibunuh oleh tentara. Ia masuk ke kamarnya dan membaca Kitab Suci dengan harapan akan dapat menemukan jawaban sebelum fajar. Sesudah berjam-jam ia membaca, menjelang pagi ia sampai pada ayat yang berbunyi, “Lebih baik satu orang mati demi keselamatan seluruh bangsa.” Kemudian pelayan jemaah itu menutup Kitab Sucinya, memanggil tentara-tentara dan memberitahukan tempat persembunyian pelarian itu kepada mereka. Sesudah pelarian itu dibawa pergi untuk dibunuh, di desa itu diadakan perayaan besar karena pelayan jemaah telah menyelamatkan hidup jemaahnya. Akan tetapi pelayan jemaah itu tidak ikut merayakan. Ia terbenam dalam kesedihan dan tinggal di kamarnya. Pada malam itu malaikat datang kepadanya dan bertanya, “Apa yang sudah kau lakukan?” Ia menjawab, “Saya sudah menyerahkan pelarian itu kepada musuh.” Lalu malaikat itu berkata, “Tida tahukah engkau bahwa engkau telah menyerahkan Mesias?” “Bagaimana saya tahu?” jawab pelayan jemaah itu dengan cemas. Kemudian malaikat itu berkata, “Seandainya engkau tidak membaca Kitab Suci tetapi mengunjungi pelarian itu sekali saja dan memandang matanya, engkau akan tahu” [dikutip dari Henri J.M. Nouwen, Yang Terluka yang Menyembuhkan (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 31].
- - - NR - - -
21 Januari 2008
Matius 4 : 18 – 22
(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)
1. Pengantar
GALILEA (Ibrani galil, ‘cincin, bulatan’, menjadi ‘daerah’). Nama daerah bagian Palestina Utara, tempat masa kanak-kanak Kristus dan permulaan pekerjaan-Nya. [ .. . ] Inilah wilayah, tempat Kristus bertumbuh dan dibesarkan, di Nazaret, ditengah-tengah bukit-bukit berbatu kapur daerah Galilea Bawah. Karena letaknya sedemikian rupa, daerah ini dilintasi jalan-jalan raya, justru bukan daerah mati. Pertaniannya, perikanannya, perdagang- annya dan latar belakang kebudayaannya dengan baik dikenal oleh Kristus, dimanfaatkan- Nya dalam perumpamaan-perumpamaan dan ajaran-Nya. Murid-murid Kristus yg pertama adalah dari masyarakat daerah ini, dan tempat-tempat pemukimannya yg tersebar dan padat menjadi padang misi pelayanan Kristus [kutipan dari Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1, terj. (Jakarta: YKBK/OMF, 1992), hlm. 324].
2. Eksposisi
Apakah Simon dan Andreas terdorong oleh hasrat/gerak hati yang timbul secara mendadak (ayat 20)? Tidak. Diperkirakan bahwa bukan baru kali ini Yesus bertemu dengan mereka, juga mereka dengan Yesus. Beberapa orang di antara mereka adalah murid-murid Yohanes Pembaptis (Yoh 1:35). Dengan latar belakang ini, maka diperkirakan bahwa paling tidak mereka telah pernah mendengar khotbah dan pengajaranNya. Malah mungkin sudah pernah bercakap-cakap de- ngan Yesus sendiri. Kini saatnya tiba bagi mereka untuk menjadi para murid awal dari Yesus --- “the challenge once and for all to throw their lot with him [Jesus]” [Sumber dan kutipan baha- sa Inggris dari William Barclay, The Daily Study Bible, the Gospel of Matthew, Vol. 1 (Edinburgh: the Saint An- drew, 1977), p. 78]. Informasi: Fresh from his baptism and temptation, Jesus launches his public ministry. Matthew stresses the fact that it continues that of John. John is arrested by Herod, and imprisoned in the terrible dungeons of Machaerus; Jesus imme- diately and boldly replaces him. John preached repentance, and that is pre- cisely the subject of Jesus’ preaching. [ . . . ] The Gentile mission would lie in the future. In the meantime Jesus was preaching the good news of the kingdom to his Jewish hearers, and that message demand- ed a response. The first to make that response were Andrew and Peter, two rough brothers in a fishing firm who were so captivated by Jesus that they left behind their belongings, their jobs and their families in order to become his disciples. Rough and ready they may have been, but they had the courage and decisiveness necessary to make these sacrifices and to follow Jesus, a step that proved too costly for the religious and the educated [kutipan dari Michael Green, The Message of Matthew (Leicester, England: IVP, 2000), pp. 84 and 86]. Apa makna informasi: “Simon yang disebut Petrus” (ayat 18; NIV: “Simon called Peter”)? Maknanya ialah bahwa panggilan “Petrus” itu baru kemudian diberikan kepada Simon (bnd. Mat 16:18). Bagaimana kita memahami tindakan Yesus untuk memilih para nelayan, dan justru bukan orang-orang yang terdidik atau mampu/berada untuk menjadi para muridNya? Seorang nelayan tulen memiliki sifat dan/atau watak sebagai berikut:
[1] Dia seorang yang sabar. Terutama sebagai pengail, ia harus bersabar sampai umpan di pancingnya disambar seekor ikan. Dia harus belajar untuk menanti.
[2] Dia harus ulet. Dia tidak cepat putus asa dan mau mencoba lagi kalau gagal.
[3] Dia harus punya “nyali” (keberanian). Ini terutama diperlukan, ketika angin keras dan topan melanda laut dan/atau danau. Itu berarti dia siap mengambil risiko.
[4] Dia harus jeli melihat adanya kesempatan. Nelayan berpengalaman tahu betul saat-saat ketika ikan dapat ditangkap dalam jumlah banyak. Kalau ia seorang penjala, ia tahu saat dan tempat yang tepat untuk menebar jalanya.
[5] Dia memakai umpan yang cocok dan menarik bagi jenis ikan yang ingin ditangkapnya.
[6] Ada jenis ikan-ikan tertentu yang peka dengan kehadiran seseorang di dekat “habitat” mereka. Seorang nelayan berpengalaman akan hanya muncul pada waktu tertentu di situ untuk menangkap ikan-ikan itu. Selebihnya ia tidak menampakkan diri. Sifat dan/atau watak para nelayan di atas juga diperlukan untuk menjadi “penjala manusia”. “It was the ordinary men whom Jesus chose. . . What Jesus needs is ordinary folk who will give him themselves. He can do anything with people like that” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Barclay, op. cit., pp. 78f.].
3. Excursus
[Dipilih dan Dipanggil Menjadi Murid] . . . kebanyakan isi keempat kitab Injil mengandung kesaksian utama tentang Yesus dan keduabelas orang “biasa” yang dipilih-Nya. Fakta mereka dipilih membedakan mereka dari murid-murid Yahudi yang memilih seorang rabi tertentu karena keahliannya dalam isi dan tafsiran Taurat. Demikian kita baca, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku-lah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Yang menarik pula ialah bahwa curriculum vitae mereka mustahil menjadi dasar mengapa mereka dipilih sebagai pengikut-Nya. Siapakah yang membayangkan bahwa di antara sekian banyak orang yang dipilih, justru, umpamanya, empat nelayan, seo- rang pemungut pajak, seorang revolusioner, yang Yesus pilih! Barangkali Yesus menganggap mereka lebih terbuka kepada pengajaran-Nya, karena tidak dibebani oleh prasangka gaya berpikir lama, tidak seperti halnya beberapa orang Farisi yang bertanya kepada Yesus. “Apa- kah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (Yoh 9:40a-41). Sesudah mereka dipilih, dimulailah proses yang memakan waktu yang panjang untuk men- didik mereka ke dalam rahasia Kerajaan Allah (Mat 4:11). Bagi Hunter “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7) merupakan silabus untuk kursus itu. . . . Walaupun menarik usaha memusatkan inti peng- ajaran Yesus pada “Khotbah di Bukit”, namun ruang lingkup yang tersedia terlampau terbatas mengingat pengajaran Yesus yang terdapat di dalam keempat Injil begitu kaya, meskipun se- bagian isinya mungkin lebih mencerminkan kebutuhan dan perspektif persekutuan Kristen perdana ketimbang pengajaran asli dari Yesus. Semua sumber pokok ini sama-sama membe- ritakan betapa rajinnya Yesus dalam pelayananan mengajar keduabelas murid dan sekelom- pok murid yang lebih banyak jumlahnya lagi. Dia ingin mengajar mereka tentang jati diri dan tugas-Nya, dan intisari arti pengabdian diri manusia kepada Allah. Sejak awal Dia telah menitikberatkan bahwa Dia tidak hanya memanggil orang-orang un- tuk membuka diri kepada pengertian baru tentang rencana Allah bagi mereka yang sedang hadir dalam Diri Pribadi-Nya, tetapi, di samping itu, mereka terpanggil untuk menerima risiko yang bersangkutan dengan Rencana itu [bnd. Mat 16:24]. . . . Kalau begitu, berbeda dengan harapan pelajar yang lazimnya ingin memperbaiki kedaannya sebagai hasil pembelajaran, pa- ra pengikut Yesus tidak dibina untuk berharap demikian. Justru sebaliknya. Sesudah mengab- dikan diri secara total kepada Yesus, terdapat kemungkinan besar bahwa keadaan lahiriahnya lebih buruk lagi. Tetapi lain sekali keadaan batiniah. Akhirnya mereka akan menerima hadiah “seratus kali lipat” dan “hidup yang kekal” pada zaman yang akan datang (Mrk 10:28-31) [kutip- an dari Robert E. Boehlke, “Jemaat-Jemaat Perjanjian Baru sebagai Paguyuban Belajar-Mengajar” dalam Ioanes Rakhmat (ed.), Mendidik dengan Alkitab dan Nalar (Jakarta: BPK-GM, 1995) hlm. 306f.]. -
- - NR - - -
1. Pengantar
GALILEA (Ibrani galil, ‘cincin, bulatan’, menjadi ‘daerah’). Nama daerah bagian Palestina Utara, tempat masa kanak-kanak Kristus dan permulaan pekerjaan-Nya. [ .. . ] Inilah wilayah, tempat Kristus bertumbuh dan dibesarkan, di Nazaret, ditengah-tengah bukit-bukit berbatu kapur daerah Galilea Bawah. Karena letaknya sedemikian rupa, daerah ini dilintasi jalan-jalan raya, justru bukan daerah mati. Pertaniannya, perikanannya, perdagang- annya dan latar belakang kebudayaannya dengan baik dikenal oleh Kristus, dimanfaatkan- Nya dalam perumpamaan-perumpamaan dan ajaran-Nya. Murid-murid Kristus yg pertama adalah dari masyarakat daerah ini, dan tempat-tempat pemukimannya yg tersebar dan padat menjadi padang misi pelayanan Kristus [kutipan dari Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1, terj. (Jakarta: YKBK/OMF, 1992), hlm. 324].
2. Eksposisi
Apakah Simon dan Andreas terdorong oleh hasrat/gerak hati yang timbul secara mendadak (ayat 20)? Tidak. Diperkirakan bahwa bukan baru kali ini Yesus bertemu dengan mereka, juga mereka dengan Yesus. Beberapa orang di antara mereka adalah murid-murid Yohanes Pembaptis (Yoh 1:35). Dengan latar belakang ini, maka diperkirakan bahwa paling tidak mereka telah pernah mendengar khotbah dan pengajaranNya. Malah mungkin sudah pernah bercakap-cakap de- ngan Yesus sendiri. Kini saatnya tiba bagi mereka untuk menjadi para murid awal dari Yesus --- “the challenge once and for all to throw their lot with him [Jesus]” [Sumber dan kutipan baha- sa Inggris dari William Barclay, The Daily Study Bible, the Gospel of Matthew, Vol. 1 (Edinburgh: the Saint An- drew, 1977), p. 78]. Informasi: Fresh from his baptism and temptation, Jesus launches his public ministry. Matthew stresses the fact that it continues that of John. John is arrested by Herod, and imprisoned in the terrible dungeons of Machaerus; Jesus imme- diately and boldly replaces him. John preached repentance, and that is pre- cisely the subject of Jesus’ preaching. [ . . . ] The Gentile mission would lie in the future. In the meantime Jesus was preaching the good news of the kingdom to his Jewish hearers, and that message demand- ed a response. The first to make that response were Andrew and Peter, two rough brothers in a fishing firm who were so captivated by Jesus that they left behind their belongings, their jobs and their families in order to become his disciples. Rough and ready they may have been, but they had the courage and decisiveness necessary to make these sacrifices and to follow Jesus, a step that proved too costly for the religious and the educated [kutipan dari Michael Green, The Message of Matthew (Leicester, England: IVP, 2000), pp. 84 and 86]. Apa makna informasi: “Simon yang disebut Petrus” (ayat 18; NIV: “Simon called Peter”)? Maknanya ialah bahwa panggilan “Petrus” itu baru kemudian diberikan kepada Simon (bnd. Mat 16:18). Bagaimana kita memahami tindakan Yesus untuk memilih para nelayan, dan justru bukan orang-orang yang terdidik atau mampu/berada untuk menjadi para muridNya? Seorang nelayan tulen memiliki sifat dan/atau watak sebagai berikut:
[1] Dia seorang yang sabar. Terutama sebagai pengail, ia harus bersabar sampai umpan di pancingnya disambar seekor ikan. Dia harus belajar untuk menanti.
[2] Dia harus ulet. Dia tidak cepat putus asa dan mau mencoba lagi kalau gagal.
[3] Dia harus punya “nyali” (keberanian). Ini terutama diperlukan, ketika angin keras dan topan melanda laut dan/atau danau. Itu berarti dia siap mengambil risiko.
[4] Dia harus jeli melihat adanya kesempatan. Nelayan berpengalaman tahu betul saat-saat ketika ikan dapat ditangkap dalam jumlah banyak. Kalau ia seorang penjala, ia tahu saat dan tempat yang tepat untuk menebar jalanya.
[5] Dia memakai umpan yang cocok dan menarik bagi jenis ikan yang ingin ditangkapnya.
[6] Ada jenis ikan-ikan tertentu yang peka dengan kehadiran seseorang di dekat “habitat” mereka. Seorang nelayan berpengalaman akan hanya muncul pada waktu tertentu di situ untuk menangkap ikan-ikan itu. Selebihnya ia tidak menampakkan diri. Sifat dan/atau watak para nelayan di atas juga diperlukan untuk menjadi “penjala manusia”. “It was the ordinary men whom Jesus chose. . . What Jesus needs is ordinary folk who will give him themselves. He can do anything with people like that” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Barclay, op. cit., pp. 78f.].
3. Excursus
[Dipilih dan Dipanggil Menjadi Murid] . . . kebanyakan isi keempat kitab Injil mengandung kesaksian utama tentang Yesus dan keduabelas orang “biasa” yang dipilih-Nya. Fakta mereka dipilih membedakan mereka dari murid-murid Yahudi yang memilih seorang rabi tertentu karena keahliannya dalam isi dan tafsiran Taurat. Demikian kita baca, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku-lah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Yang menarik pula ialah bahwa curriculum vitae mereka mustahil menjadi dasar mengapa mereka dipilih sebagai pengikut-Nya. Siapakah yang membayangkan bahwa di antara sekian banyak orang yang dipilih, justru, umpamanya, empat nelayan, seo- rang pemungut pajak, seorang revolusioner, yang Yesus pilih! Barangkali Yesus menganggap mereka lebih terbuka kepada pengajaran-Nya, karena tidak dibebani oleh prasangka gaya berpikir lama, tidak seperti halnya beberapa orang Farisi yang bertanya kepada Yesus. “Apa- kah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (Yoh 9:40a-41). Sesudah mereka dipilih, dimulailah proses yang memakan waktu yang panjang untuk men- didik mereka ke dalam rahasia Kerajaan Allah (Mat 4:11). Bagi Hunter “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7) merupakan silabus untuk kursus itu. . . . Walaupun menarik usaha memusatkan inti peng- ajaran Yesus pada “Khotbah di Bukit”, namun ruang lingkup yang tersedia terlampau terbatas mengingat pengajaran Yesus yang terdapat di dalam keempat Injil begitu kaya, meskipun se- bagian isinya mungkin lebih mencerminkan kebutuhan dan perspektif persekutuan Kristen perdana ketimbang pengajaran asli dari Yesus. Semua sumber pokok ini sama-sama membe- ritakan betapa rajinnya Yesus dalam pelayananan mengajar keduabelas murid dan sekelom- pok murid yang lebih banyak jumlahnya lagi. Dia ingin mengajar mereka tentang jati diri dan tugas-Nya, dan intisari arti pengabdian diri manusia kepada Allah. Sejak awal Dia telah menitikberatkan bahwa Dia tidak hanya memanggil orang-orang un- tuk membuka diri kepada pengertian baru tentang rencana Allah bagi mereka yang sedang hadir dalam Diri Pribadi-Nya, tetapi, di samping itu, mereka terpanggil untuk menerima risiko yang bersangkutan dengan Rencana itu [bnd. Mat 16:24]. . . . Kalau begitu, berbeda dengan harapan pelajar yang lazimnya ingin memperbaiki kedaannya sebagai hasil pembelajaran, pa- ra pengikut Yesus tidak dibina untuk berharap demikian. Justru sebaliknya. Sesudah mengab- dikan diri secara total kepada Yesus, terdapat kemungkinan besar bahwa keadaan lahiriahnya lebih buruk lagi. Tetapi lain sekali keadaan batiniah. Akhirnya mereka akan menerima hadiah “seratus kali lipat” dan “hidup yang kekal” pada zaman yang akan datang (Mrk 10:28-31) [kutip- an dari Robert E. Boehlke, “Jemaat-Jemaat Perjanjian Baru sebagai Paguyuban Belajar-Mengajar” dalam Ioanes Rakhmat (ed.), Mendidik dengan Alkitab dan Nalar (Jakarta: BPK-GM, 1995) hlm. 306f.]. -
- - NR - - -
Called to Be Saints
Isaiah 49:3, 5-6 1 Corinthians 1:1-3 John 1:29-34
Henry III of Bavaria was a God-fearing king but the demands of being a ruler did not leave him much time for spiritual exercises. One day he got so fed up with being a king that he went to Prior Richard at the local monastery and asked to be admitted as a monk for the rest of his life. “Your Majesty,” said Prior Richard, “do you understand that the pledge here is one of obedience? That will be hard because you have been a king.” “I understand,” said Henry. “The rest of my life I will be obedient to you, as Christ leads you.” “Then I will tell you what to do,” said Prior Richard. “Go back to your throne and serve faithfully in the place where God has put you.” King Henry returned to his throne, ruled his people with the fear of God, and became a saintly king. In today’s second reading, Paul reminds us that we are “called to be saints” (1 Corinthians1:2). Like King Henry we sometimes believe that we need to run away from the demands of family and profession and escape to a monastery, a convent or the desert, where it will be easy to become a saint. But, as we learn from the wise counsel of Prior Richard, God expects us to be saints in the concrete situations of our personal, family and business or professional lives.
Our second reading today is just the opening section of Paul’s First Letter to the Corinthians. It consists of three verses: verse 1 in which Paul introduces himself and Sosthenes as the writers of the letter, verse 2 in which he speaks of the Corinthians as those to whom the letter is addressed, and verse 3 in which he gives them his opening greeting. Why does the church offer us this reading for our spiritual nourishment today as we begin the long period of Sundays in Ordinary Time? It is because of the deep spiritual message contained in verse 2. We shall look at this verse more closely.
Paul … To the church of God that is in Corinth, to those who are sanctified in Christ Jesus, called to be saints, together with all those who in every place call on the name of our Lord Jesus Christ, both their Lord and ours (1 Corinthians 1:2)
There are two interesting points in this verse. (1) Paul does not address the word of God to the Corinthians alone but also to “all those who in every place call on the name of our Lord Jesus Christ.” That includes us gathered here today to call on the Lord’s name. The word of God we shall be reading all this year will be addressed to various local churches – Romans, Corinthians, Galatians, Ephesians, Colossians, and so on. It helps to know that, though we live in different times and cultures, the same word is also, in some way, addressed to us. (2) Paul refers to those to whom the word is addresses as men and women “called to be saints.” Again that includes us. We may not feel like we are saints yet, but that is the purpose for which God has called us. We are all called to holiness.
A saint or someone who has been sanctified literally means someone who has been set apart. That God has called us to be saints means that God means for us to be special people in the world, not people who simply follow the crowd wherever the current wind blows.
For some of us the call of God may require a change of state in life. God may require of us what Jesus required of his disciples, “If you wish to be perfect, go, sell your possessions, and give the money to the poor, and you will have treasure in heaven; then come, follow me” (Matthew 19:21). The life of such a disciple is a life-long quest for perfection according to the mind of Jesus.
For most of us, however, God calls us to be His faithful children in the midst of the trials and challenges of normal life in society. The call of God is that we be in the world but not of the world. We participate fully in society, in politics, in business, including show business, in education, in health-care delivery, and in dispensing justice through making and implementing just laws.
It is possible to be a saint even in the entertainment industry. Mel Gibson has shown that one can make a blockbuster movie without compromising one’s Christian principles. His “Passion of the Christ” was at the same time engaging and uplifting, captivating and inspiring. That is a good example of how one can participate fully in business and professional life without hiding one’s light under a bushel. God has called us to be saints. Let us ask God today to teach us how to live saintly lives in our families and in whatever occupation in which we find ourselves.
Henry III of Bavaria was a God-fearing king but the demands of being a ruler did not leave him much time for spiritual exercises. One day he got so fed up with being a king that he went to Prior Richard at the local monastery and asked to be admitted as a monk for the rest of his life. “Your Majesty,” said Prior Richard, “do you understand that the pledge here is one of obedience? That will be hard because you have been a king.” “I understand,” said Henry. “The rest of my life I will be obedient to you, as Christ leads you.” “Then I will tell you what to do,” said Prior Richard. “Go back to your throne and serve faithfully in the place where God has put you.” King Henry returned to his throne, ruled his people with the fear of God, and became a saintly king. In today’s second reading, Paul reminds us that we are “called to be saints” (1 Corinthians1:2). Like King Henry we sometimes believe that we need to run away from the demands of family and profession and escape to a monastery, a convent or the desert, where it will be easy to become a saint. But, as we learn from the wise counsel of Prior Richard, God expects us to be saints in the concrete situations of our personal, family and business or professional lives.
Our second reading today is just the opening section of Paul’s First Letter to the Corinthians. It consists of three verses: verse 1 in which Paul introduces himself and Sosthenes as the writers of the letter, verse 2 in which he speaks of the Corinthians as those to whom the letter is addressed, and verse 3 in which he gives them his opening greeting. Why does the church offer us this reading for our spiritual nourishment today as we begin the long period of Sundays in Ordinary Time? It is because of the deep spiritual message contained in verse 2. We shall look at this verse more closely.
Paul … To the church of God that is in Corinth, to those who are sanctified in Christ Jesus, called to be saints, together with all those who in every place call on the name of our Lord Jesus Christ, both their Lord and ours (1 Corinthians 1:2)
There are two interesting points in this verse. (1) Paul does not address the word of God to the Corinthians alone but also to “all those who in every place call on the name of our Lord Jesus Christ.” That includes us gathered here today to call on the Lord’s name. The word of God we shall be reading all this year will be addressed to various local churches – Romans, Corinthians, Galatians, Ephesians, Colossians, and so on. It helps to know that, though we live in different times and cultures, the same word is also, in some way, addressed to us. (2) Paul refers to those to whom the word is addresses as men and women “called to be saints.” Again that includes us. We may not feel like we are saints yet, but that is the purpose for which God has called us. We are all called to holiness.
A saint or someone who has been sanctified literally means someone who has been set apart. That God has called us to be saints means that God means for us to be special people in the world, not people who simply follow the crowd wherever the current wind blows.
For some of us the call of God may require a change of state in life. God may require of us what Jesus required of his disciples, “If you wish to be perfect, go, sell your possessions, and give the money to the poor, and you will have treasure in heaven; then come, follow me” (Matthew 19:21). The life of such a disciple is a life-long quest for perfection according to the mind of Jesus.
For most of us, however, God calls us to be His faithful children in the midst of the trials and challenges of normal life in society. The call of God is that we be in the world but not of the world. We participate fully in society, in politics, in business, including show business, in education, in health-care delivery, and in dispensing justice through making and implementing just laws.
It is possible to be a saint even in the entertainment industry. Mel Gibson has shown that one can make a blockbuster movie without compromising one’s Christian principles. His “Passion of the Christ” was at the same time engaging and uplifting, captivating and inspiring. That is a good example of how one can participate fully in business and professional life without hiding one’s light under a bushel. God has called us to be saints. Let us ask God today to teach us how to live saintly lives in our families and in whatever occupation in which we find ourselves.
Langganan:
Postingan (Atom)