22 Desember 2007

Mazmur 40 : 1 – 9

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

Banyak para ahli berpendapat bahwa Mzm 40 dalam bentuknya sekarang ini merupakan penggabungan dua buah mazmur yang seelumnya masing-masing berdiri sendiri. Alasan mereka ialah bahwa ay. 1-10 merupakan mazmur ucapan syukur, sedangkan ayat 11-17 merupakan sebuah mazmur yang berisi doa minta tolong. Menurut mereka, susunan tadi adalah tidak logis --- “the supplication (vv. 11-17) ought to lead into thanksgiving, not the vice versa” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Robert Davidson, The Vitality of Worship, A Commentary on the Book of Psalms (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1998), p. 133]. Informasi: Berdasarkan kenyataan bahwa Mzm 40:14-18 pernah berdiri sendiri sebagai Mzm 70, maka timbul pertanyaan apakah 40:1-12 juga pernah berdiri sendiri dan mengapa dua doa yang begitu berlainan nada dipersatukan. Pertanyaan ini diper- tajam bila isi diperhatikan. Ay. 1 judul A. Doa ucapan syukur Ay. 2-4 pemberitaan tentang tindakan Tuhan yang menyelamatkan pemazmur. Ay. 5-6 bahagia orang yang percaya dan puji-pujian bersama pada Tuhan. Ay. 7-9 melakukan kehendak Tuhan, itulah ucapan syukur yang sejati. Ay. 10-11 keadilan Tuhan diberitakan di jemaah yang besar. Ay. 12 penutup: kiranya penyertaan Tuhan berlangsung terus. B. Doa minta tolong Ay. 12-13 Tolonglah karena penderitaan yang disebabkan dosa. Ay. 14-16 = Mzm 70:2-4 Tolonglah, karena penderitaan yang disebabkan musuh. Ay. 17-18 = Mzm 70:5-6 bahagia orang yang ditolong Allah. Besar kemungkinan bahwa ay. 2-12 pernah berdiri sendiri . . ., meskipun harus dicatat bahwa Mzm 40 A tidak merupakan suatu doa ucapan syukur dalam bentuk yang lazim . . ., melainkan bersifat pengakuan percaya berdasarkan rasa syukur itu. Karena pengakuan akan kebesaran Tuhan itu dan keinginan untuk membe- ritakan keadilan-Nya berakhir dengan suatu permohonan - ay. 12 – maka ia di- persatukan dengan suatu doa minta tolong yang berpuncak pada pengakuan percaya dan pemberitaan bahwa: “Tuhan itu besar” [kutipan dari Marie C. Barth dan B.A. Pareira, Tafsiran Alkitab: Kitab Mazmur 1-72 (Jakarta: BPK-GM, 1998), hlm. 419f.].

2. Eksposisi

2.1. Ayat 3: Dalam “lobang kebinasaan” (NIV: “slimy pit”) apakah Daud berada? Bisa lubang sumur, bisa juga diartikan sebagai ruang gelap dibawah tanah seba- gai penjara (“liang tutupan”, Kel 12:29), pelobang (Mzm 9:16), atau sebagai metafor untuk kematian (“liang kubur”, Mzm 28:1). Dalam pengertian manapun, adalah jelas bahwa “God rescued him out of a desperate, hopeless situation” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 793. Penjelasan-penjelasan dibawah ini juga dari sumber yang sama]. Informasi: “Life in Crisis” [ . . . ] . . . practices and disciplines emerge when the human person is left in “the Pit” (cf. Pss 28:1, 30:3, 40:3, 88:6). A common image in the life of human prayer, “the Pit” refers to any diminishment or impairment of human well-being. Thus it may refer to sickness, imprisonment, social isolation and rejection, or, in extremity physical death. In its realism, Israel knows that the disciplines of equilibrium --- obedience, discernment, and trust --- are not first of all appropriate to such human crises. Thus the human person, according to Israelite testimony, undertakes raw and insistent disciplines in the pit, practices that are constitutive of humanness and commensurate with Israel’s counter-testimony concerning Yahweh. These activities correspond to the evidence and conviction of Yahweh’s hiddenness, unreliability, and negativity [kutipan dari Walter Brueggemann, Theology of the Old Testament (Minneapolis: Fortress, 1997), p. 470].

2.2. Ayat 7: Mengapa Allah “tidak berkenan” kepada kepada persembahan Daud? Karena Allah menghendaki ibadah dan ketaatan yang tulus, lebih dari sekedar persembahan korban belaka. Dan ini muncul dari hati yang dalam dan murni (bnd. ayat 9b). Informasi: In its essence sacrifice was a noble thing. It meant that a man was taking something dear to him and giving it to God to show his love. But the human nature being what it is it was easy for the idea to degenerate and for sacrifice to be thought of as a way of buying God’s forgiveness [kutipan dari William Barclay, The Daily Study Bible, the Letter to the Hebrews (Edinburgh: the Saint Andrew, 1981), p.114]. Mengapa Tuhan “membuka telinga” (NIV: “pierced”) Daud? NIV memilih istilah “pierced” sebagai tanda kesetiaan dan kepatuhan para budak orang Ibrani. Tuannya membawanya ke pintu atau tiang pintu dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup (Kel 21:5-6). Begitulah juga Daud terhadap Tuhan. Di sini LAI memilih istilah “membuka telinga” yang menyiratkan kesediaan untuk mendengarkan (bnd. Yer 6:10).

2.3. Ayat 8: Apakah yang tertulis tentang Daud? Daud tidak merujuk kepada suatu nubuatan. Dia mengingat salinan Taurat yang diberikan kepadanya ketika ia dinobatkan sebagai raja. Dan ini menyiratkan tanggung jawab besar yang diberikan Allah kepadanya. Di sini Daud menya- takan bahwa ia tunduk terhadap Taurat yang diterimanya itu (bnd. Ul 17:18- 20). Informasi: Penulis Ibrani menafsirkan ucapan Daud di sini sebagai ramalan datangnya sang Mesias (Ibr 10:5-7) Hebrew 10:5-7 quotes these verses [6-8] following the Greek (LXX) text. It provides them with a new context in which they refer to the incarnation of Christ who through his perfect obedience to God offered the one, eternal sacrifice which supersedes all other sacrifices and makes them irrelevant. Hebrews as a whole provides an interesting example of the way in which the coinage of the Old Testament can be reminted with the image of Christ stamped upon it [kutipan dari Davidson, op. cit., p. 135].

3. Excursus “SUKACITA DAN KEHIDUPAN KRISTEN”

Sukacita adalah istilah Alkitab yang asli dan unik. Banyak orang yang mengacaukan sukacita dan kebahagiaan, tetapi ada perbedaan yang besar di antara keduanya. Kebahagiaan bergantung pada keadaan sekitar, sedangkan sukacita tidak demikian. Kebahagiaan merupakan tanggapan yang dangkal terhadap hal-hal yang baik; sukacita merupakan tanggapan yang jauh mendalam yang tetap bertahan apakah yang terjadi di sekitarnya itu buruk atau baik. [ . . . ] Dalam autobiografinya, Surprised by Joy, C.S. Lewis memeriksa usahanya untuk memperoleh sukacita. Ia berusaha untuk mendapakannya di dalam humanisme, komunisme, erotisme, dan filsafat serta ikhtiar manusiawi lainnya. Akan tetapi, semuanya itu hanya memperlihatkan bekas-bekas sukacita. Ia tidak menemukan sukacita bagi dirinya sendiri sebelum ia menyadari bahwa sukacita hanya akan datang bila mengutamakan Kristus di dalam hidupnya. Sukacita sendiri tidak pernah menjadi tujuan akhir. Hanya ketika saudara menjadikan Kristus prioritas utama, maka hampir tanpa disadari sukacita itu datang. Bila saudara mencari sukacita saudara akan kehilangan, sebab sukacita tidak dapat ditangkap. Orang duniawi tidaklah mencari sukacita melainkan kebahagiaan. Sukacita adalah sesuatu yang diberikan Kristus. [ . . . ] Yesus berdoa agar para murid-Nya memiliki sukacita-Nya, “Aku memngatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka” (Yoh 17:13). Sukacita Kristus disalurkan kepada kita sementara kita melakukan tugas untuk memberitakan kepada dunia tentang Dia [kutipan dari David McKenna, “Sukacita dan Kehidupan Kristen” dalam Pola Hidup Kristen, Penerapan Praktis, terj. (Malang: Gandum Mas, 2002), hlm. 719f.]. “KEPADA SIAPA KITA HARUS BERDOA?” Banyak bukti di dalam Alkitab bahwa kita dapat menujukan doa kita kepada masing- masing Oknum dari Trinitas. Yesus dan Bapa sama-sama menerima penyembahan di dalam Perjanjian Baru, dan Yesus berbicara tentang Penolong yang akan datang dengan penyataan yang menghubungkan Bapa dan Anak dengan Roh Kudus (lihat Yohanes 14:15-16:16). Allah telah menyatakan diri dalam tiga Oknum, jadi sesuai dengan tempat kita berada dan hal-hal yang kita doakan, kita dapat menujukan doa kita kepada Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tentu saja kepada Oknum mana pun kita berdoa, Trinitas secara utuh tercakup di dalam doa kita. Kita tidak hanya dapat berbicara kepadsa Allah seperti dengan Oknum yang berbeda- beda; kita dapat juga menyapa Dia dengan nama yang berbeda-beda. Di dalam Alkitab Allah disebuty dengan banyak nama. Setiap nama adalah jendelaab itu sebagaimana diperguna- kan di dalam Mazmur, dan nama-nama itu merupakan pembimbing dalam kita berdoa. Jika saya menyebut-Nya Gembala yang baik, fokus saya agak berbeda daripada bila saya menye- but-Nya Imam Besar. Allah yang Esa berbeda fokusnya dengan Bapa kami. Setiap nama itu benar, tetapi masing-masing memusatkan pada aspek berbeda mengenai siapa Allah itu. Penyataan Allah mengenai diri-Nya dalam tiga Oknum, dan dengan banyak nama, mem- beri kita berbagai cara untuk menghampiri Dia, sesuai dengan berbagai keperluan dan pang- gilan kita [kutipan dari Larry Christensen, “Kepada Siapa Kita Harus Berdoa?” dalam Ibid., hlm. 655f.].
- - - NR - - -

Yesaya 66 : 18 – 24

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

Kita sampai pada penggalan terakhir dari kitab nabi (Trito-)Yesaya. Penggalan ini berisi program misi sejagat. Ini tersirat dalam ayat 18. Tujuan misi ini ialah untuk meluhurkan Tuhan, agar Ia dikenal dan dihormati sebagai Allah yang sejati. Informasi: Dari isi Trito-Yesaya kita dapat mengambil kesimpulan mengenai keadaan historis: rupa-rupanya bangsa Israel hidup kembali di Palestina dan Yerusalem sudah dibangun lagi. Pokok-inti nubuat-nubuat . . . bukanlah kelepasan dari Babylon, tetapi keadaan yang kurang baik pada masa sesudah pembuangan di Babylon, misalnya kesalahan para pemimpin bangsa itu (fasal 56:9 dst), sinkret- isme (fasal 57:3 dst; 65:1 dst; 66:3 dst), alasan-alasan terhadap pembangunan Bait Allah (fasal 66:1 dst) [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BOK-GM, 1996), hlm. 116].

2. Eksposisi

Dalam ayat 19 dicatat sebuah tempat: “Tarsis”. Diperkirakan ini sebuah kota atau wilayah di Sepanyol (bnd. Yun 1:3). Bersama dengan nama tempat-tempat lainnya, kesemuanya mewakili “ujung bumi”. Di tempat-tempat ini nama Tuhan belum diketahui. Juga belum pernah menyaksikan tindakan nyata dari Allah. Untuk itu Tuhan akan mengutus orang-orangNya ke tempat-tempat tsb. Para utusan ini akan mengerahkan para wakil dari tempat-tempat tersebut untuk datang menyembah Tuhan di “gunung . . . yang kudus, . . . Yerusalem” (ayat 20). Informasi: The place names in the last part of verse 19 are drawn from Isaiah’s own world, but as the farthest outposts they stand symbolically for the whole earth. Mission is to know no geographical or national boundaries. It is to extend everywhere [kutipan dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England, IVP, 1996), p. 78]. Visi Yesaya ini adalah menarik, lebih-lebih kalau kita melihatnya dari perspektif Perjanjian Baru. Yesus mengutus para muridNya untuk menjadi saksiNya “di Yerusa- lem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Yesus mengutus mereka ke tempat-tempat ini adalah untuk menjadikan “semua bangsa “ muridNya (Mat 28:19). Dengan itu visi Yesaya terpenuhi dan terwujud. Paling tidak visi Yesaya dan misi Yesus yang dilakukan para muridNya, dan kelak diteruskan oleh gereja perdana, masih berlangsung terus. Tidak berubah! [Sumber: What does the Bible Say About . . . ? (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2001]. Informasi: In Isaiah 66:22-23 there is a . . . reference to the new earth: “For as the new heavens and the new earth which I will make . . .” In the previous verses of chapter 66 Isaiah has been predicting copious future blessings for the people of God: God will give his people great prosperity (v. 12), will comfort his people (v. 13), will cause his people to rejoice (v. 14), and will gather them from all the nations (v. 20). In verse 22 God tells us through Isaiah that his people will remain before him as everlastingly as the new heavens and the new earth which he will create. From verse 23 we learn that the inhabitants of that new earth will faithfully and regularly worship God. Though this worship is described in terms borrowed from the time when Isaiah wrote [“bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat”] these words must not be understood in a strictly literal way. What is predicted here is the perpetual worship of all the people of God, gathered from all nations, in ways which will be suitable to the glorious new existence they will enjoy on the new earth [kutipan dari Anthony A. Hoekema, The Bible and the Future (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1979), p283].

3. Excursus: “Penglihatan Universal”

Perjanjian Lama mempunyai penglihatan tentang masuknya semua bangsa dalam rencana penebusan Allah. Dalam panggilan Abraham, pencerai-beraian dan keka- cauan di Babel secara tidak langsung telah dibalikkan. Namun, dinyatakan lebih jelas dalam kitab Nabi Zefanya. Setelah penghukuman murka Allah atas kejahatan bangsa- bangsa, dikatakan: “Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama Tuhan, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu” (Zef 3:9) Tetapi kesatuan eskatologis dalam peribadatan kepada Allah itu tidak mengha- puskan jati diri masing-masing bangsa. Sebaliknya, kemuliaan pemerintahan Allah yang akan datang itu ialah masuknya keanekawarnaan segala bangsa. Inilah sukacita yang besar dalam Yesaya 60 dan peringatan-peringatan dalam Zakharia 14:16 dan seterusnya. Selain itu, tidak hanya bangsa-bangsa, tetapi segala hasil, kekayaan dan kemuliaan mereka akan dibawa, dikuduskan, di Yerusalem Baru dalam pemerintahan Allah. Penglihatan ini terdapat dalam Yesaya 60:5-11, Hagai 2:6-8, dan dalam kesim- pulan ucapan ilahi yang mengagumkan terhadap Tirus dalam Yesaya 23:18. Dalam nats ini dinyatakan bahwa semua keuntungan pedagangan bangsa itu “akan kudus bagi Tuhan” demi kesejahteraan umat-Nya. [ . . . ] Allah bermaksud “mempersatukan di dalam Kristus sebagai kepala segala sesuatu, baik yang ada di sorga maupun yang di bumi” (Ef 1:10) dan “oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus” (Kol 1:20) [kutipan dari Christopher Wright, Hidup Sebagai Umat Allah, terj. (Jakarta: BPK-GM, 1995), hlm. 132f.].
- - - NR - - -

Keluaran 33 : 12 – 23

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

1.1. Sinopsis

Fasal 33 . . . Allah memberi perintah kepada Musa untuk ke Kanaan. Malaekat Tuhan akan berjalan di depan bangsa itu. Musa mendirikan kemah pertemuan, di mana Tuhan dapat berbicara dengan dia (ayat 1-11). Musa meminta untuk melihat kemuliaan Allah. Waktu dia berdiri di dalam lekuk gunung, dia hanya diizinkan melihat bagian belakang Tuhan [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK- GM, 1996), hlm. 50]. 1.2. Latar Belakang dan Konteks Penggalan/Perikop Bacaan . . . Kel 32 [s/d] 34 ini tersusun dari tiga macam bahan: cerita lembu emas dalam Kel 32, undang-undang yang mengatur kehidupan di tanah Kanaan, lengkap dengan kisah peresmian perjanjian, dalam Kel 34, dan ditengah-tengahnya Kel 33 dengan tiga bagian kecil (ay 1-6, 7-11, 12-23), yang semuanya berkisar pada pertemuan Musa dengan Tuhan. Lembu emas --- pertemuan Musa dengan Tuhan --- pembaruan perjanjian: ketiga fasal ini [Kel 32, 33, 34] memberi kesaksian tentang krisis [oleh karena penyembahan berhala ke- pada lembu emas] di dalam persekutuan yang mesra antara Tuhan dengan umatnya. [ …] Penelitian kita tentang Kel 33 akan menunjukkan, betapa erat perhubungan ketiga fasal ini dengan soal penyertaan ilahi di padang gurun. Mengenai Kel 34, di dalam upacara penye- rahan undang-undang baru inipun terdengar suara Musa meminta “kiranya Tuhan berjalan di tengah-tengah kami” (34:8-9) [jadi bukan hanya sekedar malaikat (33: 2) yang berjalan di depan umat] [kutipan dari C. Barth, Theologia Perjanjian Lama 1 (Jakarta: BPK-GM, 2002), hlm. 231f.].

2. Eksposisi

2.1. Ayat 12-13: Musa ikut merasa gelisah/khawatir, sama seperti yang dirasakan umat, di sekitar isyu tentang penyertaan dan ketidak-ikut-sertaan Tuhan dalam perjalanan melewati padang gurun. Dalam hubungan inilah, maka Musa ingin merasa pasti apakah Allah tetap bisa ditemuinya. Bagaimana memaknai pernyataan Tuhan kepada Musa: “Aku mengenal namamu (NIV: “I know you by name”) dalam ayat 12 dan 17? Ini adalah cara lain untuk mengatakan, “Engkau berkenan bagiKu” dan “Aku telah memilih- mu untuk suatu misi khusus”. Dalam Yoh 10: 3 Yesus memakai ungkapan yang sama [Sumber: Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan,2002), p. 128]. Informasi: Musa telah meminta dan kini ia mencari (ay 13), lalu mengetuk pintu (ay 15, 18). Allah telah berjanji akan menyertai bangsa ini dan akan membawa mereka masuk ke negeri yg dijanjikan, tapi dosa mereka, walaupun itu tidak meniadakan janji ini (bnd ay 2), telah membatasi kasih karunia dan perke- nanan Allah (bnd ay 3). Adalah pelemahan perkenanan Allah ini yg mendo- rong Musa berdoa bukan hanya minta cara masuk badani, tapi juga minta kehadiran Allah dalam kemuliaan di tengah-tengah bangsa itu. Ia tidak menghendaki tanah perjanjian itu tanpa Allah (ay 14), dan tanah perjanjian itu tidak berarti apa-apa bagi bangsa itu tanpa kehadiran yg sama (ay 16). Adalah kehadiran Allah yg melimpahkan perkenanan dan kepastian yg nyata ke atas umatNya, dan menandai mereka sebagai milikNya, untuk kemuliaanNya. Sebab itu Musa menyimpulkan atas dasar perjanjian: Allah tak dapat tidak berjalan bersama kami. Doa semacam itu dijawab. Allah mau menyertai Musa dan bangsa itu, dan ketenteraman tanah Kanaan akan diberikan kepada mereka (ay 14). Jawab semacam itu memberanikan Musa untuk memohon malahan lebih banyak lagi, sebab ia sekarang yakin bahwa memang kasih karunia Allah telah ia dapatkan dan bahwa bangsa itu pada asasnya telah dipulihkan kepada kasih karunia sepenuhnya berdasarkan perjanjian. Ia berdoa supaya ia boleh melihat kemuliaan Allah . . . Ia berhasrat supaya kepadanya diperlihatkan Allah secara khusus --- bukan melihat secara jasmani yg ia rindukan, sebab ia tahu bahwa tidak ada manusia yg dapat melihat Allah lalu tetap hidup, melainkan ia berhasrat menanggapi secara rohani siapa Allah itu dan apa yg nanti Ia akan lakukan dan menjadi untuknya dan untuk bangsanya [kutipan dari Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Kejadian-Ester (Jakarta: YKBK/OMF, 1998), hlm. 181].

2.2. Ayat 18: Musa memohon kehadiran Tuhan tidak hanya secara spiritual. Ia memohon me- nyaksikan sekilas kehadiran Sang Mahakudus. Jelas manusia tak mungkin bertatap muka (‘face to face”) dengan Allah. Jadi untuk permohonan Musa tadi, Allah menjawab: “Engkau tidak akan tahan mmemandang wajahKu, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (ayat 20). Namun Tuhan berkenan memenuhi permo- honan Musa, walaupun hanya sekilas.

2.3. Ayat 20-23: Musa diperkenankan untuk menyaksikan sekilas kemuliaan Allah. Excursus : Dalam mengulas Wahyu 22:3-5, William Barclay menulis sebagai berikut: God’s servants shall see his face. The promise will come true that the pure in heart will see God (Matthew 5:8). We may best understand the greatness of that promise by remembering that the Christian is promised a privilege which was denied even to Moses to whom God’s word was: “You cannot see my face; for man shall not see me and live” (Exodus 33:20, 23). It is in Christ alone that men can see God [kutipan dari William Barclay, The Daily Study Bible, the Revela- tion of John, Vol. 2 (Edinburgh: the Saint Andrew, 1981), p. 222]. 3. Rancangan/Kerangka Khotbah Topik: Melihat/Menyaksikan Allah Teks: Keluaran 33:12-23 (1) Musa berdoa kepada Tuhan. (2) Musa memohon bimbingan dan kasih karunia Tuhan bagi bangsanya disamping bagi dirinya sendiri. (3) Musa dijanjikan penyertaan dan kehadiran Tuhan. (4) Janji tersebut diwujudnyatakan dalam perjalanan umat ke tanah perjanjian. (5) Allah berkenan dan memberkati apa yang diprakarsai-Nya. (6) Allah berkenan menyatakan diri sekilas kepada Musa, tetapi cukup bagi Musa untuk meyakini janji Allah [Saduran/terjemahan bebas dari “Sermon Suggestions” dalam James W. Cox (ed.), The Minister’s Manual 2005 (San Francisco: Jossey - Bass, 2004), p. 237].
- - - NR - - -

Mazmur 119 : 105 – 112

(Beberapa Catatan dan informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

“Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati” (Mzm 119:2). Kutipan tadi menunjukkan bahwa masih sejak bagian awal dari Mazmur bacaan kita sekarang ini (Mzm 119) telah diketengahkan faedah/manfaat firman/perintah Allah: a.l. memberi kebahagiaan bagi yang menaatinya.. Dalam ayat 105, yang merupakan ayat pembukaan untuk perikop bacaan kita sekarang ini, faedah/manfaat firman Allah, khususnya sebagai petunjuk dan sumber kebijaksanaan, kembali diketengahkan lagi (bnd. ayat 24, 66, 130, 176). Informasi: Kalau dalam Mazmur Daud di 2 Samuel 22:29 kita dengar: “Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku” (bnd. juga Ayb 29:3), maka dalam mazmur ini hal yang sama dikatakan tentang firman Allah (bnd. Ams 6:23 tentang perintah dan ajaran). Dalam hubungan dengan Allah firman yang tertulis dan firman yang langsung diterima daripadanya berhubungan: merenungkan Kitab Suci membuka pengertian untuk menerima firman hidup dan menghindari salah paham berdasarkan keinginan hati sendiri. [kutipan dari Marie C. Barth dan B.A. Pereira, Tafsiran Alkitab Kitab Mazmur 73-150 (Jakarta: BPK-GM, 1999), hlm. 366f.].

2. Uraian/Eksposisi

2.1. Ayat 105, 106: Bagi si pemazmur firman Allah menerangi perjalanan kehidupannya. What kind of lamp was this (119:105) The ancient lamp was small and flat with a wick and oil. It gave just enough light to see a short distance ahead. Similarly, God’s word gives sufficient light for each step in making moral decisions [kutipan dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 874]. Together, these verses [105, 106] show what kind of light and path are in mind, and verse 104 makes it doubly clear. This is not convenient guidance for one’s career, but truth for moral choices . . . [kutipan dari Derek Kidner, Psalms 73-150 [Leicester, England: IVP, 1975), p. 427]. . . . it is, in other words, a clear guide for all he does. For the first time, he make reference [dalam ayat 106: “bersumpah”] to having sworn and made binding an oath to give careful attention to Yahweh’s just judgments. The allusion is probably to a public commitment to Yahweh’s instruction, in Yahweh’s presence in the Temple and before the congregation [bnd. pengakuan sidi]. Such an act would be both a logical outcome of the poet’s devotion to Torah and also a further incentive to that devotion [kutipan dari The Broadman Bible Commentary, Volume 4 (London: Marshall, Morgan & Scott, 1972), p. 416]. Refleksi: Orang yang percaya menempatkan diri dalam rentetan orang percaya secara turun- menurun dan yakin bahwa firman yang disampaikan kepada angkatan yang lampau sama dengan yang kini Tuhan berikan. Inilah pola iman yang ditekankan dalam reformasi; itulah sebabnya ay. 105 ini menentukan dalam hidup rohani orang Kristen Protestan dan sering terdengar dalam kebaktian. Bahaya yang terkandung dalam tradisi ini ialah bahwa orang tidak lagi mengharapkan firman baru yang diberikan Allah menurut kebebasannya dalam situasi yang baru. [kutipan dari Barth dan Pareira, loc. cit.; huruf-huruf miring oleh NR].

2.2. Ayat 107: (bnd. ayat 65-72.). Si pemazmur kembali mengeluh. Kali ini mungkin karena suatu penyakit baru, tetapi mungkin juga tekanan dari musuhnya yang muncul kembali. His life is in constant danger . . ., and the wicked have set a trap for him. He asks that his life be restored, that is spared, in accord to Yahweh’s word [kutipan dari The Broadman . . ., loc. cit.]. 2.3. Ayat 108: Mazmur puji-pujian menjadi persembahan menggantikan korban syukur. Ps 119:108 speaks of prayer as a voluntary offering, and God is praised for his own generous voluntary offerings to man (Ps 68:9), even when his people have not been faithful to their covenant commitments (Hos 14:4) [kutipan dari New International Encyclopedia of Bible Words (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 1991), p. 308].

3. Excursus: Renungan untuk Anak-Anak

Alat Peraga: Senter kecil dan Alkitab. Bayangkan! Adik [bisa menunjuk salah seorang anak] akan bepergian dengan ayah. Kebetulan ayah adik punya mobil [atau sepeda motor]. Cuma sudah malam dan gelap. Dibatalkan saja, karena gelap? Tetap jadi! Mobil/motor juga bisa berjalan dalam kegelapan. Di pabriknya, mobil-mobil [atau sepeda-sepeda motor] ketika dibuat, diperlengkapi dengan lampu. Sehingga kalau pun malam dan gelap, mobil/motor tetap bisa jalan. Pernahkah lampu listrik di rumah adik padam? Jadinya bagaimana adik berjalan kesana- kemari untuk mengambil barang-barang yang mungkin dibutuhkan? Apa di rumah adik ada senter, seperti ini? [Tunjukkan senternya!]. Senter ini haruslah diletakkan di tempat yang gampang dicapai untuk mengambilnya. Dalam kegelapan, senter ini sangat membantu. Coba bayangkan! Ada seorang yang sakit keras di rumahmu. Tiba waktunya dia harus meminum obatnya. Lampu listrik tiba-tiba padam! [Kalau memungkinkan lampu dalam ruangan dipadamkan, agar gelap]. Perlu ada senter [nyalakan senternya!] untuk berjalan ke lemari obat. Juga perlu senter untuk memilih obat yang tepat. Juga perlu senter untuk bisa membaca petunjuk penggunaannya pada bagian luar kemasan obat itu. Senter ini [tunjukkan lagi!] memberi terang dalam kegelapan,.agar kita dapat melakukan itu semua. [Lampu ruangan dinyalakan lagi] Pada waktunya kalian akan menjadi orang-orang dewasa. Kalian akan membutuhkan alat penerang dalam menjalani kehidupam kalian masing-masing. Untuk itu, senter atau lampu seperti yang ada di mobil tidak bisa menolong kalian. Yang kalian butuhkan adalah INI! [tunjukkan Alkitab-nya]. Seorang satrawan bangsa Israel pernah menulis: “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Firman Tuhan yang tertulis dalam buku ini adalah seperti senter tadi. Kita perlu membacanya dan menghafal ayat-ayat tertentu. Seperti senter tadi, Firman Tuhan akan menuntun kita dalam hidup ini. Ketika kehidupan kita terasa gelap, firman Tuhan menjadi penerang bagi kita. Itu berarti bahwa selama kita rajin membaca Alkitab dan melakukan dengan taat perintah Tuhan yang disampaikan melalui buku ini [tunjukkan lagi Alkitab-nya!], percayalah, kita tak akan berjalan dalam kegelapan [disadur dari The Ministers Manual , Doran’s (San Francisco: Harper & Row, the 1989 edition), p. 13].
- - - NR - - -

'Santa Claus Is Coming To Town' Theology

Dave Burchett

I am a little too old and lot too cynical to be swept away by the latest fad in Christendom. I have sat on the sidelines while Jabez prayed, millions were purpose driven and others found their best life. I guess I was just left behind. Others were incredibly excited by one or all of these phenomenons. So I was more than a little surprised to find that God has rocked my world through a ministry I knew little about just a few months ago. Their books and materials have not become an entire section at your local Christian superstore. And that is a shame. Because they have a message that needs to be heard by most of us. The organization is called Leadership Catalyst and they have an incredible book called TrueFaced. I don’t think I have ever had a book (not included in the original 66) impact me as much as this one. Here is how strongly I feel about this book and ministry. I have written two books. I have a son who attends Baylor University and I can tell you the good Baptists at Baylor are very proud of their education. So selling a few books would be awesome as spring semester tution looms. But if you only have the budget to buy one book in the near future I would tell you to buy TrueFaced. (That gives you a hint as to why I rarely am asked to do marketing seminars). I am borrowing one little bit of content that is very timely during this month. John Lynch is one of the authors of the book and in this section he addresses how we are programmed from childhood to default to performance theology. He calls it the “Santa Claus is Coming to Town theology.” You better watch out Better not cry Better not pout I am telling you why Santa Claus is comin’ to town He's making a list…checking it twice…three times…every day Gonna find out who's naughty and nice Santa Claus is comin’ to town He sees you when your sleeping, nows when your awake, he knows when you've been bad or good so be good for goodness sake. Oh, he's watching. Waiting for you to screw up so you will get coal instead of a bicycle. You had better please him. And we teach our kids to put on the mask and be something they are not. Because Santa Claus is comin’ to town. This omniscient being who is judging our every deed is coming to town…and we learn to do the dance early. Buck up…be good. Don't cry. Don't pout. Santa Claus is coming to town (© Copyright 2003, William Thrall, Bruce McNicol, John Lynch. All rights reserved. Unauthorized duplication prohibited). He is exactly right. We learn that we get good things and receive love only when we are good. Santa is pleased (and we later substitute God) when we obey. So we learn early. We had better be good. Or least fool everyone around us to think that we are being good. Ask any child this Christmas if they are being good and I will wager you will never hear this response. “Well, to be honest, I am really struggling with the whole being nice thing. I have actually been pouty and I cried yesterday. It just isn’t working out this Christmas so I suspect the video game system will have to wait.” Nope. What you hear is the lie that we learn early and too often keep handy in our arsenal for a lifetime. “Oh yeah. I am being really good!” I remember (vaguely) the tension of the Santa Claus years. I knew I hadn’t really changed much. I tried to modify my behavior for a week or two leading up to Christmas but I knew I had failed to really be good. I learned a couple of things early. I learned how hard it is to change behavior by sheer willpower and I learned that I could fool Santa by living a lie. I learned that that he would bring me presents in spite of my failures. I did not learn about grace. That maybe Santa gave me gifts because of who I was and maybe he came to my house because I was lovable instead of rewarding me for what I had done to please him. I figured I had fooled him and to get the good stuff I would have to continue to hide the little boy who broke an ornament and then hid it. Isn’t that too often how we view God? We had better not cry. Better not sin. I’m telling you why. Jesus is coming to town. He’s making a list and He is checking it not once or twice but every moment of every day. God knows if you’ve been bad or good so if you want to be healed or happy or prosperous you had better be good for goodness sake. If I do mess up I am scared to death that I will get a bad life or miss all that God has for me. So I put on the mask and try to be really good for Jesus. If I can fool those around me maybe, just maybe, I can fool God too. Satan sells the lie so convincingly. And we buy it for months and years and even decades. But God and Santa are very different in their approach. God does not keep a list. He is not impressed by our hernia inducing straining to control sin. What God sees is Jesus in Dave Burchett when I sin. Jesus offers us so many gifts. But the one we seem to have the hardest time unwrapping is the gift of grace. The gift that allows us to become who God desires us to become as we simply trust Him and quit trying to be “good” for goodness sake. We are saved by grace and faith in Christ. We become like Him by the same radical strategy. Faith that He has changed us into a new creation. And understanding the grace that gives us good gifts even when we don’t deserve them. Don’t let the Santa Claus theology live into the New Year. Go straight to the gift of grace that Jesus left under the Cross. Open it. And clothe yourself in His salvation, acceptance and love. It may be the best gift you have ever given yourself. Dave Burchett is an Emmy Award winning television sports director, author, and Christian speaker. He is the author of When Bad Christians Happen to Good People and Bring'em Back Alive: A Healing Plan for those Wounded by the Church. You can reply by linking through daveburchett.com.

Find this article at: http://www.crosswalk.com/spirituallife/11561774/

Christmas Traditions

by Ted Olsen, former assistant editor of Christian History

The following article is located at: http://www.christianitytoday.com/history/newsletter/christmas/trad.html




When my parents were getting ready to celebrate Christmas in their new home in Denver after moving from Seattle several years ago, they tried to make a list of all our family's Christmas traditions. They wanted to make sure Christmas, even though it was in a new place, still felt exactly like Christmas. So my whole family sat down to share Christmas memories and discuss customs we carried out year after year, knowingly and unknowingly. It took a long time, especially since many of our traditions were detailed: how many presents to open on Christmas Eve (one), what to eat on Christmas morning (scrambled eggs, bacon, and Pillsbury orange rolls), etc. It was a fascinating experience, because we all had "traditions" that were obvious to us, but which other family members had never even considered. Even more surprising, my brothers and I had considered some practices "traditions" when in reality we had only done them once or twice.

As I've been reading about Christmas traditions this week, I've wondered how many of them have such dubious backgrounds. I can't recount all the histories here, but several books available at your library have already done so. The stories are fascinating. Christmas cards began instead as New Year's greetings. The Christmas tree was associated with the Edenic Tree of Knowledge and decorated with apples, a forbidden fruit. Holly was thought to be the tree from which the cross was made. Hanging mistletoe comes from an old Scandinavian military custom: enemies encountering each other under the plant laid down their arms in truce until the next day. What has also surprised me is how many times Francis of Assisi (c. 1181-1226) has come up in these traditions. Apparently, Francis's friars (and perhaps Francis himself) were the first to write simple, happy, Gospel-based songs. These were much lighter and festive than hymns and are considered by historians as the first carols. Francis also is the first person on record to create a Christmas nativity scene. On Christmas Eve 1223, in order to "Set before our bodily eyes รข€| how he [Jesus] lay in a manger," Francis and his companions worshiped in a cave near Greccio, Italy, surrounded by the traditional oxen, sheep, and donkeys. An early Francis biographer recounted, "Neighborhood people prepared with joy according to their capacity, bringing candles and torches to illumine the night that has been the light of the world through its star. Finally, the saint of God arrived and saw it and was glad. The manger was ready, hay was spread, and the ox and ass led in. "Thus, simplicity was honored, poverty exalted, humility praised. Greccio was made a new Bethlehem. The night became as day to the joy of men and animals. The people were happy at this great mystery. the forest echoed with the voices of the congregation; the rocks cried out in jubilation. The friars sang their debt of praise to God, and the night echoed with their hymns. The saint of God stood near the manger, overwhelmed with love and swelling with happiness."
* Christian History issue 42: Francis of Assisi

Yesaya 12: 1-6

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

Terjemahan Indonesia jelas membagi kitab nabi Yesaya menjadi dua. Bagian pertama mencakup bab 1-39, sedangkan bagian kedua melingkupi bab 40-66. Pembagian itu tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani. Tetapi berdasarkan berbagai petunjuk dan pertimbangan, pembagian tersebut memang perlu. [ . . . ] Dalam Yes 1-35 terkumpul sejumlah nubuat yang pada pokoknya berasal dari nabi Yesaya yang tampil di wilayah Yehuda sekitar th. 740-700 seb. Mas. [ . . . ] Meskipun nubuat-nubuat yang terkumpul dalam Yes 1-35 sungguh berasal dari nabi Yesa- ya, namun ada kekecualiaan juga. Terdapatlah beberapa tambahan yang cukup penting yang di kemudian hari barulah disisipkan ke dalam kumpulan nubuat-nubuat nabi Yesaya. Begitu misalnya bab 13-14; 24-27; 33; 34-35. Semua bagian cukup besar ini berasal dari nabi-nabi yang tampildi zaman pembuangan atau sesudahnya. [ . . . ] Kitab nabi Yesaya seperti tercantum dalam Alkitab memuat tiga macam kumpulan nubuat. Dalam bab 1-12 terhimpun sejumlah nubuat yang berupa ancaman ditujukan kepada umat Allah di Yehuda. Dalam bab 13-23 terkumpul sejumlah nubuat berupa ancaman tertuju kepada berbagai bangsa yang memusuhi umat Tuhan . . . [kutipan dari C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 245ff.]. Informasi: Fasal 1-12 Fasal 1 merupakan Pendahuluan untuk seluruh kitab Yesaya. Jadi sebenar- nya bagian pertama dimulai dengan fasal

2:1. Di dalam fasal 12 terdapat suatu mazmur yang merupakan penutup liturgis untuk bagian pertama [ . . . ] Fasal 12: Nyanyian syukur atas keselamatan (ayat 1-6). [kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 108 dan 110]. 2. Eksposisi 2.1. Mengapa orang-orang diminta untuk berkata: “Aku mau bersyukur . . .”? Karena mereka hanya terpaku pada derita yang mereka sedang alami saat itu, maka sang nabi mendorong mereka untuk mempunyai perspektif yang lebih luas. Ia mendorong mereka untuk menaruh pengharapan mereka kepada Tuhan. Dimulai dengan pengungkapan niat (”Aku mau bersyukur”), diikuti dengan alasan (“murkamu telah surut dan Engkau menghibur aku”), dan ditutup dengan pernyataan iman (“Allah itu keselamatanku”).

2.2. Mengapa emosi Allah nampaknya berubah-rubah(“murka telah surut . . . menghibur”)? Karena kasihNya sedemikian besar bagi umatNya, yang justru “plin-plan” dalam kese- tiaannya kepada Tuhan Juga karena Tuhan sungguh-sungguh berusaha memelihara hubungan dengan umatNya. “If he were indifferent about our sin, for example, his apathy would show he didn’t care about us as his people”. Yesaya secara sengaja menggambar- kan Tuhan ber-emosi untuk memberi “impact” terhadap seruannya dan sekaligus me- mungkinkan umat memahami spektrum dari pihak Allah. Dalam ay. 2 terdapat suatu [“glorius”] paradoks. Allah yang murka pada akhirnya malah menjadi sumber “keselamatan” satu-satunya. “In the end, ‘comfort’ (= salvation) can be found only by fleeing into the arms of the righteous God whose wrath we have incurred” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Barry Webb, The Message of Isaiah (Leicester, England: IVP, 1996), p. 78]. Informasi: [Ayat 2] It is noteworthy that trust [LAI: “percaya”] , in many . . . cases, is the alternative to fear [LAI: “gementar”] which might render as elemental anxiety [ . . . ] Human person, as Erikson saw well, are finally confronted with the options of trust and fear. The celebrated human person, in Israel’s horizon, is embedd- ed deeply in trust. This trust is not vague and amorphous; it focuses on Yah- weh as an active agent who sustains and intervenes. From that personal and intimate focus, however, Israel is able to generalize, so that one may come to trust the world over which Yahweh presides as a safe and reliable place in which to live [kutipan dari Walter Brueggemann, Theology of the Old Testament (Minnea- polis: Fortress, 1997), p. 468].

2.3. Ayat 4 – 6 Penggalan ini merupakan suatu nyanyian jemaat, di mana para pengunjung ibadah menyampaikan seruan satu kepada yang lain secara berbalasan untuk “bersyukur . . . kepada Tuhan” (4a), untuk memberitahukan perbuatanNya kepada “bangsa-bangsa” (4b), dan menyatakannya itu semua dengan penuh kesukacitaan dan dengan suara lantang (5-6). Ada dua alasan mengapa layak untuk bersyukur: [1] “perbuatanNya yang mulia” (5a), dan [2] kehadiranNya di Sion (6b). KehadiranNya itu adalah konsekwensi dari perbuatan- Nya yang mulia itu. “It is the LORD’s glorious deeds in judgment and salvation that have established his presence in Zion as the great and Holy One, terms which point unequivo- cally to his kingship” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Webb, op. cit., p. 79]. 3. Refleksi Sesuai dengan konteksnya, nyanyian syukur ini berfungsi sebagai penutup terhadap gambaran pemerintahan dan kekuasaan sang Mesias yang dimulai dalam 11:1. Di pihak lain dalam hu- bungannya dengan pasal 13, maka pasal 12 ini juga sekaligus menjadi klimaks dari bagian pertama kitab nabi Yesaya. Ini tersirat dalam ayat penutup: “Berserulah dan bersorak-sorailah hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung ditengah-tengahmu” (12:6). Bukankah ayat ini analog atau paling tidak sejajar dengan pujian para malaikat dalam Luk 2:14: “Kemulian bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya”? Jadinya bacaan kita dari Yes 12 ini meminta perhatian dan mengingatkan kita pada rasa bersyukur dan bagaimana seharusnya peranannya dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Bersana dengan George Herbert, seorang penyair Inggris abad ke-17, kita memohon: “O Engkau yang telah memberi kami sekian banyak anugerah, sudilah memberi kami satu hal lagi, yaitu hati yang tahu berterima kasih”. Semoga pada hari Natal ini, Roh Kudus menumbuhkan dalam hati kita suatu keinginan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan dengan beberapa cara yang konkret dan nyata. Pikirkanlah apa yang mungkin dapat menjadi ungkapan rasa syukur Anda pada hari Natal ini. Ilustrasi: Seorang pria telah mengambil risiko mati dengan terjun ke dalam sebuah sungai yang sangat deras untuk menyelamatkan seorang anak laki-laki yang hanyut diba- wa arus. Sesudah anak ini diselamatkan, ia lalu berkata kepada pria itu, “Terima kasih. Bapak telah menyelamatkan hidup saya.” Orang itu lalu merangkul anak itu sambil berkata, “Sudahlah, anakku! Sadarlah bahwa hidupmu itu bernilai sehingga layak diselamatkan.” [Sumber dan kutipan sajak dan ilustrasi dari Mark Link SJ, Challenge/ Tantangan, terj. (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 140 dan 147].

- - - NR - - -