07 April 2008

Mz 118 : 2 5 – 2 9

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

Ciri dan/atau warna liturgis dari Mazmur bacaan kita sekarang ini dapat segera dike- nali --- pergantian dan/atau penggiliran kata-ganti-orang dan adanya pengulangan jawaban/respons. Jenis atau sifatnya sebagai ungkapan pengucapan syukur (“thanks- giving”) jelas sekali --- mensyukuri tindakan Allah yang menyelamatkan. Mari kita bayangkan adanya suatu prosesi dari serambi luar bergerak masuk ke da- lam Bait Suci yang dipimpin oleh seorang tokoh penting dan yang menjadi pembicara utama (ay 5-19,21,28). Tokoh ini adalah jelas “a person whose fate is of supreme im- portance to the nation as a whole”. Dengan itu sudah dapat diterka bahwa tokoh yang dimaksud adalah sang Raja dari keturunan Daud [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari The Broadman Bible Commentary, Vol. 4 (London: Marshall, Morgan & Scott, 1972), p. 407]. Mazmur bacaan kita ini dimulai dengan panggilan bersyukur secara antifonal (bersahut-sahutan: ay 1-4). Lalu sang Raja mengungkapkan rasa syukurnya (ay 5- 19,21). Ayat 20 barangkali merupakan jawaban penjaga pintu gerbang terhadap permohonan sang Raja dalam ayat 19. Ketika prosesi itu memasuki Bait Suci, umat menyatakan pujian dan doa mereka (ay 22-25). Ayat 26-27 merekam sambutan dan salam sang imam. Ungkapan syukur sang Raja (ay 28) dan umat (ay 29) menutup mazmur ini [Sumber: H.L. Ellison, The Psalms (London: Scripture Union, 1968), p. 97].

Informasi:

That this psalm was early regarded as Messianic is shown by Mark 11:9-10; ‘Hosanna’ = hoshia-na, i.e. ‘Save, we beseech Thee (25). The use of the ‘leafy branches” (Mark 11:8) and palm branches (John 12:3) was taken from Taber- nacles; they were waved in the ritual. The answer of the gate-keepers (20) is a reference to Pss. 15 and 24 [kutipan dari Ibid.].

2. Eksposisi

2.1. Ayat 22-23: Umat bergabung dan ikut bersyukur. Dengan memakai kata-kata kiasan yang berasal dari lingkungan pembangunan (konstruksi) gedung, mereka memuji tindakan Allah yang mengagumkan itu. “Batu penjuru” adalah batu penting untuk menopang dua baris deretan batu-batu yang saling bertemu di sebuah penjuru suatu bangunan. Juga menjadi penopang di bagian lain dari bangunan tersebut, a.l. fondasi bangunan (bnd. Yes 28:16). Tindakan Allah yang telah menjadikan “batu penjuru” itu dari sebuah batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan menjadi dasar dan alasan untuk pengucapan syukur umat. Jadi bobot ucapan syukur mereka adalah bagi Tuhan, karena “suatu perbu- atan ajaib di mata kita” (ayat 23). Bahwa mazmur ini dapat dikaitkan dengan penderitaan dan kemenangan Sang Penebus kita, Yesus Kristus, hal ini terungkap dalam Mat 21:42; Mrk 12:10; Luk 20:17; Kis 4:11; Ef 2:20 dan 1 Ptr 2:7. Ditolak dan menderita oleh ulah manusia, namun Allah memilih “Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Ef 2:20). Bagi umat yang sedang menderita ungkapan tadi menjadi suatu landasan pengharapan dan penghiburan [Sumber: The Expositor’s Bible Commentary, Vol. 5 (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 1991), p. 735]. 2.2. Ayat 24-25: “hari” adalah hari penyelamatan (Inggris: day of salvation). Pernyataan ini merangsang umat untuk bertekun dalam doa dan sekaligus memperbaharui pengharapan mereka: “Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan!” (ayat 25). Dalam bahasa Ibrani seruan hosiana (“berilah kiranya [kami] keselamatan”) berkaitan dengan istilah yesuah (kesela- matan, kemenangan, ay 14-15, 21). Umat memohon Tuhan agar terus melakukan tindak- anNya yang mengagumkan itu demi “kemujuran” umat yang diberkahiNya [Sumber: Ibid.].

2.3. Ayat 26-27 dan 28-29 lihat Pengantar di muka.

3. Rangkuman dan Refleksi

Mazmur 118 kembali mengungkapkan tema-tema pokok yang selalu diapungkan dalam Kitab Mazmur: kasih setia Allah yang berkesinambungan bagi umatNya dan kenyataan dari tindakan penyelamatan dari dan oleh Allah semata-mata. Refleksi: [Psalm 118] also incorporates a motif which was dear to the existence of a people who believed their significance to transcend the normal values of the world because of God’s Presence, the motif of the little become great, the least most, the last first. It is a motif which serves as a continuing reminder of just how wrong men’s values and priorities can be, and one which came to have its most eloquent illustration in the life, the ministry, and the death of our Lord [kutipan dari The Broadman Bible Comment- ary, pp. 409f.].

4. Excursus

ALLAH : PEMURAH ATAU PEMARAH? Dalam Alkitab, Allah sering ditampilkan dengan dua wajah, yaitu Allah yang Pemurah dan Allah yang Pemarah. Di satu pihak Allah mengampuni, melindungi , dan memberkati banyak orang. Di pihak lain, Ia mengancam dan menghukum mereka yang berbuat jahat, berkhianat, cemar, dan licik. Allah yang menyenangkan, tetapi sekaligus Allah yang mengerikan. Menye- nangkan karena pengampunan-Nya, perlindungan-Nya, dan berkat-Nya sungguh amat besar dan mengatasi segala kelemahan [dan kenajisan] kita. Mengerikan karena ternyata semua orang, termasuk tokoh-tokoh teladan seperti Musa dan Daud, tidak luput dari hukuman-Nya. Meskipun setiap orang ingin mendapatkan kemurahan ketimbang kemarahan Allah, banyak orang lebih suka memberitakan Allah yang Pemarah dan kurang rela memberitakan kemurah- an Allah. Nabi Yunus begitu bersemangat memberitakan kemarahan Allah kepada rakyat Nine- ve, dan begitu kecewa ketika ternyata Allah lebih pemurah ketimbang pemarah. Pertentangan antara Yesus dan orang-orang Farisi adalah pertentangan dari orang yang memberitakan Allah yang Pemurah (yang mampu menerima orang-orang berdosa) dan orang- orang yang memberitakan Allah yang Pemarah (yang selalu siap menghukum para pendosa). [ . . . ] Di dalam Yesus Kristus, Allah membatalkan kemarahan-Nya, untuk menyatakan kemurah- an-Nya! Itu sebabnya sejak kedatangan Yesus Kristus, berita tentang Allah yang pemarah se- benarnya sudah menjadi berita basi. Sebaliknya, berita tentang Allah yang pemurah selalu baru dan relevan di segala tempat dan waktu, sebab kemurahan itu sendiri tidak berkesudah- an, selalu baru setiap hari. Tetapi mengapa banyak orang Kristen ragu-ragu memberitakan kemurahan Allah? Karena banyak orang kuatir bahwa kita menjadi terlalu murah hati, takut dianggap murahan. Kemurah- an bukanlah murahan! . . . Kasih karunia itu tak ternilai harganya, karena bersumber pada pengorbanan Allah sendiri. Ia yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, menjadi seorang makhluk biasa. Ia yang berhak menjadi hakim atas segala hidup, rela menjadi seorang terhukum dengan hukuman paling be- rat. Ia [yang] berhak menuntut korban, malahan mengorbankan diri-Nya sendiri [kutipan dari Yahya Wijaya, Kemarahan, Keramahan & Kemurahan Allah (Jakarta: BPK-GM, 2008), hlm. 1ff.] .

- - - NR - - -

Yeh 3 7 : 1 – 7

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Kronologi Peristiwa 930 seb. M :

Kerajaan Israel pecah menjadi dua. Di bagian utara tetap dipertahankan nama Kerajaan Israel. Sedangkan di selatan dipilih nama Kerajaan Yerhuda, dan yang tetap diperintah oleh raja-raja keturunan Daud.
c. 742-681 seb. M : Masa pelayanan Nabi Mikha dan Yesaya di Yehuda.
c. 626-585 seb. M : Masa pelayanan Nabi Yeremia di Yehuda.
c. 605-536 seb. M : Nabi Daniel dibuang ke Babilonia.
c. 593-571 seb. M : Masa pelayanan nabi Yehezkiel.
586 seb. M : Yerusalem jatuh dan dihancurkan oleh Babilonia. Penawanan ke Babilonia.
c. 571 seb.
M : Kitab Yehezkiel ditulis.
538 seb. M : Rombongan pertama orang-orang Israel kembali dari Babilonia ke Yerusalem.
[Sumber: Quest Study Bible (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2003), p. 1187].

2. Pasal 37 Keselamatan Yehezkiel diangkat oleh Roh dan ditempatkan di tengah-tengah lembah yang penuh dengan tulang-tulang (Yeh 37:1). Dan Tuhan berfirman kepada Yehezkiel: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” (Yeh 37:3). Yehezkiel menjawab: “Ya TUHAN Allah, Engkaulah yang mengetahui!” (Yeh 37:3).Dalam penglihatan, Yehezkiel melihat bahwa tulang- tulang itu diberi daging dan kulit. Penglihatan itu menjadi janji tentang kebangkitan bangsa Israel. Tuhan berfirman kepada Yehezkiel: “Hai, anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel” (Yeh 37:11). Pengharapan bangsa Israel dalam pembuangan sudah lenyap. Mereka sudah menjadi seperti mati. Tetapi TUHAN mengatakan: “Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umatKu, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel” (Yeh 37:12). Bangsa Israel akan dibangkitkan dan dibawa pulang ke Israel [kutipan dari A.Th. Kramer, Singa Telah Mengaum (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 77f.]. Two images of death appear in the text, the valley of dry bones and graves. The question, “Can these bones live?” (v. 3) was addressed to a people who had lost hope. So was the prophecy, “Come from four winds, O breath, and breathe upon these slain, that they may live” (v. 10). God’s power and initiative are revealed [kutipan dari Abingdon Preacher’s Annual 1993 (Nashville, Tenn.: 1993), p. 104].

3. Penjelasan/Informasi

3.1. Ayat 1: Dimanakah letak “lembah . . . penuh dengan tulang-tulang” itu? Merujuk pada Yeh 1:1 mungkin lembah yang dimaksud berada di tepi sungai Kebar.
3.2. Ayat 3: Mengapa Yehezkiel disapa dengan “anak manusia”(bnd. 2:1)? Used some 90 times in the book of Ezekiel, this label underscores Ezekiel’s humanity and his dependence on God’s supernatural power. It may also have reminded Ezekiel that his job was to “convey,” not “create,” the message [kutipan dari Quest Study Bible, 1189]. “Son of man” in the OT. The phrase is used often in the OT, being applied to Ezekiel alone almost one hundred times. What is its significance? The phrase probably implies little more than one would mean by addressing a male person “man” [kutipan dari New International Encyclopedia of Bible Words (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 1991), p. 572; huruf-huruf miring oleh NR]. 3.3. “Roh Allah” . . . the Scriptures affirm the full, unabridged deity of the Holy Spirit: ………………………………………………………………………………………. . . . he does divine works : he creates (Gen. 1:2; Job 26:13a; 33:4; Ps. 104: 30a), regenerates (Ezek. 37:1-14; John 3:5-6; Titus 3:5), resurrects (Ezek. 37:12-14; Rom. 8:110), . . . [ kutipan dari Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 1998), p. 313f.; huruf- huruf tebal dan miring oleh NR).

4. Refleksi

Kesadaran Yehezkiel akan kekudusan Allah yang betindak demi diri-Nya sendiri melandaskan pengharapan Yehezkiel akan keselamatan di masa mendatang. Ditinjau dari pihak manusia memang tidak ada harapan, tetapi ditinjau dari segi Allah yang kudus serta kekuatan roh-Nya keselamatan terjamin. Hal itu paling jelas terungkap dalam penglihatan Yehezkiel tentang tulang-tulang kering (37:1 dst.). Tulang-tulang kering itu melambangkan keadaan umat dalam pembuangan. Tidak ada harapan lagi. Tetapi roh Tuhan bahkan mampu menghidupkan kembali tulang-tulang kering itu. Demikian pun Ia menghidupkan kembali, memulihkan umat-Nya di masa mendatang. Seperti dikatakan Injil: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi segala sesuatu mungkin bagi Allah [kutipan dari C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 276]. By no legitimate kind of exegesis can this be applied solely to postexilic Judaism. The postexilic regathering can only be a type, a foretaste, of the ultimate messianic kingdom [kutipan dari William S. La Sor, et al., Old Testament Survey (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1990), p. 476].

- - - NR - - -

Kis 2 : 1 4 , 3 6 – 4 1

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

Khotbah Petrus dalam pasal pembacaan kita sekarang ini dapat dibagi kedalam penggalan- penggalan sebagai berikut: [1] Pendahuluan (ayat 14-16), yang mengkaitkan khotbah tersebut dengan situasi dan kon- disi saat itu, juga dengan empat penggalan berikutnya yang ditandai dengan sapaan langsung. [2] Uraian I (ayat 17-21) yang berisi kutipan dari nubuat nabi Yoel. Dengan latar belakang nubuat ini, Petrus menafsirkan peristiwa Pentakosta sebagai pemenuhan dari nubuat nabi Yoel tersebut. Pernyataan dalam ayat 21 menjadi landasan untuk isi khotbah Petrus seterusnya. Tu- han yang menyelamatkan itu adalah tak lain dari Yesus sendiri. [3] Uraian II (ayat 22-28) berisi kerygma (pesan, kesaksian, message) tentang Yesus dalam versi Lukas [penulis Kis] --- “Yesus . . . yang telah kamu salibkan adalah Dia yang Allah telah bangkitkan. Pembangkitan-Nya itu telah diramalkan oleh Daud dalam Mzm 16 yang menya- takan bahwa “orang Kudus[Nya] tak akan berakhir dalam kematian”. [4] Uraian III (ayat 29-36) menafsirkan Mzm 16 tadi. Penafsiran tersebut lalu dikaitkan de- ngan ketuangan Roh Kudus, juga dengan nubuat nabi Yoel. Ayat 36 menjadi klimaks untuk Uraian I dan II --- “Jadi seluruh kaum Israel [jadi tidak hanya semata-mata orang-orang Ya- hudi di Yerusalem saja] harus tahu dengan pasti [berdasarkan kesaksian Kitab Suci yang di- singgung dan ditafsirkan Petrus sebelum ini, termasuk kesaksian rasuli dari Petrus sendiri] bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus”. [5] Uraian IV [ayat 37-40] bukan sekedar penggalan penutup, tetapi sebenarnya lebih me- rupakan titik puncak dari keseluruhan khotbah Petrus itu. Ayat 41 melaporkan “phenomenal success [and the impact]” dari khotbah Petrus itu [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Gerhard Krodel, Proclamation Commentaries, Acts (Philadelphia: Fortress, 1981), pp. 20ff.].

Informasi:

[This speech] is an indication of Luke’s exaltation Christology that both in his Gospel and in Acts the idea of the ascension is given significant space, which makes evident Christ’s absence, including the absence of his body. A variety of texts stress that Jesus is in heaven, even if by means of vision he appears to some on earth, such as Stephen or Paul . . . This is why the sending of the Spirit is so crucial in Acts. If Jesus is absent, the church must have some source of power and direction, and this they receive from the Spirit. God now acts by means of the Spirit or an angel on earth . . . Nor is there any sort of “Immanuel” theology predicated of Christ in Acts, as we find at the beginning and end of Matthew’s Gospel. The ascension, however, should probably not be seen as a Lukan theolo- goumena, not least because the christological hymn reflect this notion when they refer to the exaltation of Christ to the right hand (cf. Phil. 2:9-11; Heb. 1:3-4) . . . In the paradigmatic speech in Acts 2 we are told of the whole compass or scope of this work and ministry of Jesus, and thus his fitness to act in a historical drama, is stressed in Acts by the repeated reference to the fact that he is from Nazareth (3: 6; 4:10 et al.; notice it is often in conjunction with the name Jesus Christ, not just the name Jesus [kutipan dari Ben Witherington III, The Acts of the Apostles, a Socio-Rhetorical Commentary (Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans, 1998), p. 152].

2. Eksposisi

2.1. Ayat 37: Sebegitu persuasif-nya khotbah Petrus, sehingga impact-nya bagi para pen- dengarnya ialah “hati mereka sangat terharu” [Inggris: cut to the heart]. Menyadari betapa mereka telah melakukan suatu tindakan yang keji, yang berakhir dengan terbu- nuhnya sang Mesias yang akan menyelamatkan Israel, mereka bertanya apa yang harus mereka lakukan? [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Ibid., p. 153]. Informasi: Kegoncangan tentulah mendalam sampai kepada perasaan hati yang telah berubah dan tetap. Daripada mengaku Nama Yesus, orang-orang Yahudi te- lah menyalibkanNya. Bagaimana mereka dapat kembali kepadaNya, kecuali jika tidak berubah sama sekali? Dan hal ini berarti bahwa haruslah dilepas- kan pikiran Yahudi bahwa orang dapat menerima keadilan dengan hukum Ta- urat. Justru dalam agama Yahudi yang bersifat hukum taurat ini terletak rinta- ngan untuk mencapai keselamatan dan karunia hanya pada Kristus saja [kutip- an dari H.v.d. Brink, Tafsiran Alkitab, Kisah Para Rasul (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm. 42f.].
2.2. Ayat 38-39: Petrus memaparkan ikhtisar dari ikhtiar yang diperlukan untuk seseorang yang ingin menjadi pengikut Yesus dan manfaat yang diperoleh dari ikhtiar tersebut. Ini bukanlah hal yang baru sama sekali. Yohanes Pembaptis juga telah menyerukan hal yang sama sebelum ini (bnd. Luk 3). Oleh karena itu respons para pendengar juga tidak jauh berbeda dengan respons para pendengar seruan Yohanes Pembaptis pada waktu itu (Luk 3:10). Namun demikian, terdapat juga perbedaan. Di sini kita diperkenalkan dengan ke-khas- an baptisan kristiani. Di samping hubungan pertobatan dan baptisan, kini ada yang baru, yakni bahwa kini baptisan dikaitkan dengan nama Yesus dan penerimaan karunia Roh Kudus. Juga tidak ada indikasi sama sekali bahwa baptisan itu hanya boleh dilakukan oleh para rasul saja [Sumber: Witherington III, op. cit, p. 154]. Informasi: Petrus berkata, bahwa baptisan harus berlangsung atas dasar (terjemahan Baru: dalam) nama Yesus Kristus. Di tempat-tempat lain, di mana dibicarakan tentang baptisan, senantiasa kita membaca: dalam nama. Bahwa di sini dipa- kai katadepan atas dasar (menurut naskah aslinya) dan tidak dibicarakan tentang Bapa dan Roh Kudus, menunjukkan bahwa di sini Petrus dengan sengaja hendak memberi tekanan yang kuat kepada dasar yang atasnya baptisan itu terletak (1 Kor 3:2). Nama Yesus Kristus berbicara tentang pe- kerjaanNya sebagai pelepas. Jadi “menginginkan baptisan”, adalah sama dengan suatu pengakuan percaya akan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Gambaran pekerjaan Yesus Kristus ini (lihat juga Rm 6:3-5) da- lam baptisan, dengan jelas menunjukkan dasar yang atasnya kepercayaan kita akan penyucian dari segala kesalahan/dosa kita, harus dan dapat berdiri. Baptisan tidak menimbulkan karunia Roh Kudus secara magis. Karunia ini di- berikan, oleh sebab Kristus sendiri memberikannya kepada semua orang, yang menerima Dia di dalam iman. . . . Jadi bahwa di sini tidak dipergunakan formulir baptisan yang lengkap, tidak lain disebabkan bahwa Petrus hanya memberikan dasar baptisan . . . Dalam seruannya supaya bertobat dan me- ngaku percaya, Petrus bersandar pada janji Allah bagi Israel yang sudah diu- capkan kepada Abraham (Kej 17: 7), yaitu suatu berkat yang di dalamnya ter- masuk juga anak-anak para orang beriman. Karena itu Petrus memberanikan diri untuk berkata dengan tegasnya bahwa keselamatan ini diperuntukkan bagi . . . mereka dan anak-anak mereka [kutipan dari Brink, op.cit., hlm. 43f.]. Acts 2 also serves as the pre-enactment of the universal mission of the church. The list of nations in 2:9-11 as well as the reference to “those far off [LAI: orang yang masih jauh] in 2:39 indicate the worldwide dimension of the church (cf. Luke 3:6). Under the guidance of the Holy Spirit and in accordance with the promise (2:21) the church will break out of its Jewish context and offer salvation to half-Jews and gentiles (Acts 8-10) [kutipan dari Krodel, op. cit., p. 24].

- - - NR - - -

Kis 2 : 1 – 13

(Beberapa Kutipan Lepas)

1. Pengantar: “Analisis Teks secara Historis-Kritis” Istilah yang dipakai oleh Lukas untuk menggambarkan fenomen turunnya Roh Kudus adalah “bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah” (ay. 2). “Bunyi” itu dika- takan oleh Lukas, turun secara “tiba-tiba”. Itu berarti bahwa bunyi itu datang dan terdengar secara mengejutkan. Haenchen menyebut fenomen itu sebagai enigmatic phenomenon, yaitu fenomen yang penuh teka-teki yang membingungkan. Conzelmann menyebut fenomen tersebut sebagai fenomen komparatif (perbandingan) untuk menggambarkan daya kekuatan Roh Kudus yang luar biasa, yang merupakan daya-dinamis dan daya-kreatif. . . . daya- kekuatan-ilahi. Bunyi itu tidak hanya seperti “embusan” yang lembut dan membuai, melainkan seperti “tiupan angin keras dan memenuhi seluruh ruangan”. Kiranya hal ini menunjuk pada sebuah “dorongan” dan “daya-kekuatan-ilahi” yang luar biasa yang membuat siapa pun yang mendengar dan mengalaminya tidak bisa tidak menjadi “bangkit” dan “bergerak”. Secara parallel (sejajar), dalam ay. 3 ditegaskan kembali oleh Lukas bahwa Roh Kudus yang turun sebagai bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh ruangan itu juga tampak sebagai “lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap pada mereka masing- masing”. Dalam perspektif simbolis mengenai Roh Kudus, gambaran “lidah-lidah seperti nyala api” yang bertebaran dan hinggap pada para rasul itu memiliki nuansa makna yang amat indi- vidual. Conzelmann menafsirkan fenomen ini secara menarik. Gambaran pencurahan Roh Kudus kepada para rasul tersebut mengisyaratkan bahwa Roh Kudus memang masuk ke dalam diri para rasul, dan bukan hanya melingkupi kepala mereka seperti sebuah lingkaran halo. Seca- ra kualitatif, gambaran ini memberikan pengertian bahwa Roh Kudus yang merupakan “daya- kekuatan-ilahi” yang hebat itu sungguh-sungguh masuk dan mendorong dari dalam diri para rasul. Haenchen menegaskan bahwa dengan cara itulah, Roh Kudus sungguh-sungguh dicurah- kan kepada para rasul secara pribadi, bukan hanya melalui pendengaran dan penglihatan, mela- inkan melalui pengalaman pribadi dari dalam. Roh Kudus sebagai daya-kekuatan-ilahi yang masuk dan mendorong dari dalam diri para rasul itu secara tegas dirumuskan oleh Lukas dalam teks dengan mengatakan, “maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus” (ay. 4a). Fenomen yang digambarkan dalam ay. 2 dan 3 sebagai “bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah” dan “lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” bukan hanya melingkupi dan memenuhi ruang dan tempat, tetapi masuk secara personal ke dalam pribadi, ke dalam seluruh kehidupan para rasul. Ay. 4a dengan tegas dan jelas mengungkapkan kenyataan ini. Daya-kekuatan Roh Kudus itu membuat para rasul mampu memberikan kesaksian dan mewartakan pengalaman iman dan hubungan pribadi mereka dengan Yesus Kristus. Ay. 4b melukiskan pengalaman awal ini dengan gambaran bahwa “mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain”. Berkat daya-kekuatan Roh Kudus, para rasul mampu berkata-kata. Yang dikatakan dan diwartakan oleh para rasul pasti bukan pengalaman sembarangan, melainkan pe- ngalaman iman akan hubungan mereka dengan Yesus Kristus, sebab dijelaskan dalam ay. 4c bahwa mereka berkata-kata “seperti diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakan- nya”. Yang dikatakan dan diwartakan adalah “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (ay. 11b). Dengan demikian, selain menjadi “dorongan” dan “daya-kekuatan-ilahi” yang menggerakkan, Roh Kudus sebagaimana digambarkan dalam Kis 2:1-13 dapat pula dimengerti sebagai “daya- dinamis” dan “daya-kreatif”. Hal ini secara tekstual terungkap dalam ay. 6, “Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak.” Roh Kudus yang digambarkan sebagai “bunyi” yang meme- nuhi seluruh tempat para rasul duduk itu ternyata juga membuat dan menggerakkan orang banyak untuk “berkerumun”. Lebih lanjut, peranan Roh Kudus yang menjadi “daya-dinamis” dan “daya- kreatif” itu tampak dalam ay. 14. Roh Kudus sebagai “daya-dinamis” membuat Petrus bukan ha- nya “bangkit berdiri”, melainkan “dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka”. Pengalaman ini tidak bisa dilepaskan dari janji Yesus Kristus dalam Kis 1:8, yang mengatakan bahwa para ra- sul akan menerima “kuasa” (dynamis), kalau Roh Kudus turun ke atas mereka, sehingga mereka akan menjadi saksi Kristus di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi [kutipan dari Aloys B. Purnomo, Pr., Roh Kudus Jiwa Gereja yang Hidup (Yogyakarta: Kani- sius, 1998), hlm. 20f.].

2. Perbedaan antara ‘Baptisan’ dan ‘Kepenuhan’ Roh Apa yang terjadi pada hari Pentakosta ialah bahwa Yesus ‘mencurahkan’ Roh dari sorga dan dengan demikian ‘membaptis dengan Roh’, pertama-tama 120 orang, kemudian 3.000 orang. Buah baptisan Roh ini ialah bahwa ‘penuhlah mereka dengan Roh Kudus’ (Kis 2:4). Jadi, kepenuhan Roh adalah akibat dari baptisan Roh. Baptisan itulah --- yakni apa --- yang Yesus perbuat (mencurahkan Roh dari sorga), kepenuhan itulah --- yakni apa --- yang mereka terima. Baptisan adalah pengalaman permulaan yang khusus, kepenuhan dimaksud sebagai akibat tepat, yang terus-menerus, menjadi patokan. Sebagai kejadian permulaan, baptisan tidak diulangi dan tidak dapat hilang, tapi pemenuhan dapat diulangi, dan bagaimanapun juga perlu dipertahankan. Jika tidak dipertahankan akan hilang. Jika hilang, dapat ditemukan lagi [kutipan dari John Stott, Baptisan dan Kepenuhan, terj. (Jakarta: YKBK/OMF, 1999), hlm. 56f; huruf-huruf tebal oleh NR]. Baptism and the gift of Spirit do not invariably coincide. The Acts of the Apostles . . . tell us of the mission to Samaria (8:4-17), the conversion of the centurion Cornelius at Caesarea (Acts 10) and Paul’s meeting with the converted disciples of John (Acts 19:1-7) --- all cases in which the Spirit was given without baptism or before baptism. Someone who is baptized in the name of Jesus may be sure that he is living, as it were, within the Spirit’s forcefield, but baptism does not canalize the action of the Spirit. [ . . . ] It is necessary for Christianity to remember from time to time that the Spirit is not under its control. This is not contradicted by the primitive Church’s habit of speaking, as it soon began to do, of the “gift” of the Spirit (cf. Lk 11:13, and so on). What is implied by this is that the normal, long-term environment of the Christian is the sphere of action of Spirit, the presence of Christ. But the gift of the Spirit remains God’s gift; only he can give it and make it fruitful [kutipan dari The Common Catechism, A Book of Christian Faith (New York: Seabury, 1975), pp. 227f.]. EXPOSING THE MYTH You may remember that our Lord said: “For John truly baptized with water, but you shall be baptized with the Holy Spirit not many days from now” (Acts 1:5 NKJV). But on the Day of Pentecost, does Scripture say, “And they were all baptized with the Holy Spirit”? No! It says they were all “filled” with the Holy Spirit (see Acts 2:4). Why? Because these men [sic.] were going to be speaking in other tongues (not unknown tongues; they were going to speak in known languages), and they were going to serve. And in order for them to serve, they needed the experience of the filling of the Spirit. The baptism of the Holy Spirit is never related to experience. Someone wonder, “Weren’t they baptized, too?” Of course they were, but the point is they were going to serve, and in order to serve they had to be filled. The baptism of the Holy Spirit hasn’t anything to do with the service or experience. The filling is the experience, and it is for service. If you read some older commentaries, you might notice that the writers sometimes use the word “baptize” to mean “filling”. But that was back in the days when you did not have to be as sharp with terms, because there were not these groups as we have today that go off on tangents trying to make the word “baptize” mean something it doesn’t. That’s how the whole business of “seeking the baptism of the Holy Spirit” got started. And among those who teach that we ought to be seeking our baptism, many misrepresent the rest of us by suggesting that we don’t believe baptism is necessary at all! I believe that the baptism of the Holy Spirit is essential. In fact, you’re not a believer unless you’ve been baptized by the Holy Spirit. But I do not believe it is an exoerience. Every believer has been baptized by the Spirit of God. Those on the fanatical fringe ought not to misrepresent us by saying we do not believe in the baptism; we just don’t believe that it is an experience. These same people have been known to teach that we are to wait for the Holy Spirit. May I say how false it is to tell people they are to tarry for the Holy Spirit? Where did our Lord tell us to tarry? He told his apostles to wait for the Day of Pentecost --- it’s already come! It’s a matter of history, and the Spirit of God is here today. The minute any individual puts his faith in Jesus Christ, he’s regenerated, indwelt, and baptized by the Spirit of God [kutipan dari J. Vernon McGee, Through His Spirit (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2003), pp. 140f.].

Excursus:

Kecuali dalam Markus 6:17, . . . Yesus tidak pernah mengajar tentang berbicara dengan bahasa roh, dan para rasul pun tidak pernah menuntutnya sebagai keperluan yang mutlak untuk membuktikan bahwa Roh Kudus telah diterima. Tidak pernah disebutkan bahwa ketiga ribu orang yang percaya dalam Kisah para Rasul pasal 2 berkata-kata dalam bahasa roh, walaupun jelas bahwa mereka telah menerima Roh Kudus. Demikian pula halnya dengan orang lumpuh dalam Kisah para Rasul pasal 3, kelima ribu orang percaya dalam pasal 4, sida-sida dari tanah Etiopia dalam pasal 8, orang-orang percaya di Anto- khia dalam pasal 11, banyak orang percaya yang dimenangkan oleh Paulus dalam perjalanan penginjilannya yang pertama (pasal 13, 14), Lidia dan kepala penjara di Filipi dalam pasal 16. Tidak ada laporan bahwa mereka telah berkata-kata dalam bahasa roh, tetapi ada tercatat bahwa mereka semua dibaptis dengan air. Inilah yang perlu untuk menandai baptisan dengan Roh Kudus. Berkata-kata dalam bahasa roh, bilaman terjadi, penting dan patut dikemukakan, tetapi dalam masyarakat Kristen pada waktu tu bukan merupakan sesuatu yang diperlukan sebagai bukti bahwa Roh Kudus telah diberikan [kutipan dari Donald Bridge dan David Phypers, Karunia-Karunia Roh dan Jemaat, terj. (Bandung: Penerbit KH, 1984), hlm.130f.; huruf-huruf tebal dan miring oleh NR).

3. Untuk Refleksi

Kutipan dari J.L.Ch. Abineno, Roh Kudus dan Pekerjaan-Nya (Jakarta: BPK-GM, 2000), hlm. 29f.) [Adanya perbedaan pandangan mengenai hal-hal yang diutarakan tadi] sering sangat dipertajam, sehingga menimbulkan hal-hal yang buruk yang merugikan. Gereja-gereja Pentakosta memperma- salahkan gereja-gereja lain (=Gereja-gereja Protestan), dan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki Roh Kudus, atau kalaupun mereka memiliki-nya, Roh itu tidak bekerja lagi, karena Ia telah mati terkungkung dalam tradisi dan institusi yang mereka miliki. Buktinya, dalam Gereja-gereja Protestan tidak ada mujizat (=penyembuhan ilahi, dan lain-lain), tidak ada glosolalia (=bahasa roh), tidak ada nubuat, tidak ada baptisan Roh, dan lain-lain. Sebaliknya Gereja-gereja Protestan mempersalahkan Gereja-gereja Pentakosta, bahwa mereka menyalahgunakan (=menyalahtafsirkan) Roh Kudus dan sering mencari realitas-Nya dengan cara emosional, individualistis dan extravagan. Buktinya, pemutusan hubungan antara mujizat dan Injil (Kerajaan Allah), penekanan yang berlebih- lebihan pada pertobatan individuil, penghargaan yang berat sebelah terhadap glosolalia (=bahasa roh), tangisan dan adegan-adegan lain yang emosional dalam kebaktian-kebaktian, dan lain-lain [ . . . ] kita harus mengadakan koreksi kedua jurusan. Pertama kepada Gereja-gereja Pentakosta kita harus katakan, bahwa Roh Kudus tidak dapat dilepaskan dari Yesus Kristus dan dianggap sebagai Oknum atau Pribadi yang berdiri sendiri. Keduanya erat berhubungan, bahkan identik. Roh Kudus, adalah Roh Kristus [Rm 8:9; Gal 4:6; Flp 1:19; 1 Ptr 1:11], Roh Anak. Di dalam Dia Kristus hadir di bumi. Kedua, kepada Gereja-gereja Protestan kita harus katakan, bahwa Roh Kudus bukan hanya “alat” Kristus. Roh Kudus bukan saja Roh Kristus, tetapi sebaliknya Kristus juga adalah Roh (2 Kor 3:17), seperti yang antara lain kita baca dalam 1 Korintus 15:45: “Adam yang akhir (=Kristus) menjadi roh yang menghi- dupkan”. Roh Kudus adalah cara baru dari presensia dan tindakan Kristus di bumi. Oleh kebangkitan- Nya Ia menjadi Oknum (=Pribadi) in action, di mana Ia --- sekarang dalam hubungan mondial --- meneruskan apa yang telah Ia kerjakan dalam hidup-Nya di dunia [ . . . ] Timbul pertanyaan: Kalau demikian bolehkah kita menganggap Roh Kudus sebagi pribadi atau tidak? Patterson (dalam Pelajaran tentang Roh Kudus, 1971) mengatakan: “Ya, boleh, malahan harus Roh Kudus adalah Pribadi Ilahi yang ketiga” [ . . . ] Timbul pertanyaan: Kalau demikian bagaimanakah “identitas” Roh Kudus dan Kristus berada dalam kemuliaan harus kita pikirkan? Telah kita bahas bahwa baik Gereja-gereja Protestan, maupun Gereja- gereja Pentakosta tidak mau mengakui identitas itu. Mereka lebih banyak berkata-kata tentang identitas dan fungsi Kristus dan Roh Kudus. Hal ini . . . tidak mungkin. Memang Roh Kudus bukan hanya “nama lain” dari Kristus yang berada dalam kemuliaan, melainkan Ia bertindak di bumi, sesudah Kristus “naik ke sorga”. Sungguhpun demikian Ia bukan Oknum atau Pribadi yang otonom. Ia adalah “predikat” yang menerangkan pekerjaan Allah dan Kristus dan bagaimana caranya pekerjaan itu dilakukan.

- - - NR - - -

1 Pet 5 : 1 – 5

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

Tidak banyak bagian Alkitab yang berbicara tentang para penatua dan sekaligus menunjukkan betapa pentingnya peranan para penatua/tua-tua dalam Jemaat, khususnya dalam gereja perda- na. Di sini jugalah letak pentingnya perikop bacaan kita sekarang ini. Tambahan pula, yang menulis surat ini adalah Petrus, “camat”-nya para rasul, yang dalam suratnya ini menyatakan dirinya sebagai “teman penatua” (Inggris: a fellow elder). Jabatan penatua mempunyai asal-usul dari lingkungan agama dan masyarakat Yahudi. Per- tama kali jabatan ini dikenal ialah ketika Musa mengangkat 70 orang untuk ikut memimpin umat Israel dan kepada mereka ini dikaruniai Roh Allah (Bil 11:16-30). Sejak itulah jabatan “tua-tua/penatua” menjadi fungsi yang tetap/permanen dalam kehidupan bermasyarakat orang- orang Israel/Yahudi. Memasuki zaman Perjanjian Baru, penatua/tua-tua merupakan jabatan dasar (Inggris: basic office) dalam jemaat perdana [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari William Barclay, The Daily Study Bible, the Letters of James and Peter (Edinburgh: the Saint Andrew, 1987), 262ff.]. Informasi: Sesudah masa pengembaraan di padang gurun, kelihatannya tiap kota [dan desa] mempunyai lembaga pemerintahan sendiri yg terdiri dari para tua-tua, yg menurut Kitab Ul berfungsi sebagai hakim dalam menahan para pembunuh (Ul 19:12), menjalankan pemeriksaan (Ul 21:2), dan menyelesaikan pertikaian perni- kahan (Ul 22:15; 25:7). . . . Jumlah mereka berbeda-beda . . . dan mereka dihu- bungkan dengan pejabat-pejabat sipil yg lain, mis kepala-kepala suku (Ul 5:23; 29:10) dan para pengatur pasukan dan para hakim (Yos 8:33). Mungkin kata ‘tua- tua’ merupakan kata umum untuk lembaga pemerintahan dan mencakup bebera- pa dari pejabat-pejabat ini. . . . Pada mulanya kekuasaan mereka bersifat sipil, tetapi pada zaman PB tua- tua bangsa Yahudi (presbuteroi tou Laou) sama-sama berkuasa dengan para i- mam kepala (Mat 21:23) dalam memutuskan soal-soal agama, dan jika perlu da- lam mengucilkan orang dari rumah sembahyang Yahudi [kutipan dari Ensiklopedi Alki- tab Masa Kini, Jilid II (Jakarta: YKBK/OMF, 1995), hlm. 493].

2. Eksposisi

2.1. Ayat 1: “teman penatua” --- menyatakan bahwa Petrus tidak menempatkan diri sebagai yang lebih tinggi derajatnya dari para penatua, tetapi sebagai rekan. Dengan itu tersirat pula bahwa Petrus tidak merasa sebagai yang utama dalam hubungannya dengan para ra- sul lainnya, terlepas dari penugasan khasnya dari Yesus (bnd. Yoh 21:15 dst). Nampak juga di sini betapa Petrus telah berubah --- dari seorang yang tadinya suka “ngomong” dan “sok bisa/menampilkan diri”, kini menjadi seorang yang rendah hati. “saksi penderitaan Kristus” --- malah lebih dari itu, Petrus juga saksi untuk pembangkitanNya dan ketuangan Roh Kudus (Pentakosta). Terlepas dari penyangkalan- nya terhadap Yesus, tetapi cinta kasihnya kepadaNya tidak diragukan. Justru karena inilah maka kepadanya Yesus mengamanatkan untuk menggembalakan domba-dombaNya (Yoh 21:15 dst). Lalu dari pihak Yesus sendiri: “the constraining power of the love of Christ no doubt gave Peter his pastoral concern” “mendapat bagian dalam kemuliaan . . . kelak” --- seperti yang telah sekelu- mit dialaminya dalam pemuliaan Yesus di gunung (Mrk 9:28). Dengan itu Petrus menyu- lut pengharapan dan ketahanan beriman bagi orang-orang Kristen yang menderita. Juga ini menggambarkan wataknya: “he is a man of invincible hope” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari The Interpreter’s Bible, Vol. XII (Nashville, Tenn.: Abingdon, 1957), “Exposition”, p. 148].
2.2. Ayat 2: “gembalakanlah” --- bisa diperkirakan bahwa dalam menyampaikan seruan ini, Petrus tentunya teringat akan amanat Yesus yang telah bangkit dan yang ditujukan kepa- danya untuk menggembalakan domba-dombaNya (Yoh. 21:15 dst). Bukan itu saja, ia tentunya teringat perumpamaan anak domba yang hilang, di mana Yesus menggambarkan diriNya sebagai sang gembala tersebut, bahkan yang rela menyabung nyawanya untuk menyelamatkan domba-dombanya (Mat 18:12-14; Luk 15:4-7). Bersama dengan para murid yang lain, ia diutus oleh Yesus untuk mencari “domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 10: 6). Petrus mestinya memahami perasaan belas kasihan Yesus yang melihat orang banyak bagaikan “domba yang tak bergembala” (Mat 9:36; Mrk 6:34). Di atas semuanya ini, Yesus melihat diriNya sebagai gembala yang baik, yang “memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10:1-18). Dengan latar belakang ini semua, maka dari seruan ini pula tersirat pandangan Petrus tentang jabatan gembala [jemaat], “being a shepherd of the flocks of Christ was . . . the greatest privilege that a servant of Christ could enjoy” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Barclay, op. cit., pp. 269f.]. Informasi: Dalam PB tugas Mesias adalah menjadi Gembala, bahkan Gembala Agung (Ibr 13:20; 1 Ptr 2:25; 5:4). Hal ini diuraikan secara rinci dalam Yoh 10 dan rinciannya sepadan dengan Yeh 34. . . . Ajaran mengenai Diri Mesias, yang diumpamakan pintu (gembala sering tidur tepat di mulut pintu atau di mulut tembok) terkait dengan Gembala yang baik, tapi bertentangan dengan gemba- la upahan yg tidak becus. Injil Yoh menggarisbawahi hubungan Mesias de- ngan para pengikut-Nya dan Allah; ihwal menyatukan ‘domba-domba lain’ menjadi satu kawanan dengan domba-domba lainnya (ay 16); dan menolak orang-orang yg bukan domba yg sungguh dari Mesias itu [kutipan dari Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I, hlm 331]. “jangan dengan paksa . . . kehendak Allah” --- seruan ini menyiratkan bahwa menjadi penatua berarti menempati suatu jabatan yang dihormati. Ungkapan “sesuai de- ngan kehendak Allah” berkaitan erat dengan ungkapan “dengan sukarela”. Itu berarti bah- wa para penatua hendaknya melayani, bukan untuk keuntungan/kepuasan diri pribadi ma- sing-masing, tetapi sebagai para sukarelawan dalam mengemban pelayanan (“service”) yang diberikan oleh Allah. Ungkapan “mencari keuntungan” menyiratkan bahwa jabatan penatua bisa disalahgunakan untuk mencari keuntungan. Merujuk kepada 1 Tim 5:17 dst, maka pada waktu itu sudah diberlakukan suatu sistem pengupahan bagi para pelayan gere- jawi. Ini juga tersirat dalam isi surat Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Kor 9:7-11) [Sumber: J.N.D. Kelly, A Commentary on the Epistles of Peter and Jude (London: Adam & Charles Black, 1969), pp. 200f.].
2.3. Ayat 3: “Janganlah . . . mau memerintah . . . menjadi teladan” --- Jelas Petrus di sini mengingatkan para penatua agar tidak menyalahgunakan wewenang (otoritas) mereka. Melatar belakangi seruan Petrus di sini adalah peringatan Yesus sendiri, seperti yang ter- catat dalam Mrk 10:42 dst. “The will-to-power motive belongs to the world; it should have no place in the Church.” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari C.E.B. Cranfield, I & II Peter and Jude (London: SCM, 1960), pp. 129f.].
2.4. Ayat 4: Sesudah menyampaikan ketiga seruan tadi, sekarang Petrus menyampaikan janji, “apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak da- pat layu.” “Mahkota” adalah tanda penghargaan tertinggi dari Allah bagi manusia --- “the promised eschatological reward” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Kelly, op. cit., p. 203].
- - - NR - - -

24 Maret 2008

Roma 6 : 1 – 1 1

(Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Pengantar

Seperti yang sering Paulus lakukan dalam surat Roma ini, di sini sekali lagi ia memberikan suatu argumentasi dalam perdebatannya melawan penentang yang dikhayalkan. Pokok per- debatan itu timbul dari kalimat terakhir dari pasal yang lalu: “. . . di mana dosa bertambah ba- nyak [5:20], di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” Perdebatan [khayalan] itu ber- langsung demikian: Penentang: Kamu baru saja mengatakan, bahwa kasih karunia Allah cukup besar untuk memberi pengampunan untuk setiap dosa. Paulus : Begitulah. Penentang: Dengan demikian kamu mengatakan, bahwa kasih karunia Allah adalah sesuatu yang amat ajaib di bumi ini. Paulus : Begitulah. Penentang: Baiklah, marilah kita berbuat dosa. Makin banyak kita berbuat dosa, makin ber- tambahlah kasih karunia itu dilimpahkan. Berdosa itu tidak apa, karena Allah akan selalu mengampuni. Selanjutnya bisa kita katakan, bahwa dosa adalah hal yang baik, karena itu memberi kesempatan kasih karunia Allah dinyatakan. Ke- simpulan dari argumentasimu ialah, dosa menghasilkan sesuatu yng termulia di dalam dunia ini. Paulus sangat menentang pandangan seperti itu. Ia bertanya: “Apakah kamu berpendapat, bahwa seharusnya kita tetap berbuat dosa agar supaya memberikan lebih banyak kesempat- an kasih karunia dinyatakan? Allah melarang kita melakukan jalan yang seperti itu” [kutipan dari William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari, Roma, terj. (Jakarta: BPK-GM, 2001), hlm. 127f.]. Informasi: Some people misunderstand this good news about a new life. They say that if God forgives us freely, then we can live as we like. But they do not know what it means to be “in Christ”. It means that what happened to Christ has happened also to us. He died on the cross --- we also died, we were buried, we have been raised with Him to a new kind of life, as our baptism shows us. We are not what we were. Now we belong to God, not to sin. Sin, which used to control us without our realizing it, has been conquered. Christians need to know this and to fight against anything of sin which remains in them [kutipan dari Roger Bowen, A Guide to Romans (London: SPCK, 1978), p. 81].

2. Eksposisi

Seperti sudah disinggung sedikit di muka, pasal ini dikaitkan dengan pasal-pasal sebelumnya dalam tiga pokok: [1] Pertanyaan dalam ayat 1 muncul dari pandangan yang diketengahkan dalam 5:20b: “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah”. Dalam pasal 6 inilah Paulus meluruskan kembali salah paham yang muncul dari pernyataan tadi. Jadinya 5: 20b dapat dianggap sebagai jembatan penghubung ke pasal 6 sekarang ini. [2] 5:12-21 menjadi landasan untuk ajaran Paulus tentang berada di “dalam Kristus”. Da- lam pasal 6 ini Paulus kembali menjelaskan pokok ini secara panjang-lebar. Jadinya tanpa membaca penggalan dari pasal 5 di atas, kita akan agak tersendat-sendat mengikuti uraian Paulus dalam pasal 6 ini. [3] Dalam 5:15-19 Paulus menguraikan bagaimana kita telah menjadi suatu keluarga baru dalam Kristus, bahkan menjadi “ciptaan baru”. Hubungan kekerabatan yang lama, ‘oleh A- dam’, telah berakhir. Dalam pasal 6 sekarang ini kenyataan tadi diutarakan dalam ungkapan- ungkapan “manusia lama kita telah turut disalibkan” (6:6) dan “kita telah mati” (6:2).Di sisi lain Paulus juga menyatakan bahwa kita terikut-serta dalam pembangkitan Kristus (ayat 4) dan bahwa kita “hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (ayat 11). Sebagaimana kita terikut-serta dalam dosa dan penghukuman Adam, maka sekarang kita pun terikut-serta dalam kematian dan hidup baru dengan Kristus. Melalui ungkapan “mati bagi dosa” (ayat 2) kita diantar masuk ke pasal 6 sekarang ini. De- ngan itu pula Paulus mengetengahkan kebebasan yang kedua: kebebasan dari dosa [kebebas- an pertama ialah dari hukum/Taurat]. Pokok ini sangat penting dipahami, kalau kita mau hidup sebagai orang Kristen [Sumber: Ibid.]. Informasi: Agar kita memahami ayat-ayat ini [6:1-14] dengan tepat, harus kita perhatikan bahwa istilah ‘mati’ dan ‘bangkit’ itu dipakai dengan pengertian yang berbeda- beda. Pembedaan itu akan membantu kita mencegah salah paham bila kita mengartikan perkataan Paulus dalam ayat-ayat yang menyusul. (1) Orang Kristen telah mati bagi dosa dalam pandangan Allah, yaitu saat Kristus mati bagi mereka pada salib. Begitu pula mereka telah bangkit bersama Kristus ketika Ia bangkit pada hari ketiga (bnd. Kol 3:1). (2) Mereka telah mati dan dibangkitkan dalam pembaptisan yang telah mereka terima. Dalam pembaptisan itu Allah memeteraikan bahwa Dia memandang kema- tian Kristus sebagai kematian mereka, dan kebangkitan Kristus sebagai kebangkit- an mereka. Di dalamnya orang Kristen menyatakan kepercayaan mereka akan ka- sih karunia Tuhan itu. (3) Orang Kristen dipanggil untuk dalam kehidupan sehari-hari ‘mematikan’ tabi- at mereka yang tetap cenderung pada dosa, dan menempuh kehidupan yang baru dalam ketaatan kepada Tuhan. (4) Mereka akhirnya akan sepenuhnya ‘mati bagi dosa’ pada saat kematian me- reka, dan akan bangkit untuk menerima kehidupan yang baru, yang tak dapat di- ganggu-gugat lagi, pada saat kedatangan kembali Yesus Kristus. Keempat sudut pandangan ini berbeda-beda, namun terjalin, sebab sama-sama bertolak dari karya keselamatan Tuhan. Karya keselamatan itu berpangkal dalam kematian dan kebangkitan Kristus dan akan berakhir dengan kedatangan-Nya kem- bali, yang disusul oleh kebangkitan kita dalam kemuliaan yang baru (1 Kor 15) [ku- tipan dari Th. Van den End, Tafsiran Alkitab, Surat Roma (Jakarta: BPK-GM, 2003), hlm. 297f.]. 2.1. Ayat 4: Ayat ini menggambarkan persekutuan antara orang percaya dengan Kristus, yang telah tercipta oleh ‘baptisan ke dalam kematian-Nya’ (ayat 3). Persekutuan itu diungkapkan dengan kata-kata kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia. Dalam penafsiran kiasan singkat . . . seorang yang telah meninggal . . . [sanak- saudara dan handai taulan] menurunkannya ke dalam liang kubur, lalu [mereka] meninggalkan tempat itu --- pada sat itulah kita mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa si mati itu tidak lagi bersama kita. Begitu pula pembaptisan, yang menurut ayat 3 adalah baptisan (ke) dalam kematian, sekaligus merupakan perpi- sahan yang tuntas dengan kehidupan kita yang lama, manusia kita yang lama [kutipan dari Ibid., hlm. 303f.]. 2.2. Ayat 11: “memandang” merupakan terjemahan dari kata Yunani logizesthai. Istilah ini dipakai juga dalam 4:3 dan diterjemahkan “memperhitungkan”. Dalam 2 Kor 10:2 diterjemahkan “berpendapat”. Dalam ayat 11 ini artinya tidak sekedar “berpenda- pat”, tetapi “memperhitungkan” (Inggris: consider, understand). “Christian’s first duty is to understand what has happened to us . . . what [we] are in Christ. Kita telah mati bagi dosa bersama Kristus dan kita hidup bagi Allah, juga bersama Kristus. Ini adalah keyakinan iman. Dan keyakinan iman tersebut diungkapkan oleh kata kerja “memandang/memperhitungkan” [Sumber dan kutipan bahasa Inggris dari Bo- wen, op. cit., p. 85].

3. Excursus

Jangan Simpan John Geddie, misionaris dari Kanada, memberi diri untk memberitakan Injil di Kepulauan Vanuatu, Samudra Pasifik bagian Selatan. Sejak ia datang, hanya satu hal yang dilakukannya setiap hari: berbagi tentang Kristus yang telah mati dan bangkit bagi orang-orang Vanuatu yang belum pernah mendengarnya! Perjuangannya berpuluh-puluh tahun di sana berbuah nyata. Geddie yang mempelajari bahasa mereka dari nol, akhirnya berhasil menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Vanuatu. Dengan itu, ia telah membawa ribuan orang untuk mengenal, percaya, serta mengikut Kristus. Geddie setia melayani di pulau itu hingga akhir hayatnya. Saat ia meninggal, orang-orang memasang plakat peringatan bagi Geddie di gereja mereka, yang bertuliskan: “Ketika Geddie datang dan mendarat pada tahun 1848, di sini tidak ada orang kristiani. Ketika ia berpulang pa- da tahun 1872, di sini tak ada orang yang tidak mengenal Kristus”. Percaya bahwa Kristus menyelamatkan kita lewat pengurbanan-Nya, adalah langkah pen- ting yang pertama (Rm 10:9). Lalu, bila jiwa kita sudah diselamatkan, pantaskah kita berdiam diri? Paulus dan Geddie telah merasakan anugerah yang tak terukur melimpahi dan membaha- rui hidup mereka. Itu sebabnya dengan yakin mereka mengambil langkah kedua: menceritera- kan kebangkitan Kristus kepada mereka yang belum mendengar tentang Kristus (Rm 10:14, 15), agar mereka menemukan pengharapan bagi jiwa. Setiap hari, pasti ada seseorang yang perlu mendengar kabar baik tentang Kristus. Yesus telah mati untuk semua orang (Rm 10:12). Adakah kita hendak menyimpannya untuk diri sendiri? --- AW [kutipan dari Renungan Harian (Yog- yakarta: Yayasan Gloria, Rabu, 26 Maret 2008]. -

- - NR - - -

Kis 22 : 30 – 23 : 11

Beberapa Catatan dan Informasi/Kutipan Lepas)

1. Latar Belakang Perikop

Sampai dengan ayat 20 dari fasal 22, kita disuguhi dengan pidato Paulus kepada orang-orang Yahudi yang justru berniat membunuh dia. Dalam garis besarnya pidato Paulus tsb. dapat di- bagi ke dalam tiga bagian: [1] Ayat 3-5 : Asal-usul dan pendidikan Paulus. [2] Ayat 6-16 : Pertobatan Paulus. [3] Ayat 17-21: Panggilan Tuhan untuk menginjili orang-orang bukan-Yahudi. Paulus diamankan oleh kepala pasukan Romawi di dalam markas sampai dia dapat diadili (ayat 23-29). Setelah kepala pasukan tahu bahwa Paulus adalah warga negara Roma, ia jadinya ditahan secara wajar dan sopan. Komandan itu belum mengetahui apa persoalan Paulus sebenarnya. Ketika sebelum ini Paulus berbicara kepada khalayak ramai, Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani. Bahasa ini tidak dipahami oleh si komandan. Didorong oleh keinginan untuk mengetahuinya, si koman- dan menyuruh Paulus dan orang Yahudi berhadapan muka dengan muka. Memenuhi perintah tsb. diadakanlah Mahkamah Agama. Informasi: Pada akhir fasal 21 Paulus ditahan oleh serdadu-serdadu Roma itu agar ia dapat diaman- kan dari tangan orang Yahudi. Dari situ sampai akhir Kisah Para Rasul ini Paulus tetap berada dalam tahanan. Diduga bahwa peristiwa dalam fasal 21 terjadi kira-kira pada permulaan tahun 57 Masehi. Pada akhir fasal 28 Paulus sudah tiba di Roma dan tinggal di situ selama 2 tahun. Maka Kisah Para Rasul ini berakhir kira-kira pada tahun 61 Masehi. Jadi Paulus ditahan paling sedikit 4 tahun dan kemungkinan besar hampir 5 tahun ia ditahan. Selama tahanan ini Paulus bersaksi kepada: 1) Rakyat Yerusalem, 2) Kepala pasukan dan prajurit-prajurit Roma, 3) Mahkamah Agama orang Yahudi bersama Imam Besarnya, 4) Gubernur daerah Yudea --- Feliks, 5) Gubernur yang menggantikan gubernur itu --- Festus, 6) Agrippa II, raja propinsi Iturea, Trakhonitis dan Abilene, 7) Perwira dan pasukan Roma beserta penumpang-penumpang di kapal-kapal laut yang membawa Paulus ke Roma, 8) Kepala pulau Malta, 9) dan lain-lain. (Sumber dan kutipan dari R. Dixon, Tafsiran Kisah Para Rasul (Malang: Gandum Mas, 1997), hlm. 164].

2. Eksposisi

Dari fasal 23 bacaan kita sekarang ini, kita disuguhkan dengan pembelaan Paulus di depan Mahkamah Agung, berikut akibat-akibatnya. Ayat 1 --- Paulus mengatakan bahwa ia hidup dengan hati nurani yang murni. Dalam fasal 24:16 Paulus mengulangi kesaksian itu. Maksudnya: bukan Paulus sempurna dalam wataknya tetapi menurut Filipi 3:6 “dalam menaati hukum Taurat aku tidak bercacat . . . .” Menurut 1 Korintus 4:4 dan ayat-ayat lainnya kita lihat bahwa Paulus masih merasa dirinya sebagai orang berdosa [kutipan dari Ibid.]. Refleksi: Free to Be Honest The foundation of a believer’s witness must be honesty. If we can be open with God about our own sinfulness (Ps. 51) and our continuing struggle with sin (Rom. 7:14-8:1), we won’t be prone to mislead others about sin and faith. God knows we aren’t sinless and He calls us to be honest (1 John 1:8). As Paul stood before the hostile Jewish council, he could honestly declare that he had a clear conscience (Acts 23:1). He said the same thing later when he and his accusers appeared before Governor Felix (Acts 24:16). That gave him tremendous freedom and boldness, even though his powerful opponents were hostile and wrong. Honesty and a clear conscience are not the same as perfection. Paul was by no means perfect, just honest about his failures. He apologized, for example, after lashing out in anger (Acts 23:5). But he was real. He didn’t cover up in an attempt to look good as a Christian witness. Jesus does not ask us to project an impossibly perfect image. That would be a lie. Instead, He challenges us to admit our failures. He also delights in forgiving us when we do (Mark 11:25). If we can be honest about ourselves with others, it can give them hope for their own failings and turn them toward our gracious God [kutipan dari What Does the Bible Say About . . .? (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2001), p. 202]. Ayat 2 --- Ananias, Imam Besar, A.D. 47-58/9. Informasi: Imam Besar itu dikenal sebagai seorang yang buruk wataknya dan sangat dibenci rakyat. Mahkamah agama ini tidak lain dari majelis yang menjatuhkan hukuman mati atas Tuhan Yesus dan Stefanus. Sejak kematian Tuhan Yesus itu telah berlalu 28 tahun dan oknum- oknum yang berkuasa di Mahkamah Agama ini tentu sudah banyak berobah. Akan tetapi sifat dewan ini masih buruk. . . . Pada tahun 66 [Ananias] dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang memberontak terhadap Roma. Nubuat Paulus dalam ayat ketiga digenapi [kutipan dari Dixon, op. cit.]. Ayat 3-5 --- “tembok yang dikapur putih-putih” (Inggris: “whitewashed wall” [NIV]), sebuah ungkapan yang menuduh/memaki Imam Besar sebagai seorang yang munafik (bnd. Mat 23:27). Rupanya Paulus tidak tahu siapa Imam Besar itu. Soalnya Paulus sudah lama tidak ada di Yerusalem dan pemerintah Roma suka menggantikan Imam Besar dari waktu ke waktu. Oleh karena pertemuan ini disuruh oleh kepala pasukan barangkali Imam Besar tidak berpakaian resmi [Sumber: Dixon, ibid.].

Refleksi:

Tentulah timbul pertanyaan, apakah Paulus tidak melanggar batas. Bahwa ia kemudian minta maaf ternyata bahwa memang ia telah melewati batas. Dalam hubungan ini kita teringat juga kepada perkara terhadap Juruselamat kita, yang tentangnya Petrus menulis dalam 1 Pet 2:23. Secara manusia dapat dimengerti ketajaman [mulut] Paulus. Tetapi menyumpah dan memaki tidaklah termasuk kewenangan Paulus [kutipan dati H. v. d. Brink, Tafsiran Alkitab: Kisah Para Rasul (Jakarta: BPK-GM, 2001), hlm. 359f.]. Ayat 6-10 --- Sehabis ditampar Paulus tidak melanjutkan pembelaannya. Ia mengapungkan doktrin “kebangkitan orang mati”, seperti yang diyakininya, yang membuat persidangan itu pecah terbelah. Orang-orang Farisi memihak Paulus, sedangkan orang-orang Saduki menolak dan menentang ajaran itu. Informasi: At all events two things stand out in the sequel: (i) Paul henceforth addresses the Pharisees by appealing to a doctrine which they and he as a Christian shared --- the resurrection of the dead (denied by Sadducees, the high-priestly party, 4.1,2; Mark 12,18, etc.), and in response he gains the approval of this part of the Jewish legislature (9). (ii) In the subsequent outworking of his relations with the Jewish leaders, his main enemies are the Sadducees (23.14) [kutipan dari R.P. Martin, Bible Study Books: Acts (London: Scripture Union, 1967), p. 75].

4. Refleksi

Ada sesuatu mengenai Injil Yesus Kristus yang terkadang menimbulkan ketakutan dalam diri orang-orang yang kepadanya Injil itu hendak membawa pengharapan. Yesus membawa kabar baik ke Yerusalem dan akibatnya, Ia pun dibunuh. Orang Kristen yang mengikuti teladan-Nya [a.l. Paulus] mendapati bahwa perkerjaan mereka yang baik dibalas dengan aniaya, penderitaan, dan bahkan kematian. Keberadaan kita yang penuh kemenangan di tengah umat Allah bisa menimbulkan rasa takjub, takut, aniaya, dan suka cita [cuplikan dari Saat Teduh, Minggu, 9 Apr 2006 (Jakarta: BPK-GM)].

- - - NR - - -